• Beranda
  • License
  • More About Me…
  • Sitemap

sora-kun.weblog()

//returns stories, pictures, or anything else he’s working at :)

Pengumpan:
Tulisan
Komentar
« Sekadar Renungan
Menutup Kemungkinan Lain »

Mainstreaming?

Juni 3, 2007 oleh sora9n

Beberapa tahun terakhir ini, saya menyadari bahwa beberapa orang di sekitar saya menganut paham anti-mainstreaming. Intinya sendiri seperti menolak untuk mengikuti hal yang umum/lazim berlaku di masyarakat dalam waktu tertentu, dan mencoba untuk membuat jalan/ide/selera baru pada masa tersebut.

Contoh pertama tentang ini saya dapat pada waktu berlangsungnya Piala Dunia 1998 di Prancis (euh… 9 tahun lalu? :P ).


(+) “Final Piala Dunia nih. Milih siapa lo?”
(-) “Prancis lah. Bosen sama Brasil soalnya.”
(+) “Hohoho, justru karena itu Brasil bakal juara lagi.”

Sekarang, kita semua tahu bahwa Piala Dunia 1998 berakhir di pelukan Didier Deschamps dan kawan-kawan. Adapun mereka yang di luar mainstream, yang mendukung Prancis, tersenyum lebar di atas kekecewaan banyak orang — tapi bukan itu yang hendak saya bahas kali ini.

Sebetulnya, apa sih yang menarik dari sebuah sikap anti-mainstream?

Pertanyaan serupa ini pernah menghampiri saya ketika saya memasuki tahun pertama kuliah. Waktu itu, beberapa orang di sekitar saya memilih untuk ber-anti-mainstream dengan memilih musik Jepang (J-Musics), dan agak menjauhi lagu-lagu Amerika khas MTV. Kesan yang didapat langsung saja terdeteksi: orang yang memilih budaya Jepang daripada US itu tidak pasaran. Ada kebanggaan tersendiri karena berbeda dari masyarakat pada umumnya, semacam itulah.

Lalu saya bertanya, kenapa kita ini selalu jadi korban budaya? Mengapa dulu kita ber-mainstream ke Amerika, dan sekarang (mencoba) ber-mainstream ke Jepang? Bukankah ini payah, mengingat kita telah gagal membangun budaya bangsa yang dihargai penghuninya sendiri?

Pertanyaan itu terus mengendap di kepala saya saat itu. Apa sih maknanya sebuah mainstream? Dalam hal musik, kita cuma terjajah dari satu budaya ke budaya lain. Jika ketika SMP/SMA saya mendengarkan Aerosmith, saat kuliah saya bergeser sedikit ke L’Arc~en~Ciel dan T.M. Revolution. Ketika kita menjauhi satu mainstream hanya dengan alasan “tak ingin pasaran”, sebenarnya pada saat itu kita sedang membangun mainstream baru. Sama saja pada akhirnya!

Idealisme antikemapanan toh akan menjadi mapan juga jika ide mereka diterima dengan baik, kan?

Sejak itu, saya terus memikirkan masalah ini — hingga saya ngobrol dengan rekan ini beberapa waktu setelahnya.


saya:
“Kita ini kayaknya selalu tertindas secara budaya, deh. Dulu banyak dari kita yang menghamba ke budaya barat — dan sekarang, sebagian kita malah tertarik mendekati J-Culture. Terus apa bedanya kita dengan sekadar berpindah-pindah mainstream?”

dia:
“Ah, bodo amat itu mah. Gw dengerin lagu ya karena gw suka. Gw juga suka dengerin Maaya Sakamoto dan Shania Twain, kok.”

Pembicaraan itu kemudian menyadarkan saya, bahwa ada yang lebih penting daripada sekadar memilih untuk ikut mainstream atau tidak. Ya, yang penting bukanlah dengan menetapkan “saya anti-mainstream” maka saya menjauhi mainstream, atau sebaliknya — yang lebih penting adalah semangat untuk menentukan apa yang kita suka, dan apa yang terbaik bagi kita. Lainnya, urusan belakangan.

Sejak saat itu, saya lebih jarang memandang mainstream dalam menetapkan keputusan saya. Apa yang saya pilih adalah apa yang saya anggap baik, dan kemudian saya jalani setelahnya. Jika ternyata lebih banyak orang yang memilih untuk setuju (atau tidak setuju) dengan pilihan tersebut, itu urusan lain.

Contoh kasarnya mungkin begini. Saat ini, musik klasik sangat tidak mainstream — berapa orang sih yang suka mendengar alunan instrumen karya Bach dan Mozart? Tapi saya suka mendengarnya, kok. Peduli amat dengan orang lain; yang penting saya suka. Maka, saya pun memasukkan beberapa karya Bach (misalnya) ke playlist saya.

Tetapi ini tidak menghambat saya dari menyukai lagu-lagunya (katakanlah) Melly Goeslaw. Saya suka beberapa lagu beliau, dan pernah menyimpannya di harddisk saya. Saya mendengarkan Aerosmith, dan diselingi dengan vokal Maaya Sakamoto — dan lain kali Anda bisa menemukan ada lagu Celine Dion berjejer dengan musik techno dari T.M. Revolution di playlist winamp saya. Karakteristik dari playlist itu toh satu saja: bukan pop, bukan techno, bukan pula pop ataupun punk — karakteristiknya adalah bahwa semua lagu itu kesukaan saya. Entah itu komposisi karya Bach, atau single terbaru oleh Mikuni Shimokawa, ataupun genjrengan punk model Green Day, itu tak mengubah kenyataan bahwa lagu itu masuk playlist saya karena memang saya anggap bagus.

Kalau saya anggap bagus ya, saya suka. Sederhana saja kok. ;)

Dan itu tidak berhenti hanya sampai di situ. Bagi saya, 20th Century Boys karya Naoki Urasawa itu luar biasa. Lain waktu, saya pun menilai bahwa komik Superman: Secret Identity (keluaran DC Comics) itu hampir sama bagusnya dan sangat kontemplatif. Saya tidak suka mendengarkan musik keras milik Korn — tetapi kecintaan saya pada J-Musics tidak menggiring saya jatuh cinta pada Dir-en-Grey, tuh. Demikian pula, menyukai komposisi karya Pachelbel dan Bach tidak otomatis membuat saya mendewakan karya Wagner dan Gershwin.

…

…

Lalu, apa kesimpulannya?

Pada titik tersebut, saya menyadari adanya satu hal: pilihan kita adalah kita yang membuat. Kita melakukan apa yang kita sukai; kita memilih hal-hal favorit kita. Dan melihat mainstreaming dalam mengambil keputusan sama saja dengan mengerdilkan hak pilih kita. Apakah kita akan memilih sesuatu demi pilihan sikap mainstream/anti-mainstream?

