Tulisan ini terakhir kali di-update pada tanggal 11 Oktober 2009. Fokus tulisan adalah pada Teori Evolusi generasi awal, i.e. Darwinian — dengan demikian pembahasan mengecualikan sintesis evolusi yang lebih modern. (misal: evolusi molekuler, population genetics, dsb.)
Untuk bahasan terkait metodologi ilmiah di balik teori evolusi, silakan klik:
[Sedikit Tentang Metodologi Ilmiah dan Teori Evolusi (lagi)]
Untuk post yang membahas kesalahpahaman yang sering terjadi tentang evolusi, klik:
[Beberapa FAQ mengenai Teori Evolusi]
——
Gara-gara komentarnya Mas Fauzan di post yang menyinggung pseudoscience tempo hari, saya jadi membaca ulang berbagai materi tentang Teori Evolusi dan tulisan Pak Harun Yahya yang ada di komputer saya (semuanya e-book, maklum mahasiswa
). Tambah lagi On the Origin of Species, karya Charles Darwin yang jadi e-book suci ‘kitab suci’ teori tersebut, maka lengkaplah jam belajar saya di depan komputer tempo hari. Tapi bukan itu yang hendak saya bahas kali ini.
Di komentar tersebut, Mas Fauzan menanyakan hal sebagai berikut:
Apa buktinya kalo Teori Evolusi itu benar? Ato, sebaliknya, apa buktinya kalo Teori Evolusi itu salah? Can you all show me the proof?Ayo, mas sora, buat artikel yang lebih komprehensif lagi. Kejanggalan apa yang ada pada teori Harun Yahya? Kemusykilan apa pula yang terdapat pada teori Darwin?
Yang manakah pseudoscience sebenarnya? Teori Darwin atau Teori Kreasionisme?
Nah, tulisan ini adalah sebagai respon untuk komentar di atas.
Pertama-tama, perlu dicatat bahwa tulisan ini dibuat oleh saya, seorang mahasiswa teknik yang kebetulan tertarik pada beberapa cabang ilmu sekaligus. Tentunya ini berarti bahwa saya bukan pelajar — apalagi pakar — resmi di bidang Biologi.
Dengan demikian, saya membuka diri pada masukan, koreksi, dan sebagainya jika ada di antara pembaca yang berkompeten. Berbagai respon tersebut bisa disampaikan lewat kolom komentar di bagian bawah post ini.
Jadi, mari kita mulai…
- ed.note
Untuk menyesuaikan dengan pembahasan, Anda bisa men-download versi e-book dari Origin of Species di URL ini (format PDF).
Anda juga bisa membaca tanggapan kontra-evolusi yang dilancarkan oleh Harun Yahya di situs beliau. (link dari wedulgembez)
***
Teori Evolusi, Benar atau Salah?
Berikut ini adalah poin pertama dari komentar yang hendak saya bahas.
Apa buktinya kalo Teori Evolusi itu benar? Ato, sebaliknya, apa buktinya kalo Teori Evolusi itu salah? Can you all show me the proof?
Apakah Teori Evolusi itu benar? Atau salah?
Sejauh yang saya tahu, Teori Evolusi tidak pernah dianggap 100% benar. Meskipun begitu, ia juga tak pernah dianggap 100% salah sampai sekarang ini.
Lho, kok bisa?
Kurang lebih begini ceritanya.
Pada awal kelahirannya, Teori Evolusi adalah sebuah philosophical device untuk menjelaskan keragaman spesies, sebagaimana diamati oleh Darwin dalam lima tahun perjalanan di atas kapal H.M.S. Beagle. Dengan demikian, teori ini pada awalnya adalah sebuah hipotesis murni dari Darwin, dalam usahanya mengurai asal-usul spesies di muka bumi.
Mengutip dari kata pengantar Darwin di On The Origin of Species,
After five years’ work I allowed myself to speculate on the subject, and drew up some short notes; these I enlarged in 1844 into a sketch of the conclusions, which then seemed to me probable: from that period to the present day I have steadily pursued the same object
Nah, karena sifatnya yang berupa spekulasi, Darwin sendiri merasa bahwa teorinya masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu dia menyertakan Bab VI di bukunya, yang diberi subjudul Difficulties on Theory. Ia sendiri mengakui bahwa terdapat kesulitan yang menghambat Teori Evolusi rancangannya dari “menggambarkan keadaan alam yang sebenarnya”.
Saya tidak akan repot-repot menulis semuanya di sini (soalnya panjang, sebaiknya Anda baca sendiri). Meskipun begitu, sebagai gantinya, saya akan menuliskan beberapa contoh keraguan yang menggelayuti Teori Evolusi — terutama, yang muncul di masa-masa awal perkembangannya.
-
1. Jika memang spesies nenek-moyang berevolusi perlahan-lahan menuju keragaman yang ada sekarang di muka bumi, mengapa spesies peralihan yang ditemukan cenderung meloncat-loncat?
Darwin mengemukakan ini sebagai kekurangsempurnaan ilmu paleontologi di saat itu, dan mengharapkan ditemukannya missing-link proses evolusi tersebut di masa depan. Meskipun begitu, hingga 140 tahun sesudahnya, ternyata fosil peralihan yang kita dapat masih snapping/tidak benar-benar mulus.
Salah satu dari sedikit contoh terbaik, yang mewakili gambaran teori evolusi, adalah fosil peralihan kuda — di mana terdapat lima spesies yang menunjukkan perubahan dari Eohippus (kuda primitif) menjadi Equus, kuda modern yang kita kenal sekarang. Adapun kebanyakan spesies lain masih memiliki missing link dalam rantai evolusi mereka (e.g. dari dinosaurus ke Archaeopteryx, menuju burung modern).
2. Mungkinkah evolusi perlahan-lahan mengakibatkan tersusunnya organ-organ sangat-kompleks seperti mata, yang berbeda secara radikal di banyak spesies?
Darwin menulis di bukunya sendiri soal ini, sebagai berikut:
“To suppose that the eye, with all its inimitable contrivances for adjusting the focus to different distances, for admitting different amounts of light, and for the correction of spherical and chromatic aberration, could have been formed by natural selection, seems, I freely confess, absurd in the highest possible degree.”
Meskipun begitu, ia berspekulasi bahwa hal tersebut mungkin terjadi, walaupun dengan kemungkinan berhasil yang sangat kecil. Sebaiknya Anda baca sendiri selengkapnya di Bab VI tersebut.
3. Mungkinkah hasil adaptasi temporer, oleh satu individu terhadap lingkungan, mempengaruhi genetika individu tersebut, sehingga hasil adaptasi itu bisa diwariskan?
Dalam kasus ini, kita bisa mengasumsikan sebagai berikut. Seorang pria ras mongoloid (e.g. Indonesia, Melayu) yang bekerja di bawah matahari sepanjang tahun akan memiliki kulit yang lebih gelap, bila dibandingkan pria mongoloid pada umumnya. Apakah perubahan ini mencakup perubahan genetis yang diwariskan pada keturunannya?
4. Katakanlah spesies nenek-moyang mulai dari darat. Mereka sudah mulai mengembangkan diri dengan mapan; mengapa harus berevolusi ke bentuk burung untuk tinggal di angkasa?
Ini adalah pertanyaan yang juga berhubungan dengan kehidupan perairan. Mengapa spesies harus ‘melebarkan teritori’, sedemikian hingga mereka meninggalkan tempat tinggal mereka yang nyaman, dan berevolusi supaya bisa hidup di lingkungan yang jauh berbeda? Bukankah ini meningkatkan resiko kematian spesies itu sendiri?
Dan masih ada beberapa pertanyaan lainnya. Lebih lanjut bisa Anda google dengan kata kunci “obstacles on evolution theory”.
Ada Beberapa Keraguan, seperti yang Sudah dijelaskan di Atas. Jadi, Kenapa Teori Evolusi Masih Dipertahankan?
Anda mungkin bertanya-tanya, mengapa teori yang mempunyai beberapa ‘titik lemah’ bisa dipertahankan sebagai sebuah konsensus ilmiah. Kenapa bisa begitu?
Tak lain karena teori tersebut telah berhasil menjelaskan banyak hal dengan tepat di dunia biologi. Beberapa di antara ketepatannya bisa dijabarkan sebagai berikut ini:
Pertama, teori ini bisa menjelaskan adanya perubahan gradual dari satu spesies yang lebih tua ke spesies yang lebih modern. Misalnya contoh penemuan fosil kuda, dari Eohippus hingga kuda modern (Equus). Contoh lain adalah perbedaan fosil manusia purba dari Meganthropus (yang lebih tua) hingga menuju Homo erectus (lebih muda). Di satu sisi, perubahan itu terkesan snapping dan meloncat-loncat. Meskipun begitu, Teori Evolusi telah memprediksikan fenomena ini: perbedaan tersebut adalah ekses dari proses perubahan berkesinambungan.
Lebih lengkap mengenai fosil peralihan dan pernak-perniknya, bisa dilihat di link-link berikut:
[List of Transitional Fossils]
[Transitional Vertebrate Fossils FAQ]
[Taxonomy, Transitional Forms, and the Fossil Record]
Kedua, Teori Evolusi bisa menjelaskan perbedaan minor antar spesies. Misalnya, mengapa paruh burung pemakan biji di Galapagos berbeda satu sama lain? Karena terjadi spesiasi, di mana satu spesies yang sama berkembang ke arah morfologi yang berbeda sebagai efek dari kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan. Begitu pula yang terjadi pada kebanyakan spesies lain — di mana mereka memiliki morfologi yang berbeda tergantung keadaan lingkungan tempat mereka hidup.
Gambarnya bisa dilihat sebagai berikut.

Ketiga, Teori Evolusi juga berhasil menjelaskan landasan di balik sistem klasifikasi/taksonomi makhluk hidup.
-
Update: yang saya maksud adalah taksonomi makhluk hidup berdasarkan kemiripan dalam hal bentuk/homologi dan kekerabatan. Penjelasannya bisa dicek di komentar saya yang ini dan ini.
Adapun salah satu pengelompokannya bisa dicontohkan sebagai berikut.

Di ordo primata, manusia memiliki kemiripan morfologi dengan gorilla, orangutan, dan simpanse. Penjelasan untuk ini adalah bahwa semua spesies itu merupakan turunan dari nenek moyang yang sama — mereka masih satu keluarga. Berdasarkan prinsip inilah, kita bisa memetakan taksonomi filogenetik, sebagaimana yang dijelaskan di materi biologi SMA kita.

Adapun yang keempat, Teori Evolusi juga berhasil menjelaskan keberadaan organ-organ minor dan junk DNA yang terdapat dalam tubuh manusia. Misalnya usus buntu dan tulang ekor yang terlalu pendek — organ-organ tersebut diasumsikan sebagai sisa perubahan menuju bentuk manusia yang kita lihat sekarang. Begitu pula dengan junk DNA, sekuens DNA ini tidak memiliki manfaat yang jelas, tetapi justru ditemukan (dan masih diwariskan) dalam struktur genetik manusia modern.
***
Tapi, Teori itu Masih Ada Salahnya. Teori Evolusi itu Tidak Sempurna!
Tentu saja, memang begitulah adanya. Tapi, siapa bilang ilmu pengetahuan itu langsung sempurna?
Semua ilmu pengetahuan itu, pada dasarnya, berlandaskan pada data-data empirik. Kebenarannya tidak lantas mutlak tergantung waktu. Jika di masa depan ditemukan bukti-bukti yang tidak bersesuaian, maka ilmu pengetahuan pun harus mengalami perombakan.
Sejauh ini, teori evolusi telah berhasil menjelaskan beberapa fenomena alam dengan cukup memuaskan, sebagaimana telah dijelaskan dalam poin-poin di atas. Meskipun begitu teori ini belum sempurna. Masih ada beberapa lubang di dalamnya yang belum terjelaskan.
Seandainya kelak di masa depan ada teori mutakhir yang lebih lengkap daripada Teori Evolusi, dan lantas menggantinya, itu tak masalah. Dunia sains toh selalu terbuka pada kemungkinan. Yang penting adalah apakah teori tersebut bisa menjelaskan gejala alam atau tidak, dan di situlah masalahnya. ^^
Jadi?
