Mungkin Anda pernah mendengar/mengalami dialog semacam ini ketika berdiskusi.
A:
“Sori, gw telat nih. Maaf banget ya…”B:
“Halah, lo tuh yaa. Kalo nggak ketiduran, pasti lo main PS kan? Ngaku!”
Hmm, ada yang aneh? Coba kita pikir.
Dari mana sih si B tahu bahwa A sebelumnya ketiduran atau main PS?
***
Contoh di atas adalah salah satu penerapan dari false dilemma, di mana sebab dari suatu hal didekati hanya dengan dua kemungkinan. Akibatnya, tidak ada kemungkinan lain yang berlaku ketika B ‘menuduh’ sebab keterlambatan A.
Menurut B, A kemungkinan telah melakukan salah satu dari dua hal berikut ini, sehingga ia terlambat untuk menemuinya.
(1) A ketiduran (sehingga terlambat menemui B),
(2) A terlalu lama main PS (sehingga terlambat menemui B)
Dalam hal ini, B tidak memperhitungkan kemungkinan lain yang bisa menyebabkan keterlambatan A. Misalnya,
a)
Bisa saja A kena macet di jalan — dan baru lolos dari sana beberapa saat sebelumnya.b)
Mungkin juga A terkena diare mendadak, sehingga harus istirahat sejenak sebelum berangkat.c)
Kemungkinan lain lagi, A harus menghadiri pertemuan lab mendadak. Ini terjadi karena asisten praktikumnya lupa menyerahkan lembar nilai, sehingga A harus menemui koordinator lab sambil membawa jurnalnya.FYI, yang terakhir ini pernah menimpa saya, lho![]()
Dan masih banyak lagi kemungkinan lain. Intinya, ada berjuta alasan banyak sekali kemungkinan yang bisa membuat A terlambat menghadiri janji dengan B. Dan itu tidak terbatas pada sekadar “ketiduran” ataupun “keasyikan main PS”, sebagaimana yang dikatakan oleh B di awal tulisan ini.
***
Lalu?
Di awal tulisan ini, saya menjelaskan soal B yang menuduh A antara ‘ketiduran’ dan ‘main PS’. Padahal, aslinya banyak kemungkinan hal yang bisa menyebabkan keterlambatan A. Mungkin saja dia baru disangka mengutil di waralaba dekat rumahnya, dan harus berurusan dengan satpam hingga beberapa lama. Mungkin saja dia sempat diculik alien dan baru kembali dari keadaan bio-stasis teknologi Andalite… atau malah dia baru terlempar ke celah waktu, dan meloncat beberapa jam sehingga melewati waktu janjian dengan B…
wussh… ngawur abisss… .
Oke, oke, dua yang terakhir itu berlebihan ^^. Tapi, dengan asumsi bahwa probabilitas A diculik alien atau terlempar ke celah waktu itu sangat kecil, berapa banyak sih kemungkinan yang bisa Anda pikirkan tentang sebab keterlambatan seseorang memenuhi janji?
Bisa saja dia menghabiskan waktu memukuli vending machine sialan karena kembaliannya hilang ditelan mesin tersebut, dan polisi menahannya karena hendak berbuat anarkis.
Jadi, Bagaimana Dong?
Lah, kan kemungkinan yang ada itu sangat luas. Bisa dibilang tak-hingga, malah. Dunia ini terlalu kompleks untuk dipandang secara secara terkotak-kotak. Luasnya kemungkinan di dunia ini tak segampang itu digolongkan oleh akal manusia.
Coba kita ambil contoh begini.
Anda melihat seorang pria kekar bertato. Rambutnya panjang dan dia sedang merokok di pinggir jalan. Mendadak dia melompat sigap, dan menangkap lengan seorang wanita yang hendak menyebrang jalan. Wanita itu terpekik kaget.
Apa pendapat Anda?
…
…
Apakah Anda mengira pria tersebut hendak berbuat jahat?
Hehehe, yang terjadi sebenarnya:
Sepersekian detik setelahnya, sebuah bus menderu kencang melewati mereka. Hampir saja wanita itu jadi korban tabrakan.
Oleh karena itu, jangan suka hayatochiri. Hal-hal yang tak terduga bukannya tak mungkin terjadi — mereka itu selalu mungkin terjadi kok, hanya saja probabilitasnya sangat kecil kata teori kuantum -bleh- X(.
Ada contoh lain yang juga bagus tentang jumping-to-conclusion ini.