Jika saya ditanya demikian, jawaban saya adalah “tidak”. Saya akan memilih Coca-cola ketika ratusan ribu orang lainnya juga menenggak minuman yang sama; demikian pula saya tetap mendengarkan album 30minutes night Flight, seandainyapun cuma beberapa puluh orang di dunia ini yang memberikan rating di atas 6/10 untuk single tersebut. Pilihan saya adalah pilihan saya, dan mainstream adalah urusan lain lagi.

***

Ketika kita terjebak pada semangat hanya untuk menjadi sama (ataupun berbeda) daripada orang lain di sekitar kita, maka pada saat itu kita telah mempersempit luasnya pilihan yang kita punya. Lalu, bagaimana caranya kita memilah tanpa terpaku pada otoritas dan mayoritas?

Uraikanlah makna dari apa yang ada. Selalu lakukan dekonstruksi, dan temukan esensi dari apa yang hendak kita pilih. Mungkin saat ini 20 juta orang memakai kartu operator seluler tertentu — itu fakta yang tak dapat diganggu gugat, kalau memang penelitiannya valid. Mungkin memang layanan mereka bebas spam kuis ponsel, sehingga banyak yang memilih. Atau malah sebaliknya? Banyak spam, dan layanannya buruk, tapi terlalu banyak orang yang ingin ‘setia kawan’ ? Tuhan lebih tahu daripada saya. :)

Tentunya bukan tanggungan saya jika Anda memilih untuk mengikuti mainstream semata demi kesetiakawanan, atau memilih anti-mainstream semata demi memuaskan keinginan untuk ‘tidak pasaran’. Yang jelas, ingatlah bahwa di dunia ini tidak ada yang seratus persen buruk, ataupun seratus persen baik — kitalah yang harus memilih bagian yang kita ambil.

Akhirnya, saya ingin menyampaikan sebuah kutipan bijak (tentunya menurut saya) — yang saya dapatkan dari sebuah tulisan di blognya Mas Syah Widyatmoko:


Ketika kamu memakan ikan, maka makanlah dagingnya dan buang durinya. Dan jangan karena hanya bau amisnya, kamu tidak suka ikan. Jika begitu kamu tidak akan mengerti betapa enaknya daging ikan.
-Syah-

Yaah, saya nggak tahu sih, kalau ada di antara Anda yang vegetarian atau nggak suka makan ikan. Meskipun demikian, seperti yang saya tulis sebelumnya, Anda selalu bisa mengambil yang baik-baiknya saja kan? ;)

Like this:

Suka
Be the first to like this post.

Ditulis dalam Deeper Thoughts | 60 Komentar

60 Tanggapan

  1. pada Juni 3, 2007 pada 7:14 pm Ma!!!

    Ma sebelomnya ngira Sora tipe yang anti-mainstream,, :P

    mainstrem anti-mainstream itu 11-12 ya,,

    kalo suka Frank Sinatra, Michael Buble, Arashi, Lily Allen, Fall Out Boys, J.Lo,, jatohnya masuk golongan mana ya,,??

    Ma suka post yang ini,, :)


  2. pada Juni 3, 2007 pada 7:40 pm Geddoe de la Rocha

    Kalau menurut pandangan saya, pilihan untuk mengikuti atau tidak mengikuti mainstream bisa dilihat juga dari intensitas kepentingannya.

    Contohnya, katakanlah pada suatu saat baik yang mainstream atau yang tidak mainstream memberikan efek yang sama. Ada kalanya kita akan mengikuti mainstream (karena tidak mau ambil pusing) atau malah sebaliknya (karena ingin membangun citra? :lol: ).

    Saya kan menuruti saran Pak Bebek; yaitu, “Tidak semua hal ada rumusnya” :mrgreen:


  3. pada Juni 4, 2007 pada 2:17 am cK

    saya juga suka bach dan mozart. selain itu rachmaninoff, grieg dan beethoven…mmm…apalagi yah???kalo musik barat, saya suka muse, my chemical romance, justin timberlake, good charlotte, fall out boys, avenged sevenfold dan panic! at the disco. apakah itu mengikuti mainstream??? tapi balik lagi, kita mau mengikuti arus atau tidak semua tergantung dari masing-masing pribadi. karena terkadang mainstream itu ada yg berdampak positif, kadang ada yg negatif. *aduh gue ngomong apa sih???…maklum ya sora, udah malem, jadi suka cuap2 ga jelas…zzz….*


  4. pada Juni 4, 2007 pada 7:57 am deKing

    Mengikuti mainstream?mmmm…
    Kalau saya sih mengikuti atau memilih sesuatu bukan karena itu merupakan pilihan banyak orang alias sedang ngetrend..
    Saya memilih/mengikuti sesuatu hal selain pilihan jurusan waktu kuliah lho ya karena saya memang menyukai hal tsb, bukan karena ikut2an atau karena berusaha menjauhi pakem (karena bosan dgn yg biasanya dll)
    Ketika tahun 2005-2006 banyak orang yang menjagokan Daniel Pedrosa di GP 250 (mgkn krn dia sering menang), saya tetap memilih Randy de Puniet dan Casey Stoner.
    Lalu di kelas Motogp sejak dulu saya senang dengan John Hopkins (selain Rossi tentunya) sejak dia gabung di Yamaha Red Bull WCM, padahal waktu itu mungkin banyak yang tidak tahu kalau ada pembalap namanya John Hopkins
    Masalah musik…sejak dulu (tahun 1999) saya suka dengan suatu grup musik Rap.. G-Tribe (dr Yogya) walaupun G-Tribe itu hanya sempat mengeluarkan satu album (NB: hit pertamanya gabung dengan Pesta Rap 1) padahal banyak teman yang nanya “emang ada grup musik namanya G-Tribe”
    Jadi …. untuk saya pilihan itu bukan karena ikut2an trend karena pilihan menurut saya pada akhirnya akan ada suatu konsekuensi di belakangnya…
    *scroll ke atas..busyet, panjang amat komentar ini


  5. pada Juni 4, 2007 pada 7:58 am deKing

    Ralat:
    Tahun 2005 Pedrosa, Stoner dan Puniet masih di GP 250 tetapi sejak tahun 2006 mereka pindah ke Motogp…
    Tahun 2006 pun Pedrosa tampil lebih baik dibanding Stoner dan Puniet (Pedrosa jadi Rookie of the Year Motogp 2006), tetapi saya tetap memilih Stoner dan Puniet…


