Dulu, waktu masih SMA, saya sempat beberapa waktu mengikuti latihan karate sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Tentunya, layaknya kegiatan beladiri pada umumnya, menu yang diberikan adalah latihan fisik yang disertai dengan konsep-konsep pengendalian diri.
Nah, kisah ini berhubungan dengan hal yang disebut terakhir itu.
Setiap kali latihan hendak berlangsung, para peserta latihan diwajibkan untuk mengucapkan apa yang disebut “sumpah karate”. Bunyinya sendiri kira-kira seperti berikut ini:
Catatan:
Aliran karate yang diikuti grup sekolah saya dulu adalah INKAI, dan sumpah karate yang diterapkan bunyinya adalah seperti di bawah ini. Saya sendiri tidak tahu persis apabila aliran lain (e.g. Gojukai, KKI, dsb) juga menerapkan ucapan yang sama — saya belum pernah menjalani latihan bareng mereka, soalnya. ^^
-
Sumpah Karate:
1. Sanggup memelihara kepribadian
2. Sanggup patuh pada kejujuran
3. Sanggup mempertinggi prestasi
4. Sanggup menjaga sopan-santun
5. Sanggup menguasai diri
Yah, seperti itulah bunyinya.
Kenapa butir-butir tersebut diatas dijadikan landasan moral, dan bahkan diresmikan sebagai ’sumpah’ sebelum latihan?
Penjelasannya kira-kira begini.
1. Sanggup Memelihara Kepribadian
Maksudnya tentu saja si karateka harus mampu mengembangkan pribadi yang baik dan memeliharanya. Bayangkan, seandainya ada karateka (yang, dalam suatu demo, bisa menghancurkan dinding beton dengan tangan kosong) hobi berbuat onar — lantas bikin ribut dan berkelahi di tempat dugem. Boleh jadi lawannya akan terkirim ke rumah sakit, sementara sang atlet harus diamankan pihak berwajib.
Lebih gawat lagi kalau ternyata lawannya (yang bisa jadi tak berbekal ilmu beladiri) justru sampai tewas di tangan sang karateka. Tentunya ini akan jadi preseden buruk bagi ilmu beladiri tersebut. Maka, sudah jelas bahwa “sanggup memelihara kepribadian” adalah poin utama dari orang yang hendak belajar beladiri tangan kosong ini.
2. Sanggup Patuh pada Kejujuran
Secara harfiah dapat dipahami, pada dasarnya seorang karateka harus mengabdi pada kejujuran. Bisa dibilang poin ini menekankan semangat budi pekerti, tidak bersikap licik, serta selalu mengambil tindakan yang jujur dan bisa dipertanggungjawabkan.
3. Sanggup Mempertinggi Prestasi
Maksudnya terus memperbaiki keadaan diri sendiri. Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin! Jika hari ini Anda baru hapal gerakan-gerakan kata I, maka esok hari gerakan Anda di kata tersebut harus sudah lebih bagus dan lebih luwes, walaupun sedikit. Intinya adalah kemajuan akan diri sendiri — syukur-syukur, “prestasi” yang sebenarnyalah yang Anda tingkatkan (e.g. lewat turnamen dan invitasi).
4. Sanggup Menjaga Sopan-santun
Ini juga jelas. Jangan melakukan tindakan asusila; jangan bercanda yang keterlaluan; hargai orang yang lebih tua; bersikaplah ramah pada yang lebih muda, dan seterusnya. Pribadi yang baik yang terbentuk dari (1) harus dilanjutkan dengan (2) dan (4) ini secara bersamaan.
5. Sanggup menguasai diri,
Tentunya, kalau Anda punya teknik pukulan yang sempurna, kepalan tangan yang keras akibat rutin push-up dengan tangan mengepal, dan otot bisep yang terlatih, Anda menjadi orang yang berbahaya ketika marah. Bayangkan juga kaki Anda begitu kuat hasil latihan jalan jongkok setiap malam — mawashi Anda boleh jadi sanggup membuat ‘korban’ Anda gegar otak.
Sekarang, bayangkan seorang karateka terlatih langsung naik pitam — hanya karena bahunya terkena tumpahan air di restoran. Apa nggak bahaya tuh? Makanya, prinsip ini berfungsi melengkapi pelaksanaan butir (1) — bersama dengan butir (2) dan (4).
***
Tunggu sebentar. Sampai sini, Anda mungkin bertanya: apa hubungannya semua itu dengan judul “sumpah blogger” di atas?
