Ada hal menarik yang saya dapat selama berlangsungnya masa rehat tempo hari. Selama duabelas hari itu, ditambah dengan (sekitar) tujuh hari pasca Lebaran jarang online, saya menemukan bahwa sebenarnya hiatus itu sangat menyenangkan.
Setidaknya, saya tak perlu capek-capek berdebat dan memikirkan jawaban soal Teori Evolusi yang kisruhnya nggak habis-habis itu ; saya tak perlu naik darah karena membaca post dan komentar soal fundamentalisme agama dan keyakinan
yang sama saja tiada hentinya; demikian juga saya tak perlu repot-repot menulis soal berbagai kritik sosial dan menjawab semua komentar yang berseberangan dengan pendapat saya di sana.
Kesannya sih, hampir semua kemampuan otak saya dialihkan dari berbagai debat macam itu. (sebenarnya memang kenyataannya begitu, tapi biarlah saya perhalus saja)
Nah, mengecualikan berbagai masalah intern yang campur aduk di kepala saya waktu itu, kehidupan saya sebetulnya rutin saja. Sebelum libur, saya pergi kuliah, jalan-jalan, nongkrong di lab, dan belajar buat UTS. Sesudah libur Lebaran saya tinggal di surga dunia rumah — tempat yang selalu bersih tanpa disapu[1], di mana makanan selalu tersedia[2] dan kopi siap diseduh setiap sore kalau saya mau membuatnya.
Setiap sore bekerja di depan komputer, ditemani secangkir kopi dan kue lebaran (kalau mau). Bisa nonton TV sampai subuh, baru kemudian tidur sampai tengah hari. Saya bahkan tak perlu repot memikirkan siapa membicarakan apa, aliran agama ini membid’ahkan siapa… give one hell of trouble to me, and I’ll smash you to bits.[3]
Menyenangkan? Iya. Damai? Begitulah. Tapiii….
Selalu ada tapi, saudara-saudara.
***
Apanya yang tapi?
Ketika masa hiatus itu berlangsung, saya sempat me-review aktivitas saya di internet ini beserta dinamikanya. Mulai dari masalah Harun Yahya yang dulu, hingga kesan intoleransi yang tampaknya dimiliki oleh umat agama saya. Kemudian, soal kasus laptop DPR dan kliping kelakuan pejabat di blog seberang sana. Tentunya saya juga harus memasukkan soal teori evolusi dan sekuelnya, yang berbuntut pada beberapa tanggapan penuh fallacy — yang kemudian menyita waktu dan tenaga saya untuk menjelaskan sebaik mungkin apa yang sebenarnya saya sampaikan.
Untuk tema yang sifatnya sosial-politik, keadaannya masih lebih baik. Tapi, tidak ketika topik mulai menyerempet masalah agama dan keyakinan. Terutama jika menyinggung fundamentalisme dan militansi beragama. Pada tema-tema seperti ini, beberapa orang cenderung bersikap dogmatis, sehingga rasanya hampir mustahil bagi saya untuk menanggapi dengan sabar dan tenang…
…intinya, ini menyebalkan. Seperti dikepung oleh ribuan troll[4] didikan seorang pemotong berita kelas wahid. Anda berusaha menanggapi dengan baik, tapi tak bisa menemukan persamaan persepsi dengan orang-orang itu. Dan, yang bikin jengkel, beberapa dari mereka tak pernah lagi muncul setelah komentarnya ditanggapi.
Dan ini tak cuma terjadi di blog saya saja. Kalau Anda sering main ke blognya Kopral Geddoe atau blognya Om Dewo yang khusus membahas Kristianitas, maka Anda akan menemukan gejala yang kurang-lebih serupa. Terkadang ada kemarahan, ada penjelasan, dan (kalau tidak hati-hati) bisa saja kolom komentar Anda berubah fungsi jadi ajang perang. Seperti yang pernah dialami wadehel, dulu, ketika blog beliau masih aktif.
***
Terkadang saya berpikir bahwa ini gila. Ada orang-orang yang menolak untuk mengerti. Ada orang-orang yang begitu percaya pada apa yang mereka percaya, sedemikian hingga mereka tak pernah berusaha mengecek kebenarannya lagi. Susahnya, ketika diberi masukan dari sudut pandang lain, mereka justru menolaknya mentah-mentah.
Terjebak pada syak wasangka dan generalisasi, serta tidak cerdas dalam berdiskusi. Sejujurnya, saya sering kehabisan tenaga ketika harus menjalani diskusi dengan orang-orang seperti itu, baik di blog ini maupun di tempat lain.