Yah, saya rasa, evolusi adalah sebuah teori yang bisa dipertanggungjawabkan. Tentunya harus diingat bahwa ia tidak sempurna, masih ada ‘lubang’ dan pertanyaan di berbagai tempat. Meskipun begitu teori ini masih kokoh: ia teruji oleh waktu dan perdebatan, setidaknya selama 140 tahun terakhir…
…kecuali, mungkin, ada teori baru yang menggantikannya di masa depan. Tapi itu cerita lain lagi untuk saat ini.
——
Kredit:
Gambar pertama (perbandingan bentuk paruh burung) diambil dari wikipedia, dengan URL di sini
Gambar ordo primata juga diambil dari wikipedia, dengan URL di sini.
Diagram taksonomi di-crop dari gambar yang tersedia di situs ini.
Mereka yang tahu logika dan filsafat Ilmu mestinya langsung ngerti bahwa sebuah teori lahir dari proses induksi, atau pengamatan atas sejumlah fakta. Teori dimaksudkan untuk mecari benang merah dari fakta-fakta yang semula tampaknya tidak berkaitan. Teori itu 100 % benar sampai ditemukan fakta lain yang dapat menyangkal teori itu.
Bagaimana untuk menjatuhkan sebuah teori? Buatlah teori baru, lagi-lagi harus didasarkan fakta yang diamati. Yang tidak setuju dengan teori evolusi buatlah teori baru. Turunkan teori dari fakta bukan teks suci.
@ Kang Adhi
Dan itulah sebabnya, kreasonisme masih berstatus sebagai pseudoscience. Karena semua yang dilakukan hanyalah mencari lubang dalam teori evolusi, tapi tidak mengajukan teori baru yang kokoh secara ilmiah.
Alhasil, di titik ini, hipotesis kreasionisme masih harus mencari landasan, sebelum bisa disahkan sebagai sebagai sebuah “teori” baru. Tak masalah jika terdapat bukti kuat tentang Tuhan dan penciptaan — bila memang ada, ilmu pengetahuan masih bisa dirombak untuk bersesuaian dengannya.
Tetapi, orang-orang kreasionisme itu kan mengabaikan capaian-capaian ilmiah yang telah dicapai oleh teori evolusi…. dan, saya rasa, itu termasuk kelemahan terbesar dalam argumen mereka.
waduh…maaf otak saya cetek, ga bisa nerima yang beginian
Nah, yang sering saya temui, adanya dikotomi yang dipaksakan. Kritisi-kritisi teori evolusi dianggap otomatis menjadi pendukung kreasionisme. Asal ada yang mengkritisi teori evolusi (apalagi yang punya status yang cukup wah), langsung dibaptis sebagai kompatriot oleh para pendukung teori kreasionisme
Hal ini mirip dengan diskusi-diskusi teologi (nyerempet ke sini lagi
). Umat agama A, sebagai perumpamaan, kerap kali menggunakan serangan-serangan atas kitab suci agama B (yang kebanyakan ditulis oleh para freethinker) sebagai bukti kebenaran agama A.
Kalau saya mah mengikuti prinsip Mbah Flew saja. Go where the evidence leads
Selama teori evolusi masih menjadi teori yang paling memuaskan, pakai itu dulu. Kalau ada yang lebih baik nantinya, kita murtad ke sana.
Yang saya nggak suka itu membantah nggak pakai bukti, melainkan alasan-alasan yang nggak ilmiah (nggak ilmiah bukan berarti salah, lho
).
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Weleh Sora, bener-bener deh anak ini.
*salut*
Btw, temen yang juga sempat diskusi dengan saya juga bilang bahwa Harun Yahya mengkritik Teori Evolusi tanpa memberikan tawaran teori baru yang ilmiah dan mempunyai bukti-bukti empirik.
Mungkin yang menjadi Kekhawatiran besar sebagian orang adalah bukan masalah ilmiah atau tidak ilmiahnya Teori Evolusi itu, tapi lebih kepada asumsi bahwa `menerima` teori Evolusi itu sama dengan `menentang` Tuhan.
*ditimpuk*
Padahal kan ilmu pengetahuan bisa digunakan oleh manusia untuk mengetahui bagaimana proses Tuhan `bekerja` dan menambah bukti Kebesaran-Nya juga.
Lho? ‘Katanya’ semua-sudah-ada-dalam-kitab™
Nggak perlu mikir lagi tho??
Konon jadi orang beriman itu tidak boleh terlalu mengagungkan akal. Argumen yang dipaksakan, kalo menurutku. Karena apa? Syarat beragama itu utamanya dua: 1. Akil balig dewasa)
2. Berakal
“Tidak ada agama bagi yang tidak berakal!”.
Artinya apa? Mestinya muslim-muslim *utamanya nih* yang meyakini kreasonisme, mencari argumen-argumen ilmiah yang lebih membantu penjelasan dalam apa yang disebut semuanya-ada-dalam-kitab™ itu.
Mengingatkan pada ideologi juga jadinya. Apa-apa yang kiri, seperti komunis atau sosialis, langsung diklaim atheis. Benar-benar bigots
Btw, secara pribadi, saya sendiri ndak terlalu percaya dengan Teori Evolusi, tapi setidaknya jadi referensi bagi saya. Itu saja
gimana dengan kaum Highlander?
mereka hidup beratus tahun tanpa mengalami evolusi
*teriak I’m immortal!*
halo pakabar.
gue mau menambahi saja bahwa sebaiknya link Harun Yahya diatas dipilih yang lebih to te poin (yang lebih mengena). ini link nya
http://www.harunyahya.com/indo/buku/menyanggah02.htm
Semoga ini memperjelas bahwa Teori Darwin hanyalah “TEORI”, bukan “FAKTA”.
Makasih, no Offence!
To the Point maksudnya….kekekek
Kalo semuanya itu teori kenapa harus mencerca… liat mana teori yang diyakini.
*
*wah sora hebat banget, sampe mendalami permasalahan ini
@ cK
Ah, mohon maaf kalau begitu…
:::::
@ Kopral Geddoe
Mirip-mirip isinya Evolution Deceit-lah, IMO.
Setuju… ^^
BTW, mbah Flew siapa? Kok link-nya kosong, sih? (o_0)”\
Hohoho! Kecanduan Zen nih ceritanya?
Hmm, itu bagus sih. Cuma jangan dijadiin pembelaan untuk males belajar aja…
*jleb*
:::::
@ jejakpena
Ya…? ^^;;
Kalau menurut saya, sebenarnya nggak begitu juga. IMO, Tuhan itu bekerja dengan proses. Justru pengetahuan akan proses itulah yang bisa membuat kita makin paham: bahwa cara kerja-Nya itu hebat dan terstruktur, bukannya sekadar “cetak-bikin-jadi”.
Orang-orang dulu mungkin melihat pelangi dan bilang, “wah, pelangi itu ciptaan Tuhan!”, lantas berhenti menganalisis. Tapi sekarang kita tahu bahwa pelangi itu terbentuk sebagai akibat pemisahan cahaya oleh air, dst, dst. Mana yang lebih indah: sistem fisika optik yang menyebabkannya, atau bahwa itu “diciptakan seketika” ?
Justru karena semakin paham akan proses kerja-Nya itulah, kita makin memahami kehebatan ciptaan-Nya itu. Dan, evolusi juga termasuk dari usaha ke arah situ — walaupun memang masih jauh dari sempurna saat ini. IMHO lho. ^^
Persis itulah yang saya maksud.
:::::
@ alex
Hohoho!
Itu kayaknya generalisasi salah kaprah, deh. Dan itu mirip dengan orang2 yang menyamakan “mengakui evolusi” = “tidak mengakui Tuhan”. Padahal itu kan nggak selalu…
Btw, salam kenal yah.
:::::
@ caplang™
Mungkin itu artinya mereka memang udah sempurna Mas… coba aja liat. Udah ganteng, jago, punya ilmu, panjang umur lagi!!
*jadi ingat film kartun Highlander yang di SCTV dulu
*
:::::
@ wedulgembez
Salam kenal,
Ah, makasih link-nya.
Benar, evolusi itu memang bukan fakta. Ia sekadar teori yang kebetulan bisa menggambarkan beberapa gejala alam. Meskipun mempunyai keberhasilan di beberapa aspek, teori tsb juga masih punya ‘lubang’ yang harus dijelaskan.
Mungkin saja ada teori lain yang akan menggantikannya di masa depan, kalau memang bisa menjelaskan alam dengan lebih baik.
:::::
@ arul
Ya, betul. Cuma, masalahnya muncul kalau ada yang mengaku-aku “sains” atas temuannya sendiri — padahal sama sekali tak berlandaskan pada kriteria karya ilmiah. Di titik ini, hal semacam itu bisa dianggap mencampurkan hoax ke dalam sains. (IMHO)
Euh, mendalami? Saya cuma daur ulang materi SMA denagn bantuan e-book dan internet aja, kok. ^^;;
Setuju. Anggapan bahwa teori evolusi adalah anti-Tuhan itu yang mesti dirombak
Btw, Mbah Flew itu Mbah Antony Garrard Newton Flew
Teori Evolusi memang paling kontroversial. Karena menurut saya, dia membahas (juga) tentang asal – usul manusia…
Maka jelaslah apabila ada salh satu poin yang menyimpang, para “aktivis agama” akan koar – koar dan memberontak.
@ Kopral Geddoe
Kalau menurut saya sih nggak cuma itu aja. Lha, sekularisme aja dianggap nggak mengakui Tuhan kok…
*banyak generalisasi salah-kaprah yang sudah akut, IMO*
:::::
@ Mihael “D.B.” Ellinsworth
Yup, asal-usul manusia memang terkait dengan evolusi. Begitu juga Penciptaan, yang ikut “keserempet” oleh teori ini. Tepi, meskipun begitu, evolusi pada dasarnya tidak menyalahi penciptaan dan asal-usul manusia. Melainkan bisa cocok dan berjalan bersama.
Lebih lengkapnya di [theistic evolution].
Soal reaksi “aktivis agama”… itu sudah hukum alam, kayaknya.
*sambil teringat kasus “matahari mengelilingi bumi” yang kemaren dulu*
Dulu ketika SD, saya sampai mengira bahwa Nabi Adam AS itu berwujud kera…
Ah, sayangnya pandangan kompromisasi seperti theistic evolution justru mengundang penolakan dari kedua belah pihak.
Ah, ide buwat nulis artikel
Makasih, mas
Btw. Soal teori evolusi itu nyerempet ke pengharaman Pokémon oleh yang mengklaim sebagai manhaj Salafi
(underline dari saya)
Ha, terlihat jelas
Mangkanya sekolaah, paak, sekolaaah, jangan asal nyablak.Underlinenya malah ndak muncul. Saya blockquote lagi, ya;
*batuk-batuk*
@ Scrooge McDuck
IMO, pandangan2 kompromi macam itu ditolak karena satu alasan… yaitu mengakomodasi elemen “musuh”. Kaum religius menolak teori yang (katanya) “tulang punggung ateisme-materialisme”, sementara yang orang sains menolak “ide penciptaan yang mengawang-awang dan memutus nalar”…
Memang pada dasarnya pengen musuhan, ya?
:::::
@ Kopral Geddoe
Hohoho! Ditunggu artikelnya…
Mas Geddoe, nanya nih.
Perlu nggak saya nyebutin lagi tentang homologi, taksonomi, dan theistic evolution buat mereka?
*dengan tampang tak berdosa*
*ngakak*
Tanpa skrinsyut berarti HOAX!!!
*liat gambar burung2 finch*
…Wait. You DO have screenshots.
*disappears in a puff of logic*
Sia-sia, akh. Ana lihat fakta bahwasanya bumi itu berotasi saja tidak digubris oleh golongan mereka.
Allah yahdik.
Mungkin ada kaitan dengan bangsa JIN dan yang lainnya sebelum manusia (Adam as) diturunkan ke bumi, bisa jadi!
Lagi pula dalam tafsir Al Azhar (buya Hamka) disinggung kalau Adam generasi kita adalah Adam yang ke sekian kalinya?
wal lahu a’lam…..
dari dulu saya selalu berpandangan bahwa ilmu pengetahuan dan agama (wahyu ilahi) tidak bertentangan.
ilmu pengetahuan mungkin terlalu muda untuk memahami, tapi agama terlalu kaku untuk berubah.
tapi ada satu tulisan Darwin di buku Descent of Men… (panjang juga judulnya) yang menyinggung tentang kelebihan laki-laki dibandingkan perempuan. Perempuan dikatakan sebagai makhluk tidak sempurna dan hasil dari proses evolusi manusia yang belum selesai.
