Sebetulnya saya sudah capek membahas masalah yang satu ini, yang juga pernah saya bahas di prekuelnya post yang sedang Anda baca ini. Tapi, baiklah. For the sake of few things, saya akan menyempatkan diri menulis beberapa contoh lagi.
Jadi, ada sebuah pertanyaan besar. Benarkah Islam itu agama yang toleran?
Kalau Anda tanya saya, Islam itu ajaran yang toleran. Saya sendiri seorang muslim sejak lahir, dan percaya bahwa kita harus menghargai sesama manusia, tak peduli agamanya. Saya juga tahu bahwa Rasul, semasa hidupnya, rajin menyuapi seorang Yahudi buta yang menghinanya tanpa sadar. Saya tahu riwayat sahabat Umar bin Khaththab, yang pernah dikalahkan di pengadilan Islam karena melanggar hak seorang dhimmi miskin. Saya juga tahu bahwa Rasul tak pernah berkata kotor, lantas mencaci kepercayaan Kristen, Yahudi, ataupun pagan Quraisy tanpa ampun.
Iya, saya tahu kalau ajaran Islam itu (aslinya) mencontohkan toleransi. Kalau masih kurang, saya bisa menambahkan lagi dari hikayat Perang Salib — tentang Sultan Saladin yang tidak membalas pembantaian oleh Tentara Kristen tahun 1099, tentang Sultan Malik-al-Kamil yang bersahabat dengan Raja Kristen Frederick dari Jerman, tentang (lagi-lagi) Sultan Saladin yang mengirim minuman buah ketika Raja Richard dari Inggris terbaring sakit… dan lain sebagainya. Islam itu ajaran yang toleran, kok. Setidaknya ada banyak contoh yang bagus untuk itu.
…
…
Tapiii… ada sebuah tapi, saudara-saudara.
Tapi.
Tapi.
Masih ada masalah. Walaupun memang ajarannya seperti itu, benarkah semangat itu terwariskan ke umat Muslim di masa kini?
Entah kenapa, saya kok kurang yakin ya. Ketika…
…tetangga Kristen kita sudah ramah pada kita yang muslim saat Lebaran — sementara, waktu Natal, tak sedikit pun kita peduli? …ada pihak Kristen yang melakukan bakti sosial di daerah bencana, dan kita langsung menuduh mereka “melakukan Kristenisasi”? …banyak aktivis dakwah suka berteriak “Semua Yahudi laknatulah!” sambil melupakan mbak Corrie, Pak Shapiro, dan 16 pilot tempur Israel yang ogah terbang di langit Palestina? …ada sekelompok orang yang hobi mem-bid’ah-kan, mengkafirkan, dan menyesat-nyesatkan pihak lain, padahal ‘lawan’-nya itu masih muslim dan bersyahadat? …beberapa orang yang (konon) muslim justru lebih suka merusak, daripada melakukan dakwah yang persuasif? …agama ini dianggap membolehkan tindakan semacamnya bom Bali dan kawan-kawannya? (ya, saya tahu bahwa mungkin saja Amrozi dkk itu binaan CIA — tapi mereka kan menampilkan diri sebagai fundamentalis muslim) …sebuah pemerintah daerah non-syariat menyediakan denda, untuk warga (baik muslim maupun non-muslim) yang berani berjualan makanan di tengah hari bulan Ramadhan? …beberapa dari umat ini suka mengkotak-kotakkan dan pukul rata umat di luar jamaahnya?
…
…
…
OK, saya sih berani bilang bahwa agama Islam itu mengajarkan (dan menganjurkan) toleransi antar-dan-intern umat beragama. Tapi, perilaku umatnya? Itu sih urusan lain lagi.
Lama-lama saya patah arang juga sama umat yang satu ini.
Ps:
BTW, kalau ada yang bertanya-tanya, saya siap mempertanggungjawabkan isi tulisan ini di Yaumil Akhir kelak
. Saya sih cuma mengungkapkan fakta saja di sini; silakan cek berbagai link-nya untuk cerita lebih lanjut.
