Hehehe… baru aja selesai suatu kuliah di jurusan gw tadi jam tiga, dan gw jadi tertarik buat nulisin ini.
Ceritanya, mata kuliah ini (selanjutnya kita sebut mata kuliah X) rutin disampaikan oleh seorang dosen tamu, yang diundang atas prakarsanya Bapak Dosen A. Untuk saat ini, kita sebut bapak dosen tamu ini sebagai “Pak Dosen B”.
Nah, dua minggu lalu, Pak B ini ‘meledak’ marah di kelas kami yang tadinya damai yang sepi, karena banyaknya mahasiswa yang tidur. Entah kenapa, kalau kuliah ini berlangsung, waktu selalu berjalan lambat — jadi, Anda bisa merasa bahwa sudah satu-setengah jam berlalu ketika Anda (dengan sedih) melihat jam dan menyadari bahwa Pak B baru menjelaskan di depan kelas selama 40 menit. Inilah sebabnya, banyak mahasiswa yang tidak tahan dan jatuh tertiup angin seperti daun gugur tertidur selama kuliah yang ‘panjang’ ini.
Bapak dosen ini kemudian marah-marah:
“Bangun, angkat kepalamu!!”
Kata-kata mengelegar sontak mengisi ruang kelas, ditujukan pada semua orang yang terlena — mengakibatkan suasana langsung hening pol. Beliau kemudian melanjutkan (sambil berkeluh kesal) bahwa beliau berangkat menuju kampus dengan biaya sendiri, semata demi mengajar kuliah… dan seterusnya.
…dan, mendapati mahasiswa hanya tidur di kelas, beliau jadi kesal dan marah. Alhasil, timbullah ledakan kemarahan beliau tersebut.
Oke. Pelajaran pertama: jika Anda jadi dosen dan kuliah Anda bikin ngantuk, marahi mahasiswa Anda karena mereka tidak mendengarkan kuliah Anda. Jelas-jelas mereka yang salah kok?? Mungkin Anda beranggapan bahwa dosen harusnya bisa mengajar dengan baik dan menarik, tapi Anda bisa mengesampingkan ide itu untuk saat ini.
***
Minggu depannya, si Pak B ini nggak ngajar, dan digantikan oleh pemrakarsa kehadiran beliau di jurusan gw, yaitu Pak A.
Pak A berkata, dengan nada sopan dan halus:
“Kemarin Pak B kecewa karena respon kalian. Demikian juga saya, karena sayalah yang meghadirkan beliau di sini.“Untuk diketahui, sebenarnya beliau itu sudah top-level untuk ukuran seorang insinyur. Beliau sekarang aktif dengan jabatan… (gw lupa apa) … di kantor beliau di Jakarta. Ini kesempatan bagus untuk kalian: dosen tamu ini capek-capek datang dari Jakarta ke sini [Bandung] dan ternyata reaksi kalian malah begitu saja.”
Jadi, gw (dan sebagian rekan lain) berpikir bahwa si bapak pundung gara-gara sikap kami kemaren dulu. Mungkin saja mulai sekarang beliau nggak akan datang mengajar lagi, dan digantikan Pak A untuk seterusnya.
Setidaknya, itulah dugaan kami sampai saat itu. Ternyata? Salah tuh.
***
Hari ini, gw masuk kelas jam satu siang, dan menemukan bahwa si Bapak Dosen B kembali mengajar. Rupanya beliau masih menyempatkan diri datang ke kampus kami, sekalipun itu berarti menempuh perjalanan Jakarta-Bandung sekali lagi di akhir pekan.
Lalu, apa yang terjadi?
Kali ini, anak-anak tahu bahwa Pak Dosen tidak akan mentolerir mahasiswa yang tidur. Maka, para mahasiswa pun berusaha keras agar tetap terjaga di tengah badai kantuk sepanjang kuliah.
Bagaimana caranya supaya Anda tidak tertidur di tengah kuliah yang bikin ngantuk (dan membosankan)? Para mahasiswa memilih jalan gampang: ngobrol dengan rekan di kiri dan kanan mereka.
Gw bilang sama temen gw, “Kuliah ini berat lho. Dengerin, ngantuk. Tidur, dimarahin. Ngobrol, nggak enak sama dosennya…”
Dan, beberapa saat kemudian, terjadi peristiwa berikut ini.
Pak B sedang menjelaskan kuliah. Mendadak beliau berhenti. Dan berkata, dengan suara tegas:
“Harap tenang. Kalau kalian mau berbuat apapun, terserah. Silakan minta izin keluar; saya izinkan kok. Silakan!”
Gw bergumam, “terjadi lagi nih”.