Seorang ayah pergi naik mobil bersama anaknya. Malangnya, ketika hendak pulang, mobil yang tadinya diparkir sudah lenyap tak berbekas. Mobil mereka dicuri orang.
Akhirnya, ayah dan anak tersebut pergi ke kantor polisi terdekat.
Sang ayah berkata, “Nak, kamu tunggu di sini ya. Ayah harus lapor dulu ke Pak Polisi di sana itu.”
Anaknya mengangguk, dan kemudian duduk menunggu.
Selang sepuluh menit, seorang opsir lewat di dekatnya, dan kaget sendiri. “Kok anak saya ada di sini?”
Pertanyaannya sekarang: siapa opsir yang baru datang itu?
***
IMHO, dunia ini sebenarnya penuh dengan kemungkinan. Pembatasan atau pengkotakan memang memudahkan analisis untuk pikiran kita, tapi kemungkinan lain selalu ada. Membatasi pandangan akan sesuatu hal sama saja dengan mengabaikan hal lain yang mungkin terjadi. Dan bisa saja Anda melewatkan satu poin penting yang sangat fatal jika dilewatkan.
Misalnya pada kasus anak, ayah, dan opsir polisi di atas. Jika Anda terjebak untuk berpikir stereotip, maka Anda akan kebingungan dengan jalannya kisah tersebut.
…
…
Banyak kemungkinan, dan banyak jalan sesuatu bisa terjadi di dunia ini. Jika sebuah rumah hancur, hampir semua orang akan membayangkan hal-hal ‘umum’: ledakan bom, perang, atau malah gempa bumi dan angin topan. Tetapi, berapa banyak sih yang kepikiran bahwa rumah tersebut aslinya tertimpa meteor?
Catatan:
[eh, itu pernah terjadi lho di Rusia tahun 1990an (CMIIW). Diameter meteornya sekitar 1-2 cm, dan atap rumah tersebut langsung berlubang karenanya. Nggak ada korban jiwa; soalnya pemilik rumahnya lagi pada pergi waktu itu ^^]
…
…
Nah, sekarang ada masalah besar.
Andaikan ada seorang pemimpin adidaya di dekat saya, yang sedang singgah sambil menggadang-gadang perang kontra-terorisme. Kemudian dia melihat ke arah saya siyal X(, dan (tanpa basa-basi) mengajukan pertanyaan berikut.
“Where will you be? Either you are with us, or you are with the terrorists.”
Sementara saya sudah keracunan jiwa pasifis gara-gara kebanyakan nonton serial Gundam. Saya harus bilang apa dong???
Bilang saja “Neither of you.”, Ingat jiwa transisi antara tidak mainstream dan mainstream.
@ Death Berry
Lha, itu kan pilihan berganda. Kayak SPMB/ujian, nggak boleh jawab selain itu…
Kalau saya jawab “neither of you”, berarti jawaban saya pasti salah dong??
*luguMode = on*
Persepsi biasanya berbanding lurus dengan :
1. Waktu pemrosesan informasi
2. Akumulasi fakta empirik
3. Kemapanan sebuah generalisasi
4. Kekuatan sebuah imajinasi/sugesti
Nah sekarang soal si pemimpin adidaya, tenang saja. Selama kita masih ngaku orang indonesia. Kita punya kata peyelamat jenis ketiga yaitu “mungkin” atau “may” (ingat iklan
) atau dalam bahasa politik kurang lebih “status quo”
Gitu aja koq repot, hehehe
@ Fadli
Salam kenal,
Walah, ‘jurus Ringo’…
Memang kita perlu beberapa ‘jawaban yang tidak menjawab’ kalau kena pertanyaan kayak begitu. Saudara saya malah ‘ngeles’-nya lain lagi tuh kalau ditanya soal ginian.
Gak milih yang mana-mana juga, sih…
mau nanya…itu opsirnya siapa?? kok nggak dilanjutin??
*khayalan tingkat tinggi*
apa opsir itu adalah ayah si anak yg lapor polisi, trus karena polisinya cuek lalu dihantam oleh si ayah dan si ayah memakai baju si opsir???
eh…polisi sama opsir beda ya? kekekekk
Ah, false dilemma, ya? Saya baru saja menyinggung false dilemma pada tulisan terbaru saya
Buat saya, masalah ini memang sering menyesatkan. Terutama propaganda politik ‘Either with us or with the enemy’ itu…
@ cK
Bukan, masih salah…
Opsir itu petugas polisi. Kan ada istilah “opsir polisi” ? Diambilnya dari bahasa Inggris, officer.
