[gak penting mode = on]
Kemaren baru main ke blognya manusia biasa, dan mendadak kepikiran tentang ide tulisan ini.
Jadi, apa itu “Teorema Manusia Biasa” ? Hmm, penjelasannya nanti saja di akhir tulisan ini. Sekarang, kita akan terlebih dahulu ‘membedah’ teorema ini dari dasarnya.
Mari kita mulai…
***
Seorang manusia biasa adalah anggota dari suatu himpunan “biasa”, di mana semua anggota himpunan ini jatuh pada kategori “biasa”. Berarti, dari sejumlah n terhingga anggota himpunan “biasa”, salah satunya adalah si “manusia biasa”.

Maka, betapapun hebatnya hal yang dia lakukan, manusia biasa terikat pada sifat inheren dari himpunan “biasa”, yaitu “tidak luar biasa”. Alhasil, jika dipuji karena hasil kerjanya, manusia biasa umumnya akan menjawab,
“Aah, biasa saja kok…”
Ini terjadi karena “manusia biasa” berpikir bahwa dirinya memang “biasa” dan tidak lebih dari orang lain.
Berarti, manusia biasa selalu menyatakan bahwa segala pencapaiannya adalah “biasa saja”, tak peduli bagaimanapun hasilnya! Pemodelan untuk situasi ini bisa dijelaskan sebagai berikut.

di mana setiap pencapaian manusia biasa dipetakan sebagai elemen dari himpunan “hasil yang biasa saja”.
***
Nah, berdasarkan data di atas, kita bisa coba mendefinisikan suatu teorema tentang manusia biasa, yaitu seperti berikut ini.
Teorema Manusia Biasa:“Manusia biasa tidak bisa melakukan hal yang luar biasa,
karena
hal yang paling luar biasa yang mereka lakukan adalah ‘hal yang biasa saja’”
Dari sini, terlihat bahwa setiap pekerjaan yang bisa dilakukan oleh manusia biasa hanyalah hal yang biasa saja. Jika manusia biasa bisa membuat robot cerdas atau menjelaskan Teorema Feuerbach, maka keduanya tidaklah luar biasa. Ini terjadi sebagai implikasi dari teorema di atas, di mana manusia biasa hanya bisa melakukan “hal yang biasa saja”, sesuai dengan klaim mereka.
Sebaliknya, jika manusia biasa tidak bisa membetulkan tali sepatu atau menyetir mobil, maka kedua hal tersebut menjadi hal yang luar biasa — karena manusia biasa tidak bisa melakukannya. Dus, kedua hal tersebut bukanlah anggota dari himpunan “hal yang biasa saja”.
Jadi, “manusia biasa” tidak pernah bisa melakukan sesuatu yang “luar biasa” — karena mereka selalu mengatakan “aah, biasa saja kok…” untuk semua pekerjaan mereka.
Q.E.D.
.
.
~~~~~
Ps:
Kabuuurrr!! Sebelum diamuk oleh manusia biasa!!!!
PPs:
[gak penting mode = off]
Ahem, pesan moralnya silakan dipikir sendiri, yah.
Serius….ngakak aku baca tulisan ini
*
After all, you always write nice articles
Four thumbs up
*karena sudah menulis tentang manusia biasa
Serasa jadi selebriti karena seorang Sora-kun menulis tentang ke-biasa-an manusia biasa
Arigato…
Sayonara…
Weleh… Dikaitkan dengan teori himpunan….
Di luar logika, pemakaian kalimat: “Ah, biasa saja, kok…” punya banyak tujuan. Antara lain:
1. Meredam kesombongan yang ada di dalam diri, walau sebenarnya memang luar biasa.
2. Memang merasa bahwa ia biasa-biasa saja.
3. Menhundang simpati publik.
euh…
gambar yang bawah kok 404 yah? apa salah refer ke file-nya?
~binun
@ deKing
Hohoho, tentunya karena sang manusia biasa-nya sendiri guru matematika, makanya saya nulis ini.
:::::
@ Shan-in Lee
Nggak papa, si manusia biasa-nya sendiri sukanya ngomongin matematik, jadi saya balas dendam aja di sini.
Kemaren dulu saya malah dibilangin bahwa “matematika itu sangat penting dalam hidup”, padahal kuliah matematika fisika saya dapet D kemaren….
*gondok*
Tujuan kalimat “ah biasa saja” ?