  6. pada Juni 4, 2007 pada 11:21 am 9racehime

    yepppp…!!!
    saya stuju bagian
    “Ketika kita terjebak pada semangat hanya untuk menjadi sama (ataupun berbeda) daripada orang lain di sekitar kita, maka pada saat itu kita telah mempersempit luasnya pilihan yang kita punya. Lalu, bagaimana caranya kita memilah tanpa terpaku pada otoritas dan mayoritas?”

    sumhow saya juga ngrasa ap yg saya pilih kadang cm karna “pen beda” ato justru “biar umum”
    tapi kalo d pkr2..kdg2 ujung2nya saya juga yg ngeluh kalo trnyt ga enak ato ga nyaman…
    yg penting jujur ma diri sendiri ya….*sok tersentuh..halah*


  7. pada Juni 4, 2007 pada 12:04 pm lambrtz

    senangi aja apa yg kamu suka. itu sudah cukup buat jadi anti mainstream….
    tapi anti mainstream kan suatu bentuk mainstream juga?
    nah rasain lo…..:D
    sudahlah, just be yourself…


  8. pada Juni 4, 2007 pada 1:32 pm jejakpena

    Emm… apa ya? Saya sendiri termasuk yang kurang sensitif dengan anti-mainstream ini, jadinya kurang sensitif pula dengan perubahan ( atau pergeseran?) yang terjadi entah anti-mainstream tersebut malah jadi mainstream baru atau bagaimana…

    Lebih “sayang” dengan diri sendiri jadi memperturutkan apa yang memang disukai oleh diri sendiri, (Halaah…) entah itu rupanya beda atau sudah sama dengan yang lain. Tidak mau terikat intinya… (halaah lagi…)
    :P


  9. pada Juni 4, 2007 pada 2:10 pm chielicious

    Ihh koq sama sieh jaman kuliahan senengnya jejepangan heheh.. tapi klo dipikir2 lagi l’arc en ciel itu termasuk mainstream buat para jmusic lover kan.. nah loh..

    aku juga setuju ..lebih mentingin apa aku suka ato gak sama pilihanku ..

    klo soal mainstream itu tergantung posisi kita .. contohnya sie laruku di atas itu..ketika lagu2 bule jadi sangat umum..lagu2 l’arc en ciel pun terkesan beda ..unik..dan gak mainstream..tapi klo masuk ke komunitas penyuka jmusic ..l’arc en ciel itu biasa banget ..bahkan banyak dari mereka bisa dibilang udah mual2 dengerin l’arc.. heheh pengalaman pribadi nieh :mrgreen:

    aku suka semua jenis musik..bahkan keroncong pun bisa aku dengerin ..aku juga gak peduli lirik ..mo pake bahasa jepang ato urdu sekalipun klo soul-nya dapet di aku pasti bakalan suka sesuka2nya :mrgreen:

    Jadi buat aku yang penting ‘soul’ ^ ^


  10. pada Juni 4, 2007 pada 3:43 pm Heri Heryadi

    Hm, setuju dg Yudi


  11. pada Juni 4, 2007 pada 4:55 pm sora9n

    @ Ma!!!

    Saya nggak kenal Michael Buble, Lily Allen, dkk…

    J.Lo tau dikit, sih… tapi nggak suka.

    Wah, kayaknya stream kita beda, mbak. :P

    :::::

    @ Geddoe de la Rocha

    You got the point. :mrgreen:

    :::::

    @ cK

    Huaa… ada yang kenal Grieg sama Rachmaninoff…!! T_T

    *terharu*

    *salaman sama cK*

    Ah, soal selera, itu sih kembali ke masing-masing. Mainstream atau bukan, itu urusan belakangan… :roll:

    :::::

    @ deKing

    G-Tribe itu apa?

    Stoner itu siapa? Puniet siapa? Daniel Pedrosa sendiri saya baru denger…

    Dan lagi… ROSSI itu siapa???? :shock:

    …

    Wah, maaf Mas. kayaknya saya nggak paham sama selera manusia biasa, nih… :P

    *kabur*

    :::::

    @ 9racehime

    *sadis mode on*

    Makanya, jangan ikut-ikutan doang!! :mrgreen:

    *sadis mode off*

    (eh, itu bercanda lho ;) )

    :::::

    @ lambrtz

    senangi aja apa yg kamu suka. itu sudah cukup buat jadi anti mainstream….
    tapi anti mainstream kan suatu bentuk mainstream juga?
    nah rasain lo…..:D

    Yee, bukan gitu…

    Kalau cuma satu orang yang kayak gitu mah gak bakal jadi mainstream baru, Mas… :P

    Kalau saya sih, suka ya suka aja. Kalau sesuai mainstream, itu kebetulan…

    …kalau gak sesuai mainstream, itu juga kebetulan. :mrgreen:

    sudahlah, just be yourself…

    Yep, like that. ;)

    :::::

    @ jejakpena

    Lebih “sayang” dengan diri sendiri jadi memperturutkan apa yang memang disukai oleh diri sendiri,

    Hwalah… jangan terlalu egosentris gitu ah. Ntar jadi manja lho. :mrgreen:

    :::::

    @ chielicious

    tapi klo masuk ke komunitas penyuka jmusic ..l’arc en ciel itu biasa banget ..bahkan banyak dari mereka bisa dibilang udah mual2 dengerin l’arc.. heheh pengalaman pribadi nieh :mrgreen:

    YOU GOT THE POINT. :mrgreen:

    Saya sekarang dah eneg banget dengerin Laruku, kecuali beberapa… itu pun udah jarang2 banget.

    Yaah, mungkin saking populernya, kayak efek “Kenangan Terindah”-nya Samson. Bagus sih, cuma saking banyak yang muter lama2 jadi eneg… :P

    aku juga gak peduli lirik ..mo pake bahasa jepang ato urdu sekalipun klo soul-nya dapet di aku pasti bakalan suka sesuka2nya :mrgreen:

    Tapi lirik penting juga sih, buat nyampein bunyi yang pas sama nada yang (aslinya) bagus…

    (pengalaman pribadi, denger lagu mandarin yang nadanya bagus tapi gak enak dinyanyiin gara2 banyak vokal “ng” dan “iang”-nya (-_-) )

    Jadi buat aku yang penting ’soul’ ^ ^

    Halah… ternyata akhirnya ber-mainstream ke musik soul toh mbak…?

    *puraPuraBegoNih :P *

    :::::

    @ Heri Heryadi

    He?

    Kok setujunya sama yud1 doang? Tulisan saya dianggep apa dong Mas?? :cry:


  12. pada Juni 4, 2007 pada 5:10 pm Ma!!!

