Apa pentingnya sebuah tanggal?
Banyak orang mengatakan bahwa suatu tanggal mengandung kenangan tertentu dalam sebuah tahun. Mungkin itu juga sebabnya kita sering mengucapkan “selamat ulang tahun” pada orang-orang yang lahir pada tanggal “anu” sekian tahun yang lalu. Meskipun begitu, bukan ini yang hendak gw bahas dalam kesempatan kali ini.
Hari ini tanggal 14 Februari. Tapi, apa pentingnya?
Bukan berarti nggak ada yang penting kok. Misalnya, hari ini sekian ratus tahun lalu seorang padri dihukum penggal; sekian tahun lalu Barcelona bermain melawan Real Madrid di Camp Nou; atau Junius 7 hancur berkeping-keping dalam anime Gundam SEED. Banyak hal yang nggak penting; tapi toh banyak juga yang cukup penting.
Misalnya di Jepang sana, banyak orang yang mendadak belajar masak coklat di rumah. Atau di Indonesia sini majalah-majalah dan TV jadi seolah penuh dengan warna merah jambu. Yaah, sebetulnya sih banyak orang seolah-olah terkena “penyakit cinta” pada tanggal yang satu ini.
Banyak yang berbahagia; tapi ada juga yang marah-marah. “Itu bukan tradisi kita!”; “Kenapa kita mengekor budaya mereka?”; “Itu tidak islami!” dan lain sebagainya yang biasanya diakhiri dengan tanda seru dan sikap sinis. Oh, iya deh. Ada juga yang bilang “haram hukumnya” merayakan hari yang satu ini…
…tapi, sebegitu pentingnyakah 14 Februari?
Ada yang bilang ini hari merayakan kasih sayang. Ada juga yang menyatakan bahwa hari ini haram untuk diperingati. Yang mengharamkan biasanya kembali pada definisi berikut ini:
1. Itu budaya maksiat;
2. Itu hari raya kafir yang tidak boleh kita rayakan;
3. Itu budaya kebarat-baratan;
4. Itu budaya yang tidak ISLAMI![]()
***
Keempat pernyataan di atas sebetulnya tidak selalu akurat. Apakah hanya memberikan coklat pada seseorang tergolong dosa? Gw rasa nggak. Kalau dilanjutkan dengan perzinaan (atau bahkan sekadar mendekatinya), maka sudah jelas itu dosa. Tapi kalau tidak?
Apakah 14 Februari itu hari raya kafir (dalam hal ini, Kristen)? Bukan, karena tanggal tersebut hanyalah pemartiran dari seseorang yang sulit dijelaskan asal-usulnya (detailnya lihat sini). Coba tanya ke orang-orang yang agamanya dituduhkan memiliki “hari raya” Valentine; apakah mereka mengadakan misa atau kebaktian pada tanggal ini? Dan lagi, kepausan sendiri (sebenarnya) telah resmi meniadakan hari raya peringatan untuk Valentine, resmi sejak tahun 1969. Hal ini sendiri dilakukan karena sulitnya membuktikan validitas keberadaan beliau.
Mempersamakan St. Valentine dengan budaya kasih sayang ibarat mencari hubungan antara Santa Klaus/Sinterklas pembawa hadiah dengan peristiwa kelahiran Yesus Kristus; ibaratnya, “Jaka Sembung makan semangka”.[1]
Apakah itu budaya yang kebarat-baratan? Iya, memang. Pertanyaannya: apakah esensinya buruk? Mewujudkan kasih sayang dengan coklat sekali setahun pada orang yang dicintai itu buruk? Gw kok ragu-ragu ya. Nyatanya kita sendiri mengambil banyak hal bagus dari budaya dan teknologi barat: internet, handphone, metode sains, demokrasi, serta hak asasi manusia. Hal yang aneh jika kita sekarang menghina suatu budaya hanya karena berasal dari “barat”.
Apakah itu budaya yang tidak Islami? Coba jelaskan, seperti apa budaya Islami. Yang sedikit-sedikit mengharamkan karena bid’ah? Yang menyebut semua Yahudi laknatullah, sementara ada diantara mereka sendiri yang jelas-jelas menentang zionisme? Yang bisa ribut karena satu gereja baru berdiri, sementara lima buah mesjid mengumandangkan adzan subuh keras-keras di sekitar kediaman nonmuslim?