Lha, menurut saya ini pemikiran Darwin yang cenderung sexisme dan anti-gender…
saya lupa quotenya tapi nanti saya cariin di buku itu.
walah,, Ma kok ga pernah niat buat bacain bahan ini ya?
*panggil Bharma, minta ajarin*
anw, waktu SMP Ma pernah benci sama torinya Darwin yang bilang kalo Jerapah itu ada yang lehernya pendek, terus jadi musnah gara gara mereka ga bisa makan,,

Kejaaaam
kan Jerapah itu lucu,,
*gubraks*
eh itu poin no 3 tentang adaptasi yang diturunkan itu, bukannya kalo itu nyebabin perubahan di kromosomnya bisa diturunin ya?
eh ada ga ya adaptasi yang bisa nge-alter kromosom?
*teriak teriak panggil Bharma*
*liat komen komen yang lain*
oh ini ngebahas teori ituh sama agama?
Wah, ilmu saya terlalu cetek untuk menghafal dalil. Yang Termodinamika lah, yang on origin of species lah, evolution deceit lah, yang behe lah, yang Anthony Flew lah. Saya cuma punya akal kosong untuk ngasih pendapat soal ini. Coba yaa…. .
“Pertama, teori ini bisa menjelaskan adanya perubahan gradual dari satu spesies yang lebih tua ke spesies yang lebih modern.”
“Kedua, Teori Evolusi bisa menjelaskan perbedaan minor antar spesies.”
“Ketiga, Teori Evolusi juga berhasil menjelaskan taksonomi makhluk hidup.”
Pertama, benarkah makhluk hidup berubah? Ataukah itu hanya wishful thinking orang-orang yang mendukung perubahan gradual ini? Bukannya yang sedang kita bahas adalah “perubahan gradual” yang kita sama-sama sebut dengan evolusi? Kok saya jadi ingat sama circular reasoning?
Kedua, apakah perbedaan minor antar spesies tidak bisa dijelaskan kecuali dengan prasangka lain? Misalnya, perbedaan minor antar spesies itu karena jin yang campur tangan. Setiap ada binatang baru yang dilahirkan, ada jin nakal yang siap memutasi tiap spesies tersebut. Kalo ada yang bilang, apa buktinya? Bukannya Darwin juga menjelaskan hal ini tanpa bukti? Kenapa kata-kata “bisa menjelaskan” jadi alasan utama di sini?
Ketiga, bukankah taksonomi itu muncul karena adanya evolusi? Artinya, mengapa harus dijelaskan kalo dia memang disebabkan oleh hal itu? Kalo kita percaya sama kreasionisme versi tertentu misalnya, bukannya kita akan punya taksonomi yang lain?
Saya heran dengan alasan bisa menjelaskan ini. Apakah segala sesuatu yang kita tidak punya fakta mencukupi harus dianggap sebuah kebenaran? Bagaimana dengan teori atom jaman baheula? Ketika dikatakan atom-atom itu ada yang berbentuk bola, prisma segitiga, dan juga balok. Mereka lah yang membentuk api, besi, tanah, air dan yang lainnya? Kalo dipikir-pikir, waktu itu hanya teori ituyang bisa menjelaskan tentang hakikat zat. Bukannya alasan “bisa menjelaskan” adalah alasan lemah yang tidak berguna untuk mencapai kebenaran? Ilmu pengetahuan belum sampai ke situ. Seharusnya kita tidak gegabah mencari-cari penjelasan.
Bukankah dalam positivis logis kita harus berpikir, “Sesuatu itu salah kecuali terbukti benar”? Bukankah positivis logis ini yang dianut oleh para ilmuwan? Kenapa dalam teori Evolusi ini jadi tidak berlaku? Ini berarti bahwa mereka yang berpendapat bahwa Teori Evolusi harus digugurkan dengan teori baru yang lengkap menjadi tidak berdasar. Mengapa? Sesuatu yang tidak terbukti tidak layak masuk dalam semesta kebenaran kita.
Cukuplah dengan mengatakan, kita ternyata benar-benar tidak tahu bagaimana kita berasal.
“Pertama, teori ini bisa menjelaskan adanya perubahan gradual dari satu spesies yang lebih tua ke spesies yang lebih modern. Silakan lihat penemuan fosil kuda, dari Eohippus hingga kuda modern (Equus). Lihat juga perubahan manusia purba dari Meganthropus hingga menuju Homo erectus. Perubahan itu memang terkesan snapping dan meloncat-loncat — tetapi, teori evolusi telah memprediksikan bahwa hal itu terjadi sebagai ekses perubahan yang berkesinambungan.”
saya sudah belajar geologi puluhan tahun, contoh kutipan yang anda sebutkan diatas itu sudah usang, bahkan para evolusionis tidak pernah lagi manggunakan contoh evolusi kuda. Tahu tidak, skema evolusi kuda itu sudah diusir dari British Museum of Paleontology tahun 80 an. karena terbukti tidak valid dari segi umur fosil yang dikutip. Urutan perubahan-perubahan bertahap dari ayng sederhana menjadi kuda modern ternyata urutannya ngawur. Skema palsu evolusi kuda sudah selevel dengan manusia piltdown, manusia nebraska, lucy, archaeopteryx, maupun penipuan Haeckel diman terjadi pembohongan publik atas nama ilmiah.
Dari sini kita bisa lihat betapa tidak ilmiahnya para evolusionis dalam membela dogmanya, bahkan menghalalkan segala cara. Saya kira evolusi itu dipertahankan karean ada tujuan ideologis dibaliknya.
Ilmu biologi musnah tanpa evolusi, apalagi geologi. Catatan fosil tak pernah membuktikan adanya makhluk antara, yang ada adalah kepunahan tiba-tiba dan kemunculan tiba-tiba makhluk hidup yang berbeda.
Catatan fosil sudah sangat lengkap, tak ada jeda mulai kemunculan pertama makhluk hidup sampai sekarang tak ada yang terlewatkan dalam catatan fosil (terutama fosil mikro). Jada nonsense kalau anda berlindung dibalik alasan bahwa ada peluang pemfosilan tidak terjadi karena kondisi yangmenyulitkan untuk pemfosilan. Kecuali anda mengiokuti cara pberfikirnya para evolusionis yang mengatakan bahwa secara by chance, tak ada makhluk-makhluk peralihan yang terfosilkan, atau anda menganggap fosil mikro tidak berevolusi????
Alternatifnya adalah teori punctuated equilibrium, dimana kemunculan species baru tanpa melalui proses perubahan bertahap. Seekor burung tiba-tiba muncul dari telur dinosaurus…(wakakak..kalau ini sih sama saja dengan penciptaan, cuma gak mau ngaku!)
anda salah kuliah mas e …
Ilmu yg sempat saya tekuti, tp sekarang menjauh..
, jd inget pas sma dulu, setiap pelajaran biologi bu guru nya selalu membawa alqur an terjemahan depag untuk mengcompare teori di buku dengan al-quran, termasuk yg seru adalah teori evolusinya….
Hiks jadi kangen skolah lage
@The real geologist
mas bukannya catatan fosil yang ada justru malah mendukung adanya gagasan akan biological evolution.
fossil record clearly indicates:
* a progression in complexity of organisms from very simple fossil forms in the oldest rocks (>3.5 billion years old) to a broad spectrum from simple to complex forms in younger rocks,
* that some organisms that were once common are now extinct, and
* that the living organisms inhabiting our world today are similar (but generally not the same) as organisms represented as fossils in young sedimentary deposits, which in turn have evolutionary ancestors represented as fossils in yet older rocks.
Mammals, for example, are prevalent today and can be traced back in the fossil record for approximately 200 million years, but are not present as mammals in the fossil record before that; however, fossil forms that have reasonably been interpreted to be associated with the evolutionary precursors to mammals are found in older rocks.
asli….ga ngerti…..
@ Mas Sora
Maaf sekedar saran Mas Sora
sebaiknya untuk penjelas teori evolusi tidak hanya dengan karya Darwin yang pertama itu, lebih baik menampilkan karya-karya evolusionis yang baru seperti Richard Dawkins dan Mark Ridley.
Masalahnya ada cukup banyak bukti empiris yang justru memberatkan evolusi darwin. Nah bukti ini diinterpretasi kembali oleh evolusionis modern seperti mereka
Bukti yang saya maksud itu seperti ledakan kambrium, jejak kaki prasejarah dan lain-lain yang sangat menusuk evolusi darwin
nah ini kritik saya Mas Sora
pernyataan ini didasari oleh prakonsepsi bahwa spesies yang lebih tua dan modern itu berhubungan secara filogenik. Kreasionis tidak bisa menerima ini, karena hubungan itu adalah hal yang seharusnya dibuktikan oleh teori evolusi.
kemudian mengenai perubahan manusia purba, maaf saya rasa perubahan seperti tangga yang meloncat-loncat itu sudah usang karena banyak ditemukan fosil baru. Fosil-fosil baru itu justru menampilkan perkembangan manusia purba yang seperti semak ketimbang tangga.
kedua, mengenai spesiasi tidak hanya evolusi yang bisa menjelaskan ini. Kreasionis bisa menjelaskan ini dengan menyatakan bahwa setiap organisme memiliki sejumlah gen yang bersifat variatif, dan muncul tidaknya adalah proses adaptatif yang ada batasnya. Ini berbeda dengan evolusi yang cenderung menyatakan variasi itu tak ada batasnya yang penting sesuai seleksi alam. Menurut kreasionis alam tidak menghasilkan gen baru, gen itu sudah ada pada organisme itu hanya berbeda fenotipnya.
Ketiga, teori evolusi berhasil menjelaskan taksonomi makhluk hidup
saya rasa yang lebih tepat sebenarnya teori evolusi menawarkan taksonomi makhluk hidup yang baru
Sebelum ada teori evolusi taksonomi sudah ada, itu yang disebut taksonomi fenetik
kemudian setelah teori evolusi berkembang, orang menawarkan taksonomi filogenetik yang lebih sesuai ke teori evolusi.
Untuk sementara itu dulu Mas Sora
@ Mbak Hiruta
ilmu pengetahuan bisa digunakan untuk memahami kebesaran Tuhan. itu benar Mbak
Tapi kalau teori evolusi rasanya tidak sesederhana itu. Evolusi jelas benar-benar merambat ke pertanyaan dari mana kehidupan berasal
Penjelas untuk ini yang ditampilkan adalah evolusi molekuler dan evolusi kimia yang menyatakan kehidupan terjadi begitu saja dengan seleksi alam
Perkara Tuhan dan AntiTuhan sebenarnya gak dimuat dalam teori evolusi sendiri, itu adalah interpretasi filosofis
Sayangnya evolusi sendiri benar-benar bercorak materialis.
dan muatan ketuhanan selalu saja bisa ditambahkan karena pada dasarnya kita telah mengakui Tuhan dan kebesarannya terlebih dahulu. Dan Antiketuhanan pun mudah sekali mengawinkannya dengan evolusi, tinggal berkata lihat kehidupan terjadi kebetulan begitu saja secara evolusionis.
@ Ayuk
perubahan yang didapat organisme tidak diwariskan
perubahan gen(kromosom kurang tepat) kan disebut mutasi, bukan adaptasi
sayangnya mutasi lebih cenderung buruk dibanding baik
Apakah adaptasi merubah gen?
setahu saya, saya belum menemukan referensi atau bukti perihal itu
secara teori adaptasi terjadi karena pada awalnya organisme itu memiliki sejumlah gen yang bersifat variatif
kemampuan adaptatif memang ada gennya
maaf semua kalau penjelasan saya kurang tepat
ah, teori evolusi itu ndak benar, karena di kitab yang katanya suci itu kan disebutkan kalo nenek moyang manusia itu adam dan hawa. Bukan di sebut nenek moyang dari monyet dan manusia.
Jadi tidak bisa tidak, bahwa evolusi itu salah sebab tidak sesuai dengan isi kitab yang katanya suci itu.
@ k’tutur
Ini… kalau nggak salah dari bukunya pak Muhammad Isa Daud ya?
Yah, kalau kita berasumsi bahwa sudah ada beberapa kehidupan di bumi sebelum manusia, maka wajar saja ada beberapa fosil yang meloncat-loncat dan nggak sinkron. Tapi perlu dicatat juga, bahwa ide itu baru spekulasi dari beliau.