Waktu itu, gw duduk di baris ketiga atau keempat dari depan. Gw bilang ke rekan sebelah gw: “Enak ya, jadi dosen. Kalau mahasiswa ngantuk atau ngobrol, tinggal dimarahin aja — padahal cara ngajarnya sendiri bikin ngantuk. Kalau ada mahasiswa yang ngelawan, tinggal ancam pakai nilai E… Bahagia banget gitu ya…”
Dan, ketika gw kembali menatap papan tulis, beliau sedang menatap ke arah gw.
Beliau berkata,
“Jangan mancing, ya.”
Gw yakin bahwa beliau tidak mendengar kata-kata yang gw ucapkan. Tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa gw sedang ditatap dengan pandangan menusuk oleh dosen yang berdiri di depan sana.
.
Bagus. Pelajaran kedua: Jika Anda seorang dosen yang tidak ingin mahasiswa mengobrol di kelas, marahi saja mereka (lagi). Dan, dalam kasus ada seorang mahasiswa spesial yang agak bandel, berikan saja ancaman tahap dua. Nggak banyak lho mahasiswa yang berani digituin sama dosen mereka.
***
Maka, jika ada pembaca yang (kebetulan) berprofesi sebagai dosen, maka Anda tak usah khawatir dengan betapa membosankannya cara Anda menyampaikan kuliah, atau betapa datarnya suara Anda saat menyampaikan hal yang Anda anggap penting. Mahasiswa cuma takut dibenci dosen kok, maka manfaatkanlah itu sebaik-baiknya — untuk menghasilkan satu kelas yang diam, tidak tidur, dan belum tentu memahami esensi dari apa yang Anda sampaikan.
Oh, marah itu senjata yang hebat lho. Anda tidak usah memperbaiki kelemahan cara mengajar Anda sehingga Anda bisa jadi dosen favorit mahasiswa seperti dosen Kalkulus saya dulu. Mahasiswa itu makhluk penakut kok — apalagi kalau berhadapan dengan dosen, yang jelas ilmunya lebih tinggi daripada mereka — tetapi belum tentu lebih humanis dan menyenangkan sebagai manusia biasa.
Hebat banget deh.
.
~~~~~
Ps:
Untuk para dosen yang membaca tulisan ini (kalau ada): tolong, bercerminlah dulu pada cara mengajar Anda sebelum marah-marah pada mahasiswa yang terkapar tidur dan ngobrol sana-sini. Kalau Anda bisa jadi dosen yang menarik perhatian siswa (seperti dosen Kalkulus yang sebelumnya, atau dosen Fisika Kuantum saya), mahasiswa juga akan mendengarkan Anda kok.
Dan ingat-ingat judul postingan ini ya, kalau Anda kebetulan seorang insinyur yang merangkap jadi dosen.
Saya mantan mahasiswa… dan masih pingin jadi mahasiswa lagi. Pengalaman saya sih karena dosen itu adalah gurunya maha-siswa, maka mau gak mau saya harus bisa tertarik.
Caranya coba selami seandainya kita jadi dia. Segera diskusikan (ungkapkan) begitu ada hal lain dalam kepala kita terkait materi perkuliahannya. Ini untuk membuat kita selalu terlibat di setiap topik yg dibahas meskipun gak menarik dan membosankan. Jadi kita sendiri yang harus membuat suasana tidak membosankan.
Ini pengalaman saya saat kuliah dengan cukup umur (di usia 31 tahun kemarin).
Maaf bukan menggurui lho. Ini pengalaman saya saat mengikuti perkuliahan yang dibawakan dosen yang membosankan, seperti sampean itu.
Sampai sekarang, untungnya belum menemui dosen yang seperti itu. Saya juga sering ‘terkapar’ di depan mereka, kok.
Dan belum ada yang marah. Biasa-biasa saja. Yah, semoga bukan kesumat yang bakal meledak, ya
kebanyakan memang gitu… nggak semua dosen itu bisa menyampaikan ilmu dengan baik.
Sy mah ga pernah bobo pas pelajaran, lah ndengerin aja gak ngerti gimana bobo T_T
Tapi yg saya tau, semakin pinter dosen itu, semakin susah pulalah dia menyampaikan ilmunya ke orang2 =p
Makanya, kriteria untuk jadi dosen selain pintar, juga harus bisa mengajar XD
Btw, biar ga ngantuk bawa kopi ke dalem kelas, boleh nggak? Ato makan kopiko
@ helgeduelbek
Sebetulnya, itulah yang dilakukan sama teman2 saya, setelah Pak Dosennya marah-marah. Sejak saat itu, respon siswa terhadap kuliah jadi meningkat jauh
.