BUKAN!!
Budaya Islami adalah budaya yang toleran, yang mengedepankan akal dan bukannya emosi — sesuai dengan perintah Q.S. Al-Alaq ayat 1. Budaya Islami adalah budaya yang memandang persamaan derajat, sebagaimana Khalifah Umar RA bisa kalah dalam pengadilan melawan seorang Yahudi miskin. Islam mengajarkan untuk menghargai tetangga sejauh 40 rumah ke kiri-kanan-depan-belakang, dan bukannya mengganggu tidur tetangganya yang nonmuslim dengan volume adzan disetel maksimum. Sultan Al-Kamil, penerus Sultan Saladin dalam Perang Salib, bahkan pernah meminta muazin mengecilkan suara adzan ketika Raja Frederick sedang berkunjung ke negaranya. Semua itu menunjukkan seperti apa Islam yang “seharusnya”, yang bisa menjadi keberkahan bagi semua orang — bahkan bagi yang tidak memeluknya sekalipun.
Tapi, sekarang?
Tak usahlah kita bicarakan masalah 14 Februari ini dulu. Mulai dari hal yang kecil: haramkah mengucapkan “Selamat Natal”? Katanya, “Ya”. Mengapa? Karena dikhawatirkan “dapat merusak akidah”. Ada lagi alasan lain, yaitu “dengan mengucapkan ’selamat’, maka itu berarti kita mengakui hari raya mereka”.
Sekarang, coba pikir dengan tenang. Apakah ucapan “Selamat Natal” bisa merusak akidah? Apakah itu berarti kita, sebagai muslim, turut mengakui ketuhanan Yesus Kristus?
Nyatanya tidak. Kenapa? Karena, jika betul begitu, orang-orang yang bekerja di bidang kartu-ucapan dan karangan bunga harusnya jadi bangsa yang imannya paling payah. Lha, coba saja lihat berapa kartu ucapan dan rangkaian bunga (serta parcel) yang mereka buat demi menyatakan “Selamat Natal”, “Selamat Lebaran”, atau malah “Gong Xi Fa Cai”, yang (menurut para fundamentalis itu) sangat-tidak-islami — karena menampilkan naga dalam wujud barongsai.
***
Hari ini, genap dua minggu setelah bulan Februari 2007 dimulai. Apa istimewanya sebuah tanggal 14 Februari?
Gw jawab dengan jujur, menurut opini gw sendiri: tidak ada. Hari ini bukan hari raya satu umat beragama pun; pun hari ini bukanlah hari bermaksiat bagi kita di Indonesia ini. Bukan pula hari kasih sayang, karena kasih sayang itu (idealnya) diwujudkan dan dirayakan setiap hari.
Sejujurnya, adakah yang penting dengan tanggal? Sebuah ulang tahun yang terjadi, hanya ditandai tepat ketika matahari menyelesaikan satu putaran revolusi. Toh, yang benar-benar penting adalah opini dari mereka yang mengartikannya.
Apakah ini hari kasih sayang? Hmm, gw malah merasa bahwa 9 dari 10 orang Indonesia akan menjawab bahwa “kasih sayang itu harusnya dirayakan kapan saja, nggak perlu nunggu 14 Februari”. Apa ini hari maksiat? Tidak tuh, mengingat Indonesia nggak punya tradisi La Fete du Baiser yang dirayakan di Prancis sana. Memang ini kebudayaan Barat — tetapi, gw berani taruhan bahwa banyak orang memandang rendah tradisi 14 Februari ini karena asal-usul “barat”-nya. Gw membayangkan, seandainya budaya Valentine berasal dari Jepang — yang notabene lebih “timur” — dan diberi nama “minna ga aisuru no hi” (=’hari mencintai sesama’). Apakah reaksi masyarakat sebegitu negatifnya juga?
Entahlah.
Meskipun begitu, sebuah pertanyaan penting yang belum terjawab sampai akhir tulisan ini — apakah budaya ini Islami?
Gw nggak tahu persis apakah ada esensi dari perayaan ini yang bisa dikategorikan “Islami”. Meskipun begitu, dalam skenario paling ekstrim: jika semangat untuk berbagi kasih sayang (tidak hanya pacar, tapi juga orangtua, sahabat, dan tetangga) dianggap sebagai sesuatu yang “tidak Islami”, maka agama ini sedang menuju kesulitan besar.