:::::
@ Geddoe de La Rocha
Udah baca…
Sebetulnya saya juga kebawa nulis ini sebagian dari situ juga, sih.
Soal propaganda… aah, pengkotak-kotakan itu memudahkan analisis, tetapi sering nggak akurat. Kalau malas berpikir ya jadinya begitu deh…
*kabur ah*
Kalau ’soalnya’ meminta ‘jawaban yang anda anggap benar, berarti anda boleh menyertakan pilihan ketiga. Beri saja alasan kalau anda pikir jawaban yang disodorkan tidak benar.
@sora9n
Salam kenal balik. Sebenarnya kita sudah sering ketemu koq wakakak, tapi tak apalah. It was my darkside
pinter bangeet, tapi kalo diterjemahin ke bahasanya pak Bush jadi gimana eta ?
Lieur euy
@ Death Berry
Kalo yang nanya gak mau dijawab gitu?
:::::
@ Fadli
Hehehe, saya pun tahu kok. Tapi kan ini pertama kalinya saya ngomong sama seorang “Fadli” yang punya nama. Betuuul??
Bilang aja kayak gitu…
Ntar kan dia ngikutin tuh. Mudah2an aja pas selesai dia udah lupa kalo dia pernah nanyain saya.
Weh, tukang baca wikipedia rupanya.
Gw: “Sory gw telat neh!”
Gw: Halah, lo tu ya rapat pake postingan dulu di blog, ngasih komen2 di blog orang, cepet dikit napa..”
Yah, slah ketik, itu gw yg kedua maksudnya Temen Gw. Sori atas ketidaknyamanan ini. Komen ini akan meledak dengan sendirinya dalam hitungan lima.. empat..
@ Heri Heryadi
Enggak kok, sebetulnya saya cuma nge-link ke wiki supaya pembaca punya referensi tambahan
dan link saya tambah banyak… dan pagerank saya naik, hohoho
Pengalaman pribadi, Mas?
Ah, salah ketiknya saya perbaikin di quote-nya.
ini false dilemma juga khan? belum tentu juga pengotakan, siapa tahu biar lebih fokus, siapa tahu juga memang hanya sampai disitu ilmu mereka.
hehehe…… *biar tambah tulisannya*
fallacy emang bikin pusing….
simpel aja, bilang : I Love You
sudah ? rasakan bedanya dan bedakan rasanya
Jalan Pintas Mental memang memudahkan dalam bereaksi, tetapi kadang juga menyulitkan. Tapi itulah fenomena yang SELALU ada dalam diri manusia, meskipun dalam kadar yang berbeda.
kalo jawab ya.. berarti sesuai perkiraan..
tapi kalo jawab tidak… berarti tidak sesuai dong…
Opsirnya pasti ibunya! Ya kan? Ya kan?
Eh, ada kemungkinan lain juga sih:
1. Opsir itu ayahnya yang lain, jika kita mengasumsikan si bapak yg ngelapor itu gay dan ‘anak angkat’ bisa dibilang anak juga.
2. Opsir itu ayah tirinya, jika kita mengasumsikan si bapak yang ngelapor itu ayah kandungnya, dan ‘anak tiri’ bisa dibilang anak juga. Yang sebaliknya juga mungkin (opsir itu ayah kandungnya, si bapak yang ngelapor itu ayah tirinya).
Loh koq bawa2 andalite segala? =3 *siyul2 gak jelas*
Kayaknya iya, pernah dengar cerita yang mirip, sih
Btw bisa saja opsirnya keblinger
Whohoho… dukung Geddhoe, seandainya opsir itu bukan ibunya, maka jawabannya opsir tu lagi `gak pas`.
” A big American and a little Amrican are in a waiting room of a hospital. The little American is the big American`s son but the Big American is not little American`s mother. So, who is the Big American? ”
Ya ayahnya lah…
Mirip-mirip, dikiiit sih
Ah… false dilemma ya? :roll
*sadar*
Pastinya kalau lihat dialog pertama, (kalau saya memerankan si A -halaah-) jika memang faktanya berada di luar opsi tadi, (kemalangan misalnya… T_T) saya akan cekik si B !
Hi hi… ah serius dulu deh,
Kalau contoh di awal itu, B mesti sudah pernah punya pengalaman atau paling gak kesan tentang A sebelumnya, suka ngaret dengan alasan seputar dua hal itu. Walaupun tetap saja, beneran gak baik model pertanyaan mengunci jawaban begitu…
“Sorry sir, i am in hurry now, bye…”
Aah, itu memang menggambarkan betapa besar kekhawatiran yang ada ya agaknya, kalau dia bukan musuh kita dia mesti jadi kawan… Huff… prihatin saya sama orang ini (halaah).