PPs:
Kelihatannya post ini semakin menguatkan tesisnya Geddoe soal jumlah post terkait agama di blogosphere. Apapun lah. (~_@)”\
kira-kira saya sudah toleransi belum ya?
*introspeksi diri*
*OOT*:
oh, kalau saya disini sih malah sering menerima ucapan merry xmas, bahkan bbrp thn yl saat saya sedang berpuasa hehehe…
*supaya ngga terlalu OOT*:
dan saya toleran kok.. apalagi ucapan itu diiringi dengan undangan dinner
tapi aku ko skeptis kalo mereka2 itu bakal paham dgn apa yang kamu maksudkan sora
Hehehe…
Saya sudah kenyang…
@ dewo
[OOT mode On]
Lha? Saya belum, Mas. Bukaan puasa saya cuma mie thok har ini
[OOT mode Off]
Yaaah… sabar saja Mas Dewo kalau merasa kena imbasnya. Lha, jangankan situ yang non-muslim, orang-orang muslim seperti saya saja merasa udah eneg….
Moga mengubah perilaku2 itu dalam diri sendiri.. gimana?
Pernah coba memberikan postingan yang menganjurkan toleran itu kah? tidak sekedar menjudge?
trus ada solusi ngak??
hehehehe…
@ Arul
emang masih perlu dianjurkan ya?
Bukannya semua orang harusnya udah tau? apa emang orang belom tau kalo kita itu harusnya toleran sama yang lain,,?
*bingung sendiri*
Eh iya, ini kok udah lagu lama banget ya Sora,,
ampe cape hati ngeliatnya,,
Masih menunggu kaum yang didakwa bersalah..
————-
Btw, saya sih fahamnya teori “Either” atau “Neither”. Kalau ada seorang Kristen yang memberi selamat Idul Fitri kepada saya, maka saya akan memberi selamat padanya saat Hari Natal.
Begitu pula sebaliknya. Habis perkara, kan ?
@ cK
Mari kita tanya pada rumput yang bergoyang™.
:::::
@ konsultan
Weh… ^^;;
Ah, saya justru berharap bahwa kita (umat muslim) lah yang turut berbagi kebahagiaan macam itu… walaupun ini jarang banget terjadi di Indonesia, sih.
:::::
@ Agiek
Makanya saya kasih tag “curhat” dan “opinion”.
:::::
@ dewo
Salam kenal,
Mohon maaf kalau Mas Dewo (sebagai pemeluk Kristiani) juga ikut terkena getahnya. Tapi kenyataan sekarang, masih banyak umat muslim yang cara berpikirnya model saling menjatuhkan macam itu. (-_-)
Saya juga sebagai bagian dari umat muslim merasa nggak nyaman banget sama keadaan ini. Seperti yang diungkapkan sama mas Alex di komen #5, lah.
:::::
@ aRuL
Pernah baca postingan saya yang soal [persahabatan internasional] nggak? Tanpa men-judge saya cuma mengkritik?
Kalau Mas bertanya bagaimana solusinya supaya umat saling bertoleransi, jawabannya gampang. Turunkan ego, dan niatkan untuk hidup bersama dalam damai. Jangan prasangka buruk dan saling menjatuhkan. Boleh saja menuduh kristenisasi, misalnya, tapi harus ada bukti yang kuat.
Seandainya Mas pernah baca kisah lengkap Perang Salib, mungkin Mas akan paham kenapa saya menulis post seperti ini.
:::::
@ Rizma
Ini memang lagu lama kok. Cuma aja ada beberapa komentar baru — dan pemahaman tersendiri — yang bikin saya pengen nulis tentang ini sekali lagi.
:::::
@ Mihael “D.B.” Ellinsworth
Saya juga seringnya kayak begitu.
Saya setuju dengan kbanyakan poin (nilai2) di atas, kecuali yg ini :
Tapi… saya peduli :
Begini,
saya lama tinggal di daerah yang dominan penghuninya non muslim (salah satu daerah di pem. siantar – sumut, negeri batak).