Itu susah dibuktikannya, sih, menurut saya… (o_0)”\
:::::
@ fertobhades
Setuju… ^^v
Wah, belum baca. Ntar nyari e-book-nya deh…
:::::
@ Rizma
…bukannya lebih lucu Garfield?
BTW, iya. Bahasan di komennya jadi banyak nyinggung agama dan penciptaan, nih.
@ fauzan.sa
Sebelum menjawab, saya mau mengutip dari kalimat terakhir di komentar ini dulu:
Secara pribadi, saya cukup setuju dengan yang ini. Kita memang tidak benar-benar tahu apa yang menjadi asal kita milyaran tahun lalu. Meskipun begitu, menurut hemat saya, evolusi bukannya total mengenai penciptaan. Penciptaan itu, IMHO, hanyalah rembetan dari penjabaran teori evolusi — sebagaimana yang hendak saya jelaskan berikut ini.
Memang, kita tak tahu apa yang terjadi milyaran tahun lalu di muka bumi. Tapi ada pertanyaan2 yang terwujud dari kehidupan di masa kini.
Bagaimana, misalnya, struktur tulang sayap kelelawar masa kini bisa identik dengan sirip paus dan tangan manusia. Bagaimana manusia bisa memiliki kesamaan dengan hewan2 ordo primata. Bagaimana banyak spesies memiliki kesamaan dalam taksonomi, dan seterusnya.
Di titik ini, evolusi (menurut hemat saya) berusaha menjelaskan apa yang terjadi di masa kini dengan kerangka memandang ke masa lalu. OK, mungkin memang belum tentu penjelasan kita tentang masa lalu akan akurat. Tapi, dalam konteks kekinian, teori ini membantu menjelaskan how it goes in this present. Bagaimana bisa terjadi homologi dkk, itulah yang berusaha dijelaskan.
Evolusi berusaha menjelaskan soal kekinian. Hanya saja, sebagai ekses dari premis yang diambilnya, penjelasan ini jadi merembet ke masalah penciptaan. Jika ada teori baru yang bisa mencakup penyebab keragaman (yang saya sebutkan di atas tadi) tanpa menggunakan prinsip evolusi, it’s OK. Teori itu bisa dipakai, dan evolusi bisa digusur.
Penjelasannya bisa disarikan dari jawaban saya untuk kutipan sebelumnya.
Bukan circular reasoning. Penjelasannya kira2 begini:
(1) Fakta: terdapat kemiripan bentuk antara tulang sayap kelelawar, dengan tangan manusia, sirip paus, dan kaki kuda.
(2) Pertanyaan: Apa yang menyebabkannya?
(3) Kemungkinan: Telah terjadi evolusi sejak milyaran tahun yang lalu, mengakibatkan dari yang tadinya satu nenek moyang terpecah menjadi beberapa spesies yang berbeda
Nah, kita lihat bahwa (3) adalah sebuah teori yang diasumsikan bisa mengisi kekosongan penjelasan tersebut. Jika kelak terdapat teori baru yang bisa menjelaskan (1) dan (2) tanpa menggunakan dalil evolusi, sekaligus menutup semua “lubang” yang ada sekarang ini, it’s OK. Teori Evolusi siap digantikan kalau begitu.
Jadi ini bukan circular reasoning, seperti yang ditanyakan sebelumnya.
Bisa saja; memang bisa saja kok. Para ilmuwan bisa mengatakan bahwa ada Jin yang campur tangan dalam perubahan spesies, atau ada sesuatu yang lain yang sifatnya supranatural. Nggak masalah.
Tapi, sebuah teori dipilih daripada teori lain karena kemampuannya menjelaskan perilaku alam dengan sesederhana dan seelegan mungkin. Bukan berarti supranatural itu tidak elegan. Meskipun begitu, misalnya, dalam kasus jin di atas. Berapa banyak jin yang akan bekerja? Begitukah sebuah “sistem cerdas” bekerja, dengan menggunakan brute force?
Jauh lebih elegan melihat sistem yang bekerja dengan halus dan terstruktur daripada brute force di atas, misalnya. Dan, dalam pandangan theistik saya, itu menunjukkan kualitas penciptaan Tuhan, bukannya menafikannya.
Sekarang soal prasangka lain. Bisa saja ada kejadian lain, bukannya evolusi. Tapi, kejadian tersebut harus diakomodasi oleh sebuah teori global, yang bisa menggantikan teori evolusi — dengan ketentuan seperti yang saya jabarkan ketika menjawab nomor (1) tadi.
Maksud saya, taksonomi itu dilakukan dengan dasar kemiripan antar spesies hingga tingkat tertentu. kalau terjadi penciptaan kreasionis, tentunya kita punya taksonomi sendiri. Tapi, saat ini, makhluk hidup ternyata dapat dikelompokkan karena kemiripan fisik mereka.
Kemiripan antara anjing, kucing, dan kera adalah karena mereka sama-sama memiliki empat alat gerak, bernapas dengan paru-paru, dan memiliki bentuk tengkorak dengan dua lubang mata. Inilah dasar dari taksonomi yang saya maksud, yaitu berdasarkan kesamaan antar spesies — walaupun secara sekilas mereka kelihatannya sangat berbeda.
Bukan kebenaran. Teori evolusi bukan kebenaran mutlak. Teori Evolusi dipilih karena bisa menjelaskan gejala2 yang teramati di masa kini, seperti yang sudah dijelaskan di atas. Teori evolusi masih punya banyak lubang di dalamnya; dan ia hanyalah sebuah philosophical device dalam usaha kita memahami alam ini.
Logika positif masih berlaku, kok. Makanya masih ada pihak/orang-orang, termasuk ilmuwan, yang skeptis pada evolusi. Begitupun, evolusi berangkat dari bukti2 keragaman spesies yang ada di masa kini. Tujuan utamanya menjelaskan kenapa makhluk hidup sekarang seperti begini?
Sialnya, dalam perkembangannya, masalah ini merambat ke masa-masa milyaran tahun lalu dan awal penciptaan. Hal yang tak bisa lagi kita klarifikasi. Otomatis, kalau sudah menjelaskan soal masa lalu (IMHO), teori evolusi tak bisa dianggap benar, tapi sekaligus tak bisa dipastikan salah.
Tapi, kenapa teori evolusi masih dianggap benar? Karena, kalau dilihat dari konteks kekinian, teori ini sangat kokoh. Teori ini didukung oleh adanya bukti2 — seperti kesamaan struktur makhluk hidup, dan lain sebagainya seperti yang sudah dijelaskan di pelajaran biologi kita (tingkat SMP/SMA juga sudah, kalau saya tak salah).
Kan yang tidak terbukti itu perambatan masalahnya ke awal penciptaan makhluk. Kalau dalam konteks kekinian, evolusi masih memiliki bukti-bukti seperti yang saya jelaskan di atas tadi.
:::::
@ The Real Geologist
Sebelumnya, maaf kalau saya kasar. Tapi, semua argumen Anda itu cuma menyadur ulang semua tulisan Harun Yahya di Evolution Deceit…
Meskipun begitu, OK — akan saya jawab sedikit lagi.
Mas/mbak, percayalah. Anda sudah ditipu sama buku itu. Fosil Eohippus masih diakui di American Museum of Natural History, New York, dan di Smithsonian Museum of Natural History! Silakan google sendiri kalau nggak percaya.
Begini, saya tak mau membuang waktu menjawab argumen daur-ulang Anda, karena Anda sendiri tak menyertakan bukti maupun link yang relevan — di samping isinya yang memang sama dengan Evolution Deceit Harun Yahya yang sudah saya baca. Silakan baca jawaban komentar untuk Mas Fauzan di atas; itu untuk pertanyaan yang jauh lebih cerdas dan kreatif dari yang Anda sampaikan…
*setidaknya, lakukanlah cross-check. Fosil Eohippus masih diakui, Mas/Mbak…*
BTW, ini saya berikan link mengenai evolusi di blognya Pak Rovicky Dwi Putrohari, seorang ahli Geologi yang jadi anggota IAGI. Sebaiknya Anda baca juga tulisan dari ‘rekan sejawat’ Anda itu…
Kategori “evolusi” pada Dongeng Geologi
:::::
@ dobelden
Euh, iya… ^^;;
Padahal lebih asyik ngomongin ilmu2 macem ini, daripada ngitungin masalah insinyur. Tapi saya kan udah terlanjur kuliah di teknik, jadi apa boleh buat, deh.
@ Penikmat Teori Evolusi
Ah, terima kasih tambahannya.
:::::
@ donajah
Waduh… maafkan saya Mas/Mbak, kalau begitu.
:::::
@ secondprince
Terima kasih masukannya.
Soal evolusi kuno (Darwin), itu sengaja saya angkat di sini; soalnya itulah yang diminta oleh mas Fauzan dan mas/mbak “Sahabat” di post yang baru lalu. Jadi, saya juga nggak mengupas soal evolusi modern.. ^^
Soal Dawkins dan Mark Ridley, kayaknya saya juga akan cari referensi dari mereka, terutama yang berbentuk paper/e-book (kalau ketemu).
Yang nomor satu, saya baru tahu yang soal manusia purba. Tapi, AFAIK, soal Eohippus kan masih berlaku… makanya saya sertakan juga di atas.
Yang nomor dua, saya ingin menanyakan yang ini:
Kriteria pembatasan adaptasi itu kira-kira seperti apa? Apakah dipengaruhi oleh lingkungan, atau bagaimana?
Dan lagi, penjelasan soal sejumlah gen variatif pada setiap organisme itu tidak menjelaskan, kenapa gen tersebut tidak benar-benar berbeda satu sama lainnya. Kalau memang kreasionisme meyakini penciptaan gen variatif, akan lebih baik jika gen2 tersebut sangat berbeda secara radikal dan tidak menyisakan homologi — seperti yang terdapat di lengan manusia, sayap kelelawar, dan sirip paus. (CMIIW) (o_0)”\
Euh, maksud saya soal taksonomi yang berdasarkan kesamaan bentuk/homologi makhluk hidup pada setiap tingkatnya. E.g. di ordo primata yang saya tulis di atas, atau bahwa mamalia semuanya melahirkan dan berdarah panas. Saya update deh kalau begitu. ^^
Sekali lagi, makasih masukannya ya. ^^
Ah, apa ini sesuai dengan kalimat dari Pak Stephen Hawking ya,
Interpretasi filosofis yang dimasukkan ke ilmu alam? (o_0)”\
:::::
@ danalingga
Waw, sinisme tingkat tinggi nih Mas?
[...] 30th, 2007 by sora9n Sebenarnya, ide untuk post ini dipicu oleh munculnya beberapa komentar di post saya tentang Teori Evolusi, dan juga di post-nya Geddoe soal Harun Yahya. Isi komentarnya sendiri sebetulnya berbeda-beda [...]
“Jauh lebih elegan melihat sistem yang bekerja dengan halus dan terstruktur daripada brute force di atas, misalnya. Dan, dalam pandangan theistik saya, itu menunjukkan kualitas penciptaan Tuhan, bukannya menafikannya.”
ini landasan ideologis evolusionis. bahwa segala sesuatu harus bekerja menurut bagamana seharusnya menurut mereka hal itu bekerja, bukan mencari bagaimana sebenarnya hal itu bekerja.
@ Mas Sora
soal spesiasi itu Mas yang berkaitan dengan pembatasan adaptasi, bisa dijelaskan dengan aturan genetika baik Mendelian atau NonMendelian.
batasan itu terletak pada kelompok gen yang ada pada organisme itu, gen-gen itu ada yang bersifat dominan, resesif dan kodominan. Variasi genotip ini mempengaruhi fenotip spesies tersebut.
Dari sini kreasionis mengambil kesimpulan bahwa seleksi alam tidak menimbulkan gen baru. karena gennya sudah ada
Jadi pembatasan adaptasi itu ada pada kelompok gen yang dimiliki spesies tersebut. Dan kelompok gen ini pada dasarnya sudah ada dan unik untuk spesies tersebut.
misalnya seperti ini kelompok gen beruang adalah unik, variasinya mungkin akan menimbulkan bermacam jenis beruang.
bagaimanapun seleksi alam, itu tidak akan membuat beruang menjadi lumba-lumba karena kelompok gen lumba-lumba adalah benar-benar berbeda dengan kelompok gen beruang
contoh ini cuma misalnya Mas Sora.