-eh, contoh yang di atas itu memang begitu pas saya dapat di kelas satu SMU, tidak ada yg diedit atau diubah… *serius*
No other intension
@ peyek
Iya, Pak. Siapa tahu memang maksudnya baik, supaya lebih mudah dicerna oleh pikiran… jadi bukannya sengaja mengkotak-kotakkan…
*GakBolehSuudzonMode = on*
:::::
@ fertobhades
Yaah, Mas… saya sih mau aja menjawab begitu. Cuma…
…kalau nanti dia bilang “I love you too” sama saya, kan serem!!
:::::
@ arul
Makanya, arah diskusinya selalu bisa ditebak dari situ.
:::::
@ Catshade
Selamat, Anda berhak mendapatkan satu set piring cantik.
Memang, cerita yang pertama saya denger polisi itu adalah ibunya anak tsb. Tapi pendapatnya mbak bagus juga, siapa tahu memang ayahnya gay dan mengadopsi anak tsb…
-gakKepikiranJugaSebelumnya-
:::::
@ chielicious
Biarin….
*ikutan siyul-siyul gak jelas*
:::::
@ Geddoe
Ada juga versi lain yang lebih lama, yaitu bapaknya seorang dokter. Jaman dulu sih (kalo nggak salah) pas dokter cewek masih jarang.
Opsirnya keblinger? Hmm, mungkin aja ya. Bisa jadi anaknya dia dan anaknya bapak itu tampangnya mirip.
@ jejakpena
Jangan galak-galak, Mbak. Ntar nggak ada yang naksir lho…
Makanya, jangan diterapkan…
Hoi, sesama memprihatinkan nggak usah saling menjatuhkan gitu lah… toleransi… ^^;;
*kabur jauh-jauh*
Terlanjur …
shigata ga nai
Ciee… ada yang lebih memprihatinkan rupanya, oke deh, toleransi… toleransi…
*lari*
[ustadz mode: ON]
Jangan tsuudzon, nak…
[ustadz mode: OFF]
—
Sebuah pengalaman pribadi lagi, wew…
Sora, ini bisa dibilang sebuah anti generalisasi juga Ya?
@ jejakpena
Bukan saya…
:::::
@ Master Li
Walah, pengalaman pribadi? (o_0)”\
-membayangkan pengalaman Shan-in-
-apaan ya?
-
:::::
@ Neo Forty-Nine
Agak beda, sih. Kalau generalisasi itu kan menyamakan semuanya tanpa pandang bulu, kalau ini memandang kemungkinan yang ada ya cuma itu aja…
Miripnya ya bahwa dua2nya sama-sama mengabaikan kemungkinan lain di dunia ini. Cuman yang kepikiran aja, IMO… (o_0)”\
makenye penampilan juga perlu…
yo… mari pasang topeng masing-masing
(bela kemunafikankah??)
aduh…. aku belum mudeng ini…
gimana mas? jelasin sekali lagi ya…
Opsirnya pasti ibu si anak, atau ayah anak tsb. merupakan anggota polisi, atau opsir tsb. merupakan orang gila yang pake pakaian polisi, dan masih banyak atau-atau lainnya
@ sora9n
Nah, itu belum kemungkinan bahwa si A habis diteleport ke masa depan pake Blinking Rune
Pilih dukung teroris, dong…
Alasannya :
1. ceritanya ‘kan maniak gundam —> pilot-pilot gundam itu kan teroris, dan mereka juga ingin menghancurkan keadidayaan lawannya (untuk digantikan dengan kekuasaan mereka sendiri, sih)
2. mendukung idenya Monkey D. Dragon, sistem yang mapan (yang diwujudkan dalam bentuk dominasi satu kekuatan itu statis) –> manusia akan berhenti berkembang, dan tidak lagi jadi manusia
* mode emosi tinggi karena baca berita G8, OFF (…akhirnya)*
salam!
hee.. blogwalking,,, nampaknya saya singgah di sebuah blog yang menarik,, dan kayaknya, saya tau nih org yang punya ni blog, betulkah dugaan saya?
hehe, anyway.. karna saya juga belajar fisika kuantum,, “the possibilities are limitless”, karna selalu ada kemungkinan untuk sebuah partikel dapat menembus dinding potensialnya, yang bahakan memiliki energi lebih tinggi dari energi partikel…. halah!