Suatu musim natalan, saya jelaskan kepada teman2 [akrab] non muslim tsb tentang keyakinan saya :”Ucapan selamat Natalan bagi muslim terlarang”.
Ada sih sebagian yang kecewa, tetapi kebanyakan menerima kok. Teman2 non muslim yang kecewa tersebut tnyata kbanyakan justru tmasuk klompok penganut agamanya yg tidak toleran. Belakangan saya tahu persis tentang ini melihat perkembangan saat berinteraksi dgn mereka kemudian.
KESIMPULAN :
Kbanyakan non muslim itu sebenarnya mau toleran untuk menerima keyakinan muslim seperti tsb di atas. Cuma kadang2 kita aja yang gagal menjelaskan, atau gagal di pergaulan sebelumnya sehingga kkecewaan mereka sebenarnya tbawa2 dari sana. Kalo kita sendiri tidak mau (enggan) menjelaskan tentu mereka juga tidak tau kalau itu adalah salah satu prinsip keyakinan muslim.
Yang terpenting adalah : Kalo mereka tidak menerima, berarti mereka juga tidak toleran di kaca mata kita, seperti halnya kita yang dianggap tidak toleran di kaca mata mereka. Fifty – fifity toh…
Jadi menurut saya di dunia yang heterogen ini, toleran itu ko jadinya relatif, tgantung kaca mata yang dipakai merk nya apa. Hal ini mungkin mudah dipahami jika sekira kita juga setuju bahwa kebenaran itu relatif terhadap orang yang meyakininya. Karena menurt [kaca mata] saya [saja], kebenaran yang saya yakini itu mutlak adanya. Jika menurut mereka tentu tidak, biar aja.
Gitu aja kok repot.
Jadi mas Sora untuk meraih tingkat evolusi moral yang lebih tinggi, kita mungkin harus lebih toleran pada orang-orang yang tidak toleran
@ Herianto
Wah, makasih kisah dan masukannya, Pak.
Memang, di satu sisi kita bisa melihatnya seperti itu. Kalau lawan bicara kita itu mengedepankan toleransi, kemungkinan besar excuse kita itu bisa diterima dengan baik. Peluangnya ya 50-50, seperti yang Bapak tulis sebelumnya. Alangkah baiknya kalau ternyata komunikasi macam itu bisa menjembatani perbedaan antara kita dan mereka.
Adapun saya di post ini (dan sebelumnya) hanya berusaha menempatkan diri di pihak saudara yang nonmuslim. Tentunya ini jadi rada subyektif, dan belum tentu menjelaskan keadaan di luar sana. Karena hanya mengandalkan diri saya saja sebagai penilainya.
Setuju.
:::::
@ oddworld
Betul-betul tugas yang berat, saya rasa. ^^;;
Masalah utamanya (IMO), saya ini satu umat (dan keyakinan) dengan kaum muslim yang dijelaskan di post. Kalau saya memutuskan bertoleransi pada sikap mereka, siapa lagi yang mau menegur — dan menunjukkan — kekurangan-kekurangan yang mereka miliki?
Itu bagian dari paradoks yang kita hadapi, atau argumen sirkular ya ?
Contoh lain tentang multikulturalisme, penghargaan yang diberikan kepada sistem budaya lain, apakah berarti sistem budaya (dan agama) yang tidak toleran harus kita toleransi ?
Banyak penganut budaya yang tidak toleran itu berargumen bahwa ‘pemaksaan toleransi’ itu juga membuktikan bahwa kita sendiri tidak toleran.
Demokrasi (termasuk nilai toleransi didalamnya) yang dibawa dengan cara kekerasan dan pemaksaan seperti style-nya Bush Administration saya kira menambah runyam masalah.
@ oddworld
Yup, tepat seperti paradoks kebebasan berpendapat yang terkenal itu.
Sebetulnya sih bukannya saya “tidak toleran samasekali”; yang saya maksud adalah saya tetap menghargai mereka. Hanya saja saya masih berusaha untuk terus menyampaikan apa yang saya merupakan ‘kekurangan’ umat yang disebut.