Tapi, kalau udah terbentuk kesan bahwa “dosennya galak”, mahasiswa pun jadi terbawa malas untuk bertanya (terutama buat saya sih)
. Yah, memang bagaimanapun dosen itu memegang peran penting dalam “hidup” mahasiswa, jadi mau nggak mau kita nggak boleh membenci/kurang suka pada dosen juga.
Ah, nggak terkesan menggurui kok Pak…
:::::
@ Mr. Geddoe
…entah kenapa, hal itu nggak terasa aneh kalau saya ngeliat avatarnya Mas Geddoe.
Hayo, berani ngetes nggak? Fear Factor nih…
Dulu, pernah ada cerita dosennya dosen saya (yang lain lagi), yang kebetulan seorang ibu. Beliau ini nggak pernah marah, padahal mahasiswanya sibuk ngobrol dan main-main pesawat kertas dibelakang punggungnya dia…
…dan, suatu hari, dosen ini nangis di depan kelas, sambil menyatakan bahwa dia memang nggak bisa marah sama orang lain. Alhasil, sibuklah dosen saya dan rekan2 minta maaf ke ibu dosen tersebut, karena khawatir nilai mereka semua di-blacklist.
Bisa juga terjadi kayak gitu lho. (@_@)”\
:::::
@ peyek
Salam kenal,
Memang sih, kalau saya lihat cuma ada sekitar 1-2 orang dosen yang ngajarnya enak — dari 10 orang, maksudnya.
Tapi, kan lebih baik kalau begini: Seandainya dosen tersebut mengajarnya kurang enak, tak usahlah marah-marah sama mahasiswanya. Toh itu kan sebagian kesalahannya dia juga… (menurut saya pribadi sih, jadi mungkin aja salah
)
:::::
@ Apret
Kok lo ini kesamaannya banyak banget sih sama gw?
Nggak selalu lho. Ada tuh ilmuwan fisika di US (dulu), namanya Richard Feynman. Orangnya tukang lawak, suka usil, dan hobi main gendang — tapi dia jadi dosen, dan buku fisika tulisannya dia jadi acuan sampai sekarang
.
Bahkan dosen gw, (orangnya tegas sih, tapi baik) menyarankan bukunya dia buat tambahan textbook di MK tersebut.
Jadi guru (dosen juga guru kan?) memang tidaklah mudah…
Begitulah manusia…selalu tidak akan pernah puas menerima keadaan sendiri…
Dulu ketika saya jadi murid-siswa-mahasiswa saya juga berpikiran seperti itu…”Enak ya jadi guru/dosen…..”
Setelah saya jadi guru dan guru saya juga masih mengeluh “Ternyata jadi guru itu tidak mudah. Jadi guru itu harus ini itu…… Masih enak jadi murid-siswa-mahasiswa yang hanya cukup mendengarkan dan menerima yang guru berikan. Membuat soal juga tdk mudah karena juga harus memikirkan sebanyak mungkin alternatif jawaban yg benar, kalau murid-siswa-mahasiswa kan hanya mengerjakan soal…”
Eh sekarang ketika saya jadi mahasiswa (lagi) pikiran saya kembali berubah..”Wah enakan jadi dosen, hanya ngasih tugas terus…yg nyuruh buat paperlah apalah…”
Beginilah manusia…
[...] saya batalkan sampai pada akhirnya rencana lama tersebut saya realisasikan setelah membaca tulisan sora9n. Tulisan saya sekarang ini mungkin hanya memindahkan komentar yang saya tulisan di rumahnya Sora9n [...]
@ deKing
Lho, komentarnya dobel? Yang pertama saya hapus ya, soalnya (kelihatannya) itu yang salah ketik.
Maas, itu SATIRE, maaasss….!!
Entah kenapa, saya nggak merasa seperti itu lho. Waktu saya SMA, saya selalu berpikir bahwa lebih enak jadi anak kuliahan, dan perasaan itu nggak berubah tuh sampai sekarang. Saya malah nggak mau kalau disuruh sekali lagi jadi anak SMA
.
Demikian juga waktu SMP; saya merasa itu masa2 yang paling indah — dan sampai sekarang pun saya masih merasa demikian. Jadi, sebetulnya ada beberapa periode di mana saya merasa “puas” dengan keadaan saya.
Iya..yg pertama salah ketik

Tahu kok kalau itu satire….