@ sahabat
.
maaf saya agak kurang sreg dengan pernyataan ini, yang lebih tepat menurut saya “mencari bagaimana sebenarnya hal itu bekerja menurut mereka” bukan “harus bekerja menurut bagaimana seharusnya menurut mereka hal itu bekerja”
yang terakhir ini kesannya agak kasar.
maaf itu cuma persepsi saya
salam kenal Mas sahabat
Begini teman2.., evolusi itu artinya kan perubahan seiring berjalannya waktu, betul? Jadi inti dari semuanya adalah “waktu” itu sendiri. Dan yg perlu kita pahami ukuran waktu kita dgn ukuran waktu Tuhan beda jauh bung… Bisa jadi 100 tahun kita adalah 1 hari bagi Tuhan.
Nah misalnya Tuhan menciptakan sesuatu dalam 1 hari (seperti istilah kitab suci) utk waktu manusia bisa jadi proses penciptaan itu berlangsung 100 tahun (makanya dlm pengetahuan manusia yg “gak maha tahu” timbullah istilah evolusi). Jadi pendapat saya yg perlu kita sinkronkan adalah waktunya, dan “prosesnya” menempati urutan kedua. Kalo cara pikir kita berangkat dari “waktu” maka akan kelihatan titik temu dari segala misteri asal muasal tsb, walaupun titik itu masih samar2.
*whuaduhh… jadi ribet nih kalimatnya*
@ Sahabat
Itu saya komentar panjang-panjang buat Mas Fauzan, cuma diambil bagian itunya doang? Jelas aja ente nggak ngerti saya ngomong apa…
Nih, saya kutipin lagi yaa,
Lihat, bahwa Teori Evolusi itu cuma usaha untuk menjelaskan bahwa “alam itu mungkin begitu. Kalau salah? Ya diganti dengan teori baru yang lebih baik…
Enak saja bilang “landasan ideologis”. Justru Andalah yang pakai “landasan ideologis” bahwa Tuhan menciptakan semua makhluk tanpa proses.
ANDA-lah yang terus-terusan menyatakan bagaimana sesuatu SEHARUSNYA bekerja, bukannya saya…!
:::::
@ secondprince
Ah, so… (o_0)”\
Terima kasih penjelasannya.
Tapi, kalau begitu, topik ini sudah masuk ranah masa lalu yang mustahil dibuktikan. Maka kedua pendapat itu (evolusi vs. kreasionisme) sudah tak bisa diklarifikasi lagi mana yang benar — terutama soal gen primordial itu.
Seperti yang saya tulis di komentar sebelumnya,
Alhasil, saya hanya bisa meninggalkan kedua “kemungkinan” itu apa adanya. Toh kita juga belum bisa tahu, kan?
:::::
@ CY
Hehehe, saya percaya kok Tuhan bekerja dengan proses. Makanya saya cukup yakin bahwa evolusi, hingga derajat tertentu, bisa menjelaskan (perkiraan) cara kerja Tuhan.
BTW, penjelasan singkat yang cukup bagus tentang evolusi bisa juga dibaca di [link ini]. Setidaknya menjelaskan tentang keterhubungan berbagai makhluk hidup di bumi — terlepas dari asumsi awal mula kehidupan.
*terkagum2*
setidaknya ngga ada istilah “peta kucing”, apa lo pindah jurusan aja sora? *OOT, ditimpuk sora*
*serius*
tadinya pengen bilang kurang lebih seperti ini..
tepat seperti apa yang saya dapat di mata kuliah biosistematika, sayangnya sudah keduluan diomongin sama Bharma.
*baca textbook biosis lagi*
*siyal, sudah dilungsurken ke angkatan bawah*
[...] baru saja sibuk dengan masalah Teori Evolusi dan kawan-kawannya di blog ini. Kemudian pameran ini berlangsung di tempat saya kuliah. Gratis. [...]
Saya nggak mau teori-teorian lah…
meskipun berbasis fosil temuan, itu hanyalah fosil. Dari sekian banyak fosil, teramat sangaaat jarang sekali ditemukan fosil yang sangat lengkap dan utuh, barangkali hanya fosil mammoth aja yang ditemukan utuh dan terawetkan dengan baik (CMIIW).
Hampir semua fosil temuan hanya berupa tulang, bahkan hanya tulang tungkai, bahkan jika ditemukan tengkorak kepala pun kebanyakan hanya sebagian misalnya geraham bawah saja…
Yang membikin saya penasaran, lha kok ya bisa hanya dengan temuan yang sekelumit itu bisa di rekonstruksi menjadi sebuah makhluk yang utuh, bahkan sampai warna kulit, rambut dan wajah…
ambil conto speses manusia sekarang, ada orang melayu, negro, kulit putih, bermata sipit dlsb. Diantara sekian banyak itu pasti masing ada yang cebol-lah, yang tinggi besar dan kelainan-kelainan umum lainnya…
misalnya lagi dahulu kala juga ada bermacam bentuk orang seperti itu, trus ada meteor jatuh, punahlah semua…
terus lha kok ndilalah (by coincidence–ingat ini juga dianut oleh teori evolusi lho) kok fosil yang berhasil selamat kok fosilnya si cebol, itupun yang selamet cuman tungkai kakinya thok thil, tapi dengan kecanggihan imaginasi bisa direkonstruksi menjadi bentuk manusia utuh lagi…
apa ya dengan dasar itu bisa disimpulkan, ooohhh nenek moyang manusia itu ternyata cebol tooo???
Apakah iya, dengan temuan satu dua fosil yang bahkan nggak lengkap bisa mewakili secara statistik keseluruhan populasi saat itu?
@ mas agus
Kan sudah saya tuliskan di berbagai komentar sebelumnya, yang nomor #32 untuk mas fauzan.sa. Kutipannya,
Kalau sudah mencakup masa lalu, memang mustahil membuktikan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, di masa kini, terdapat bukti yang mengindikasikan terjadinya evolusi — seperti kesamaan bentuk tubuh, perbedaan minor antarspesies, evolusi antibiotik, dan lain sebagainya.
Makanya, teori ini masih dianggap memuaskan untuk menjelaskan keadaan masa kini. Walaupun, kalau disuruh menjelaskan masa lalu, teori ini masih kelihatan banyak bolongnya.
kita anggap Al-Qur’An adalah sebuah teory, bisakan bisakah anda menemukan cacatnya atau lubangnya.
kalau kalian memang bisa buatlah dan jangan kamu tunda2 pembuatannya jika kamu memang orang2 yang benar.
jangan hanya angan2 kamu akan membuatnya.
tapi buktikanlah dengan menerbitkan sebuah buku, yang memang disengaja menantang kehebatan Al-Qur’an.
kalian boleh mengerjakannya sendiri, atau bekerja sama dengan seluruh manusia. atau dengan bantuan yang lainnya.
saya akan menunggu terbitnya buku tersebut.
selamat mencoba!!!!!
jika sudah jadi kabarin saya di uino_m@yahoo.com
atau tlp ke 08119628699 atau sms juga ga papa.
@ wino
Komentar Anda sudah saya jawab [di sini].
[...] Harun Yahya yang dulu, hingga kesan intoleransi yang tampaknya dimiliki oleh umat agama saya. Lalu soal teori evolusi dan sekuelnya, yang berbuntut pada beberapa tanggapan penuh fallacy — yang kemudian menyita [...]
Klo gak salah kanjeng nabi Darwin menggunakan fosil sebagai bukti pendukung teorinya karena hanya fossil yang ada sebagai alat bukti terjadinya evolusi, saat itu blm juga ditemukan DNA, sturktur doble helixnya dan pengkodeannya, dll. Singkatnya pada masa kanjeng nabi Darwin biologi masih sangat sederhana.
Kanjeng nabi Darwin, klo dalam silsiah kerajaan nabi2 abrahamic bisa diibaratkan sebagai nabi Adam, yang meletakkan batu pertama bangunan besar teori evolusi. Kunci dalam memahami teori evolusi modern (penyempurnaan dari perintah Alam melalui kanjeng nabi Darwin) adlah pada gen. Ya perubahan gen, saat ini diyakini dan juga telah dibuktikan merupakan akar terjadinya evolusi biologis.
Berikut adalah beberapa tools yang digunakan untuk memverifikasi benar tidaknya teori evolusi:
1. phylogenic diagram
2. comparative anatomy
3. comparative genomics
4. embryology
5. vestigial organs
6. iogeography
Silahkan klo tertarik bisa search di kitab google/al wikipedia.
@ joyo
Betul, bisa dibilang bahwa Darwin sekadar peletak fondasi evolusi. Teorinya waktu itu memang banyak cacatnya — tapi penyempurnaan dan pengembangannya di masa depan justru menunjukkan kehebatan teori beliau tersebut.
Contohnya ya seperti yang dituliskan mas Joyo di atas. Ada juga soal evolusi mikro seperti resistensi antibiotik, yang jelas menunjukkan pewarisan hasil adaptasi.
[...] pelak lagi, inilah bidang yang akan dibabat habis. Jelas-jelas Teori Evolusi itu menafikan ciptaan Tuhan[1]. Jelas-jelas seorang ilmuwan muslim zaman baru memproklamirkan bahwa [...]
Hmm……mungkin perlu sebuah teori baru yang lebih valid untuk meruntuhkan teori Darwin ini, terlepas dari benar atau salahnya teori tersebut…paling tidak menjadi salah satu referensi untuk mencari dan mencari lagi kebenaran tentang sejarah perkembangan mahkluk hidup, mungkin suatu saat akan muncul lagi sebuah teori baru yang lebih valid dan mungkin akan menimbulkan juga berbagai macam pro dan kontra…dan itu sangat wajar karena semua teori berasal dari sebuah pemikiran disertai beberapa bukti dan eksperimen tentunya.
Eh.. kalau ga salah ada kesalahan dalam membedakan teori JB Lammarck dengan teori Darwin. Itu yang bikin orang sering menghujat teori evolusi. kayanya gw pernah baca bagian itu deh di Biologi SMU.
@ hariadhi
Betul, kesalahan macam itu umum terjadi. Disangkanya itu teori evolusi ala Darwin; padahal yang dimaksud adalah Lamarck — e.g. leher jerapah bertambah panjang karena makanan cuma tersedia di pohon yang tinggi. (o_0)”\
Adapun Darwin sendiri menyatakan soal seleksi alam, yaitu menyesuaikan diri dan berhasil atau mati karena tak bisa beradaptasi. Jadi sebetulnya yang mengira Lamarck = Darwin itu salah kaprah, IMHO. ^^
cuma mo bilang.. ijin copy paste tulisannya mas…
en kalo inget pelajaran fisika dulu.. tentang :
- ada masalah
- perumusan masalah
- menyusun hipotesa
- menguji hipotesa
- menarik kesimpulan
(apa ya itu namanya…)
disebutkan kalo hasil hipotesa yang disimpulkan tersebut diakui banyak orang maka disebut teori… salah satunya teori evolusi (Darwin) trus kalo teori itu telah terbukti kebenarannya di sebut Hukum (mis : Newton)
Jadi kalo namanya TEORI ya gak usah terlalu ingin menang sendiri ..nah kalo HUKUM baru boleh menang-menangan
Salam
Sebenarnya ‘teori’ dalam terminologi ilmiah memang sesuatu yang telah terbukti kebenarannya, mas/mbak. Kalau ‘teori’ yang bermakna ‘dugaan’, seperti yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, itu namanya hipotesis.
Ini yang sering disalahpahami orang. Mentang-mentang namanya ‘teori’ (dalam konteks ilmiah), dikira sama dengan ‘teori’ seperti dalam percakapan sehari-hari.
Kalau nggak salah ada artikelnya di [sini].
@(ndukung kopral)
dan teori itu bukan sekedar hasil imajinasi (karng2an) manusia tapi merupakan perumusan dalam bentuk bahasa/prinsip2 (bisa juga bahasa matematika) suatu gejala umum fenomena2 alam, seperti misalnya teori newton tentang gerak2 planet, teori Einstein tentang kecepatan cahaya, teori Ohm tentang arus dan tahanan listrik, dsb.
so teori adalah prinsip2 dasar dari pendekatan2 manusia atas gejala/fenomena alam (termasuk makhluk hidup) yg mereka amati
#53 emmy21
Silakan, asal jangan lupa disebutkan sumbernya. ^^
#54 Kopral Geddoe, #55 joyo
AFAIK, CMIIW, sebenarnya agak beda sedikit. Hukum itu agak lebih kompleks dibandingkan sama teori:
Misal Hukum Gerak Newton, dia dianggap hukum karena pasti berlaku asalkan kecepatan obyeknya jauh di bawah kecepatan cahaya. Sebuah teori masih mungkin mempunyai pitfall, tetapi hukum biasanya selalu berlaku asalkan semua syaratnya dipenuhi.
