Baru dapet pingback dari Bu Evy… tadinya saya mau nulis sesuatu yang lain, tapi kayaknya hal yang ini perlu diluruskan juga.
Jadi, ceritanya ada beberapa orang (atau pihak?) yang cenderung tidak setuju akan tindakan petisi akan pembubaran IPDN. Dalam post ini, saya akan berusaha menyampaikan alasan-alasan saya menyetujui petisi itu, sekaligus menjawab beberapa suara -agak- kontra yang umum ditanyakan.
Beberapa pertanyaan yang biasanya diajukan adalah sebagai berikut:
.
1. Positive Thinking dong, Kenapa ga diperbaiki?
Hmm, positive-thinking.
Kalau boleh jujur, saya sangat setuju pada tulisan mas fertobhades di sini. Coba Anda baca itu baik-baik. Sudah?
Nah, di post itu, beliau menjelaskan bahwa manusia punya kapasitas untuk berubah dan jangan terjebak generalisasi. Intinya sendiri ada di butir terakhir pembahasan, yang berupa pertanyaan layakkah IPDN dibubarkan?
Apakah salah satu cara memperbaiki IPDN adalah dengan “membunuh IPDN” itu sendiri ? Apakah tidak mungkin kita “mengamputasi” kaki yang “borok” dan tangan yang “infeksi” agar masih bisa menolong IPDN lebih lanjut ? Ataukah IPDN sudah seperti Kanker stadium akhir yang sudah menggerogoti hampir seluruh tubuhnya dan sudah tidak mungkin diselamatkan ?
Sekarang, coba kita pikirkan baik-baik. Pertama, semua manusia bisa berubah ke arah yang lebih baik. Kedua, generalisasi itu tidak baik. Dan ketiga, IPDN mungkin bisa diselamatkan tanpa perlu dibubarkan seluruhnya.
Semua manusia bisa berubah ke arah yang lebih baik; saya percaya itu. Tetapi, perubahan itu sendiri tidak terjadi tanpa syarat: ada kondisi-kondisi yang harus dipenuhi. Masyarakat bisa didorong untuk berubah jika:
-
(1) kondisi lingkungan sosial kondusif,
(2) terdapat fasilitas yang memadai untuk berubah,
(3) ada waktu yang cukup,
(4) proses dilakukan dengan benar dan konsisten.
Sekarang, tinjau butir (1). Untuk sebuah lingkungan yang telah mengadopsi kekerasan sistemik, sudah pasti perubahan untuk ke arah sebaliknya bakal mendapat tekanan. Anda bisa lihat bagaimana Pak Inu Kencana mendapat arus balik yang kuat dari kampusnya sendiri — padahal, beliau belum proaktif mengubah struktur, baru mengungkapkan berita saja. Apakah lingkungan semacam ini kondusif untuk mengubah mental praja + pengasuh menjauhi kekerasan?
Mungkin bisa, tapi butuh usaha maha berat dan keteguhan hati tingkat tinggi untuk bisa melewatinya. Apalagi bagi praja junior yang belum punya otoritas apa-apa.
Tinjau butir (2). Apakah terdapat fasilitas yang memadai untuk berubah? Tentu saja ada. Kita punya banyak orang yang bisa menjadi konsultan psikologi bagi semua civitas kampus tersebut. Atau agamawan bagi yang membutuhkan siraman rohani. Di butir (2) ini tak ada masalah.
Tinjau butir (3). Apakah ada waktu yang cukup? Sekarang saya tanya, “berapa lama waktu yang cukup?”. Empat tahun yang lalu Wahyu Hidayat meninggal, dan sekarang Cliff Muntu mengikuti jejaknya. Empat tahun tidak cukup — Anda mungkin berkata begitu. Berikan waktu lebih banyak…
Lihat butir (4). Proses perbaikan harus dilakukan dengan benar dan konsisten. Pertanyaannya, mampukah pemerintah konsisten dalam upaya tersebut? Oh, mereka gagal sejauh ini. Empat tahun perbaikan berujung perginya satu nyawa adalah bukti kegagalan. Dan, jika dalam empat tahun ada satu dua nyawa melayang, ada berapa lagi yang (mungkin) menyusul jika waktu diberikan lebih lama?
Anda mungkin berkata berikan sepuluh, dua puluh, atau lima puluh tahun. Tidak, mengingat bukti kegagalan selama empat tahun, masihkah kita meresikokan nyawa orang demi perbaikan? Masihkah kita BERANI MERESIKOKAN satu-dua Cliff lagi ke alam baka demi PERBAIKAN yang sejauh ini belum berhasil?
.