Kok saya jadi inget diskusi banner di blognya Mr. Geddoe, ya…?
:::::
@ yud1
Hah? 404 error? Nggak ah, baru dicek file-nya ada kok. Masa sih aneh gitu? (o_0)”\
*siul-siul nggak karuan*
Perang yang itu sih susah untuk tidak terulang lagi.
Yah, emang repot. Manusia biasanya emang ga terlalu mengheboh-hebohkan karyanya, tetapi dia juga ga seneng kalo hasil karyanya itu dihina.
………
Perang yang mana?
tambahan :
pesan moralnya : jangan mau jadi manusia biasa.
Tentu saja. Karena karyanya jelas tidak jelek. Biasa saja kok.
Saya mendukung peryataan saudara yud1: gambar yang kedua tidak muncul.
@ p4ndu_454kura
Tentunya karena dia merasa “biasa saja”, makanya nggak seneng kalau karyanya dihina atau dipuji. Lha, dua-duanya nggak mencerminkan keadaan sebenarnya kok.
[OOT]
Avatarnya ganti? Keren…
(btw, sejak ganti avatar kayaknya komennya Mas Asakura jadi lebih serius lho
)
:::::
@ fertobhades
Lah, mas… udah ada lho yang betul2 pengen jadi manusia biasa. Malah nama blognya sendiri “manusia biasa”.
Tambahin lagi tagline-nya, “yang benar-benar biasa”, kayaknya beliau itu betul-betul berharap jadi “manusia biasa”…
:::::
@ Scrooge McDuck
I N D E E D…
Lho, iya ya? Yah kalau gitu saya re-upload deh, sekalian perbarui link-nya.
Kok kupingku terasa panas ya?
Ooo ada yang lagi ngegosipin aku ternyata
Hehehe…saya ingin menjadi manusia biasa:
1. Naik haji (yg benar2 haji)…. AMIN
2. Naik mobil mewah
3. Makan enak
4. Punya uang banyak
5. dan biasa2 yang lain hehehe
@ deKing
*twisted logic = on*
Sebentar, kelima hal itu harus dibuktikan dulu — bahwa semuanya bisa dilakukan oleh seorang manusia biasa. Kalau bisa, itu baru layak disebut “hal yang biasa saja”.
Kenyataannya, gimana? Sekarang “manusia biasa” tidak bisa melakukan kelima-limanya, kan? Berarti semua itu “hal yang luar biasa”…
Percuma saja dipaksakan, Mas. Manusia biasa nggak mungkin bisa melakukan hal yang luar biasa…
*ketawa… apalagi baca koment no 11 itu*
.
.
.
Mmm.. tiba-tiba terfikir sisi lain, jadi manusia biasa -dengan potensi luar biasa yang tidak terakui karena tergilas teorema itu- bisa jadi ada nilai positifnya, tidak terlalu terbeban dengan harapan-harapan untuk melakukan hal-hal luar biasa dari manusia di luar himpunan itu misalnya. kan gak bisa dihindari, walaupun biasa, tapi terkadang manusia-manusia biasa lainnya tanpa sadar menitipkan beban tak biasa ke pundak manusia biasa lainnya dengan prediksi bahwa akan pasti bisa tercapai, sekaligus mengasumsikan bahwa pencapaian itu nantinya tergolong biasa atau luar biasa sesuai predikat manusia biasa itu…
Nah dengan jadi biasa terkadang jadi alternatif penyelamat dari vonis biasa saja atau tidak luar biasa dari manusia-manusia lainnya…
Eh… gak da korelasinya ya? he he…
btw, sesama manusia biasa dilarang saling “membiasa sajakan”, “mempercumakan” atau sejenisnya… karena makin menabalkan kaidah teorema itu…
@ jejakpena
[gak serius mode = on]
*clingak-clinguk*
Oh, ada si mbak. Dateng juga nih… kirain udah meninggal
kanduniablogsetelah dihajar ‘badai’ kemaren dulu.[gak serius mode = off]
Lah, itu mah salahnya dia sendiri. Manusia biasa kan selalu mengaku “biasa-biasa saja” buat semua pekerjaannya, sehebat apapun itu.
Jangan salahkan kalau orang jadi memandang dia “selalu biasa”… lah dia sendiri yang ngomong kok?