    Ckckck,, kalo ga satu selera sih ga usah dari lagu juga keliatan,, :P

    Ma kadang kadang bete sih kalo ada lagu yang Ma suka, temen temen Ma ga tau,, boro boro mau suka,, bete level berikutnya,, udah beberapa bulan,, baru mulai terkenal lagunya,, Ma kan gemes sendiri jadinya,, huuuh,,

    Emang yang paling enak itu suka sesuatu karena emang suka kan,, -kadang kadang makan ati sih kalo Ma ga bisa bagi2 cerita ke temen temen tentang lagu yang Ma suka karena mereka ga tau atau ga suka- bukan karena lagi musim atau sok-ga pengen musiman,, :D


  13. pada Juni 4, 2007 pada 6:17 pm Heri Heryadi

    Wehehehe..jangan ngambek dulu dunk. Maksudnya gw juga sama dengan bang Yud coz gw ga memusingkan apa gw ini sudah ngikut apa kata tren pasar (yg kamu bilang mainstream itu) ato gw malah berbeda sendiri. yg penting gw suka ya gw tonton, gw denger, gw baca, tapi tetep aja hal2 yg gw konsumsi kayak gitu ga bisa saklek menjelaskan konsep tentang gw. Cuman asyiknya kalo punya kesukaan yang sama ya bisa ngobrol2 ttg hal tersebut dan bisa jadi punya komunitas untuk berbagi (seperti gw yg sekarang sdg mendownload Ost. Densha Otoko dari sebuah komunitas). Anyway, Human is complicated rite?!


  14. pada Juni 4, 2007 pada 6:41 pm sora9n

    @ Ma!!!

    Begitulah adanya… :P

    :::::

    @ Heri

    Lha, itu nggak ngambek mas. Nangis… :P

    *eh, bercanda lho*

    Iya, betul. Yang kita suka nggak selengkapnya menjelaskan konsep tentang kita. Yang menguntungkan dari mainstream adalah kita punya banyak rekan yang punya kesukaan yang sama, dan bisa berbagi dari situ.

    Hmm, IMO sih… :roll:


  15. pada Juni 4, 2007 pada 7:22 pm Xaliber von Reginhild

    Hmm.. sebelumnya, salam kenal ^_^
    Saya Xaliber.

    Hmm… saya sering kadang-kadang mengaku-ngaku sebagai anti-mainstream. Alasannya kurang lebih sama, supaya beda :P

    Dan, kebetulan, yang saya suka itu seringkali tergolong anti-mainstream, misalnya lagu-lagu klasik seperti Anda. Kebetulan lagi, yang saya kurang suka itu justru yang mainstream. :D

    Kalau soal membangun mainstream baru, saya kurang suka menunjukkan apa-apa yang saya suka ke orang lain. Buat saya ya buat saya aja, kecuali ada yang nanya. Jadi sepertinya ngga bisa membangun mainstream baru karena keegoisan saya.

    Tapi dalam masalah ide, kelihatannya lebih baik kalau anti-mainstream, bukan? Supaya ngga seperti sinetron/acara Indonesia; yang satu ketemu kuntilanak, yang lain ketemu kuntilbapak dan kuntil-kuntil lainnya. :D


  16. pada Juni 4, 2007 pada 8:24 pm Rifu

    bukannya paham “suka ama yang bikin suka” itu mainstream banget ya?


  17. pada Juni 4, 2007 pada 11:06 pm peyek

    anti mainstream kayaknya lebih indah dan tentu dibilang aneh, kenapa harus ngekor terus?


  18. pada Juni 5, 2007 pada 9:36 am chielicious

    @Ma: “kadang kadang makan ati sih kalo Ma ga bisa bagi2 cerita ke temen temen tentang lagu yang Ma suka karena mereka ga tau atau ga suka”
    …Ih sama…suka sebel klo gak bisa bagi2..tapi ada aja orang yang nganggep klo selera musik aku bagus jadi mereka dengerin aja apa yang aku rekomendasiin :mrgreen:

    @Sora9n: emangnya ente demennya musik macem apa sie?

    Btw yang di blogku itu bener2 ngelanggar ToS kah?


  19. pada Juni 5, 2007 pada 11:25 am Master Li

    Pokoknya™ Sakamoto Maaya! :mrgreen:

    Ya, seperti beberapa komen di atas, saya juga orang yang kadang mengaku ‘anti-mainstream’, alasannya? Mungkin supaya beda, dan saya memang terbiasa menjadi ‘minoritas’. :)

    Ah, apa yang mau saya katakan sudah kedulian oleh GenGen (eh, Xaliber!)…


  20. pada Juni 5, 2007 pada 12:07 pm YaYaN

    hmmm… klo berdasarkan tulisan sora kali ini brarti aku termasuk anti mainstream ya??? sepertinya begitu… (nggak tau juga ding klo ternyata bukan… hehehe)

    terlepas dari itu semua, jadi anti-mainstream tuh ada enaknya ada nggaknya… enaknya… selama ini sih aku merasa… kita tuh beda dengan orang-orang kebanyakan… berasa jadi special creature… hehehe…
    nggak enaknya… kadang suka nggak nyambung pas ngomong sama orang lain…

    baiknya… memang jadi anti-mainstream tuh sah-sah aja… but… bukan brarti kita ga bisa ngikutin perkembangan informasi tentang dunia mainstream… menurutku suatu keharusan malah… setidaknya kita nggak berasa di planet lain ketika bertemu dengan mereka… tapi bukan brarti kita ngikutin arus mereka ya…


  21. pada Juni 5, 2007 pada 5:09 pm syah

    ??? saya kok ga bisa melihat korelasi antara quote saya dengan tulisan anda mas? *coba baca lagi*


  22. pada Juni 5, 2007 pada 5:18 pm sora9n

    @ syah

    Ada, Mas. Kita memilih mainstream atau tidak itu ada baik dan buruknya. Kalau saya suka yang baik dari mainstream, saya ambil baiknya, dan saya buang buruknya… :)

    Demikian juga sebaliknya, dari yang tidak mainstream dapat kita ambil baiknya saja dan buang buruknya.

    Begitu….

    (euh, maaf kalo kurang jelas… ^^ )

    Ps:

    Wah, makasih banget udah main ke sini, Mas. :D


  23. pada Juni 5, 2007 pada 5:35 pm sora9n

    @ Xaliber

    Salam kenal juga,

    Kalau soal membangun mainstream baru, saya kurang suka menunjukkan apa-apa yang saya suka ke orang lain. Buat saya ya buat saya aja, kecuali ada yang nanya. Jadi sepertinya ngga bisa membangun mainstream baru

    Lhaa, saya juga. Kalau belakangan orang jadi suka setelah ngeliat saya, yaa… syukurlah :P

    *dihajar massa*

    Aah, pernah kejadian sih, saya dengerin lagu Ellegarden di kosan. Temen saya nanya “ini lagu apa?”