Kalau akhirnya usaha saya gagal ya, apa boleh buat. Biarlah keyakinan itu jadi milik kita masing-masing saja.
gimana cara ngubahnya ya?
@ caplang
Mari kita tanya pada rumput yang bergoyang™.
*copy paste dari reply komennya cK*
klasik…
klasik tapi krusial…
@ Shelling Ford
Tapi tak pernah disadari…
*sampai post lama itu pun masih ada aja yang ngomenin lagi.
*
Haiks, kok sama-sama bikin sekuel dari postingan lawas? Bawa-bawa ‘tapi’ itu lagi…
Saya ikut mengamini saja, deh. Mari menurunkan ego…
sora9n said :
*
*sampai post lama itu pun masih ada aja yang ngomenin lagi.
—>> whoaaa….ngomongin gw yak?
@ maman_herry
Nggak cuma Anda, kok. Tapi juga mas/mbak yang komen di nomor #21 di post itu. Komentarnya muncul setelah berbulan2 post itu lewat.
Dan saya yakin, masih bakal ada lagi komentar yang masuk di masa depan. Jadi tenang aja, Mas ini bukan yang terakhir kok.
hmmmm….gw pikir selama ini gw cukup toleran, sampe akhirnya, uda 2 tahun ini gw pacaran dg orang yg berbeda agama (dia katolik).
man…..betapa berat…..inner conflict yg gw alami. bahkan keluarga gw pun bilang, kl sampe kawin berarti gw zina seumur hidup. yah mereka khawatir bgt gw bakalannya pindah agama. bener2 konflik dg apa yg gw yakini selama ini dg apa yg gw rasakan. *curhat nih, critanya, heheh*
negara ini bener2 butuh orang2 yg open-mind dan open-heart.
ikut nimbrung.. salam kenal
toleransi…heeeem..barang mahal di indonesia….lebih mahal dari intan permata dan segalanya..yang perlu diintrospeksi ke masing2 umat:1)agama satu dgn yg lain beda (jgn pernah nyari2 kesamaannya, pasti beda) 2) 2 saja pengecualian kesamaan kita disiptakan oleh Yang Maha dan semua agama mengajarkan kebaikan, hy umatnya saja yang gablek. so..apa yang harus dilakukan utk bertoleransi..sadarlah kita beda.. tapi beda itu indah..lihatlah pelangi…karena beda warna itulah jadi indah dan harus hidup berdampingan..(pelangi kalo satu warna dan tercecer2 mana sedap dipandang mata). jadi yang umat kristen klo emang ndak dapat salam natal dari saudara muslim (karena emang dilarang) jgn marah/tdk terima ..ya itulah bagian dari perbedaan…sebaliknya begitu..klo umat muslim sedang puasa.klo ada org kristen jualan makanan ya jgn marah apalagi sampe dirusak…makin kita dapat menahan hawa nafsu dalam bulan suci ini makin besar phalanya…so bertoleransilah dan sdarlah kita beda…tapi beda itu indah.
salam
uumm…
klu mnurut Saia.. memang toleransi itu sangatlah amat dperlukan.. untuk menjaga kehaRmonisan antar sesama
tetapi.. masyarakat di negara yang kita cintai ini memang susah untuk diajak bertoleranSi.. dan menurut saia kita memang harus share tentang permasalahan diatas karena untuk menjadikan masyarakat yg dapat bergaul dengan bijak tanpa memandang kepercayaan itu tergantung pribadi masing-masing dan fungsi dr comment2 diatas menjadikan kita untuk berpikir lebih baik lagi tentang toleransi umat beragama…so, kita harus memberikan masukan2 yang baik laah disinii!!
gt kli iiaa??
tapi.. klu saia pribadi c, 9w yakin sudah cukuP toleran terhadap teman2 beda agama.. c0z gw punya ”gank” berempat yang beda agama gto… 2 nasrani 2 moslem..