Glek, dibawa serius…
Terlalu mumet, ah. Kasih aja dia tugas sedahsyat apaan tau (e.g. menyelesaikan soal relativitas umum atau persamaan Schrodinger
). Kalau dia masih ngomong “ah, biasa saja kok… “ setelah pekerjaannya selesai, berarti dia memang “manusia biasa”.
Lho, justru bagus kan? Teorema saya diakui secara luas nantinya…
(tentu saja tulisan ini bercorak sindiran.
)
mmm,, nanya! definisi biasa itu,, apa yang dianggep diri sendiri biasa,, atau yang dianggep orang lain biasa??
masalahnya:
“Sebentar, kelima hal itu harus dibuktikan dulu — bahwa semuanya bisa dilakukan oleh seorang manusia biasa. Kalau bisa, itu baru layak disebut “hal yang biasa saja”.”
ini artinya hal biasa itu bisa dianggep biasa kalo bisa dilakukan oleh seorang manusia biasa atau oleh setiap manusia biasa??
maafkan pertanyaan ga keren dari manusia-yang-ga tau-biasa-aja-apa-ngga,,
@ Rizma Adlia
Jangan terlalu diseriusin… ini cuma twisted logic aja kok…
*ehem*
Eee, jadi begini…
Tanya aja orang yang bersangkutan. Kalau dia memang manusia biasa, harusnya dia bakal ngomong “aah, saya ini biasa saja kok…” Tentunya kita harus percaya, karena yang mengetahui keadaan dirinya paling baik adalah orangnya sendiri, kan?
Kalau orangnya bisa bikin robot cerdas atau jadi juara lari 100 meter Olimpiade, dan dia tetep ngomong bahwa “itu biasa aja”…
…maka Anda bisa bilang apa? Hah? HAh? HAH???
*kok jadi celotehan nggak penting gini ya?
*
Tidak apa-apa… pertanyaan-ga-keren dari saudari yang-ga-tau-biasa-aja-apa-ngga ini sudah saya maafkan kok…
Ma lupa liat di komen tadi twisted logic-nya ON,,
Tentunya kita harus percaya, karena yang mengetahui keadaan dirinya paling baik adalah orangnya sendiri, kan?
OOkkay,,,
*kok jadi celotehan nggak penting gini ya?
*
hmmm,, Ma jadi malah bingung mau bilang apa,,
ya,, Ma jadi manusia alhamdulillah aja,, kan kalo manusia biasa jawabannya “biasa aja”, kalo manusia alhamdulillah jawabnya “alhamdulillah”, walaupun ga tau achievement apa yang didapet buat bisa nyempetin diri ngomong kaya gitu,,
*Ma jadi keinget orang yang punya gaya bahasa mirip Sora,, huuuhh,, jadi gemes!!!*
Wah, jangan lampiaskan pada saya dong… (=_=) ‘
*kabur*
Sora yang suka celingak celinguk…

Begini ya…
*pasang ekspresi sebiasa mungkin*
Kalau dengan kesuksesannya tapi dia tetap bilang biasa saja, saya tidak akan menyalahkan jika predikat “manusia biasa” itu patut buat dia kok
Yang jadi masalah dan mungkin seperti yang saya bilang tadi, di uar konteks teorema itu, kadar biasa di mata orang bisa jadi kebaikan yang menyelamatkan “manusia biasa itu”…
sudah ah… nanti jadinya nge-blog ga jelas disini
Lho, berasa lama gak dijenguk kirain udah berubah lah hobi ngeledek Sora, rupanya…?!
diterjang badai? Badai apa memang? Kok Sora bicarain sesuatu yang saya tidak paham :Mrgreen:
Who ho ho… soal relativitas umum? Persamaan schrodinger? Jadi bagi Sora itu hal yang luar biasa???!! Padahal kan biasa lah itu kalau banyak yang ga bisa menyelesaikannya… jangan berkecil hati, paling tidak Sora wa, hitori ja nai yo ^_^
Bagus? Biasa gitu???