Sebenarnya, kelima prinsip itu sangat relevan untuk diterapkan di dunia blog alias blogosphere. Di tempat di mana kekuatan fisik digantikan dengan kualitas argumen ini, kelima butir “sumpah karate” di atas sangat bisa diaplikasikan di dalamnya.
Lho, kok bisa?
Begini:
1. Sanggup Memelihara Kepribadian
Di blogosphere, semua orang datang bercampur-baur. Berbagai kepribadian hadir; ada yang pemarah, sabar, nrimo, dan seterusnya, dan seterusnya. Nah, tapi ada masalah.
Coba, bagaimana jadinya kalau ada seorang/sekelompok blogger yang hobinya menjatuhkan pihak lain? Black campaign, menghujat, menjatuhkan, bahkan sampai menyumpahi lawannya agar masuk neraka dan disiksa selamanya. Padahal, lawan yang ditujunya sudah mencoba berbicara dengan sopan dan baik-baik; hanya saja idenya memang berseberangan.
Tentunya ini bukan contoh pribadi yang baik kan? Saya yakin Anda takkan senang bertemu blogger macam itu. Jadi, seorang blogger sudah seharusnya sanggup memelihara kepribadian.
2. Sanggup Patuh pada Kejujuran
Kalau Anda menulis di blog, Andalah yang bertanggung jawab penuh pada tulisan Anda. Apa jadinya jika Anda menulis berita bohong (atau, landasannya fiktif) di blog; lantas menyebarluaskannya sebagai “berita benar” ?
Sudah tentu Anda sedang melakukan kebohongan publik. Ini jelas tak bisa diterima, terutama di open-mind society yang menjunjung tinggi kejujuran dan validitas pernyataan. Apalagi kalau mencuri karya orang dan mengakuinya sebagai tulisan sendiri. Salah-salah, justru Anda akan di-blacklist, dan dianggap sebagai penulis ecek-ecek yang tidak kredibel.
Sebagai blogger, Anda harus sanggup patuh pada kejujuran. Tentunya Anda bisa saja berbohong selama itu tidak ketahuan, tapi itu kan urusan lain. Yang jelas, Anda akan ‘tewas’ jika hoax Anda terungkap.
3. Sanggup Mempertinggi Prestasi
Tentunya yang dimaksud di sini bukanlah prestasi sebangsanya Miss Pertamax ataupun jadi penemu hattrick komentar di satu post.
Yang dimaksud di sini adalah mempertinggi prestasi yang berkaitan dengan isi tulisan. Jika misalnya tahun lalu tulisan Anda masih banyak yang dangkal dan gaya bahasanya amburadul, dan sekarang tulisan Anda sudah lebih teratur secara bahasa, maka itu bisa digolongkan sebagai “mempertinggi prestasi”. Begitu juga jika pemikiran Anda berhasil membuat sebuah meme yang diakui banyak orang — seperti Jangan Asal Copy Paste dan SETANTRON™.
Seorang blogger makin berkembang dengan semakin matangnya tulisan dan pemikiran yang dia tuangkan. Tentunya ini bisa digolongkan sebagai sanggup mempertinggi prestasi, bukan? ^^
4. Sanggup Menjaga Sopan-santun
Bayangkan ada seorang blogger yang menulis komentar menyebalkan di blog Anda. Seperti komentar ini, misalnya. Tanpa tedeng aling-aling, dia langsung marah-marah dan meluapkan kebencian di blog Anda. Lebih parah lagi, logikanya berantakan dan pendapatnya berakar dari kesalahpahaman. Saya yakin bahwa Anda akan jengkel seketika pada sikap seenaknya macam ini. Apakah itu bisa dibilang ‘berbuat sopan’? Tidak, saya rasa.
Contoh lainnya mungkin soal copy-paste diam-diam. Mengambil tulisan karya orang lain dan meletakkan di blog sendiri tanpa mencantumkan sumber bisa memicu salah tafsir — bahwa Andalah yang sebenarnya menulis tulisan tersebut; sedangkan penulis aslinya malah terlupakan. Ini juga tidak sopan; salah-salah justru Anda akan dicap ‘blogger tak tahu aturan’ dan dijauhi semua orang.
Dari dua contoh di atas saja sudah terlihat bahwa Anda harus sanggup menjaga sopan santun diantara blogger — terutama yang rajin Anda sambangi blognya. Jangan sampai Anda justru menyulut ketidaksukaan karena ‘menabrak rambu-rambu’ kesopanan yang berlaku di blogosphere.