2. Siapa dong yang Jadi Camat?
Siapa? Ya, siapa?
Sekarang saya mau cerita sedikit.
Suatu waktu, dosen saya pergi ke rig di lepas pantai, dalam kapasitas beliau sebagai insinyur. Di lapangan, beliau berkenalan dengan seorang teknisi yang andal. Kerjanya bagus dan analisisnya tajam, kata beliau.
Tebak apa yang terjadi? Teknisi tersebut hanya lulusan STM. Ya, bukan D3, apalagi S1 — atau malah Doktor dan Master. Lulusan STM, yang biasanya dicap payah dan tukang tawuran ternyata punya kinerja yang mencengangkan di rig lepas pantai; daerah yang biasanya jadi tempat bercokol para insinyur.
Lalu, izinkan saya bertanya pada Anda: jika IPDN/STPDN adalah tempat menghasilkan camat berkualitas, tidak adakah tempat lain yang bisa menghasilkan camat?.
Sekolah ilmu pemerintahan tidak hanya satu, mas/mbak/bapak/ibu yang terhormat. Untuk apa ada D3 Ilmu pemerintahan di Universitas-Seberang-Sana kalau lulusannya dipandang rendah daripada IPDN? Dan tidak bisakah mereka yang terputus dari IPDN (jika jadi dibubarkan) disekolahkan di sana, dengan biaya negara, sampai mereka lulus?
Mengatakan calon camat harus dari IPDN sama saja dengan berkata bahwa insinyur hanya bisa diwisuda dari ITB. Itu argumen nggak mutu. Lagipula, apa sih yang dibutuhkan seorang camat pada umumnya?
Memangnya lulusan D3 sosial/ekonomi (atau S1) tidak bisa beradaptasi, seandainya dia ‘ketiban’ posisi dilantik sebagai camat? Wong Gubernur aja ada kok yang pendidikannya insinyur…
.
3. Bagaimana Nasib 4000 Praja yang Kini Belajar di Sana?
Kenapa tidak suruh mereka melanjutkan ke kampus lain yang punya jurusan/akademi ilmu pemerintahan, dengan biaya ditanggung oleh negara? Dan tetap pastikan bahwa mereka akan mendapat status PNS di akhir masa studi. Tentunya gaji mereka juga harus dikompensasi, seperti halnya waktu mereka kuliah di IPDN.
Bukankah mereka tetap bisa sekolah gratis, dapat gaji, dan tetap bekerja sebagai PNS seteah lulus?
.
4. Lalu, Apa Gunanya Sarana dan Prasarana yang Sudah Ada..?
Lihat lagi ke jawaban untuk pertanyaan (1). Jika IPDN tak dibubarkan, kekerasan sistemik akan tetap sulit diperbaiki. Makin terbuka resiko Cliff, Wahyu, dan Ery lain pergi menyusul ke alam baka karena siksaan senior.
Apa Anda rela, menukar nyawa manusia dan kebusukan sistem, HANYA DEMI HARGA TANAH, BANGUNAN, DAN FASILITAS KAMPUS???
.
5. Untuk Apa Kita menghancurkan Seluruhnya, Kalau bisa diselamatkan dengan memotong Sebagian yang Rusak?
Anda pernah lihat sebuah (maaf) daerah lokalisasi pelacuran? Sekarang, coba pikirkan, bagaimana caranya supaya seluruh daerah itu semuanya jadi agamis-religius dan tidak berbuat hal serupa itu lagi.
Kasus di atas adalah hal yang kompleks, di mana masalah moral bertalian dengan ekonomi, psikologi, tingkat pendidikan, kesadaran diri, fasilitas, faktor penarik dan pendorong untuk berubah… dan lain-lain lagi.
Sekarang, bandingkan dengan IPDN. Kekerasan sistemik dibiarkan saja oleh pengasuh. Praja senior menindas praja junior. Kematian ditutup-tutupi (Anda mungkin sudah tahu soal kuburan tak bernama di kampus mereka). Mayat Cliff disuntik formalin. Rektor tidak bersikap melindungi orang yang SEKADAR MEWARTAKAN apa yang sebenarnya terjadi di kampus itu.
Ada yang tak mau budaya kekerasan itu diketahui orang, apalagi dihilangkan — tentunya ini termasuk mereka yang hobi menindas junior.
Lalu, bagian mana yang ’sakit’, yang mau Anda potong? Praja? Pengajar? Staf? Rektor?
Semua elemen manusia di dalamnya?
Tentunya tak semua orang di dalam sana sejahat itu. Saya yakin masih ada yang berhati baik di sana — tetapi, DIAMNYA MEREKA ADALAH BUKTI BAHWA KEKUASAAN YANG LEBIH BESAR MENEKAN MEREKA. Mereka ada, tapi DITINDAS OLEH SISTEM!!