—dari wikipedia
sadar ato nggak wikipedia sudah jadi referensi utama…
*salut sama wikipedia*
sepertinya makna “scientific law” dan “theory” diatas sama, hanya disampaikan dalam bahasa berbeda.
dua2nya mensyaratkan definisi dan ruang lingkup yg jelas agar berlaku sesuai dg yg diharapkan, so saya kira sama saja. yg jelas teori bukan sekadar angan2 atau karang2an tanpa dasar apalagi tanpa dukungan bukti empiris atas keberlakuannya di alam.
@ joyo
Tetap ada bedanya. Evolusi tetap berstatus teori, karena kita belum bisa menentukan batas-batas pasti di mana evolusi akan pasti terjadi.
Syarat untuk hukum adalah (a) syarat-syaratnya jelas dan tertentu, dan (b) jika syarat-syaratnya terpenuhi, maka prosesnya pasti terjadi, no matter what. Teori lebih ringan, karena ia bisa dibentuk hanya dengan modal hipotesis yang sejalan dengan kenyataan.
Perbandingannya:
(1) Ilmuwan menguji gerak jatuh benda di lab. Disiapkan berbagai jenis benda, dengan berbagai bentuk dan massa. Hambatan udara di-nol-kan. Ternyata pada setiap percobaan, benda selalu mencapai lantai pada saat bersamaan, tak peduli bentuk maupun massanya.
Maka kita nyatakan hukum gravitasi: kecepatan jatuh benda tak tergantung pada bentuk dan massanya.
(2) Ilmuwan melihat gejala alam berupa spesiasi dan homologi. Berdasarkan gejala ini, mereka merumuskan akan dugaan terjadinya evolusi. Ternyata dugaan tersebut bisa menjelaskan dengan baik. Dari sini kita bisa menyimpulkan teori evolusi.
Ergo, teori dianggap “cukup” jika ia sejalan dengan fakta. Sedangkan hukum baru dianggap “cukup” jika syarat (a) dan (b) di awal tadi terpenuhi.
Kurang lebih begitu, CMIIW.
Ah, soalnya itu referensi online yang paling gampang dipake. Daripada capek2 google, mendingan langsung refer ke situ aja IMHO. Lagian udah lumayan terkenal. ^^
[...] bisa membaca tanggapan kontra-evolusi yang dilancarkan oleh Harun Yahya di situs beliau. (link dari wedulgembez) [...]
[...] 21 Februari, 2008 Sebenarnya, ide untuk post ini dipicu oleh munculnya beberapa komentar di post saya tentang Teori Evolusi, dan juga di post-nya Geddoe soal Harun Yahya. Isi komentarnya sendiri sebetulnya berbeda-beda — [...]
@sora
sebenarnya sudah OOT ni pembahasan, tapi gak papa
pertanyaan saya scientific law bisa berubah atau direvisi nggak?
@ joyo
Ah, nggak papa kok OOT. Yang penting masih rada nyambung dan bermutu. ^^
Bisa saja ada kaidah baru yang lebih sempurna. Tapi hukum bakal terus diakui, karena sudah jelas bakal berlaku di kondisi apa.
Misalnya, Newton dan relativitas khusus. Sekarang anak SMA juga tahu bahwa hukum gerak Newton nggak berlaku kalau kecepatan tinggi (dekat cahaya). Tapi ingat: sudah ditetapkan bahwa hukum gerak Newton hanya berlaku kalau kecepatan bendanya rendah. Jadi ya, dia masih diakui sebagai hukum sampai sekarang. ^^
Kurang lebih begitu IMHO.
@sora9n
komentar OOT lagi kawan:
apakah the so-called scientific law memberi toleransi pada deviasi? hehe…saya suka sekali ketika anda berucap “pasti terjadi, no matter what”. apakah itu sekedar kutipan untuk menjelaskan pengertian hukum dalam epistemologi sains ataukah itu bagian dari “iman” anda?
pertanyaan saya klise, tapi saya penasaran dengan jawaban anda: bagaimana anda memahami kejadian supranatural? satu contoh, waktu sekolah dulu ada kawan saya yang paling jago dan paling berani tawuran karena dia punya ilmu kebal. saya melihat sendiri dia dipukuli, tapi tidak luka2. waktu kecil juga saya melihat tetangga saya diteluh dan memuntahkan jarum, lebih dari satu jumlahnya, dari mulutnya. sahabat saya juga pernah kesurupan dan bisa menjatuhkan sekaligus lima orang yang mencoba membuatnya diam, padahal orangnya kurus kering! dulu, guru ngaji saya, konon kata kawan2 sebaya saya yang melihatnya langsung, bisa memanjat tembok seperti cecak, defying the law of gravity.
wah contohnya kebanyakan yah.
pertanyannya, apakah sejumlah deviasi yang saya sebutkan itu tidak bisa dijadikan bukti untuk menggugat status “pasti terjadi, no matter what” dari scientific law?
masalahnya, saya sudah cukup sering melihat deviasi-deviasi dari apa yang anda sebut “hukum ilmiah”. tentu, setiap orang berhak mengatakan apa saja, tetapi saya kurang nyaman dengan ungkapan, “pasti terjadi, no matter what”.
ungkapan itu, bila diucapkan untuk menjelaskan suatu konsep okelah, tetapi bila dipegang sebagai keyakinan, oleh siapapun, terdengar mengerikan. rasanya seperti mendengar, “hanya Islam yang benar, no matter what.” menurut saya itu bagian dari paham historisisme yang sangat absolutis dan reduktif khas kaum fundamentalis dan negara2 totalitarianistik! (ups, jauh banget yah. hehehe)
yah, sora9n, apakah kejadian supranatural yang dialami secara empiris oleh sejumlah orang, termasuk saya, bisa dianggap sebagai devisasi hukum alam dan karenanya status/definisi “hukum alam” anda mestinya dirubah? if i can defy the law of gravity, canl it still be considered as a law? or is it just an exception not yet explicable?
@ gentole
Anu… tolong jangan dikait-kaitkan sama “iman” dong. ^^ Seperti yang udah saya bilang di post yang dulu, dua wilayah ini domainnya beda. Sains bekerja dengan persepsi, dan iman dengan sesuatu yang imperceptible. Kalau sains dihantam dengan keyakinan ya, susah ketemunya IMHO.
Kalau definisi yang di atas, ini murni epistemologi sains aja kok. Deviasi ya bisa saja terjadi; cuma itu dianggap sebagai kasus khusus yang masih harus dicari penjelasannya.
Supranatural? Ya, kalau memang terjadi, berarti itu memang terjadi. Yang harus dilakukan selanjutnya, kita selidiki mengapa itu bisa terjadi. Tentunya semampu kita. ^^
Kalau memang nggak mampu diinduksi lebih lanjut, saya rasa ya apa boleh buat. Yang penting segala sesuatu pasti ada penyebabnya, dan itu yang harus kita cari tahu.
Bukannya jika tak sesuai sains lantas dianggap “tak ada” atau “salah”, kalau saya kira bukan begitu.
Coba kita refer ke Newton lagi. Sekarang kan sudah terbukti bahwa relativitas khusus itu bentuk lebih sempurna dari Hukum Gerak Newton. Nah, tapi dulu belum diketahui apa itu relativitas khusus.
Dulu, pas kecepatan cahaya (c) baru ditemukan sebagai kecepatan tertinggi di alam, ini dianggap sebagai deviasi dari hukum Newton. Meskipun demikian, akhirnya relativitas khusus ditemukan. Diketahuilah bahwa Newton memang tak mampu menjelaskan fenomena gerak kecepatan tinggi (yaitu dekat c).
Lantas, diteliti lagi. Ternyata batas2 hukum Newton perlu diperbaiki, yaitu kecepatannya harus rendah. Dengan batasan baru ini, hukum menjadi lebih sempurna dan deviasi yang tadinya ada bisa diserahkan ke hukum/teori/kaidah lain yag lebih mampu.
Ini sebabnya hukum Newton masih diakui sampai sekarang, relativitas khusus umurnya udah lewat satu abad. ^^
Aw, aw, aw, sebentar, sebentar. Cara pandangnya sebenarnya bukan kayak begitu. Penjelasannya kira-kira begini:
Dalam ilmu alam, terdapat dua cabang pendekatan. Yaitu deterministik dan probabilistik.
Deterministik menentukan bahwa suatu proses bekerja dengan aturan umum. Misalnya aritmatika. Kalau kita punya persamaan seperti di bawah ini:
Jika nilai a = 1, dan b = 2, maka nilai y pasti y = 3. Nggak mungkin selain itu. Ini namanya deterministik, karena hasil akhirnya bisa diduga tepat jika kita tahu inputnya apa saja.
Sebaliknya, ada pendekatan probabilistik. Probabilistik ini bekerja dengan statistik dan kemungkinan. Misalnya untuk mengukur pergerakan milyaran atom, ini mustahil dilakukan secara deterministik (datanya terlalu banyak + rumit). Alhasil, digunakanlah pendekatan rata-rata, simpangan, dan lain sebagainya.
Nah, kalau soal “no matter what” yang tadi saya bilang. Itu sebenarnya merupakan upaya dari ilmuwan alam untuk memetakan kejadian secara as deterministic as possible. Dengan demikian, alam bisa dipetakan secara lebih sederhana.
Ibaratnya:
Begitu, mas gentole. ^^
1 + 1 = 2. Kalau hasilnya 3, itu berarti ada bilangan lain yang belum/tidak kita masukkan dalam perhitungan.
Kalau memang deviasinya bisa diuji, dan dipertentangkan dengan hukum yang ada secara akademis. Lantas memang terbukti secara eksperimen bahwa hukumnya menyimpang. Maka hukum alam bisa diperbaiki. Ingat saja kasusnya Newton yang tadi. ^^
Ketidakubahan hukum yang saya tekankan dipandang dari kacamata deterministik yang saya sebutkan sebelumnya, bukan dari segi keyakinan.
Untuk ini harus dilihat dulu, metode menangkal gravitasinya seperti apa. Tentunya di sini metodenya harus dijabarkan dengan lengkap. Kalau cuma bilang “karena saya punya linuwih“, itu nggak membantu kemajuan sains (sebab yang dibutuhkan adalah faktor penyebabnya).
Kalau memang setelah segala daya dan penjelasan nggak bisa memahami apa penyebab tak berlakunya gravitasi, maka ada dua pilihan:
Pertama, masukkan pengecualian dalam hukum gravitasi (kasus khusus). Atau kedua, persempit batas-batas berlakunya hukum gravitasi — sehingga pengecualian ini akan di-handle oleh kaidah khusus tersendiri, dan hukum gravitasi disempurnakan.
Tapi, kalau saya bilang, cuma bilang “saya punya linuwih (=kelebihan supranatural)” terus menantang hukum alam itu nggak membuktikan apa-apa. Di zaman dulu orang juga bilang “dewa punya kekuatan besar, bisa menyambarkan petir”; tapi sekarang kita semua tahu itu terjadi karena adanya muatan listrik di awan.
Kalau menurut saya sih, suatu “linuwih” bisa saja sebenarnya merupakan gejala fisis — cuma saja variabel yang terlibat belum diketahui. ^^
@sora9n
Iyah maaf, saya tidak bermaksud menghantam sains dan iman atau apapun itu. Good, clear answer. You should write a book.
Kudos to You
teori evolusi Darwin atau Harun Yahya bukanlah suatu dogma. kedunya bersifat pengetahuan dan memiliki ciri-ciri dari pengetahuan yaitu bisa berubah…
mau percaya yang mana yah itu tergantung dar keyakinan kita..
[...] ini, saya jadi teringat akan post lama saya tentang teori evolusi dan sekuelnya. Sebenarnya sih penyebabnya sederhana saja — bahwasanya, post tersebut [...]
saya memutuskan berhenti membaca pada komentar ke #30 … bener2 bikin pusing dan lapar … bukan maksud untuk memperunyam … tapi kalau saja kita semua disini cuman seonggok tubuh yang seluruh tubuh dan otaknya terhubung dalam sebuah jaringan kabel seperti di film matrix … wedew …. kalau semua yang dirasakan indra adalah ilusi … maka semua fakta yang diserap indra tentu saja ilusi … ah embuh … tambah puyeng dewe … luwih tenan kie .. btw … sebuah tulisan yang bagus dan semua komentar juga sangat baik … udah lama ya postingan ini …..