    Habis itu dia malah tergila2, tuh… :mrgreen:


    Tapi dalam masalah ide, kelihatannya lebih baik kalau anti-mainstream, bukan? Supaya ngga seperti sinetron/acara Indonesia; yang satu ketemu kuntilanak, yang lain ketemu kuntilbapak dan kuntil-kuntil lainnya. :D

    Yah, seperti komen saya buat mas Syah di atas, kita ambil aja yang baik2nya. Hmm, kalau ada sinetron macem Keluarga Cemara lagi kayaknya bagus juga sih. Tapi itu nggak berarti saya harus nonton sinetron mistik2 juga toh? :)

    :::::

    @ peyek

    Betul… kita nggak selamanya harus mengikuti arus utama. Lha, kalau (misalnya) orang pada nggak suka makan pempek, kenapa juga kita harus puasa pempek?

    *enak lho padahal :P *

    :::::

    @ chie

    Hee? Saya? Musik kesukaan?

    Hmm, saya suka musik soundtrack film; musik klasik suka juga. Punk lumayan, slow rock juga. Lagu Celine Dion saya suka, Kitaro sedikit, Bond… Maksim…

    Hmm, apapunlah. Yang penting enak. :mrgreen:

    Btw yang di blogku itu bener2 ngelanggar ToS kah?

    Kalau dari ToS sih bunyinya gini,

    the downloading, copying and use of the Content will not infringe the proprietary rights, including but not limited to the copyright, patent, trademark or trade secret rights, of any third party;

    Selengkapnya bisa dibaca di http://wordpress.com/tos/

    :::::

    @ Master Li

    Pokoknya™ Sakamoto Maaya! :mrgreen:

    … :cool:

    Ya, seperti beberapa komen di atas, saya juga orang yang kadang mengaku ‘anti-mainstream’, alasannya? Mungkin supaya beda, dan saya memang terbiasa menjadi ‘minoritas’. :)

    Hwalah, kalo 100 taun lagi HAM dan persamaan derajat jadi mainstream, ente bakal jadi penjahat dong??? :mrgreen:

    :::::

    @ YaYaN

    Betul… enaknya adalah (salah satunya) jadi nggak pasaran; nggak enaknya jadi susah nyambung dan memenuhi kebutuhan yang ‘unik’ tersebut.

    baiknya… memang jadi anti-mainstream tuh sah-sah aja… but… bukan brarti kita ga bisa ngikutin perkembangan informasi tentang dunia mainstream… menurutku suatu keharusan malah…

    Iya… sayangnya ada beberapa orang yang terkena sindrom ‘otaku-isme’ — dan akhirnya malah nggak mengikuti kabar dunia luar…

    (no offense buat yang merasa ya :mrgreen: )


  24. pada Juni 5, 2007 pada 10:21 pm MaIDeN

    “Ketika kita terjebak pada semangat hanya untuk menjadi sama (ataupun berbeda) daripada orang lain di sekitar kita, maka pada saat itu kita telah mempersempit luasnya pilihan yang kita punya. Lalu, bagaimana caranya kita memilah tanpa terpaku pada otoritas dan mayoritas?”

    Memikirkannya aja nggak pernah, bagaimana mau terjebak :P


  25. pada Juni 6, 2007 pada 4:47 pm sora9n

    @ MaiDeN

    Hehehe…. :mrgreen:


  26. pada Juni 6, 2007 pada 5:13 pm Death Berry Ille-Bellisima

    Mungkin teori saya begini :

    Jadi diantara seorang mainstream dan seorang anti-mainstream, ada golongan bernama ‘Transisi’.

    Contohnya seperti yang sudah ditulis Sora tadi,

    “Tetapi ini tidak menghambat saya dari menyukai lagu-lagunya (katakanlah) Melly Goeslaw. Saya suka beberapa lagu beliau, dan pernah menyimpannya di harddisk saya. Saya mendengarkan Aerosmith, dan diselingi dengan vokal Maaya Sakamoto — dan lain kali Anda bisa menemukan ada lagu Celine Dion berjejer dengan musik techno dari T.M. Revolution di playlist winamp saya. Karakteristik dari playlist itu toh satu saja: bukan pop, bukan techno, bukan pula pop ataupun punk — karakteristiknya adalah bahwa semua lagu itu kesukaan saya. Entah itu komposisi karya Bach, atau single terbaru oleh Mikuni Shimokawa, ataupun genjrengan punk model Green Day, itu tak mengubah kenyataan bahwa lagu itu masuk playlist saya karena memang saya anggap bagus.

    Kalau saya anggap bagus ya, saya suka.

    Saya suka membuat Manga sambil mendengar lagu Hip-Hop lho. :mrgreen:


  27. pada Juni 6, 2007 pada 5:20 pm sora9n

    @ Death Berry


    Jadi diantara seorang mainstream dan seorang anti-mainstream, ada golongan bernama ‘Transisi’.

    …

    Saya suka membuat Manga sambil mendengar lagu Hip-Hop lho. :mrgreen:

    Halah, kalo Mas DeBe mah udah keliatan dari sidebar blog-nya… :D


  28. pada Juni 7, 2007 pada 9:42 am Catshade

    Maaya Sakamoto setelah melepaskan diri dari Yoko Kanno gak terlalu asik lagi ah menurutku. Lucy-Dive-Grapefruit is the best ^^

    Soal org2 yang memilih kesukaannya dari kategori mainstream atau anti-mainstream, IMHO mereka adalah golongan yang nggak bisa mikir buat dirinya sendiri dan akhirnya jadi mudah dikendalikan orang lain, khususnya industri (di musik, ini kelihatan ketika musik ‘alternative’ malah dijadikan genre yang mainstream…I mean, ‘alternative pop’? Juga ketika ‘indie’ dijadikan nama subgenre biarpun yg ngeluarin major label)


  29. pada Juni 7, 2007 pada 1:34 pm Geddoe de la Rocha

    di musik, ini kelihatan ketika musik ‘alternative’ malah dijadikan genre yang mainstream…I mean, ‘alternative pop’? Juga ketika ‘indie’ dijadikan nama subgenre biarpun yg ngeluarin major label

    Betuuuul… :D

    Padahal punk, grunge, pop, alternative, itu bukan genre, tapi scene… :(


  30. pada Juni 7, 2007 pada 2:56 pm Balada Bocah Gemblung « RosenQueen Company

    [...] Juni 7th, 2007 in Cerita, Opini, Musik, Trivia (Terinspirasi dari tulisan Mas Sora di sini [...]