Kalau begitu, kenapa kamu masih ada di sini?
Ya, saya masih di sini. Tapi kenapa?
Padahal kelihatannya lebih mudah kalau saya mengabaikan mereka saja. Penjelasan panjang lebar toh juga tak banyak berarti, sejauh pengalaman saya. Saya bisa menulis hal-hal yang lebih ringan: tentang bahasa Jepang, tutorial Photoshop, ataupun yang lainnya yang saya kuasai — seperti saran pemberian Mas Antosalafy buat Bu Evy saat berlangsungnya [kasus ini]. Toh jauh lebih mudah kalau begitu. Saya senang, dan mereka senang…
…
…but, no. Things aren’t supposed to be like that.
Ini mirip dengan pelajaran PMP/PPKn yang kita terima di sekolah dulu. Mereka jadi penting karena selalu diulang dan ditekankan — betapapun kita sering menganggap remeh contoh yang diberikan. Menghargai sesama, menolong yang lebih lemah dan cacat, dan sebagainya itu tak akan dianggap baik jika bukan karena orangtua, sekolah, dan masyarakat terus mengajarkannya pada kita!
Yah, saya bisa saja memutuskan untuk hanya kuliah, lulus, kerja, menikah, dan seterusnya — tanpa ambil pusing dengan semua hal yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Tapi, tidak. Hal-hal semacam idealisme, moral, dan etika itu bukan hal yang akan bertahan jika tak disuarakan dan diamalkan. Dan kalau saya lebih memilih untuk diam… maka saya tak berhak mengeluh jika dunia ini menjadi distopia di kemudian hari.
…
…
Ngomong-ngomong, saya jadi teringat diskusi antara dua orang paman saya saat lebaran yang baru lalu. Cuplikannya kurang lebih seperti berikut ini:
Paman I“Ah, ngapain mikirin politik dan demo. Cukuplah kita bisa kerja, dapat gaji yang lumayan, dan hidup dengan baik. Nggak ada masalah, kan.”
Paman II
“Lho, nggak bisa begitu. Kritik politik dan demo itu penting. Kalau tak ada yang menyatakan keberatan, pelan-pelan kita akan terseret pada penindasan. Bisa saja kita malah akan jadi Myanmar yang berikutnya[5].”
Mungkin karena itu juga sebabnya saya masih akan menulis untuk saat ini. Sebetulnya masih ada beberapa alasan lagi sih, tapi biarlah itu kita simpan untuk post lain saja.
—–
Catatan:
[1] Maksudnya tanpa disapu oleh saya ^^;;
[2] Entah bagaimana, kalau di rumah makanan selalu tersedia. Padahal tak sekalipun saya pergi ke warung untuk memesannya.
[/idiotMode = on]
[3] Hiperbola. Saya tak sejahat itu… kayaknya.
[4] Troll, maksudnya komentator yang tak bertanggung jawab. Sekadar datang untuk menuliskan komentar yang ofensif (atau flame) tapi tak pernah muncul lagi untuk melihat tanggapan kita.
bukan makhluk gede bulukan di serial HarPot lho
[5] Beliau sedang mengacu ke pemerintahan junta militer yang represif di sana.
paradoks…kadang2 hidup ini memang paradoks
Kadang memang lelah juga jika terus dalam kecepatan tinggi, maka sebaiknya memang di selingi juga dengan kecepatan rendah. *halah ngomong apa sih ini*
ah… lufakan aja curehat saya itu…
yang penting selamat atas keputusannya untuk tetap ngeblog, semoga memang bisa berguna.
“I’ll smash you to bits”.
Dulu saya sering menggunakan cara mirip Hulk ngamuk
itu kala beradu argumen dengan orang yang berseberangan dengan saya. Mencari argumen yang bisa menguliti pemikiran orang tersebut hidup-hidup.
Tapi semakin kesini saya semakin sadar bahwa terkadang mencari jalan tengah justru cara terbaik untuk memenuhi target kita.
Pertanda semakin tua (umur) mungkin , meski belum tentu bertambah bijak
Tetap semangat menulis mas Sora !
@ Shelling Ford
Iya sih, rada paradoks juga. Dijalanin nggak enak; tapi didiemin juga kayaknya gimanaaa, gitu…
:::::
@ danalingga
Lah, memangnya itu curehat™ ya?