Gw mau nambahin. Teori-teori itu mungkin bisa saling menyalahkan, tapi bukan berarti kalau ada satu teori baru yang terbukti lebih baik lalu teori yang lama pasti mati.
Ya misal teori Newton itu, banyak dipake dalam perhitungan sederhana. Memang setelah relativitas muncul, Newton jadi teori usang. Lom teori quantum segala macam.
Tapi dalam kehidupan sehari-hari tetap saja kita ikut teori Newton, masa mau ngukur gerak mesin mobil saja harus mempertimbangkan relativitasnya terhadap cahaya. Apa menghitung probabilitas gerak partikel olinya? Kan aneh.
Yah sama lah kaya Harun Yahya merasa udah jagoan terus cuap-cuap bisa ngeruntuhin teori evolusi. Oke… mungkin argumentasinya hebat, tapi itu kan hebat secara spiritual. Secara sains gimana?
Kalau kreasionisme itu mau diterapin untuk menyelidiki hubungan antar makhluk hidup, ya ga nyambung. Tiap ada penemuan dikomentari “Itu bid’ah!” atau “Tidak mungkin ulat bulu sama manusia ada hubungannya, Tuhan kan sudah menciptakan semuanya serba sempurna!”
Ilmu itu teralu luas untuk dimonopoli kebenarannya sama satu orang. Bisa aja ahli teknik mesin yang taunya cuma fisika klasik malah lebih pintar memecahkan masalah daripada Ilmuwan Fisika kuantum.
Jadi ndak usah sombong-sombonganlaah!
@ hariadhi
Yup, yup. ^^
Sebenarnya teori itu sendiri nggak betul-betul “mati”, melainkan jadi lebih sempurna. Kalau masih bisa dipakai di satu kondisi (e.g. Newton) maka akan terus dipertahankan di kondisi itu.
Adapun soal ilmu, yah, yang penting kalau mau menumbangkan sains ya pakailah metode sains. Bikin teori baru. Jangan sekadar menunjuk-nunjuk kelemahan terus menganggap sudah runtuh;itu mah nggak membuktikan apa-apa.
[...] mencoba mengungkit kembali luka lama yang mungkin sudah tertutup [...]
[...] semua dari nenek moyang yang sama kan ?? Terserah deh, mau berpegang pada teologi atau teorinya mbah Darwin, tapi intinya, kita sama-sama saudara kan [...]
Kenapa cuma teori darwin yang dipermasalahkan??
Ada yang punya bukti manusia pertama diciptakan Tuhan dari tanah, dan jadi nenek moyang kita??
Tolong tunjukan buktinya kalau ada!!!!, bukti ya, bukan dali-dalil yang tidak bisa dibuktikan.
Kalau tidak bisa dibuktikan bearti teori itu salah.
@ buana
Sabar, mas/mbak. Kebanyakan kreasionis memang kayak begitu…
Mm, sebenarnya nggak persis begitu juga. Lebih tepat kalau dibilang “tak bisa dipastikan benar/salahnya”, AFAIK. (o_0)”\
Masalahnya, Tuhan dan Penciptaan itu sendiri sifatnya cenderung non-empiris serta tak bisa diverifikasi/falsifikasi. Apakah mereka itu benar ada/terjadi atau tidak, itu tetap jadi misteri. ^^
Bisa juga dibaca lebih lanjut sbb:
[Empiricism]
[Falsifiability]
[Verificationism]
Kesalahan pemahaman adalah banyak yang memandang teori evolusi secara berlebihan sebagai suatu konsep yang selalu diributkan kefaktaannya.
Kalo gitu, dari pada buat ribut mending dicuekin aja.
Semisalnya orang2 yang mempelajari teori ini sampe pusing, sedangkan hatinya sendiri udah menolak teori itu, so buat apa dipusingin.
Toh, kita mempelajari sesuatu itu kan supaya ilmu itu ngena ke hati kita.
Apalagi, buat yang percaya kalo Adam bukan sebangsa kera ya udah, gak usah pusing….
Tapi, buat sora-kun yang tertarik diteori ini, saya punya pertanyaan. Sora-kun tetep membenarkan teori ini kan?
JAdi, kalo emang teori ini benar artinya adam itu sebangsa kera dong, kera kan hewan. Nah, yang paling sempurna diciptakan Tuhan itu kan manusia, manusia pertama itu kan Adam. So Adam=kera=manusia duuunnkkk…
Sama aja Tuhan menciptakan kera sebagai mahluk sempurna deh….duh, jadi bingung nih…
Buat Sora-kun yg udah master, tolonglah diriku yang masih banyak belum tahu ini.
Tolong ya Sora-kun, kalo bisa jawabannya dikirim kesini aja punya elsa-chan.
http://www.elsaelz@yahoo.com
@ elsa
Wah, saya nggak tahu apakah evolusi itu benar atau tidak. Tapi, karena penjelasannya disertai bukti/gejala alam yang memadai, untuk sementara ini saya mendukungnya.
Kalau nanti ada teori baru yang lebih sempurna, ya, saya akan dukung teori tersebut. Go where the evidence leads.
Hmm, coba baca dulu post yang ini. Evolusi bukannya menyatakan bahwa manusia = kera, melainkan “manusia, kera, dan primata-primata lainnya diturunkan dari nenek moyang yang sama”. Sebagaimana seluruh hewan berasal dari makhluk bersel satu.
Manusia tetap makhluk yang paling sempurna, terutama dalam hal kecerdasan. Ini karena manusia — asumsinya — telah mengalami perkembangan evolusi paling jauh dibandingkan makhluk hidup lain. Boleh jadi Adam adalah makhluk pertama yang menggapai kecerdasan, sehingga layak disebut “manusia” pertama. ^^
Jadi, ya, bukannya “kera” itu makhluk paling sempurna juga. Itu mah beda kasus.
Ps: Untuk melengkapi, baca juga: [theistic evolution], tentang penerimaan evolusi di kalangan agama dan theist.
hohohoho….bner jga yah….
nggak prnah kpikir lho….
mungkin saya aj yg kurg baca…makanya msh kliatan gebleknya…wawasan masih kurg…
yg jlas, sya bljr 1 hal…bhwa untk mnilai suatu permasalhn….
qt gk bsa mlihat dr 1 persepsi sja, tpi hrs liat dri sisi yg lainnya…
yah..stiap hal kan punya positif negatifnya sndiri…tnggal cara pandang qta aja…
anyway,thnx yah udah diresponse, ngena bgt lho…seneng deh…
O__________o
@ elsa
Sama-sama.
harun yahya sih menitikberatkan pada masalah aplikasi dari teori evolusi tersebut. dimulai dari seorang filsuf inggris, herbert spencer, yang memakai teori evolusi sebagai “alasan ilmiah” untuk meneruskan penjajahan.. [theory survival of the fittest/strongest].. dilanjutkan oleh usaha Arthur Keith yang bikin fosil2an “manusia piltdown” yang dibikin dengan templean rahang kera di tengkorak manusia dan juga di misinterpret sama beberapa diktator seperti Stalin yang menjadikan teori evolusi sebagai mainstreamnya untuk meneruskan pembersihan etnis..
itu poin2 penting yang membuat harun yahya ngritik teori evolusi.. sejauh saya ngebaca bukunya..
secara semua ilmu ndak ada yang sempurna, yang sempurna cuma Tuhan YMT…
maaf kalo terkesan sok tahu
@neorhazes:
Dan itu sama sekali tidak membuat Darwin bertanggung jawab atau teori evolusi jadi salah atau jahat, sehingga nggak tepat kalau itu alasannya mengkritik teori evolusi.
Analoginya, sama seperti Islam tidak otomatis jadi agama yang jelek karena ada teroris yang ‘mengaplikasikannya’ dengan meledakkan bom di tengah pasar atau memenggal kepala anak-anak SMP. Dan itu juga tidak membuat Nabi Muhammad SAW jadi ikut bertanggung jawab, kan?
@ neorhazes
Seperti yang dijelaskan Catshade, sebenarnya ini dua masalah yang berbeda. Semua ilmu — bahkan juga agama — bisa diselewengkan untuk menjustifikasi hal yang tidak benar.
Evolusi mungkin ditafsirkan sebagai landasan berpikir ideologi ini-itu. Tapi, apakah evolusi jadi salah dalam menjelaskan biologi? Jelas tidak. (contohnya sudah disebutkan di tulisan di atas)
Agama pun bisa ditafsirkan sebagai landasan untuk berbuat kekerasan (Perang Salib, terorisme Al-Qaeda, dsb). Tapi apakah agama jadi salah karenanya? Saya rasa, jawabannya juga tidak. ^^
IMHO, semua ilmu itu hakikatnya netral (dalam artian seimbang antara kebaikan dan keburukan). Jika dipakai secara baik dia akan baik; jika dipakai secara buruk maka dia jadi buruk. Kurang lebih begitu.
[...] kenapa, karakter wajah sudah berbeda dengan generasi sebelumnya, baby boomers misalkan. Sepertinya teori evolusi berlaku, karena ganteng tahun 70an itu berbeda sekali dengan ganteng versi tahun [...]
Sora-kun.. ogenki desuka?
Saya terkesan sekali ma tulisannya…………..
^
Hai, genki desu. Arigatou gozaimasu.
AKU ENGGAK TAHU…
YANG JELAS…
ITU ADALAH MAKHLUK CIPTAAN TUHAN…
mas kalau teory mang Darwin dijadikan pandangan hidup gimana (atheis=yes or no) thank’s salam kenal.
^
Teori Evolusi nggak mesti bersifat ateis, kok. Coba baca di tulisan saya yang ini:
[Beberapa FAQ tentang Evolusi]
Yang bagian IV – “Kesalahan Argumen terkait Aspek Filosofis dan Sosial dari Evolusi”.
Semoga membantu.
Duh mas sora saya kok nggak percaya sama orang sepertinya netral, semua nya pasti kecendrungan berpihak( walaupun di tentukan kwalitas + kuantitas ) Anda ini di posisi mana yaa? Atheis (+ turunan turunan filsafat ateisme lainnya ) / anda tetap bertuhan namun Tuhan Teologi / Tuhan Filsafat hayoo
^
Wah, mohon maaf, tapi saya ini agnostik. Nggak ada tuh di pilihan Anda.
*telat lg ya ilah*
masbro sora, ud baca tulisannya david sloan wilson? (he’s no harun yahya, i swear. kebalikannya malah) obviously you’re already well versed in this topic. tapi kalo belum baca, he’s worth reading. dia menggunakan evolusi untuk menjelaskan byk hal, dari biologi sampai agama.
^
Saya beberapa kali dengar soal pembelaan pro-evolusi dari kalangan agama, sih. Tapi, kalau buku yang mbak sebut, saya baru tahu. ^^;
Mengenai filsafat dan evolusi sendiri, percampurannya sudah sejak zaman Darwin. (terutama oleh T.H. Huxley). Di masa kini banyak orang yang mencoba menghubungkan evolusi dengan agama — walaupun pastinya menuai pro dan kontra.
Coba situ gugel (atau wikipedia) kata “theistic evolution”. Hit-nya lumayan banyak tuh.
Dear Sora
Anda disini terkesan pintar padahal kalau kita cermati tulisan ini (NGGAKsemuanya sich) mutar mutar,cupet,terlalu teknis, ngaku Agnostik kamu munafik, padahal atheis tulen, beginilah diantaranya sikap para borjuis atheis, komentar melulu tindakan REAL nya tidak ada, buat buku dong buat didedikasikan ke para setiap insan manusia.itu pun kalau ada modal kalau anda PD, buat aku forum kalian hanya buang buang waktu saja, KEHIDUPAN ANDA paling-paling punya usaha & karyawannya di tindas, punya pembantu di peras keringatnya dengan gaji standar UMP hehehe ,punya posisidi tempat kerja gaji besar neken anak buah , korupsilah pastinya abis nay kan nggak ada yang kontrol (TUHAN) yah kalau anda nggak korupsi baguslah karena bukan karakter anda kan?, saran ku ayo bentuk kesadaran massa di indonesia agar sepenuhnya tahu bahwa tujuan akhir dari peradaban di bumi ini adalah sosialisme sepenuhnya, ayo kaum buruh sedunia bersatulah……… buat sora & forum ini gue minta maaf sebanyak-banyaknya Thank’s ya sekali2 baca dong filsafat materialisme, dialektika & historis, tapi jangan nyasar ke Madilog nya Tan malaka ok………….sorry man …………..
salam pembebasan
@ Marlo
Betul itu, memang dia ini munafik dan suka menyiksa pembantu. Betul-betul keji™.