.
Footnotes:
[1] Kisah cinta Valentine sebetulnya baru muncul pada abad ke-14; sekitar 1000 tahun setelah (dugaan) kematian sang santo pada tahun 260-270 M. Cerita ini sendiri dikisahkan dalam “Parlement of Foules” karya Geoffrey Chaucer, tahun 1382.
Uniknya, dalam kisah ini, hari Valentine justru dinyatakan pada tanggal 2 Mei; dan entah bagaimana terjadi salah kaprah sehingga muncul versi bahwa “Hari St. Valentine” jatuh pada 14 Februari. Lihat, misalnya, di sini.
ada fatwa MUI gak sih…
Ekstrim? Kiri atau kanan?
Ini perlu penjelasan…
sora9n… ini.. anu.. ehmm.. anu… tolong dong bagi-bagi kasihnyaa ke saya (*minimal coklat gitu*)
jadi kepikiran…
ketika gw mengatakan ’selamat natal’, apakah gw akan menjadi ‘tidak islam’?
ketika gw menerima coklat dari orang lain pada tanggal 14 Februari, apakah coklatnya menjadi haram?
nah. lalu pertanyaan besarnya:
apakah islam akan dengan mudah mengatakan ‘tidak’ kepada segala sesuatu yang ‘berbeda’ dan ‘bukan islam’?
…gw sih tidak setuju. tapi ini pendapat pribadi, sih.
~ehEh
~coklatItuMahalLhoo
~makanyaJanganNolakKalauDikasih
wah … kacau …
cobalah analisis dari sisi lain .. jangan cuma liat dari satu sisi
Emmm gimana yah… jadi mikir-mikir nih.
(…mikir dulu, tadi belum =P)
yah, kalau kita memperhatikan keadaan bahwa keberadaan St. Valentine tidak dapat dibuktikan keabsahannya (lihat di sumber), maka pernyataan bahwa valentine dan segala rangkaian acaranya adalah ajaran agama lain (Katolik, dalam kasus ini) menjadi tidak valid. kenapa? cukup jelas, sebab faktor keberadaan St. Valentine ini tidak dapat dipastikan, dan sebagai akibatnya penggunaan sebutan ‘St.’ tidak dapat dipertahankan.
oke, sekarang mari kita lihat ke tataran yang lebih dalam, yaitu substansi dari hari Valentine yang katanya tanggal 14 Februari. tidak ada yang salah dengan kasih sayang dalam islam, sejauh hal tersebut tidak mendekati zina. definisi mengenai ‘mendekati zina’ ini relatif tergantung pemahaman dari seorang muslim, tapi hal tersebut bisa kita abaikan di sini.
sekarang misalkan seperti ini. ketika seorang anak berulangtahun, maka seorang temannya (teman, lho. bisa cowok atau cewek) memberikan hadiah sebagai tanda perhatian. haramkah dalam islam? tidak, karena hibah dan hadiah (dan perkara memberikan barang yang lain) ditentukan dalam hukum islam. soal ‘hadiah’ ini kalau tidak salah juga ditentukan dengan cukup jelas dalam pelajaran agama islam di sekolah dulu =).
secara umum, saya tidak melihat perbedaan dalam soal valentine ini, terutama kalau soal memberi coklat (yang agak mahal, tapi enak itu). tentu saja, tambahkan kriteria tidak mendekati zina. kalau setelah itu diteruskan dengan perbuatan yang melanggar definisi ‘mendekati zina’ (sekali lagi, ini relatif tergantung muslim satu dan yang lain), maka jelas hukumnya menjadi haram. dengan demikian, alasan pengharaman (1) tidak valid. tidak bisa digeneralisasi secara umum bahwa ‘valentine = maksiat’. ada kok yang tidak demikian, walaupun sebaliknya juga ada.
demikian juga dengan definisi ‘merayakan’. lho, memangnya apa yang dirayakan? pihak yang katanya punya hari raya saja sudah mencabut ketetapan tersebut, kok. jadi untuk alasan (2) menjadi tidak valid.