BTW, saya nggak berniat berhenti ngeblog kok. Yang saya maksud kan berhenti nulis kritik dan tema-tema sosial lainnya. Kalau soal Photoshop dan bahasa Jepang sih jalan terus aja…
:::::
@ oddworld
Kembali ke ego juga sih saya kira. Saya juga dulu kesannya jengkel banget kalo melihat pemikiran yang berseberangan, tapi sekarang sih udah lebih terbiasa.
BTW, ulang tahun saya baru lewat, lhoWah? emang pernah kepikiran berhenti ngeblog?
Berenti nulisnya jadi mirip kaya Difo ya?? Difo juga akhirnya gatel2 dan nulis lagi sih,, hehehehe,,
Kalo menurut Ma sih, tulis aja Sora, toh yang ada bukan cuma orang yang bikin kesel, tapi juga orang yang suka berbagi ide, yang terbantu gara2 dapet pelajaran baru, dan orang yang ngerasa senasib sepenanggungan dengan Sora, yang akhirnya semangat karena tulisannya Sora,,
*Ma termasuk yang mana ya?*
Tapi tentang bahasa Jepang juga gapapa kok,,
ya emang yg nge-blog itu gila dan kita itu orang2 gila yang nggak dapet uang dari ngeblog tapi malah betah berjam-jam ngenet
nah ini nih sora, kamu nggak bisa maksa orang sama pikirannya sama kamu loh it’s impossible…
dan kebanyakan nge-blog juga bikin jiwa rusak kan??
peace!!!
eh saya ganti penampilan loh
@ Rizma
Dan untuk kesekian kalinya, saya dibilang mirip dia sama mbak Ma. ^^;;
Nggak kok, beda. Saya kan memang cuma pengen rehat. kalo Geddoe kan niatnya emang berhenti betulan, cuma aja dia nggak tahan.
BTW, makasih masukannya.
:::::
@ lily
Wah, entah ya. Saya bukan orang yang sangat mementingkan uang, soalnya…
*ditimpuk*
Makanya saya menggunakan pendekatan yang lebih baik. Pernah nggak saya nulis bahwa “kamu harus percaya bahwa tulisan saya benar”?
rasanya sih enggak lho
Intinya sih, saya cuma nggak mau diam kalau melihat orang-orang yang dibahas [di sini]. Gitu deh.
Aneh, kalau saya malah merasa lebih sehat. Dapet banyak temen, lagi.
(termasuk mbak ini juga
)
Oh, maksudnya penampilan blog? Kapan-kapan main ke sana deh kalo begitu. (o_0)”\
Kesimpulan saya cuma satu. Hidup itu susah.
Dan untuk menikmatinya, kita mesti menerima dulu premis di atas, seperti wejangannya Mbah Russell.
Kalau saya pribadi sih boleh dibilang ‘ganti strategi’, mas. Misalnya selama ini stigma yang berkeliaran di masyarakat itu adalah bahwa semangka itu wujudnya segi tiga. Lalu kita berpendapat berbeda, menurut kita itu wujudnya bulat. Kalau dulu mungkin saya bilangnya begini;
Sekarang jadi ‘melunak’ dan lebih skeptis (i.e. nggak dogmatik, termasuk pada diri sendiri);
Nyambung nggak ya?
[...] berkarya, menulis, berbagi dengan bertutur – jujur. Jujur – Tulus – [...]
@ Geddoe
Hoo… ada yang ganti strategi juga
Eh… beda rupanya?
Kalo aku malah jadi ‘keras dan tegaan’, Ged. Untuk penyeimbang saja. Sudah cukup banyak yang lunak-lunak di bumi ini
termasuk semangka yang bulat ituyang abisin waktu buat dijelasin.Kalo pada nggak ngerti juga, timpuk kepala mereka dengan semangka bulat itu sekalian, biar dilihat sendiri, misalnya
Ini… nyambung juga ndak ya?
the truth is….u’re one of few my fave bloggers….
does your fan mean sumthing to u ???
dikaitkan dg semangat menulis.
keep writing^^
setuju ama komen #11
does your fan mean sumthing to u ???