@ Marlo
Ahihihahaha… enggak ngomongin evolusi, malah ngomongin ateisnya. Pake bawa-bawa menindas pembantu, pula’.
Kalau saya lihat, Anda ini sejenis sama orang-orang sok kiri di kampus saya. Dikit-dikit ngoceh ateis, sosialisme, “majulah buruh” — tapi di luar itu nol.
Nantang-nantang soal ateisme dan agnostisisme, pula…
Sudah baca esai-esai Huxley, belum? Thomas Paine? Comte? Ngerti asas falsifiabilitas ndak? Bisa mbedain positivisme, empirisisme logis, dan epistemologi Popper? Baru kalau udah, kita ngomongin soal ateisme-agnostisisme dan sebangsanya.
Kalo deisme Paine, agnostisisme Huxley, sama positivisme Comte masih campuraduk, wah, mohon maaf. Tuduhan Anda itu cuma tong kosong nyaring bunyinya.
Terus nantang pula di post evolusi, yang kelihatannya bukan keahlian Anda. Tapi sepertinya Anda nggak tertarik membahasnya. Jadi, yah sudahlah. ^^
:::::
@ Abu Geddoe
Hei, jangan samakan saya dengan tuan-tuan Arab yang gemar menyiksa TKI itu…
pertanyaan: kalau semua manusia itu berasal dari adam, lalu semua manusia punah karena banjir di jaman nabi nuh, ini berarti semua manusia adalah keturunan nabi nuh. setuju?
nah tidak ada bukti mengenai tahun berapa nabi nuh hidup. katakanlah kita anggap jaman nabi nuh itu sekitar 3-4 ribu tahun yang lalu, kok bisa anak-ananya menyebar kesemua penjuru dunia? dalam waktu sesingkat itu?
dan kok bisa anak-anaknya beragam gitu? ada yang hitam, ada yang putih, ada yang kuning, ada yang sipit, ada yang hidungnya gede, ada yang rata-rata tingginya 2 meter lebih, ada yang imut imut kayak kita (kita? elu kali). kok bisa? padahal semuanya berasal dari satu ayah dan ibu. harusnya mirip semua dong.
hayo kenapa?
@ braaaaains
IMHO, uraian Anda cenderung menitikberatkan pada asumsi sebagai berikut:
Yang mana, tiga itu doktrin agama Abrahamik. Kalau yang ditanya orang yang tidak menganut agama Abrahamik, ya, pengandaian Anda jadi kurang nyambung.
Saya sendiri (sejauh ini) bisa dibilang agnostik soal banjir Nuh. Bukti-buktinya cenderung minim. Tapi men-dismiss bahwa itu hoax, rasanya terlalu buru-buru. Sebab kisah ini sangat universal — hampir di tiap budaya ada counterpart-nya.
(coba cek di: [Deluge Mythology across the world])
Sebenarnya itu mungkin. Coba cek di link sbb: [Single Origin Hypothesis]
Asalkan ada sejumlah n makhluk jantan dan betina yang bisa bereproduksi, maka kode genetik bisa tersarikan. Kalau kode genetik sudah tersarikan, maka selanjutnya tinggal diserahkan pada seleksi alam dan mutasi.
Kalau jumlah populasi sudah banyak, ada dua elemen lagi yang harus diperhitungkan: migrasi dan genetic drift.
Single origin hypothesis berasumsi bahwa manusia pertama (pasca-evolusi) berasal dari Afrika. Yang mana — kita asumsikan — sebaran genetiknya homogen. Ini analog dengan peristiwa Bahtera Nuh. Biarpun kode genetik manusia yang survive homogen, mutasi dan diferensiasi bisa terjadi. Alhasil keragaman umat manusia bisa tercipta.
Masalahnya tinggal apakah waktu yang tersedia cukup panjang. Kalau ordenya cuma beberapa ribu tahun, bisa dibilang enggak cocok lah IMHO.
setahu saya teori tentang Binomial Nomenklatur Carolus Linaeus (klasifikasi makhluk hidup) lebih tua dari Teori Evolusi Darwin
^
Benar, Taksonomi Linnaeus umurnya lebih tua daripada evolusi Darwin. Keluarnya tahun 1700-an — sementara Origin of Species pada tahun 1859. Meskipun begitu, sebenarnya ia berkaitan erat dengan Teori Evolusi Darwin.
Mengapa bisa begitu, nah ini ada ceritanya lagi.
Linnaeus waktu itu menyadari adanya kemiripan morfologi antarspesies, dan membuat taksonomi dari situ. Meskipun begitu, dia tidak tahu penyebab dari kemiripan tersebut.
Sebagai contoh, Linnaeus mengelompokkan kucing, harimau, dan macan tutul sbg satu famili (Felidae). Kenapa satu famili? Karena memiliki kemiripan morfologis: bentuk cakar, alat gerak, bertulang belakang, dsb.
Tetapi kemudian orang bertanya,
Nah, di sinilah Darwin muncul. Dia menjawab bagaimana kemiripan morfologis itu terjadi. Kok bisa bentuk cakar, kaki, dan kepalanya mirip? Diuraikanlah mekanismenya — yakni lewat evolusi dan common descent.
Jadi sebenarnya Darwin berusaha melengkapi Linnaeus. Apa yang tidak diketahui Linnaeus, dicoba jelaskan oleh Darwin. Kurang lebih begitu.
*baca komentar marlo*
*nguakak dalam hati di kantor*
Asli. Lucu banget.
Duh, Sora9n, jangan suka nyiksa pembantu lah.
^
Itu komentar udah dari jaman jebot, kali. Ke mane aje lu, baru baca sekarang?
^
“Dasar si Adi, dia itu ga’ konsisten. Awalnya dia sendiri yang bilang kalau teori sup purba dalam evolusi terdiri dari tiga tahap penting : terbentuknya proto materi (lihat eksperimen Stanley-Miller), terbentuknya polimer, serta isolasi dan perkembangan membentuk organisme. Lalu dia juga bilang hingga hari ini PCR yang merupakan alat paling mutakhir buatan manusia hanya mampu melakukan amplifikasi asam nukleat hingga ratusan base pairs (bp). Fakta itu saja sudah cukup untuk argumentasi bahwa ide teori evolusi hanya sampah, emang untuk membentuk satu organisme dipikir cukup hanya asam nukleat ? kan masih butuh protein, lipid, dan polihidroksi aldehid / keton (karbohidrat). Itu artinya di zaman yang piranti mutakhir macam PCR jauh dari ada, tidak akan ada proses pembentukan polimer yang terjadi dengan sendirinya. Dasar ga’ konsisten ”, gerutu Muhammad sambil berjalan menuju rumahnya. Dari awal, Muhammad memang tidak setuju dengan teori evolusi yang disampaikan Adi sahabatnya. Menurutnya teori itu lemah dan mengada-ada, mengingkari keberadaan Dzat Maha Sempurna yang mencipta dengan keagunganNya. Muhammad tetap teguh pada pemikirannya bahwa penciptaan tetap terjadi sebagai asal muasal kehidupan, kemudian baru terjadi proses evolusi hingga terbentuk organisme yang beranekamacam seperti saat ini. Toh, pengertian evolusi adalah perubahan secara bertahap yang terjadi dalam waktu lama jadi organisme tidak akan berubah dan membentuk keanekaragaman yang tinggi seperti sekarang jika tidak pernah tercipta…karena apa yang berubah ? (bersambung)
^
Coba mas/bapak baca dulu tulisan saya yang ini:
[Beberapa FAQ tentang Evolusi]
Terutama pertanyaan nomor #4 dan #14-#18.
Semoga membantu.
[...] Evolusi: [1], [2], [3], [...]
eemmmmm ..
maybe benar
hehehe
ga ngerttiiiiiiiiii
kalaw menurut saya yang namanya teori evolusi itu 1000% sangat salah. Mengapa ? Karena kita adalah mahluk yang diciptakan dengan sangat sempurna tanpa dalam keadaan cacat sekalipun. Bukan seperti yang dikatakan dalam teori evolusi kalau kita ini dulu, sekarang dan mungkin saja nanti berbeda. Berbeda apanya ???????. Lagian bentuk transisi dari perubahan kita itu bagaimana ? Bapak evolusipun (CHARLES DARWIN Cs)pun tak dapat menjelaskannya, apa lagi orang yang sok-sok membenarkan pernyataan evolusi. OK, klw butuh sharing pendapat silahkan saja kirim pesan ke e-mail Q (azis_biology06@yahoo.co.id) OK
^
Coba baca dulu [tulisan saya yang ini], sekalian komentar-komentarnya juga.
Jangan petantang-petenteng bilang “Bapak Evolusipun tak sanggup menjelaskannya” kalau belum baca itu. Cuma sesumbar doang mah, semua orang juga bisa.
Sora sepertinya kehilangan kekaleman mirip So Toma-nya sekarang,,, Frontal mulu jawabnya…
*kabur ke suffah masjid*
ostopiruloh… ini post sudah 2 tahun…!
Ya sudah… hetrik di post jadul….
^
Saya sengaja menyimpan kekaleman saya untuk berdiskusi di post yang satu lagi (=3=)/Iya ya, benar juga. Kenapa ya?*terpekur*
…
…
…
BTW, saya merasa tersanjung dibanding-bandingin sama Mas Toma. XD Uswatun hasanah, itu!!
/cowok pinter, baik, enggak sombong…
//lebih keren daripada Conan & Kindaichi IMO
waaaaaaaah…hidup sora kun!!
hahaha…salam kenal..aku baru tau blog mu…
selama ini saya kira saya sendiri yang mati2an ngebelain teori evolusi…yuph teori evolsi adalah teori ilmiah, sains tanpa bias. jelas-jelas Harun Yahya membantah tanpa metode ilmiah, sungguh tak bisa dipertanggung jawabkan.
menyambut 200 tahun Darwin, saya membuat artikel “200 years of negligence” yang diterbitkan Februari lalu di The Jakarta Post. ingin rasanya berbagi ide dengan teman-teman kampus, jadi saya pernah kirim ke Republika kritik saya akan Harun Yahya…tapi ya tau sendiri lah…
by the way, kenapa gak ngajak2 neo-darwinian?
karena emang sih, kalau dipikir2, teori evolusi Darwin yang asli sangat kontroversial (dan kalo saya bisa bilang…lucuuu)
^
Ah, terima kasih. ^^
Sebenarnya ada alasannya kenapa cuma membahas Darwin. Waktu post ini ditulis (sekitar tahun 2007) blogosphere sedang ramai tentang evolusi. Berhubung waktu itu yang dicecar Darwin, ya, tulisannya jadi seperti di atas.
Kalau yang rada menyinggung evolusi modern, bisa dibaca di tulisan sbb:
[Beberapa FAQ tentang Evolusi]
Kurang lebih seperti itu.
hmmh…baiklah…
iya teori kan namanya saja teori….(ingat itu)…bukan aksioma… jadi masih mungkin dibantah, disanggah, dikritik, dibuktikan relevansinya dengan metode & konsep2….
he2…. btw kalo mau ngelucu ttg teori evolusi darwin sih yah bisa aja lah… misalnya spt tmn saya yang nyeleneh di klas bertanya kpd dosen… pertanyaannya sederhana tapi lucu dan cukup common sense lah bagi kebanyakan orang, tmn saya brtanya “pak, kalo primata berevolusi, kok monyet yang ada di hutan gak berubah jadi orang sih…? kok masih ttep di hutan gelantungan sih?”…
sgn sgera tmn2 saya ketawa….termasuk saya…
=======
Frederico
iya teori kan namanya saja teori….(ingat itu)…bukan aksioma… jadi masih mungkin dibantah, disanggah, dikritik, dibuktikan relevansinya dengan metode & konsep2….
=============
yupz betul juga sih…..
teori perlu dikaji krn itu teori buka aksioma yang sudah jelas pasti….
utk teori evolusi darwin memang harus perlu dicermati….
apalagi teori ini berkembang terkonstruksikan di akhir abad 19/awal abad 20…
jd kita bisa mengira kan spt apa metode dan peralaan yang digunakan pada masa itu… apakah sudah semaju sekarang….