untuk poin (3) dan (4), ada hal yang menarik mengenai penggunaan istilah ‘budaya kebarat-baratan’ dan ‘tidak islami’. tentu saja, tidak semua yang berasal dari ‘barat’ itu jelek: mereka memiliki etos kerja yang sangat baik (yang sayangnya masih belum dimiliki oleh banyak muslim indonesia), demikian juga mereka mengembangkan teknologi yang banyak manfaatnya – termasuk engine wordpress yang sedang dipakai di sini =). haruskah islam menjadi komunitas tertutup hanya karena tidak mau mengadopsi ide dari ‘barat’ yang mungkin membawa kemaslahatan? bahkan ide dasar dari blogging pun dari ‘barat’!
selain itu, kalau kita mendefinisikan ‘tidak islami’, tentu saja harus dengan parameter yang relevan. kalau sebatas tidak mendekati zina, jelas dasarnya tidak cukup kuat, mengingat poin (1) yang dijelaskan di atas. bagaimanapun, segala sesuatu tergantung niat.
dengan demikian, alasan pengharaman valentine menjadi tidak valid (kalau melihat definisi 4 hal di atas), meskipun hal tersebut dapat saja mengarah ke haram, walaupun hal sebaliknya juga sama mungkinnya untuk berlaku.
saya bukannya pro-valentine atau kontra-valentine di sini, hanya saja pernyataan berupa 4 hal di atas sebagai alasan pengharaman tidak dapat dikatakan valid. tentu saja, ini tergantung hati nurani masing-masing sebagai seorang muslim, tapi jelas hal ini tidak bisa diharamkan (dan lantas meneriaki dengan kata-kata ‘haram!’) hanya karena alasan-alasan tersebut.
mohon maaf sebelumnya kalau ada kata-kata yang salah =)
Analisis yang bagus, mas…
@ Luthfi :
Coba anda yang mulai analisis dari sudut pandang lain. Dan juga supaya tidak kacau.
Walah-walah…
Baru ditinggal sehari offline dah jadi numpuk gini? *senang juga sih*
OK, sebelumnya, makasih atas semua responnya yah…
:::::
@ passya
Fatwa MUI? Enggak tau… ada nggak ya?
Tapi beberapa orang nggak butuh juga sih. Kan bisa bikin sendiri…
:::::
@ mrtajib
Umm, maksud saya bukan ekstrim kiri atau kanan; tapi maksudnya pada kondisi yang paling ekstrim dari “pengharaman” macam ini. Misalnya, kan ada yang menilai haram cuma karena A, tapi bisa ditolerir karena mengandung faktor B…
Jadi maksud saya dengan “kondisi ekstrim” itu adalah penilaian yang terlalu jauh ke arah mengharamkan. Kira-kira begitu sih. (@_@)
@ Arif Kurniawan
Coklat? Lah… saya aja nggak dapet…
(tertawa getir)
Minta aja ke si Joe; dia kan ngganteng (katanya dia sih)…
:::::
@ Luthfi
Salam kenal,
Umm, saya akan coba menjelaskan analisis yang terlibat selama saya menulis post di atas.
Analisis saya dari sisi keislaman… perayaan 14 Februari berpotensi menjadi haram. Mengapa? Karena ada kemungkinan mendekati zina, merongrong tauhid, dan budaya itu tidak Islami. Jadi, untuk menghindari syubhat, acara ini bagusnya ditiadakan saja.
Tapi, benarkah demikian?
Analisis saya dari sisi logis… kemungkinan mendekati zina itu tidak selalu terekspos; karena aspek yang dominan di sini adalah kasih sayang platonik. Menyerang tauhid-kah menyatakan perasaan pada teman, orangtua, atau pacar dengan memberi coklat? Tidak… Apakah ini hari raya Kristen? Bukan… (sudah saya jelaskan di atas). Budaya ini tidak Islami? Hari Ibu 22 Desember juga tidak Islami; toh umat Muslim tidak ada yang mempermasalahkan itu sebagai “tidak Islami”…
Jadi, saya sudah menimbang dari kedua sisi, sebelum dan selama menulis post di atas. Lagipula, kalau diperhatikan, saya bukannya mengkritik seluruh umat Islam; melainkan mengkritik intoleransi dari para pemeluk agama ini… Bukankah saya juga menuliskan contoh toleransi yang bisa dan pernah dilakukan oleh Islam?
Peace yah.
:::::
@ yud1
Yang pertama (kalau menurut gw pribadi lho) tergantung niat; kalau cuma untuk mengungkapkan toleransi apa salahnya? Jangan2 sekarang ada orang Kristen yang lagi gondok, gara-gara setiap tahun dia ngucapin “Selamat Puasa” + “Selamat Lebaran” tapi dikacangin sama si muslim yang jadi tetangganya.