coz i’m one of your fans sora-kun
Nambahin komen Geddoe : Hidup sudah susah jangan dibikin [makin] susah (kayak lagu Iwan Fals)
Tapi yang paling mengasikkan dari nge-blog bagi saya adalah “mengetahui pandangan-pandangan orang lain”. Dinamika dan cara pengambilan kesimpulan, caranya mengungkapkan, ideologi/paham yang digunakan, dlsb itulah yang sangat menarik dari sebuah diskusi di blog. Blog akhirnya menjadi sarana meluaskan wawasan dan pikiran
yang terkadang dengan cara adhominem…ini menurut saya lho……
Saya juga, kalau memikirkan masalah-masalah yg mas Sora sebutkan diatas, bisa jadi malas nge-blog. Tapi intinya : saya telah bersuara, dan idealisme dalam suara itu tidak bisa dipadamkan hanya dengan komentar seperti bahasa troll
Mengenai seperti apa maknanya dlm benak seseorang, seperti apa pengaruhnya terhadap orang lain, seperti apa perubahan yang diharapkan, itu bukan urusan saya lagi. Media blog telah menjadi wadah untuk bersuara dan itulah wujud idelisme yang [katanya] sudah hampir punah.
ok….selamat menulis…
haha, memang ngeblog menghabiskan waktu tenaga dan biaya
…
tapi kadang-kadang menyenangkan juga, bisa lihat yang aneh-aneh di dunia sini..
@ fertob :
” Tapi yang paling mengasikkan dari nge-blog bagi saya adalah “mengetahui pandangan-pandangan orang lain”. Dinamika dan cara pengambilan kesimpulan, caranya mengungkapkan, ideologi/paham yang digunakan, dlsb itulah yang sangat menarik dari sebuah diskusi di blog. ”
hehehe…bisa baca kepribadian dr isi blog ya ??^^
*pertanyaan favorit para penggemar psikoclok eh psikolog*
*bacabacabaca*
mungkin sebenarnya bisa lebih sederhana, sih.
kalau mau menulis, ya menulislah. kalau tidak mau menulis, ya jangan menulis. kenapa mau melakukan sesuatu? karena saya ingin.
isn’t it simple?
btw, katanya sih,
that’s a nice one, or so I think.
@ Kopral Geddoe
Tergantung sudut pandang, brother. Kalau buat saya, hidup dengan sedikit beban kerja dan bisa minum kopi di sore hari itu enak dijalani…
Like surviving an enjoyable life, walaupun memang pasti ada masalah juga sih di sana.
Lha, memangnya saya selama ini nggak begitu, ya?
Nyambung kok, tenang aja.
:::::
@ alex
Hlah, padahal saya juga aslinya berusaha menyeimbangkan sama yang keras-keras. Gimana nih…?
Yah, karena komentarnya Geddoe nyambung, maka komentarnya Mas ini juga jadi nyambung.
*baca lagi*
Iya, masih nggak OOT kok.
:::::
@ restlessangel | Agiek
Everything.
*pake gaya Peter Parker pas berantem sama Sandman*:::::
@ fertobhades
Yup, betul sekali. Itu juga salah satu alasan yang membuat saya pengen tetap ngeblog.
BTW, saya setuju sama semua poin-poinnya. Apa Mas Fertob bisa baca pikiran saya ya? (o_0)”\
*kuatir*
:::::
@ atmo4th
Betul banget. Pernah nggak nemuin orang masih percaya matahari mengelilingi bumi di jaman sekarang?
saya pernah dong
:::::
@ yud1
“I’m selfish. Because I want everyone to be like what I want — so that we all can live together in a peaceful, pleasing world — in order for me to be happy. Perhaps I’m a very selfish utilitarian after all.”
–Me
*ngakak*
saya malah lagi ga ada ide buat nulis. soalnya lagi sibuk dengan garis mati.
yang pasti sih keep blogging aja. mau nulis apapun, biasanya setiap tulisan ada makna dan pesan moral tersendiri. biasanya lho…
Saja baroe sadar.
Ini entry tjoerhat kah?
betul sodara bambang ini curhat, kan saya juga ikut curhat di atas tuh.
Oh jadi maksudnya berhenti menulis kritik yang kemungkinan menimbulkan reaksi yang membuat lelah itu ya? Kalo itu sih sebaiknya jangan, sebab selalu santai itu membosankan.
jangan berhenti nulis, dan jangan lupa nulis yang ringan dan bikin ketawa kaya intelnet dulu itu *that was and still a very interesting post*
kenapa? blog lo adalah alasan kenapa sekarang gw ngeblog
di wordpress…*malah ikut curhat*
*halah, padahal belum diupdate sejak sebelum lebaran*
Begitulah hidup deritanya tiada akhir
Karena yang menyenangkan ada banyak
Terus berjuang, anda pasti dapat menggapainya
Kayaknya sang kekasih sehat-sehat saja ya.