mreka yang non muslim kadang2 suka ngasih kartu ucapan idulFitri.. yaa pokok_na timbaL balik laah..mreka jg nggak ganggu gw lg puasa!! gw pun jg ngga ngajak jaLan mreka di minggu pagi!! dan sebagai muslim yang baik, gw sLalu nunjukkin kMreka klu islam itu agama yang cinta damai… dan gak meaning klu ada yang bilang islam itu teroris??!! waduuw serem daah!!
krn mnurut saia amrozi dkk itu bukanlah seorang moslem ( klo kata orang2 itu islam KTP!!)hehe c0z saia stuju PadaMuw klu rasuL nggaK ngajaRin jiHad yan6 kYk gtu!! menyengsarakan orang banyak!!
yawDa d.. kBanyaKan..ni (nyadaR!) hehe
owyaaa met iduL fitri juga!!
[...] Saya harap pembaca yang budiman tidak lantas terburu-buru mempertanyakan keislaman saya karenanya, terima [...]
Aku setuju dengan sora, emang itu yang sedang menjadi penyakit masyarakat kita saat ini. Sekali lagi penyakit masyarakat, dan bukan penyakit agama. Semua agama itu baik, hanya saja ya manusia-nya yang terlalu meng-kultus-kan agama dan pemimpin2-nya, itu yang bikin segala sesuatu-nya semrawut. Dan akhir-nya ya bikin chaos, menganggap kalau apa yang di-anut-nya itu lebih benar, sehingga memberikan <excuse untuk meng-hancur-kan yang lainnya
Aku sih memimpi-kan- sebuah liberal-isme terhadapa paham agama, tanpa harus meninggal-kan nilai-nilai agama itu sendiri
[...] saya di internet ini beserta dinamikanya. Mulai dari masalah Harun Yahya yang dulu, hingga kesan intoleransi yang tampaknya dimiliki oleh umat agama saya. Lalu soal teori evolusi dan sekuelnya, yang berbuntut [...]
wah lama ga maen ke blog ini.
puasa ngeblog 2 bulan gara2…ehm…baca aja di blog deh :p
sori telat banget
selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin ya
@ lambrtz
Sama-sama, mohon maaf lahir dan batin juga.
BTW, Bagian kartu lebarannya blog ini ada di [post yang ini]. Kalo yang di atas itu mah curhatan saya aja.
Ah, saya juga sempat ‘libur’ ngeblog kok selama 3 minggu. Bisa dibaca di trekbek nomor #28.
[...] kesan umat yang kurang toleran. Umat yang keras. Yang merasa dirinya sebagai yang paling benar. Hingga titik tertentu, [...]
[...] saya harap pembaca cukup bijak untuk tidak mempertanyakan keislaman saya karena saya telah merilis post ini. Terima kasih sebelumnya, semoga Tuhan memberkati [...]
urusan kulit dan baju agama .. banyak laku yaa ..
[...] diakui bahwa itu dilakukan oleh teman2 muslimnya yang memiliki pemahaman luar biasa pula DALAM HAL INTOLERANSI secara berbeda [...]
ngga’ tau harus komen dimana. jadi saya bagi bagi aja ya… berbeda tapi satu jua…
hontou ni mairimashita ne, sono ue no comment
OK. saya mulai frustasi melihat komen-komen yang masuk di blog anda.
tapi yang pasti ngomongin agama itu hal yang sensitif, ngga bakal selesai dengan diskusi di blog ini aja. saya jadi ingat komentar salah satu teman saya kalo saya mulai mendiskusikan masalah agama sama dia. dia bilang” …………..