Dilarang protes, inilah akibat teorema ciptaan anda itu… *senyum penuh kemenangan*
(tentu saja tulisan ini bisa jadi bercorak seriusan, sindiran atau jenis lainnya
)
gak penting mode ON-
Eh, tiba-tiba lagi kan Sora, gara-gara tanggapan Sora itu, jadi terlintas juga, seandainya benaran meninggal dunia… -_-
manusia biasa melakukan hal-hal luar biasa masih dianggap biasa? pesan moral yang mengena
Alhamdulillah sementara sudah nyicil biasa melakukan 3 di antara 5 itu:

1. Biasa naik mobil mewah
Lumayan ada teman yang punya mobil, jadi biasa numpang gitu. Mewah kan relatif
2. Biasa makan enak
Ini yang paling sering biasa saya lakukan. Kemarin saja baru makan di resto China di sini…tetapi….lagi2 ini juga numpang karena dibayarin temen
3. dan biasa2 yang lain…
Ini juga sering karena tdk ada penjelasan spesifik ttg definisi “biasa2 yang lain”
BTW
Kakakakakakak…dasar Sora-kun
Heran saya…
Kalau baca tulisan di tempatnya Sora-kun beserta komentar2 mas Sora-kun kok rasanya jadi kecanduan nulis komentar
Jangan2 blog ini sudah dibubuhi zat pemikat?
saya tunggu2 kok gak ada yang tanya ya?
Ya sudah saya jawab saja … “aah, saya ini biasa saja kok…”
Hehehehehe….
@Jejakpena:
Yang penting bukan badai serotonin
@deking
kan si sora-kun menjalankan prinsipnya terkait blog seleb.
http://sora9n.wordpress.com/2007/03/06/jalan-tak-mudah-menuju-blog-seleb/
wassalamu ‘alaikum
@ jejakpena
Mbak yang suka nggak jelas,
*main robot2an sambil membelakangi si mbak*
“Nggak ngerti omongannya onee-chan. Bingung…”
*cuek sambil terus main robot2an*
*innocent mode = on*
Emang udah lama? Baru sebentar ah.
Berapa hari ya? Eh, berapa minggu sih? Apa udah berbilang bulan ya?
Maaf, susah mengingat kunjungan orang nggak penting…
*innocent mode = off*
*jingkat-jingkat*
*copy-paste dari blognya yang komen*
Hohoho! Kalau seumuran saya gimana ya??
*twisted logic = on*
Begini, begini…
Ada orang yang merasa bahwa persamaan Schrodinger dan teori relativitas umum itu biasa-biasa saja, karena udah jadi makanan sehari-hari. Karena mereka merasa biasa saja dengan hal itu, otomatis mereka nggak merasa jadi “manusia luar biasa” karena bisa mengerjakannya.
Karena mereka paling tahu keadaan diri mereka sendiri, dan merasa bahwa mereka itu biasa saja, maka sudah tentu mereka itu betulan “manusia biasa”.
Sekarang saya nggak ngerti kedua teori itu, padahal itu adalah “hal yang biasa saja”. Berarti saya ini “manusia luar biasa” kan. Iya kan??
Jadi saya memang nggak berkecil hati, soalnya saya memang manusia luar biasa kok dari sananya. Masa gitu aja bingung?
Kayaknya kok nggak nyambung ya dari tadi…
Pantes aja, ternyata ada miskonsepsi. Dibaca lagi deh teoremanya dari awal, soalnya yang saya maksud bukan itu..
*sok dosen*
Tolong dibaca lagi ya. Besok kita ada quiz, sampai bahasan teorema manusia biasa. Jangan lupa bobot quiz sebesar 30%, lho.
Dadah…
*sambil melambaikan tangan melepas kepergian dari dunia ini*
@ peyek
Euh, maksud saya tuh orang yang sudah melakukan hal-hal yang luar biasa, tapi masih menganggap semua hasil kerjanya itu biasa-biasa aja.
Padahal orang di sekitarnya udah melongo saking nggak ngertinya…
:::::
@ deKing
Dan Teorema Manusia Biasa pun semakin terbukti kebenarannya. Tinggal tunggu Mas deKing menemukan digit ke-dua milyar dari konstanta ‘pi’, dan matematika lanjut akan jadi “hal yang biasa saja”.
Hidup manusia biasa… \(^o^)/
[/sarcasm]
AAAH, BIASA SAJA KOK….
Kebanyakan baca Supernova nih orang… =_=’
:::::
@ Rifu
Aaah, biasa saja kok… ^^;;
*contoh penerapan teorema manusia biasa dalam hidup*
Yaa,, yaa,, yaa,,
jadi kalo orang itu udah nganggep hal hal susah kaya operasi hematom epidural, operasi fraktur maksila yang ribet (kaya bu Evy) itu biasa, dan dia bilang itu biasa, dia jadi manusia biasa,,, gitu??