5. Sanggup Menguasai Diri
Misalnya, blog Anda dikomentari oleh blogger kurang ajar, seperti yang dicontohkan di poin (4). Dengan komentar yang begitu menyebalkan, apa jadinya jika Anda tak bisa menguasai diri? Bakal terjadi perang umpatan dan kata-kata. Bahkan boleh jadi segala macam cara berdiskusi busuk akan keluar dan terpraktekkan. Kalau sudah begitu? Perang, saya rasa. ^^
Jadi, biasakanlah untuk sanggup menguasai diri. Segala macam serangan yang menyebalkan toh akan tumpas juga kalau Anda bisa bersikap tenang dan menjawab dengan logis + tepat sasaran. Betul atau betuul?
***
Jadi?
Ternyata, “sumpah karate” sangat bisa diterapkan di rimba blogosphere ini. Bahkan, saya rasa, tingkat kericuhan di dunia blog akan jauh lebih berkurang kalau semua orang paham dan berusaha menerapkan prinsip-prinsip di atas… walaupun memang akan selalu ada orang yang tak-peduli-prinsip, sih.
…
…
Ngomong-ngomong, rumusan di atas perlu diadaptasi jadi “kode etik blogger” nggak ya?
siyal…disini nggak boleh PERTAMAX…
btw kenapa nggak kirim trekbek kesini??
khan tentang kupipes tuh
@ cK
Nggak bisa… yang bikin TM-nya kan si JAF…
-lagian, lo kan udah gw link sebagai “Miss Pertamax”-
tengkyu tengkyu…I’m flattered
eh sora besok kopdar yuuk~
setuju!!
kopdar… eh salah, sumpahnya.
btw, bukannya sebenarnya filosofi karate itu asalnya dari filosofi kehidupan, yah? IMO, adalah hal yang wajar bahwa poin-poinnya relevan.
~manggutManggut
~bagusBagus
prestasi sebangsanya ???? …. konotasinya jelek banget … padahal kan prestasi itu ngga jelek … cuma annoying aja kok …
Memelihara kepribadian…


Bagi yang kepribadiannya buruk silakan tetap dipelihara dan dikembangkan
Jika yang berkepribadian ganda, silakan dikembangkan lagi
…..
Upppssss… kok ngaco
Mau belajar menguasai diri saja ah….tapi bukan menguasai diri sendiri, melainkan menguasai diri orang lain
@ cK
Ah, gw ngerti lo ngerti akan jawaban gw yang susah dimengerti tentang hal yang kita sama2 ngerti itu…
:::::
@ yud1
Tentu saja; karena memang poin-poinnya sendiri bersikap global.
IMO, kayaknya bagus juga nih kalau ditegaskan dan dirumuskan sebagai “sumpah blogger” betulan.
:::::
@ Joerig™
Lha, itu bukan konotasi jelek. Kata “sebangsanya” kan menyatakan “yang mirip-mirip” dengan hattrick dan pertamax… saya nggak bilang bahwa konotasinya jelek lho di sana.
Ah, tetehnya udah sadarBetul, betul. Itu kan cuma annoying aja. Untungnya saya udah sanggup menguasai diri, sehingga nggak langsung kebawa jengkel begitu mendengarnya.*langsung kabur*
:::::
@ deKing
Hoi, dilarang memelintir ayat™!
Ah, menguasai diri orang lain? Gini Mas, masalahnya sumpah itu kan diucapkan oleh si orang yang bersangkutan. Jika sesuatu tidak disebutkan atributnya pada siapa, itu kan berarti yang menjadi obyek adalah dirinya sendiri…
*tinjauan asal-asalan dari sisi bahasa*
Haa? Blogger disumpah?
Hmm, poin-poinnya bagus dan pas buat open-mind society kaya blogosphere ini, setuju kok, setuju…
Eit, biasanya kalau melanggar sumpah bisa kualat!
Asal sadar dan tersadarkan saja gak apa kayanya.
Kalau jadi sumpah, jangan.
Bahaya.
Baiklah…saya bersumpah……
*baca layaknya sumpah diatas*
Dan saya bersumpah….saya bersumpah tidak akan selamanya menaati sumpah yang saya bacakan tadi…
Amin
“sumpah untuk dilanggar katanya”
hehehheheeh
btw kayaknya dunia blogger bagi saya mungkin ga butuh ikrar tertulis yang kadang sering dilanggar sumpah diatas kayaknya cocok ditanam dulu dalam diri masing sehingga sudah terbentuk dari individu-individunya… kan ga kaya sentralisasi gitu
*dari blogger untuk blogger dan oleh blogger*
sumpah katanya lebih berat daripada janji…. gimana kalau janji blogger aja ?
point-pointnya sepertinya sudah cukup tuh, atau ada yang mau ditambahin… ?