“kalo kamu ngga’ punya pemahaman yang dalam soal agama mending ngga’ usah bicara soal itu.”
untuk saat ini saya abaikan saja peringatannya itu.
before that, apa saya harus berteriak bilang “JANGAN NILAI DARI PENGANUTNYA!!!!” apa lagi jaman sekarang, yang udah jauh banget dari jaman para nabi, dimana tidak ada tempat untuk mendapat jawaban langsung. makanya, mencari dan mendalami agama itu bukan hanya dari pandangan manusia, tapi yang PALING PENTING adalah SUMBERNYA yaitu al-quran dan hadis nabi, NOTHING ELSE. yang lain itu buat tambahan aja, rujukan tetep ke yang the best two tadi, sesuai,ambil. ngga’ lupakan, maksudnya sumber yang selain the best two.
makanya banyak berkembang aliran-aliran baru, karena yang di ikuti itu bukan ‘the best two’ tadi, tapi malah siapa yang bilang -maka jadilah dia pengkultusan sesosok manusia, kalo “orang itu” menyatakan salah, tanpa mikir lagi sang pengikut bilang salah- padahal siapa tahu aja “orang itu lagi khilap(mengingat ‘orang itu cuma manusia biasa, sedang nabi aja yang langsung bimbingan dari Tuhan aja ada melakukan khilaf) maka ikut khilap lah pengikutnya, kan berabe- yang udah hasil asuahan dari generasi kegenerasi dan berkembang dengan hasil pemahaman nya sendiri -mengingat agama itu buat orang yang berakal, tapi siapa jamin pikiran kita itu benar, sekali lagi jawabannya the best two! dan berharaplah pada Tuhan untuk selalu ditunjukkan jalan yang diridhoi-Nya.
beda sama Rasulullah, beliau langsung Allah SWT yang ‘ngajarin’….mungkin itu kenapa rasulullah udah yatim piatu sejak kecil, karena tidak ada pengaruh orang tua.- ini mungkin lho, ats dasar pemikiran saya sendiri, jangan dijadiin referensi-
itu masalah mereka, lakum dinukum jawabannya…
toh kita ngga minta mereka kasih selamat dan ngga menganggap mereka jahat and ngga pedulian karena tidak ngasih selamat ke kita. dan menurut saya ucapan selamat -apapun itu- adalah sebuah pengakuan.
jadi kalo kamu ucapin selamat keagamaan artinya….(it goes without saying) khan? nah lo?
itu yang namanya paranoid, kalo orang yang parno itu yakin dengan keimanan orang seagamanya kenapa musti kuatir and nuduh misi kristenisasi
yakin mereka yang teriak yahudi laknatullah bukan karena nafsu mereka semata atau ada dorongan yang memang menyebabkan mereka berteriak seperti itu???? ingat juga dalam islam kita dibolehkan berperang dan membunuh hanya apabila ada tantangan perang secara terang-terangan dan membunuh tanpa hak lho. lagian mbak corrie itu apa yahudi?-yang ini nanya beneran-
ini hal sensitif. panjang ceritanya…, ah sedikit dech, mazu, masalah itu saya ngga salahkan, tapi mungkin sikapnya aja yang perlu diperbaiki. kita bolehkan menganggap ‘salah’ sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang kita pahami. tapi harus di sikapi dengan bijak. contoh: kalo kita tidak suka pada makanan khan bukan berarti kita harus memaki-maki tu makanan, tapi kita cukup ngga akan pernah mendekati makanan itu, apalagi mencoba memakannya (ini bukan contoh fallacy lho
, kalo ngga’ ngerti maksud saya, ngga’ ngerti dech) itu juga yang terjadi disini, karena hal kecil(baca: curhatnya sora-kun), diskusinya panjang gini (but i like it
)
siapa orang itu, udah lihat bagai mana dia menjalankan agamanya. ngga selalu indikator ketaatan agama itu adalah 5waktu komplit plus ngaji sekalian baca arti walo hal ini mutlak. tapi agama itu utuh, termasuk budi pekerti. kesetakterhingga kali saya bilang “jangan lihat dari orangnya, tapi ajarannya”. ngga’ heran kenapa anda jadi rada agnostic. kalo anda lihat dari penganutnya bukan agamanya, sampai kiamat ngga’ bakal selesai diskusinya. tapi kalo bikin perbandingan agama lewat apa yang tertulis pada kitab sucinya, saya rasa baru bisa diterima. coba lihat biasanya alasan apa yang membuat seorang mualaf islam?