Sudah ketularan joe ya, main satire hehehe…
Antara siswa SMA dan mahasiswa kan masih satu kubu
Yang saya kontra-kan kan antara kubu siswa/mahasiswa dengan kubu guru/dosen hehehehe
Bagus kalau begitu tetapi jangan sampai kepuasan mematikan keinginan untuk berkembang. Tidak ada salahnya suatu ketidakpuasan kok karena ketidakpuasan tdk berarti ketidaksyukuran, yang penting tetap ada kebersyukuran dalam ketidakpuasan itu
@ deKing
Kalo gitu saya harus ngambil pascasarjana pendidikan dong, supaya bisa “merasakan pengalaman” Mas deKing?
Hmm…
*bingung*
*mbulet*
Iya aja deh Mas
.
(eh, bercanda lho
. Ngerti kok maksudnya
)
sayang sekali di universitas gajah juga masi banyak dosen2 yang pandai menciptakan suasana kondusif untuk tertidur atau sekedar melanjutkan tidur yang terpotong gara2 kuliah jam 7…hehehe
@ antobilang
Udah dibetulin, jadi komennya saya apus juga yah.
“Universitas Gajah”? Yey, itu mah sebangsanya kampus saya…
“Universitas Ganesa MBandung”
Yah, biasalah, sesama kampus gajah. Dosennya juga nggak beda jauh toh??
sebenernya gampang kok biar mahasiswa itu nggak tertidur di kelas…
kasih kuis aja tiap pertemuan, dan sekali-kali beri pertanyaan mendadak ke mahasiswa… dijamin mahasiswa akan terjaga… so far, aku belum pernah menemukan mahasiswaku tepar ketiduran di kelas… karena ya salah satu dari cara tadi aku terapin hehehe… tentu saja ya, tidak dengan memberikan kuliah yang membosankan seperti bapak B yang kamu ceritain tadi…
ya… at least kasih guyonan garing dan jayus fine fine aja… asal ilmu yang disampaikan tetep full nggak habis terpotong oleh guyonan garing tadi…
@ YaYaN
Kok caranya mirip sama dosen saya ya? Beliau masih muda sih, sekitar umur 30-35an. Jangan-janagn seumur sama mas YaYaN lagi?
Apa cara mengajar itu bervariasi berdasarkan usia ya…
(NB: Pak B itu orangnya agak sepuh lho)
Nah, itu dia. Coba bayangin dosen yang galak, membosankan, strict dan nggak suka guyon, apalagi yang jayus. Mahasiswa pun jadi kayak kerakap tumbuh di batu: tidur segan, bangun pun tak mau.
Sekurangnya, kalau dosen ‘melawak’, itu bisa mencairkan suasana antara kedua pihak (yaitu mahasiswa dan dosen ybs). Paling nggak, mahasiswa bakal merasa bahwa suasana yang terbentuk lebih akrab — daripada kalau penjelasan dosen cuma dibungkus formal saja.
Bu Nuning.. penyelamat nilai kalkulusku…
@ Rifu
Ngomongnya dengan mata berkaca-kaca ya??
“Ibu, jasa ibu takkan saya lupakan…”
Wuakakakakak….
wah kalo wi si ga pernah tidur ato ngobrol di kelas,,
==soalnya ga pernah kuliah si wekekeke==
sebenernya kalo emang udah ga kuat, tidur aja lah. gw baru aja selesai kuliah biostatistik. dosennya “marah” karena ga ada yang tahu jawaban pertanyaan si ibu. dan gw tidur dengan sukses. setelah gw selesai tidur dan berhasil bangun, gw malah ngerti dan bisa ngerjain soal ke depan.
@dwi cintaku,,
BO’ONG!!!!!!!(kan bukan ga pernah,, jarang,,)
sebagai yang senasib sepenanggungan,, emang ngantuk, bosen,, Ma sih ngegambar ga tau apa (biasanya pola pola aneh) atau baca komik (ya ga wi,,
hehe,,), atau chatting pake kertas,,
selamat mencoba,,
Menurut saya,sebagai manusia biasa dan tentu saja dalam situasi tertentu,boleh kok dosen itu marah. Marah itu kan manusiawi banget,persis seperti halnya sedih,senang,kecewa,dan hal-hal manuasiwi lainnya.
Yang tidak boleh itu adalah marah-marah. Karena marah-marah artinya kan un control,ini tidak bagus buat mahasiswanya serta tentu saja buat si dosen itu sendiri.
Jadi,masalah kontrol emosi ini ternyata sangat penting. Jangankan buat dosen yang memiliki kemampuan meberikan kuliah yang pas-pasan. Bagi dosen yang teramat pandai sekalipun yang namnya kontrol emosi itu mesti dimilikinya,bukankah emotion quotient itu jauh lebih memiliki nilai ketimbang kepintaran itu sendiri.