*setuju…*
Saya sudah sering berjanji. Ada yang sukses. Tapi banyak yang gagal.
Sumpah? Kalo itu mah hobi. Dari kecil, doyannya nyumpahin orang. Huehehe.
Tapi idenya bagus. Mirip-mirip sumpah pemuda. Cool. Para pemuda, saling bersumpah, untuk bulat merdeka. Dulu, 1331, Gajahmada juga bersumpah, menyatukan nusantara dibawah kaki Mahadewi Majapahit Tribuana Tunggadewi.
Walaupun harus membumihanguskan Samudra Pasai. Walau harus membakar Sriwijaya. Gajahmada terus mencoba menepati sumpahnya.
Huhmmm… dimana-mana yg namanya SUMPAH pasti isinya bagus2… tapi yg jadi persoalan yakni apakah kita mampu mengimplementasikan sumpah2 tsb didlm blogosphere…
*ah.. ini cuma sekedar curhat gak mutu kok…*
Salam kenal…
Peace `N Love !
@ jejakpena | fertobhades | almascatie
Hmm, iya ya? ‘Sumpah’ kayaknya terlalu berat… (o_0)”\
Di-update deh kalo gitu.
Yaah, yang penting jadi semacam kode etik aja sih; tentunya kalau soal pelaksanaan semuanya kembali ke blogger ybs.
:::::
@ Blue Generation Says….
Hm, hm, hm…
*sambil masukin Mas Farid ke daftar hitam blogger*
-eh, bercanda lho-
:::::
@ bangaiptop
Sumpah itu, IMO, tergantung pada orangnya. Kalau yang ngomong memang punya tekad dan konsisten, maka kemungkinan berhasilnya juga besar. IMO lho.
Contohnya ya kayak Gadjah Mada itulah.
:::::
@ 9uBr4K5
Salam kenal juga.
Curhat telah diterima; terima kasih kunjungannya.
*gak serius mode = on*
Hmmm…apa ini berkaitan dengan panti jomblo?
mmm, emangnya perlu sumpah ato kode etik ya, wah klo gitu dimana kebebasannya yg selama ini di agung²kan ama bloggers???
ternyata masih ada aturan jg tho??
jd bingung ???
wah klo melanggar, pasti sanksinya dikucilkan ya
klo itu aku gk ikut² ah
Osh!!!
kayaknya blum ada yg perlu di diskusikan bareng….
Yang Paling Utama Kode ETIK BLOGGER adalah
“Sanggup Membayar Tagihan Internet” yang semakin hari semakin membengkak karena banyaknya Komentar yang perlu di jawab.. He..he.. (Gak nyambung…kabuuuuur)
[...] membuat saya berniat untuk memiliki penghasilan tambahan), Masalah Copy-Paste, masalah pembajakan, sumpah blogger, Perokok, curhat, Antosalafy (lagi), sampai melenceng kepada masalah biologi, dimana saya hanya [...]
Postingan sayahari ini khususnya di bagian updatednya termasuk sedang membahas masalah kebohongan publik, alias janji no 2 gak ya?
@ deKing
Kemungkinan…
*sambil lirik cK*
:::::
@ hendra_ku
Letak kebebasannya? Bebas aja kok. Cuma, harus bebas yang bertanggung jawab dan tidak merugikan orang lain.
Kalau “kebebasan berpendapat” dijadikan perisai untuk menjatuhkan orang, melecehkan SARA, dan menulis hal-hal asusila, maka blog bukan lagi jadi sarana untuk berdiskusi dan bertukar pikiran.
:::::
@ aRuL
Osh, saya akan siap mendengarkan kalau ada pertanyaan nantinya.
:::::
@ rivafauziah
Itu mah kode etik nomor satu mbak… tapi di dunia nyata, bukan di blogosphere.
:::::
@ Kang Adhi
Entahlah… saya lihat dulu selengkapnya. Saya juga baru dapat info dari tulisan Kang Adhi aja sih, belum tahu dari sisi orangnya. (o_0)”\
-langsung pergi ngecek-
BTW, kok link=nya ke BOTD, kang?
ih sora genit pake lirik-lirik
Sumpah? SUmpah?
Haha, sumpah…. Baiklah…
Karate dari Jepun kan ya? Bagaimana kalau sumpah blogger dari bushido?