truz, karena ngga’ bisa orang nya yang dilihat, makanya saya kasih contoh yang malah dikira fallacy coment (memang sich kalo ngga ngerti maknanya), tapi itu sebenarnya ada maksudnya. saya kira anda paham maksud tersirat dari contoh diatas, eh malah sepertinya anda cuma melihat di surfacenya aja. trus mengira kalo saya bermaksud menyatakan kalo anda bakal masuk neraka.
ngomong-ngomong mengenai neraka……..
baik saya jelaskan kenapa saya kasih contoh yang -kayaknya- ngga yambung gitu. intinya bukan amalannya aja, tapi landasan amalan itu sendiri. walo kamu udah sampek itam tuh jidad karena sujud, tapi kalo niat sujud itu bukan menambah rasa taqwa dan pengabdian pada Allah, ngga’ heran banyak orang seperti yang anda contohkan diatas. makanya tu ahli ibadah masuk neraka, karena ibadahnya bukan bertujuan untuk sebuah bentuk ke taatan pada perintah allah, tapi untuk masuk surga. dan untuk masuk surga itu hal yang misterius. ada kisah menarik bagaimana seorang pelacur kenapa akhirnya bisa masuk surga…. ah males mengilustrasikannya, ntar orang wikipedia itu ngirim definisi fallacy lagi…
sebagai buktinyata betapa sulitnya bahkan bagi orang muslim sendiri untuk memaknai arti ibadah puasa… dan betapa rapuhnya keimanan orang islam itu, kalo mereka ngga bakal ngiler lihat jualan itu dan tidak membelinya…
::arul
setuju! mending bikin postingan yang menunjukkan betapa damainya hidup berdampingan walau beda agama, kalo udah bikin lagi dengan lebih menyentuh
*melimpahkan tanggung jawab karena merasa tidak mampu* mengingat betapa ramainya blog ini. dan sepertinya banyak yang mendengarkan, melihat postingan anda.
::rizma
itu lasan kenapa perlu ada udztad dan sejenisnya. karena pada dasarnya manusia itu pelupa, jadi musti sering-sering diingetin
begitu ya…, gemana kalo bikin postingan persuasif untuk sesama muslim tentang bagai mana kita meningkatkan keyakinan agama kita sendiri dan toleransi terhadap agama lain?
kita harus berperang kalo ada ajakan perang kan? itu yang tertulis dalam holy alquran, ah kalo udah nyinggung ini jadi hampir ngga bisa nahan diri buat serita lebih panjang.
saran : karena kamu muslim, baca dan pahami sendiri kisah, perintah dan larangan yang ada dalam alquran. but remember : jangan harap dapat jawaban dengan sekali baca (referensi pribadi dimana barun yadar ada ayat yang menjawab masalah saya saat saya benar2 berniat mencari jawabannya di al-quran), dan ingat sucikan hati dan pikiran sebelum melakukannya. adakala walo kebenaran ada didepan mata kita, hal itu tidak akan terlihat kalo kita masih dipenuhi nafsu -dalm berbagai bentuk-
whua…. kok tulisan yang terakhir itu tebal semua :mgreen: tolong ‘normalkan’ kembali duong sora-kun
P.s sepertinya karena sedang edit profil, nama yang tertera tidak sesuai dengan yang di inginkan…., duch tolong lagi perbaiki ya…. jadi ‘BdSnowie’ plizzzz. onegai ne
Hmm, it seems that it is a staple for apologetics to voice the blame-the-people-not-the-teachings aphorism.
It has the scent of logic to it, but essentially a defeatist.
@ garfield
Sekadar info, sebaiknya Anda cek dulu semua link yang saya berikan di atas. Cerita lebih lengkapnya di setiap topik ada di sana, soalnya. ^^
Why, I don’t wonder…
Nggak perlu, kan udah saya tulis di bagian akhir:
Masalahnya pada umatnya, lho. Saya sih nggak menyerang doktrin keagamaannya secara langsung.
“Selamat merayakan Natal”
Berarti saya mengakui mereka merayakan Natal dong. Mana saya peduli Natal itu hakikatnya apa. Pokoknya, “selamat merayakan”.