Lalu, yang sakit sistemnya. Apa yang mau Anda potong?
Sistemnya, tentu saja. Dan itu berarti perombakan total hampir seluruh manusia di kampus itu. Tentunya harus ada psikotes dulu untuk menentukan keadaan mental siapa yang masih “baik” — tetapi, diamnya mereka yang baik, katakanlah ada, adalah karena tekanan sistem yang buruk atas mereka.
Lalu, apa bedanya perombakan total dosen, pegawai, dan praja — dengan pembubaran secara langsung, yang diikuti dengan pendirian ulang kampus ini?
Sama saja dengan ‘membuang’ IPDN dan membangun kampus baru, kalau saya rasa.
.
Dan sebuah pertanyaan penting:
Ngapain sih ikut2an petisi, halaah wong IPDN ga bakal di bubarin aja…
Huh, lalu kenapa? IPDN mungkin nggak akan bubar; lalu kenapa saya menyibukkan diri dengan menandatangani dan mempromosikan petisi pembubaran IPDN itu?
Ya, kenapa?
Tentunya Anda sudah membaca semua penjelasan di atas. Dan saya juga percaya, bahwa Anda sudah memikirkannya dan menghayati isinya.
Apakah membunuh praja junior itu jahat?
Apakah mendesak orang yang mewartakan kebenaran itu jahat?
Apakah Anda percaya segala tindakan mereka yang dirangkum di sini itu amoral?
Maka, izinkanlah saya menyampaikan suatu kutipan berikut ini, yang saya dapatkan dari buku Kingdom Come terbitan DC Comics:
“Jika Anda tahu suatu kejahatan akan terjadi dan Anda membiarkannya begitu saja…
…maka, itu adalah sebentuk kejahatan juga.”
Maka, betapapun perjuangan ini mungkin berakhir dengan tiadanya pemenuhan isi petisi, atau tanpa perbaikan apapun di kampus itu, maka saya (dan kami pada umumnya) akan tetap benar — karena kami menolak untuk menundukkan kepala tanda diam, dan menolak untuk merestui sebuah kejahatan terstruktur terjadi di sekitar kami. Dan kami tak rela pajak kami disalahgunakan untuk membiayai kampus lahan pelatihan calon pembunuh.
Setidaknya, kami tak rela nyawa praja calon harapan bangsa melayang demi memuaskan amuk senior; kami tak rela melihat kebenaran dan nyawa manusia ditumbalkan demi idealisme salah-jalan; kami tak rela nyawa manusia dijustifikasi dengan statistik — bahwa 37 orang itu tidak sepadan dengan ribuan jumlah alumninya yang telah lulus.
Dan, andaikata memang tidak akan ada perbaikan yang terjadi di sana, saya bisa bersyukur — mengutip kata-kata Mas Anto di sini:
Dengan semakin banyak postingan kita menyebut pembubaran IPDN, maka simbah gugel akan serta merta mengendusnya. Dan dengan demikian semua yang kita suarakan akan membuka mata dunia.
Setidaknya, sesuatu tidak tersia-sia.
Opini yang sangat bagus, mas Sora9n
Tapi saya ingin menyorot yang ini :
Dalam konteks hukum positif di Indonesia (jadi nggak perlu dari komik ya…
) memang benar seperti itu.
Tapi manusia punya urutan prioritas dalam memandang sesuatu. Jika saya melihat suatu aksi perampokan di bis kota dan saya mendiamkannya, apakah itu suatu kejahatan ? Atau kasus yang serupa dengan itu.
Pada umumnya, seorang menilai apakah situasi itu “merupakan ancaman” bagi dirinya atau tidak. Keselamatan diri (juga harapan, cita-cita, dan masa depan) adalah hal yang terutama. Jika saya melawan perampokan itu dan saya mati, orang bisa menganggap saya Pahlawan, tetapi tidak melakukannya juga bukan berarti salah, karena bagi saya Keselamatan Diri adalah hal yang terpenting.
Jadi apa yang dilakukan oleh Praja IPDN dengan “membiarkan” kejahatan itu ada di depan mereka bisa saja punya 2 konteks :
1. Begitulah sistem dan “cuci otak” yang ditanamkan institusi IPDN
2. Mereka lebih memprioritaskan Keselamatan Diri (harapan, cita-cita, dan masa depan) dibandingkan segalanya. Dan IPDN adalah satu-satunya tempat bagi mereka agar masa depan mereka bisa tercapai.