Mmm, Sumpah? Duh, kayak anggota dewan aja pake sumpah.
Tapi, boleh juga untuk menjaga blogosphere tetap kondusif. Lalu, menyembunyikan jati diri boleh gak?
Kalau bukan sumpah bloger, bukan kode etik bloger, jadinya apa dong? “Bukan-bukan” ya? Kayak Gus Dur saja.
Oh iya, klo kita menerapkan poin ke-5 (sanggup menguasai diri), harusnya kita tak sakit hati bila dikomentari oleh bloger yang (di artikel ini dikatakan) menyebalkan. Betul? Atau betuuuuul? Hehehe…
*** ngeblog yg nyante2 ajaaaa…
biar ga kesamber kritik pedasss
@ cK
Gw kan cuma mengisyaratkan siapa yang lagi diomongin.
:::::
@ Lemon S. Sile
Iya, karate dari Jepun. Memangnya yang dari bushido bunyinya kayak gimana?
:::::
@ irwan
Menyembunyikan jati diri kayaknya nggak dilarang tuh di 5 butir di atas… jadi kayaknya sih boleh-boleh aja.
:::::
@ mathematicse
Hohoho, “sanggup menguasai diri” bukan berarti “nggak punya rasa” dong Mas.
Kalau (misalnya nih) seorang karateka sanggup menguasai diri. Masa sih dia nggak boleh sakit hati/sedih ketika seluruh keluarganya dibunuh?
Menguasai diri kan sifatnya lebih ke arah mengendalikan tindakan, betapapun emosi menguasai diri kita. Betul atau betuuul?
:::::
@ mamabhian
Euh… tapi itu kan nggak selalu. Mas Joe pernah tuh bikin tulisan soal bola, tau-tau disamber aja kritik pedas soal “dilarang menampilkan gambar makhluk bernyawa”.
Tergantung kedua belah pihak, kalau saya rasa. Kalau blogger dan komentatornya sama-sama sopan, harusnya sih nggak masalah.
Untuk koment no 27 yang mengomentari saya, sepertinya analoginya terlalu berlebihan deh kang…. (atau jangan-jangan analoginya salah, jadinya tak bisa dipakai).
Sayang saya hanya ikut bela diri sampe SMP.
*Sedang mencoba*
Nah, kalau yang ini cukup dicek di copyscape.com.
Waduh, kayaknya yang ini sulit, nih.
Tapi, kita pasti bisa berbuat sesuatu.
Kalau yang ini setuju Hyaku Paasento. Karena blog bisa dibaca semua orang di seluruh dunia.
Untuk masalah yang satu ini, motto saya:
“Never lose yourself. If you do, you can’t solve everything.”
@ mathematicse
OK deh, kalau gitu nggak pake analogi.
“Sanggup menguasai diri” itu definisinya bagaimana? Kalau menurut saya, itu bisa diartikan sebagai “tidak membiarkan keputusan kita dipengaruhi oleh faktor emosi”. Misalnya kalau saya marah, apakah berarti keputusan saya boleh dipengaruhi oleh kemarahan saya?
Kalau saya sih membayangkannya, bakal ruwet kalau satu pihak melempar flame — lalu ditanggapi dengan panas, ditanggapi lagi, dan seterusnya.
Di sisi ini, (IMHO) boleh-boleh saja saya merasa marah — asalkan jangan sampai jadi dendam. Dan semua keputusan akhir tetap diambil dengan kepala dingin, sehingga tidak mengakibatkan mudharat yang lebih besar.
:::::
@ p4ndu_Y4m4to
Seperti itulah yang saya maksud.
benar, kenali diri sendiri baru orang lain
http://fokushotokan.com – fokus informasi karate shotokan indonesia
http://indoshotokan.blogspot.com – dedicated support fokushotokan
welgedewelbeh
Mohon maaf sebelumnya mulut komen di postingan yang sudah lama disimpan di laci, tapi topiknya relevan dengan isu etika blogging yang sedang mulut hadapi. Tentu saja urun rembug sampeyan saya tunggu juga di sana.
seep dech … thx infonya … mudah2an bermanfaat bro.
Hm, bagus banget penerapannya,
tapi sebenarnya tak hanya dalam hal nge-blog saja tuh, dalam keseharian dan segala perbuatan juga bisa di aplikasikan,
oh ya, sebenarnya di aliran lain selain inkai pun juga memakai menerapkan pembacaan sumpah karate juga, kebetulan saya juga seorang karateka di lemkari banjarmasin,