  31. pada Juni 7, 2007 pada 5:40 pm sora9n

    @ Catshade

    Maaya Sakamoto setelah melepaskan diri dari Yoko Kanno gak terlalu asik lagi ah menurutku. Lucy-Dive-Grapefruit is the best ^^

    Iya sih, pas lepas dari Yoko Kanno, kualitasnya jadi agak ‘biasa’. Yuunagi Loop kesannya juga nggak bagus banget sih… (kecuali beberapa).

    Tapi 30minutes night Flight lumayan bagus, IMO. Nuansanya lebih pop/ballad gitu sih. :)

    Soal org2 yang memilih kesukaannya dari kategori mainstream atau anti-mainstream, IMHO mereka adalah golongan yang nggak bisa mikir buat dirinya sendiri dan akhirnya jadi mudah dikendalikan orang lain, khususnya industri…

    Iya, memang paling terasa di bidang musik, sih. Yang disebut ‘alternative’ kok sekarang bisa jadi makanan utama…?

    Dan banyak juga orang yang keukeuh nggak mau dengerin barang2 major label (walaupun dengan alasan yang bagus), padahal musik major kan nggak selalu jelek juga. :roll:

    :::::

    @ Geddoe

    Eh, bedanya genre sama scene itu apa sih? :P

    *sumpah nggak tau nih*


  32. pada Juni 7, 2007 pada 9:43 pm Geddoe de la Rocha

    Lha, Genre itu jenis musiknya…
    Scene itu komunitasnya…

    Makanya grunge itu ngejelasin genrenya memang susah, soalnya gado-gado. Disebut grunge ya karena sama-sama dari Seattle…

    Kurang lebih begitu, CMIIW (=3=)/


  33. pada Juni 7, 2007 pada 9:58 pm Ma!!!

    heeh?? ga bisa bilang judul lagunya aja ya,, :P

    Kalo kuliah itu masuk mainstream ga??

    kalo iya,, Ma menyatakan anti-mainstream!! :lol:


  34. pada Juni 8, 2007 pada 12:32 pm lambrtz

    maksudku gini.
    klihatannya banyak banget orang yg cendrung aliran anti mainstream. jadi menurut aku anti mainstream itupun membentuk suatu aliran sendiri, mungkin bisa disebut mainstream juga.
    buat aku, yg penting jangan ikut2an. misalnya, ada orang suka band ini, ah ikutan suka juga. misalnya denger suka sebuah lagu yg kebetulan banyak orang suka, that’s fine.
    jadi, ya, seperti apa yg kamu tulis juga :) , cuma beda tangan aja (buat ngetik) :D .
    sori lama ga komen (emang nungguin he9x :D ), bentar lagi deadline skripsi.


  35. pada Juni 12, 2007 pada 11:35 pm saRa

    hmm hmm,,
    mainstream dan anti-mainstream yah???
    sara sebenernya ga terlalu ngerti gimana banget sih kalo dalam masalah musik,
    tapi kalo udah ngomongin hal-hal laen (fashion and stuff), anti-mainstream itu bener-bener kerasa,

    mana ada cewek (yang ngerasa eksklusif padahal sebenernya sama aja) mau pake pakaian yang modelnya sama dengan artis-artis yang ada di tv indonesia,
    padahal temen-temen sekitarnya malah mulai ngikutin yang ada di tv,,
    yah iut salah saru contoh yang ada disekitar saRa,.

    anti pada sesuatu yang hanya buat pusing itu pointless,, (according to saRa, tentunya :D )


  36. pada Juni 14, 2007 pada 9:43 am sora9n

    @ lambrtz

    Sama? YaIyaLahaaayy… Saya juga dari tadi kan ngomongin itu… :D

    :::::

    @ saRa

    Hmm, fashion ya. Iya, saya juga pernah kenal seorang (cewek) yang aslinya rambutnya ikal. Bagus sih, sayangnya…

    …pas di sinetron2 model rambut lurus populer, dia malah ikut2an rebonding. :(

    -padahal bagusan dulu lho :roll: -


  37. pada Juni 14, 2007 pada 10:36 am chielicious

    Klo aku sebenernya gak ngikut2 mainstream ato enggak yah..tapi temen2 aku nilai aku kayak gitu..soalnya mereka gak biasa dengan selera musikku~ :(


  38. pada Juni 14, 2007 pada 3:35 pm saRa

    @ chie
    iya2 tuh,, sara juga kalo suka j-music kayak gitu kan banyak temen sara yang pada ga ngerti,, jdi dibilang anti-mainstream gitu,,
    dasar,, kalo suka emang napa,,


  39. pada Juni 18, 2007 pada 11:55 pm Omong Kosong Yang Benar-benar Kosong « Deathlock

    [...] hal yang sama seperti yang dilakukan oleh orang lain. Tidak, saya tidak bermaksud untuk menjadi mainstream, juga tidak bermaksud menjadi blogger yang mengejar traffic. *Baidewei, katanya ada istilah [...]


  40. pada Juni 27, 2007 pada 5:39 pm Jabizri

    arghhh….
    klo saya seh kayaqnya ikut mainstream….

    mulai dari:
    - ikutan bikin blog
    - buka2 blog2 seleb2
    - meratapi blog sendiri yang kian sepi
    - berharap punya kekuatan super untuk mengubah masa depan
    - mendengarkan musik yang aneh2 [Cake, Gorillaz, dll]
    - mendengarkan musik yang tidak aneh2 [LP, MCR, dll]
    - blah… blah… blah… blah…

    bahagianya ikut mainstream…. :P :P

    heheheh…


  41. pada Juni 28, 2007 pada 11:54 pm sora9n

    @ Jabizri

    Waduh, saya juga masih ikut mainstream nih. Saya suka denger musik, bernafas lewat hidung, dan berjalan dengan dua kaki. Tambah lagi, saya juga ikutan kuliah seperti temen-temen saya di dunia nyata… :P

    -gimanaDong??-

    Btw, salam kenal yah. :)


  42. pada Juni 30, 2007 pada 8:59 am lily

    lagi-lagi maen ke tempatnya sora..
    gak tau mo ngapain sih..
    lagi bosen aja liburan..
    mainstreming ya? oh tren pasar maksudnya gitu?
    kalau saya sih ga terlalu ambil pusing, yang penting suka ya udah. terserah mau dibilang pasaran atau tidak.
    eh komen-mu lucu banget seh yang di atas.. :roll:
    kalo gitu saya juga mainstream dong :mrgreen:


  43. pada Juli 5, 2007 pada 7:47 pm On the Way to a Smile « ka mo shirenai shi, chigau ka mo

    [...] ini memang nasib yang ditakdirkan Tuhan kepada diriku? Terjebakkah aku, pada arus utama [...]