Saya hanya mencoba menempatkan diri saya pada diri mereka (Praja IPDN) yang masih punya kepedulian tapi takut akan suramnya cita-cita mereka.
*sebenarnya masih ada yang lain, tapi ntar aja deh*
Salam Perbaikan….
@ fertobhades
Hmm, makanya saya bilang yang salah sistemnya. Untuk melakukan suatu hal, kita (manusia) pasti tergantung pada yang namanya ‘kehendak lingkungan sekitar’.
Tentunya itu bukan kejahatan, karena tujuan utamanya adalah melindungi diri sendiri dari bahaya yang cukup besar. Tapi, seperti yang saya tulis di atas: belum tentu semua civitas IPDN jahat dan amoral.
Kutipan dari jawaban saya untuk pertanyaan (5):
Makanya, untuk melepaskan mereka dari ketertindasan terstruktur macam itu, cara yang (menurut hemat saya) cukup efisien adalah perombakan sistem — yang pada hakikatnya sama saja dengan pembubaran langsung, hanya saja langsung diikuti pendirian kampus serupa yang benar-benar baru.
Betul… makanya jawaban atas pertanyaan (3) di atas saya sertakan agar sebisa mungkin menyertakan keuntungan yang mereka dapat dari kampus yang sekarang. Yaitu kuliah gratis, status calon PNS, dan mendapat gaji tetap.
(kok jadi ingat orasi mahasiswa di kampus, yah
)
yaah, penonton memang tidak akan bisa mencetak gol. tapi kalau tim-nya kalah, mereka tinggal mencela-cela pelatih dan pemainnya saja, gampang kok.
memilih untuk tidak bertindak itu lebih mudah. dan lebih aman, sebenarnya
Sora, tulisannya bagus banget..penjelasannya gamblaang dan sudah menjawab sebagian yang masih ada di kepalaku, thanks bangt yaa, ntar tak link lagi, eh aku baru tahu tuh mas fertob juga nulis kaki busuk, lha tak pikir temenku aja… berbeda itu biasa, ga ada masalah, semua boleh bersikap kok…
thank banget udah bantuin mikir yaaa
Salam Pembubaran.
Untuk yang belum menandatangani, silakan jawab pertanyaan ini.
Wah, IPDN itu ternyata rumit yah…
@ yud 1
Waduh… kalo semua orang berpikir begitu, gimana mau maju Indonesia
@ yud1
Woi, itu bukan omongan gw tuh. Ngapain lo quote?
Makanya, jangan jadi penonton. Aktiflah walaupun tataran tertinggi yang bisa dilakukan itu adalah kontribusi yang memberikan hasil terendah…
…mungkin nanti bakal ada yang bilang petisi itu sia2, dan nggak ada juga nggak papa. Hehehe, penonton tak bisa mencetak gol; tapi kalau ini berhasil mereka bakal bilang apa ya?
Sisanya bisa dibaca di jawaban buat pertanyaan terakhir.
Betul… dan butuh tanggung jawab lebih banyak, standar moral yang lebih tinggi, dan semangat lebih besar untuk melakukan yang sebaliknya.
:::::
@ Evy
Sama-sama, Bu.
Tanggung jawab saya juga kok, sebetulnya.
:::::
@ Kang Kombor
Hehehe, saya udah nandatangan, jadi nggak usah jawab lagi ya…
(lho, terus yang panjang lebar di atas itu apa ya?
)
:::::
@ p4ndu_454kura
Sayangnya kebanyakan orang lebih suka mengambil pilihan itu. Apalagi kalau ditekan oleh sistem yang kuat supaya tidak bertindak dan ‘harus’ diam.
Makanya kita harus mencegah sistem yang buruk macam itu terbentuk — supaya hal2 penting macam itu nggak terpinggirkan.
saya tadinya juga sempat berpikir, apa iya solusinya harus bubar? apa masak nggak ada solusi lain? dan apa apa yang lainnya.
tapi demi melihat praja-praji mereka sendiri bungkam di tivi ketika ditanyai ttg kekerasan di kampusnya sendiri, maka saya langsung bertekad bulat: bubarkan saja institusi pendidikan macam itu!
:: sora9n
memang bukan kutipan dari tulisan di atas, kok. memangnya fungsi blockquote cuma untuk meng-quote tulisan yang bersangkutan? coba diingat lagi deh fungsi sebenarnya dari blockquote
memang, tidak bertindak itu lebih mudah. dan lebih aman. makanya banyak orang yang memilih hal tersebut… tapi harus ada yang tidak seperti itu, kan?
tak ada solusi buat itu kecuali : Bubarkan !