Kedua… nggak tau. Tergantung niat yang ngasih, mungkin. Kalau dia cuma sekadar memanfaatkan momentum buat ngasih hibah coklat, apa itu bisa ditimbang haram?
Buat pertanyaan besarnya: Bukan segala sesuatu yang berbeda sih; tapi “tidak”-nya itu untuk hal-hal yang bertentangan dengan rukun iman. Dan memang semua masalahnya dari situ: “Selamat Natal” dikhawatirkan merongrong Tauhid, kartun Nabi menyinggung “iman kepada Rasul”, dan lain sebagainya.
:::::
@ Helgeduelbek
Waduh, saya jadi tersanjung nih; Pak Guru mikir habis baca blog saya…
:::::
@ yud1
Weh… jawaban gw buat lo yang tadi udah panjang. Sekarang malah komen lebih panjang lagi…
Iya, iya… kan udah gw tulis di atas. Intinya sama kan?
Kalau empat hal itu bisa di-disprove, berarti validitas klaim di atasnya layak dipertanyakan…
:::::
@ fertobhades
Terima kasih… btw tulisannya Mas Fertob juga bagus2 kok.
wah kacau… blum bisa mbales
komen dulu deh.. ikutan nampang…
[...] lucu, papabonbon diberitahu oleh ketika membaca blog rekan dunia maya kita sora dan anto kalau pada tahun 1969, Hari Valentin sudah dihilangkan sebagai hari libur resmi dari [...]
hohohoho…
anda selalu menjelaskan dengan lebih terperinci
@ joesatch
Lah, ini dia… bang Aip minta coklat tuh; bagi-bagi sana.
Dan Joe selalu memberikan umpan yang bagus. Gampang melanjutkannya ke mulut gawang, kakakaka…
~eh, betul lho aku ‘terinspirasi’ bikin ini habis komen di blog mu
~
kita sebagai islam memang harus berhati2 pada acara2 dari barat yang mulai membudaya…
berikut links ygn dapat menambah informasi seputar hari “non-islami”:
http://orido.wordpress.com/2007/02/12/hotd-kasih-sayang-islam/
http://orido.wordpress.com/2006/02/10/hotd-valentine-day-dimata-muslim/
semoga berguna..
wassalam
@ orido
Komentarnya tadi nggak sengaja masuk ke akismet; kebetulan saya baru online lagi, jadi baru bisa saya cek & lepaskan sekarang.
Mohon maaf atas ketidaknyamanannya yah
. Btw, terimakasih atas masukan dan link-nya.
Nah, pandangan seperti ini yang dibutuhkan oleh dunia
@ Mr. Geddoe
Yuk, kita bikin dunia yang damai & toleran…
*agak klise gini?*
*but nothing’s cliche when it happens to you
*
Sejutu… Sejutu…
Assalamulaikum
hmm… masalah ini sangat berkaitan dengan pokok keislaman yang pertama. Yakni Syahadat. Apa hubungannya….?
begini syahadat adalah penafian (denial) dan pengakuan (confesion) bahwa tidak ada yang berhak di sembah kecuali Allah dan muhammad adalah hamba dan rasulNya. Jabaran kedua kalimat ini luas kalimat yang pertama menuntut kita membenci kesyirikan dan pelaku kesyirikan dikarenakan Allah tidak lah mengampuni kesyirikan. Dengan mengucapkan selamat kepada mereka adalah sama dengan kita merestui kesesatan mereka dan ini bisa membatalkan syahdat anda, sebuah konsekuensi serius. Ada pun yang mengatakan berdasar niat…itu tidak cukup…karena sebuah amalan dalam islam itu di terima dengan 2 hal: Niat yang Ikhlash karena Allah dan kedua adalah mengikuti contoh rasul. jika kedua syarat ini tidak terpenuhi maka jangan harap pahala yang di dapat malah dosa yang besar yang kita dapat ini sesuai dengan perkataan RasulullahShallalu Alaihi wa sallam di dalam muqadimah kitab shahih muslim dan dijadikan Al Imam Muslim sebagai sebuah bab:
باب تغليظ الكذب على رسول الله صلى الله عليه وسلم.