(perandaiannya dibedain ya,, abis Ma ga ngerti persamaan persamaan itu sama sekali, juga kerumitannya)
tambah miriip,, tambah gemes!!! huuuhh!!! (tenang,, ga bakal kena ke Sora kok,,)
*maaf, numpang ketawa bentar nih*
HUAHAHAHAHAHAHAHAAAAA….
Betul… Kalau orang lain nggak bisa operasi fraktur maksila, sementara dia bisa dan tetap bilang “itu biasa aja”, maka dia itu manusia biasa…
Kan yang paling mengetahui keadaan dirinya adalah orang itu sendiri. Kalau kita nggak percaya sama dia, sama siapa lagi dong?
Wah… jangan2 itu cowok yang pernah disukai ya? ^^’
*tindas teruuss…*
Jangan2 yang dimaksud Mbak Rizma adalah seorang cewek?
Hehehe…Sora-kun kan cowok, masak disamain dengan cewek…
BTW OOT ach…
Akhirnya aku tahu Sora-kun jurusan apa…
Sora-kun jurusan EP kan?
Tapi EP itu apa sich hehehe…
# Deking
Wah, memang ga sampai sebegitunya kok Mas, ini bisa-bisanya si Sora aja…
# Sora9n
Wah Sora… coba baca lagi koment saya yang pertama itu, sejak awal kan saya bilang itu sisi lainnya, yang terfikir abis baca entry ini dan gak ada korelasinya… gimana sih?
Sora nih yang missunderstanding dengan apa yang saya bilang…
Aaa…ya sudah, sana terusin mainnya…
# Rizma Adlia
yang teman Rizma itu suka ngeledek juga? oo… pantes deh mirip,
kena juga saya fikir gak papa kok Rizma, ^^
*langsung pulang*
liat!! saking semangatnya mo koment berantakan semua itu strong sama blockquotenya… :S
ah,, bukan kok,,
tenang aja Sora,,
eh iya pakde king,, cowo kok,, (kasian Sora ntar dibilangin kaya cewe,,)
Yiieeyy,, Ma udah ngerti!! lulus ya!!
@ jejakpena
Yaa, saya betulin deh.
:::::
@ Rizma Adlia
Dah, lulus. Pergi sana… jangan balik2 lagi ya
-ehBercandaLho-
itu kan kalo dipagari semesta “biasa”, spesifiknya dalam himpunan “manusia biasa”.
gimana kalau pagar itu dibuka ya? ^_^
@ kikie
Wah, sebetulnya saya mandangnya “manusia biasa” dalam satu contoh, jadi dia jadi elemen. Kalau sebagai individu (e.g. “seseorang”), maka dia jadi anggota himpunan “manusia biasa”.
Jadi “seseorang” elemen himpunan “manusia biasa”; himpunan “manusia biasa” subset himpunan “biasa”; dan “biasa” subset dari semesta kata sifat (e.g. buruk, hebat, keren, dll).
Btw, di gambar yang atas yang saya maksud itu manusia biasa elemen himpunan biasa, jadi yang di luar itu adalah yang “tidak biasa”. ^^
Jadi di semesta itu ada “tidak biasa” juga? Kalau gitu bisa aja ada manusia luar biasa masuk himpunan tsb, bersama2 manusia biasa.
Jadi “manusia biasa” bukan subset dari himpunan biasa lagi, tapi dia jadi subset dari semesta yang terdiri atas “biasa” dan “tidak biasa”…
-walah, kok jadi mbulet gini ya?
-
@deking
hm, EP yah? Elektro, Power alias Arus Kuat?
*nglantur*
*ngantuk*
*memory leakage*
wassalamu ‘alaikum.
Nice topic….
Sekarang kalo di tingkat SMA…saya bisa dibilang “ga biasa”
(Nonjok anak keamanan sampai bonyok gara2 mereka mau nendang anak kucing yang menggigil…)
@ Tendo-Soji
Lho, Tendou Souji bukannya memang manusia luar biasa?
Obaa-chan ga itteita…
*ngarang nih*
“Orang yang suka menindas pihak yang lemah adalah mereka yang lebih layak untuk ditindas di masa depan”
…
Btw, orang Bandung? Deket saya dong kalau begitu? (o_0)”\