  44. pada Juli 24, 2007 pada 12:50 am 6 Weird Things About Amd « Amd

    [...] ngefans sama Bon Jovi atau Michael Jackson atau Backstreet Boys kan? Saya tidak mempermasalahkan mainstreaming atau apa, yang jelas saya cuma suka mendengar aksen British kental keluar dari tenggorokan Damon [...]


  45. pada Juli 27, 2007 pada 3:26 pm Ospek, dan Latihan Pemantapan « Parking Area

    [...] semuanya hanyalah latihan kepercayaan diri agar maba kelak bisa memiliki mental tidak takut keluar mainstreaming! Jangan takut untuk tampil [...]


  46. pada Juli 28, 2007 pada 2:06 am nuragus

    Bagaimana dengan budaya lain yang bukan musik. Bagaimana dengan pemikiran. Toh, kita SEMUA masih mainstream juga. Kita percaya 3 Hukum Newton benar, kemudian Einstein benar, kemudian Heisenberg benar, semua benar lah! Kita ngangguk-ngangguk aja.

    Tapi, pertanyaannya adalah:

    “Apa sih BENAR itu?”

    Salam kenal.


  47. pada Juli 28, 2007 pada 7:21 pm sora9n

    @ nuragus

    Salam kenal,

    Kebenaran? Sesuatu yang bisa dibuktikan secara empiris, dan bisa diuraikan dengan logika ataupun (untuk ilmu alam) pendekatan matematika. :mrgreen:


    Kita percaya 3 Hukum Newton benar, kemudian Einstein benar, kemudian Heisenberg benar, semua benar lah! Kita ngangguk-ngangguk aja.

    Ah, masa sih? Kalau Anda bersikap kayak begitu, berarti Anda bukan mahasiswa ilmu pasti. Justru ilmu itu harus dibedah supaya orang bisa mempelajari dasarnya dan menerapkannya di bidang teknik dalam kehidupan…

    Kalau semua mahasiswa cuma perlu angguk-angguk aja, buat apa Newton dan Lagrange bikin penjelasan matematik yang begitu lengkap? ;)


  48. pada Juli 30, 2007 pada 6:18 pm nuragus

    Hehe…tapi toh pada kenyataannya kita berhukum dengan hukum mereka kan… :)

    Kita ngangguk-ngangguk karena argumen mereka begitu kuat dan nggak terkalahkan, karena guru kita bilang gitu juga.

    Dan, sampai sekarang kita masih terbawa arus “kemana ilmuwan membawa kita”, bahkan sampai ke katanya fisika dan mistis itu satu (Michael Talbot).

    Kalau sora.kun sendiri, apa pernah ragu dengan semua yang om-om ilmuwan itu katakan?

    Terima kasih.

    Eh, sebentar.
    Kebenaran? Sesuatu yang bisa dibuktikan secara empiris, dan bisa diuraikan dengan logika ataupun (untuk ilmu alam) pendekatan matematika.

    Kalo demikian, apabila dua makhluk hidup melihat sebuah ruang, yang satu menganggap ruang adalah tempat yang dibatasi oleh pojok2, dan yang satunya menganggap ruang adalah pantulan balik gelombang elektromagnet, siapa yang benar?(ini contohnya agak ngawur sih), tapi yang jelas Richard Dawkin bilang makhluk hidup melihat object dengan persepsinya masing2.


  49. pada Juli 31, 2007 pada 12:02 am sora9n

    Kita ngangguk-ngangguk karena argumen mereka begitu kuat dan nggak terkalahkan, karena guru kita bilang gitu juga.

    Euh, kalau saya rasa argumen itu tak terkalahkan karena satu hal. Yaitu, semua orang yang memahami sampai dasarnya ternyata melihat itu sebagai penjelasan yang memuaskan, baik secara empiris maupun matematis.

    Contoh, dulu Hukum Gerak Newton diakui sebagai teori mekanika yang paling bagus. Kalau kita penasaran akan penjelasannya, kita bisa menyelidiki persamaan matematisnya — dan, dari situ, kita bisa paham bahwa ini sesuai dengan gejala alam sebenarnya di dunia nyata.

    Nah, kemudian ada gejala baru yang teramati (yaitu kecepatan cahaya tak bisa dilampaui). Walaupun dengan penjelasan hukum Newton, ini tak bisa diuraikan. Ternyata kemudian peristiwa ini bisa dijelaskan melalui Teori Relativitas Khusus Einstein — dan, dari sini, kita tahu bahwa Hukum Newton hanyalah kasus tertentu dari Teori Relativitas Khusus itu.

    Jadi, IMHO, dalam ilmu pasti itu kita harus terus memelihara rasa tidak percaya. Justru dengan itu kita bisa mencari — dan membuktikan apakah hukum yang ada ini memang sudah benar atau masih bercacat. Kira-kira begitu, sih. ;)

    Kalau sora.kun sendiri, apa pernah ragu dengan semua yang om-om ilmuwan itu katakan?

    Sejujurnya sih, pernah. Tapi itu waktu SMA, ketika beban tugas belum sepadat sekarang (saya sekarang kuliah tingkat akhir). Misalnya pas saya mencoba mencari hubungan antara gerak melingkar dengan hukum II Newton — dan dari situ saya tahu bahwa persamaan gerak melingkar sebetulnya merupakan turunan dari F=m.a yang terkenal itu… ^^

    Kalau sekarang, saya udah jarang melakukannya. Di samping banyak tugas, materinya juga udah lanjut sehingga pembuktiannya juga makin rumit. Jadi deh saya nggak pernah melakukannya lagi. :P

    Kalo demikian, apabila dua makhluk hidup melihat sebuah ruang, yang satu menganggap ruang adalah tempat yang dibatasi oleh pojok2, dan yang satunya menganggap ruang adalah pantulan balik gelombang elektromagnet, siapa yang benar?(ini contohnya agak ngawur sih), tapi yang jelas Richard Dawkin bilang makhluk hidup melihat object dengan persepsinya masing2.

    IMO, dua-duanya benar. Kan segala sesuatu bisa berbeda tergantung dari sudut mana si pengamat melihat. Tetapi, dua-duanya sepakat bahwa itu adalah “kamar”.