*mual*
*ikutan ngakak*
Padahal sendirinya udah sadar kalo ga mungkin bikin orang itu sesuai sama apa yang kita pengen,
sama kaya susah banget pengen disukain orang seperti apa yang kita pengen,,Sama kaya Ma yang ngomel2 gara2 Agnes dipilih jadi no 39 di survey 100 Wanita Berpengaruh di Indonesia, di atas banyak orang yang lebih kompeten dari dia, papa Ma malah bilang,,
‘kamu ga bisa ngarepin semua orang itu punya pikiran yang sama kaya kamu!’
tapi Ma jadi mikir juga,, mungkin dia emang berpengaruh,, di suatu sisi apapun lah, yang ga Ma peduliin,,
Yah, gitu deh,,
Hmm,, tumben Ma dapet terima kasih dari seorang Sora,,
Katanya dengan menulis bisa menyehatkan kondisi psikis kita…
Makanya, bagaimana pun ga berubahnya keadaan seperti misalnya tetap saja ada orang yang begitu bertahan dengan pikirannya dan anti pada masukan apapun, atau yang tetap mencecar gimanapun, karena kita melakukannnya buat diri kita, itu ga berpengaruh. Kaya yud1 bilang, kita berbuat karena kita ingin…
Palingan saya merasa penyebab drop-nya semangat menulis saya di luar hal-hal itu, tergantung suasana hati dan kesibukan… *sok sibuk*
@ cK
Hmm, hmm…
*manggut-manggut*
BTW, ‘garis mati’ itu terjemahannya “death line” lho, bukannya “deadline”.
:::::
@ Bambang Soebiawak
Sebenarnya sih cuma sekadar cerita; tapi mungkin juga ada elemen curehat™-nya sedikit-sedikit.
:::::
@ danalingga
Hohoho!
:::::
@ rifu
Kapan-kapan deh nulis yang kayak gitu lagi.
:::::
@ almirza
Lha, kok jadi kayak orang nyemangatin cita-cita, sih…?
:::::
@ rozenesia
Pacar saya bukan laptop…
(artikan sendiri
):::::
@ Rizma
Paling nggak, dia cukup berpengaruh di mata para pemilihnya. Dapet posisi 39 dari 100 itu rada istimewa juga lho.
Lho, memang selama ini nggak pernah ya? (o_0)”\
*mode mawas diri = on*:::::
@ jejakpena
Dateng juga nih si mbak. Ke mana aja, oii?
Betul. Tapi, susahnya, saya ini orang yang egois. Coba baca komen saya yang nomor #17.
Emang kapan gitu mbak ini pernah sibuk? (o_0)”\
*ditimpuk*
[...] yang bisa kita ambil dari sebuah diskusi ? Salah satunya adalah berusaha memahami jalan pemikiran seseorang. Dengan memahami saja kita sudah bisa mendapatkan banyak [...]
Iya ya, gak sadar kalo skrg deskripsinya “I am currently 21 years old…” gak lagi 20… Long Live, bro!
Memang mengelola blog yang sperti ini tu seperti menjalankan stasiun TV atau menerbitkan majalah. Ada banyak topik mulai dari info keseharian sampai hal2yang menimbulkan silang pendapat. Bedanya TV dan suratkabar dijalankan oleh banyak orang, sementara weblog sendirian. Wajar terkadang terasa kepayahan…
Yah, berdebat memang menguras energi. Tapi dapat banyak teman, supporter, reinforcement & pengakuan juga kan?
@ jensen99
Yup, betul sekali. Di samping itu, media massa konvensional cenderung lebih tertutup pada komentar dan surat pembaca yang trolling, sementara blog lebih rentan terhadap serangan macam itu. Kalau menurut saya, ini juga jadi kesulitan tersendiri, sih. (o_0)”\
Ini juga betul.
Ah, terima kasih.
hmm…
[sok tau mode ON]
cobalah renungkan, kawan..
semua itu membuat hidupmu lebih berwarna..
apa jadinya bumi tanpa gaya endogen??
datar tanpa lipatan dan patahan..
begitu juga hidup tanpa masalah..
hampa
[sok tau mode OFF]
sora-kun, jangan ditimpuk ye???
btw, salam kenal ya.. [dulu udah apa belum, sih?]
*minggat
@ morishige
Lah… udah tiga kali kenalan sama yang ini, Mas…
Dulu yang pas post awal puasa, terus di buku tamu, sama yang di sini deh. Coba cek di [guestbook].
good idea
@ edi purwanto
Maaf, dua komen terakhir Anda dihapus. Isinya nggak jelas, soalnya.