@ joesatch
Yaah, kayaknya itu udah jadi ‘membebek buta’ secara terstruktur, sih… Mereka lebih memilih diam daripada ditindas.
Mungkin mereka percaya, akhi… bahwa sesungguhnya diam adalah hikmah™ .
*dikejar massa*
:::::
@ yud1
Iya, udah tau. Tapi kalo ngejawab postingan, blockquote yang nggak dinyatakan sumbernya itu terkesan rancu; seolah2 ngutip dari omongannya si blogger. Beberapa orang malah harus baca beberapa kata dulu, sebelum tahu bahwa itu omongan orang lain lagi.
Bikin aja kek introduksinya, e.g. “jadi inget sama omongan2 ini… [blockquote]. “, dsb.
Gitu…
:::::
@ telmark
Salam kenal,
Iya, kalau menurut saya memang itu solusi yang paling realistis untuk saat ini. Terlalu berbahaya meresikokan beberapa nyawa lagi — demi sebuah “perbaikan”, yang belum tentu prosesnya akan berlangsung dengan baik.
[...] mengapa bubar adalah suatu pilihan rasional telah kutulis, adik kecil yang pinter nulis dan nggambar ini menjelaskan dengan gamblangnya (luar biasa… percaya deh yang ga baca nyesel seumur [...]
Waktu memutuskan tanda tangan petisi itu, saya juga sudah meyakinkan diri, mau itu IPDN akhirnya tetap dibiarkan atau dibubarkan, gak akan pengaruh lagi buat saya. Mau ada arus kontra yang demikian kuat pun, saya tetap bersikeras, membubarkan IPDN harusnya dijadikan solusi.
Tak apa, yang penting kita sudah dan terus berusaha serta menunjukkan bahwa ini bukan sekedar aksi spontan, berlebihan atau apapun lainnya. Ada pertimbangan-pertimbangan, seperti yang Sora sudah sebutkan diantaranya. Tetap semangat,
saya juga mau bilang lagi, IPDN memang lebih baik dibubarkan, harusnya mereka yang tidak setuju mau mengerti…
[...] alasan logis mengenai alasan kenapa IPDN perlu dibubarkan. Diantaranya ada di blognya Amd, tulisan mantab sora-kun dan si akang yang sedang sial [...]
Nice
Saya dukung pembubaran IPDN!
@ jejakpena
okaerinasai…
Akhirnya muncul juga nih orang. Ke mana aja mbak?
(sst, baru tersapu badai masalah, kah?
)
:::::
@ anthonysteven
Makasih, Mas. Btw, salam kenal, ya.
bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar – bubar
wah, sory maa, baru pertama koment komentnya gak mutu, soalnya kalo saya baca kata ipdn saya kepengen teriak bubar terus…
Namun, besar kemungkinan IPDN tidak akan dibubarkan karena :
Para alumnus dan Pemerintahnya masih membutuhkan lebih banyak lagi ajudan yang hanya nurut pada majikannya. Yang bisa rela dan menerima pukulan demi solidaritas dan taat pada atasannya.
Kebutuhan ini semakin tahun semakin banyak. Dan kematian yang terjadi tidak lebih dan kurang adalah pengorbanan dari sebuah cita-cita luhur untuk mendapatkan pamong praja yang taat atasan, taat majikan.
Seperti biasa, mahasiswa takut dosen, dosen takut dekan, dekan takut rektor, rektor takut camat, camat takut ajudan bupati, ajudan bupati takut bupati, bupati takut gubernur, gubernur takut presiden….
presiden takut….
presiden takut….. takut… takut…
aduh kok ragu begini bilangnya….
@ ndarualqaz
Hehehe, nggak papa kok. Btw, salam kenal ya.
:::::
@ agorsiloku
Presiden takut mahasiswa??
Udah terkenal kok kalimat itu. Yaah, mengingat dua presiden NKRI terdahulu jatuh digoyang mahasiswa, dan sisanya ketar-ketir kalau ada demo oleh anak2 kampus.
Betul… mental feodalisme yang dibentuk dari kecintaaan pada almamater
.
IPDN mungkin tak akan bubar, tapi setidaknya apa yang kita suarakan ini akan membuka mata
duniambah gugel.[...] kenapa saya langsung teringat pada salah satu tulisan di blog saya, yang ditulis beberapa bulan yang lalu. Cuplikannya kira-kira seperti berikut [...]
insitut pembunuhan dalam negri
insitut pengesexan dalam negara
[...] saya tulis di OMG. Kecuali mungkin kalau ada kasus yang perlu saya tanggapi secara pribadi (e.g. kasus IPDN yang dulu itu), maka akan saya tulis di blog ini. [...]