1 – (1) وحدثنا أبو بكر بن أبي شيبة. حدثنا غندر، عن شعبة. ح وحدثنا محمد بن المثنى وابن بشار. قالا: حدثنا محمد بن جعفر. حدثنا شعبة، عن منصور، عن ربعي بن حراش؛ أنه سمع عليا رضي الله عنه يخطب. قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “لا تكذبوا علي فإنه من يكذب علي يلج النار”.
2 -(2) وحدثني زهير بن حرب. حدثنا إسماعيل، يعني ابن علية، عن عبدالعزيز بن صهيب، عن أنس بن مالك؛ أنه قال: إنه ليمنعني أن أحدثكم حديثا كثيرا – أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “من تعمد علي كذبا فليتبوأ مقعده من النار”.
3 – (3) وحدثنا محمد بن عبيد الغبري. حدثنا أبو عوانة، عن أبي حصين، عن أبي صالح، عن أبي هريرة؛ قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم. “من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار”.
4 – (4) وحدثنا محمد بن عبدالله بن نمير. حدثنا أبي. حدثنا سعيد بن عبيد. حدثنا علي بن ربيعة؛ قال: أتيت المسجد. والمغيرة أمير الكوفة. قال فقال المغيرة: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “إن كذبا علي ليس ككذب على أحد. فمن كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار”.
وحدثني علي بن حجر السعدي. حدثنا علي بن مسهر. أخبرنا محمد بن قيس الأسدي، عن علي بن ربيعة الأسدي، عن المغيرة بن شعبة، عن النبي صلى الله عليه وسلم بمثله ولم يذكر “إن كذبا علي ليس ككذب على أحد”.
Bab Peringatan Terhadap Orang Yang Berdusta Atas Nama Rasulullah I:
1. Telah mengabarkan kepada kami Abi Bakr Ibni Abi Syaibah ia berkata telah berkata Ghundar dari Syu’bah. Khaa(Mengabarkan pada kami dari jalan lain) dan juga mengabarkan kepada kami Muhammad Ibn Al A’masy dan Ibn Basyar. Mereka berkata : Telah berkata kepada kami Muhamad Ibn Ja’far dari Syu’bah dari Mansur dari Rabi’i Ibn Kharasy sesungguhnya dia mendengar Ali d berkhotbah beliau berkata : “Rasulullah i bersabda : Jangan Kalian berdusta atas namaku maka siapapun yang berdusta atas namaku siapkanlah tempat duduknya di neraka.”
2. Dan telah berkata kepada kami Zuhair Ibn Kharb. Telah menceritakan kepadaku Ismail yakni Ibn A’liyah dari A’bdul Azis Ibn Shuhaib dari Anas Ibn Malik d “Sesungguh beliau (Rasulullah i) mencegahku untuk berbicara banyak tentang dirinya kepada kalian, sesungguhnya beliau bersabda: “Barangsiapa yang membuat kedustaan atas namaku maka siapkan tempat duduknya di neraka.”
3. Telah mengabarkan kepada kami Muhammad Ibn U’baid Al Ghabary . Ia berkata telah bercerita kepada kami Abu A’wanah dari Abi Husain dari Abi Shaleh dari Abi Hurairah d beliau berkata :” Bersabda Rasulullah i : Siapa yang berdusta atas namaku dengan kesengajaan maka siapkan tempat duduknya di neraka. “
4. Telah berkata kepada kami Abdullah Ibn Numair . Ia berkata berkata bapakku telah bercerita kepada kami Said Ibn U’baid . Ia berkata telah menceritakan kepada kami Ali Ibn Rabi’ah Al Asadi beliau berkata: “ Aku datang ke masjid sedangkan Al Mughirah d adalah gubernur Kufah beliau berkata : “ Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah i bersabda: Barangsiapa yang berbuat kedustaan atas namaku tidaklah sama dengan yang melakukan kedustaan atas nama orang lain. Maka siapapun yang berdusta atas namaku siapkan tempat duduknya di neraka.”
Dan juga telah menceritakan kepadaku Ali Ibn Hajar Asa’di. Telah bercerita kepadaku Ali Ibn Mashur. Bercerita bapakku ia berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad Ibn Qais Al Asadi dari Ali Ibn Rabi’ah Al Asadi dari Al Mughirah Ibn Syu’bah dari Rasulullah i tanpa adanya penyebutan “Berbuat kedustaan atas namaku tidaklah sama dengan yang melakukan kedustaan atas nama orang lain”.
dari hadist kita bisa tahu bahwa melakukan amalan yang kita anggap baik lalu menyandarkannya kepada rasul sedangkan rasul tidak pernah melakukannya adalah sebuah kedustaan kepada rasul.