@ aldrino
Salam kenal,
Waduh, kayaknya salah paham, Mas.
Yang diomongin di sini adalah kebiasaan orang yang suka mengambil kesimpulan terburu-buru, padahal masih banyak kemungkinan lain yang bisa terjadi. Jadi nggak ada hubungannya sama topeng dan kemunafikan.
Misalnya dalam contoh di atas, diminta memilih antara “kami” dan “teroris”. Padahal ada kemungkinan jawaban lain, yaitu “netral”, “pasifis”, “bisa saling memahami”, ataupun yang lain lagi yang berada di luar keduanya.
:::::
@ syah
Eeeh, intinya kira-kira begini, sih. Banyak dari kita yang suka membatasi kemungkinan akan suatu hal, padahal apa yang kita pikirkan itu belum tentu benar.
Misalnya ketika kita melihat seorang pria kekar bertato dengan jaket kulit, prasangka kita akan mengatakan bahwa dia itu “mungkin preman atau anggota geng motor”. Tetapi, bisa saja kemungkinan itu salah — bisa jadi itu seorang reserse berpakaian preman yang sedang bertugas.
Makanya, di sini saya membahas tentang kemampuan untuk membayangkan berbagai hal yang bisa terjadi. Kira-kira begitu, sih.
:::::
@ p4ndu_454kura
Tepat sekali…
Mungkin juga rohnya sempat terlempar ke dunia Suiko…
*nyindir Asakura
*
:::::
@ suandana
Salam kenal,
Eeeeh, pilot Gundam teroris? Siapa bilang??
Kira Yamato dan Athrun Zala itu pasifis! Duo Maxwell juga, kok. Char Aznabel memang pemberontak… tapi, lepas dari itu, semangat utama Gundam itu pasifisme. Coba nonton deh.
Itu alasan untuk mendukung terorisme?
Kok saya merasa jauh lebih banyak alasan yang mulia, ya daripada itu. Kenapa kita mau memberontak untuk mengerdilkan diri sendiri?
……
…Tunggu sebentar. Jangan-jangan ini pakai majas satire/ironi ya?
:::::
@ opiq
Begitulah.
(btw, ternyata lo bikin blog juga toh. Baru tau nih.
)
Betul, yang membedakan adalah besar/kecilnya kemungkinan itu. Dalam kasus particle in a box…
bleh, kok jadi ngomongin ini?? X(Btw, makasih udah main ke sini yah.
hue…komen gue ketelen akismet
@ cK
*sadis mode on*
RRRRAAASSSSYYAAIIIIINNNNN……
Nyepam sih… untung akismetnya cerdas.
-gakMauBebasin-
hueeee sora tolong bebasih komennya… >_
soraaa… *nangis meraung-raung* tolong bebasin komennya >_
*kedip kedip*
*kedip kedip*
*kedip kedip*
Ya iya lah, mas… (mode kalem di-ON-kan dengan paksa…)
Paham, kalau Gundam itu pasifis… Bahkan saya suka Gundam kan karena ajarannya itu (peace…)
Tapi, kalau yang Dragon itu, maksudnya begini… Jika dunia didominasi oleh satu kekuatan saja, itu ‘kan sama artinya dengan penjajahan terselubung… Saya rasa, itu yang dimaksud Dragon dengan statisnya manusia
Bagi saya sih, itu sudah alasan yang cukup untuk melakukan pemberontakan…
Paksa. Paksa.
[...] mematok dua hal sebagai kemungkinan jawaban. Jika bukan A maka mesti B. Seperti yang pernah diulas disini. Karena memang tidak baik begitu. Saya hanya merasa lebih nyaman saja dengan fenomena lelaki yang [...]
[...] ngambek. Itulah sifat yang menjadi dominan dan digeneralisir oleh para kakak kakak seperguruannya, tanpa memperdulikan kemungkinan lain yaitu masalah hatinya yang bergolak karena sebuah kata singkat, bersayap, penuh makna dan bersisi [...]
[...] Kalau belajar bahasa nanti akan tau bahasa mana yang Linguistically good, better and best. Kalau sudah tau (kayanya tau saja tidak cukup, namun harus mengerti dan terus mempelajari)? Ada beberapa fungsi dari linguistics itu sendiri. Selupa saya sich, setelah belajar Linguistics kita jadi lebih mudah dalam memahami bahasa sehingga mudah mengerti makna sebenarnya lalu mudah juga menjelaskan dan mencari berbagai kemungkinan lain. [...]