Coba cek link-nya. Rachel Corrie dan Adam Shapiro itu aktivis anti-zionisme berdarah Yahudi-Amerika; mereka kontra menentang pendudukan Israel di Palestina. Adapun Rachel Corrie akhirnya meninggal tergilas buldoser tentara Israel — terjadi waktu beliau membela penduduk Palestina di Rafah.
Yang ingin saya tekankan adalah bahwa tidak semua orang Yahudi itu jahat dan sadis. Ada beberapa gelintir diantara mereka yang membela kepentingan muslim Palesina, dan tidak seharusnya mereka disamakan “laknatullah” seperti pemerintah Israel.
Saya nggak memaki umat, kok. Saya curhat… dan otokritik. Kalau nggak diterima? Ya sudah.
FPI, mas/mbak. Tentunya masih ingat waktu mereka sibuk menghajar diskotik dan lain-lain selama Ramadhan yang baru lewat.
*tolong baca link-nya, makanya* ^^;;
Soal itu, coba Anda baca tanggapan saya buat Anda di [post yang ini]
Kalau begitu, menolak sains demi cinta pada Allah itu baik, dong?
*hubungannya ke post yang satu lagi*
That’s what I meant!
Coba baca komentar saya yang nomor #10, di situ saya udah berikan link ke post saya soal persahabatan internasional.
Lihat nanti lah, IMO.
:::::
@ Kopral Geddoe
*angkat bahu*
*berlalu dalam sunyi*
[...] Agama? Agama? Aku mulai memikirkan kegundahan hatiku kala manusia bertanya kepadaku, apakah agama yang melekat dalam jiwa dan ragaku? Sebenarnya apa agama yang aku anut? Ah, kebingungan dan kegundahanku kala itu melahirkan sebuah tulisan yang mungkin pantas kutahbiskan sebagai sajak. Apakah aku yakin dengan ini semua? Waktu belum menjawab, ujarku. [...]
[...] Agama? Agama? Aku mulai memikirkan kegundahan hatiku kala manusia bertanya kepadaku, apakah agama yang melekat dalam jiwa dan ragaku? Sebenarnya apa agama yang aku anut? Ah, kebingungan dan kegundahanku kala itu melahirkan sebuah tulisan yang mungkin pantas kutahbiskan sebagai sajak. Apakah aku yakin dengan ini semua? Waktu belum menjawab, ujarku. [...]
Sangat setuju dengan anda!
Islam Indonesia sangat melenceng dari yang Rasullullah lakukan
[...] Idul Fitri kali ini jadi momentum perbaikan umat, terutama bila dibandingkan dengan yang dulu-dulu. Perayaan yang baik adalah perayaan yang disertai refleksi — oleh karena itu, mari kita [...]
Yah kalau semua orang bisa memahami perbedaan, pastilah dunia lebih damai
Kalau saja setiap orang beragama mempelajari ajarannya dengan sungguh-sungguh, luas dan mendalam serta memahami dan menghayati isinya/substansinya insya Allah akan menemukan apa yang menjadi platform semua ajaran agamanya/madshabnya dan akan menyingkirkan hal-hal yang bersifat bukan prinsip/remeh. Sesama umat Islam misalnya sering bentrok karena masalah shalat taraweh. Yang satu 23 rakaat yang lainnya 11 rakaat. Mereka berkelahi memperebutkan yang sunnah tetapi berbuat yang diharamkan oleh agama yaitu berkelahi. Bagi umat Islam coba antara lain pelajari surat/ayat: al-Baqarah/2:213, al-Hujurat/49:13, al-Maidah/5:48, al-Baqarah/2:62, al-Hajj/22:40 dan al-Hajj/22:17. Karena firman-firman Allah tsb. saya sanggup toleran terhadap penganut agama lain termasuk mengucapkan selamat Natak kepada umat Kristen. Yang membuat perbedaan antar penganut agama adalah masalah perbedaan waktu, tempat dan budaya, belum lagi dasar pendidikan. Ilmu yang mendukung keimanan akan mencegah pencemaran/taklid buta.