    Kamar kan memang dibatasi oleh dinding — tapi juga terlihat karena dia memantulkan gelombang cahaya. Dua-duanya benar; yang satu memandangnya secara harfiah, sedangkan yang lain melihatnya dari sudut pandang ilmu fisika. :)

    Makanya, melihat dari berbagai sudut pandang itu bisa memberikan pengertian yang lebih lengkap tentang suatu masalah. ;)


  50. pada Agustus 3, 2007 pada 1:12 am Memangnya Aneh Kalau Cewek Suka Band Alternative-Rock?? :-? « cK stuff

    [...] musik tertentu yang berbeda-beda dengan orang lain, lanjut aja. Jangan lantas ikutan suka karena mainstream atau ngetren™. setiap orang bebas memilih aliran musik yang mereka [...]


  51. pada Desember 10, 2007 pada 1:04 pm Kita ini Harusnya Malu « [Chaos Region - Incorporated]

    [...] yang fana ini. Toh, anak – anak dan remaja – remaja yang doyan gaul itu masih mengakar pada mainstream, dimana para penikmatnya menggunakan produk yang sedang tren di permukaan. Diperparah dengan aksi [...]


  52. pada Desember 19, 2007 pada 4:02 pm I write Everything that I want. Just Check It Out. :P « sora-kun.weblog()

    [...] alasan saya menyukai barang-barang Jepang, sebetulnya, lebih karena banyak diantara mereka yang sesuai dengan selera saya. [...]


  53. pada Desember 29, 2007 pada 3:29 pm I Have Lost My Religion « all hail rozenesia™

    [...] yang berusaha mengembalikan jiwaku yang tenggelam dalam samudera arus utama, kini hanya bisa meratapi hilangnya jiwa itu. Jiwa itu terbakar dengan hebatnya hanya karena [...]


  54. pada Januari 23, 2008 pada 9:46 pm Kamera, Foto, dan Narsisisme « Deathlock

    [...] Suatu Mainstream yang Diikuti Oleh Orang Banyak Sebuah mainstream? Bisakah hobi berfoto narsis ini dikatakan sebuah mainstream yang menjadi tren yang diikuti dan populer di sebuah komunitas sosial? Bisa, dan jelas bisa. Kenapa tidak? Kalau masih bingung, begini saja contohnya. Anda tadinya adalah orang yang biasa-biasa saja; kalem, tidak suka berfoto narsis, dan tidak peduli. Foto ya foto, ngga ya ngga. Tapi tiba-tiba teman-teman Anda — entah darimana dan mengapa — jadi kegilaan dengan ‘tren’ yang bernama foto narsis itu.Pertamanya Anda mungkin berpikir, “Ah, ngapain sih orang-orang itu kurang kerjaan,” dan tidak ambil peduli dalam masalah itu. Tapi rupanya Anda diajak untuk berfoto bersama — mungkin tipikal yang bisa ditemui pada remaja wanita, berfoto bersama sambil bergaya. Dari situ, Anda yang tadinya biasa-biasa saja, rupa-rupanya mulai tertarik, apalagi karena sudah sering diajak berfoto bersama. Alhasil, timbulah pribadi “berfoto narsis” yang disebut-sebut itu. [...]


  55. pada Januari 26, 2008 pada 10:28 pm I Have Lost My Religion | GunawanRudy[dot]Com

    [...] yang berusaha mengembalikan jiwaku yang tenggelam dalam samudera arus utama, kini hanya bisa meratapi hilangnya jiwa itu. Jiwa itu terbakar dengan hebatnya hanya karena [...]


  56. pada April 6, 2008 pada 12:17 am Main Musik Sampai Tua « cK stuff

    [...] yang bilang profesi bermusik itu masa depannya tidak jelas karena mengikuti mainstream. Tapi bukan berarti musisi tidak bisa mencari uang, tho? Saudara ipar saya seorang music director [...]


  57. pada November 17, 2008 pada 3:15 pm Musik Klasik dan Saya « sora-kun.weblog()

    [...] Barat era 1980-an: Aerosmith, Scorpion, Bon Jovi dan Mr. BIG. Sebenarnya selera musik saya yang sangat melebar berkembangnya juga dari [...]


  58. pada Februari 2, 2009 pada 2:51 pm kususanto@bappenas.go.id

    Intinya: “You know what you are doing”. Namun ketika rasionalitas sudah dapat memaklumi banyak hal. Ini berarti semakin sedikit ruang sadar untuk memilih. Maka konsequensi logis yang muncul adalah “let it be”. Entah liwat atau tidak liwat diri-kita keputusan itu keluar. Sesungguhnya diri-kita hanya tool dari sabda ILAHI semata. Mungkinkah, demikian adanya?.

    Salam Hormat, asep kususanto


  59. pada Juli 9, 2009 pada 8:50 pm Mencoba Jadi Anak Semua Bangsa « sora-kun.weblog()

    [...] orang Jawa, bukan pula suku bangsa manapun di muka bumi. Meskipun begitu, saya tertarik mempelajari apa yang saya rasa menarik… sebagaimana sekantong keripik sanjay khas Padang atau teh wasgitel khas Jawa Tengah membuat [...]


  60. pada Februari 18, 2010 pada 6:43 pm 6 Weird Things About Amd « A Sort of Homecoming

    [...] ngefans sama Bon Jovi atau Michael Jackson atau Backstreet Boys kan? Saya tidak mempermasalahkan mainstreaming atau apa, yang jelas saya cuma suka mendengar aksen British kental keluar dari tenggorokan Damon [...]



Komentar ditutup.

  • About Me

    sora9n

    NOTICE:
    This blog is now discontinued. The author has moved to new address: [here]

    [guestbook entries]
  • Disclaimer


    This blog is personal property which is publicized. Readers are free to copy, republish, and distribute the content as long as the source is mentioned.

    [more on license page]

  • People visited this blog:

    • 668,017 times
  • My Picture Gallery

    -=-=-=-=-=-=-=-
    .: Gallery's Main Page :.
    -=-=-=-=-=-=-=-

  • Categories

  • Top Posts

    • Beberapa Kalimat Sapaan dalam Bahasa Jepang
    • [nihongo-7] Pengelompokan Kata Kerja dalam Bahasa Jepang
    • [nihongo-1] Kalimat Aktif Sederhana dalam Bahasa Jepang
    • Direktori 'Nihongo' @ sora-kun.weblog()
    • [nihongo-2] Partikel 'no' dan 'de'
  • Recent Posts

    • Akhir Sebuah Perjalanan (alias: Balada Pindah Alamat)
    • Current Playlist 2010.10.01: World Music Edition
    • Kartu Lebaran 1431 H
    • Grandpa’s Old Typewriter
    • [nihongo] Berkenalan dengan Huruf Kanji
  • Archives

  • Metadata for This Site

    • Daftar
    • Masuk log
    • RSS Entri
    • RSS Komentar
    • WordPress.com

Blog pada WordPress.com.

Tema: MistyLook oleh Sadish.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 83 pengikut lainnya.

Powered by WordPress.com