Agama bukanlah akal…. jika agama itu akal maka kenapa jika kita kentut kita berwudhu, tidak lantas pantat yang kita basuh…? Islam adalah ketaatan mutlak kepada apa yang diturunkan Allah kepada rasulNya bukan atas perkiraan pribadi dan menurut pribadi namun menurut
Al Quraan & Sunnah atas pemahaman Rasul Dan Shahabat serta para pendahulu yang shalih juga para pengikut mereka hingga akhir jaman. Semoga bermanfaat.
tokoro de sensei ni yoroshiku
@ yani
Wa’alaikum salam wr. wb.
Salam kenal,
Kalau menurut hemat saya, mengucapkan selamat itu ada batas-batasnya. Dan ini, pada taraf tertentu, tidak otomatis sama dengan mengakui keyakinan mereka.
Sejujurnya, saya sudah membaca beberapa buku tentang teologi agama selain Islam — dengan demikian, saya punya sedikit gambaran tentang prinsip ajaran mereka. Dan sejauh ini, belum ada teologi yang mengena di hati saya selain agama Islam ini.
Ketika saya merasa tidak cocok dengan ajaran, katakanlah, Nasrani, maka saya tidak mengakui kebenarannya sebagai iman. Tapi di luar sana ada orang yang lebih cocok dengan nasrani daripada Islam, dan saya tidak bisa menyalahkan mereka. Karena memang dien yang kita pahami berbeda.
Lalu, saya percaya iman agama saya yang paling benar (tentu saja
). Apakah iman saya akan melemah semata karena mengucapkan selamat demi semangat saling menghormati dan toleransi? Sementara saya sendiri sudah mempelajari konsep ketuhanan mereka dan merasa tidak cocok dengan konsep ketuhanan mereka?
Saya sih tidak begitu yakin, bahwa ketidakcocokan fundamental itu bisa dikikis — hanya dengan sekadar semangat toleransi berwujud ucapan selamat.
Niat yang ikhlash karena Allah, saya setuju. Tetapi, mengikuti contoh rasul… bukankah Rasul mencontohkan untuk bersikap ramah pada sesama manusia? Memang ini tidak berlaku jika terkait masalah dien, tapi apa salahnya mengucapkan “selamat merayakan natal” agar umat nasrani merasa dihargai? Jika sekadar semangat saling menghargai saja tidak bisa diungkapkan, lalu bagaimana nasib agama ini nantinya?
Lalu, saya bisa bilang apa, jika tetangga Nasrani saya gondok — dan membenci saya, karena ucapan “selamat idul fitri” darinya seolah tak dianggap?
Apakah saya berdosa, karena sedang menjaga hubungan baik dengan tetangga sejauh 40 rumah dari saya, termasuk yang nonmuslim?
Padahal bukankah rasulullah memerintahkan untuk bersikap baik pada tetangga sejauh sekian jarak dari kita? Di atas tadi saya sudah menjabarkan semangat untuk toleransi, dan diiringi dengan pembelajaran diri akan agama sendiri dan agama lain. Jika ucapan selamat diberikan sekadar sebagai penghargaan, bukan pengakuan, apakah itu tetap menjadi dosa?
Mungkin Anda sudah tahu, bahwa pengumpulan hadis dimulai pada abad ke-2 atau 3 H, suatu masa yang cukup jauh dari kehidupan Rasul. Ini berarti, sekurangnya ada satu perawi di sanad hadis tsb. yang sudah meninggal — kecuali kalau mereka semua hidup hingga berumur 200 tahun lebih.
Selain itu, dari sanad yang melibatkan belasan perawi, bukan tidak mungkin terjadi pergeseran makna penyampaian. Anda mungkin pernah melakukan permainan pesan berantai, di mana satu orang menyampaikan pesan ke orang lain hingga sampai ke orang kelima. Lalu, orang kelima ini diminta menjelaskan berita yang sampai padanya. Pengalaman saya, sangat sering terjadi pergeseran makna yang cukup jauh — padahal itu baru lima orang, belum sampai belasan orang yang perjalanannya lintas generasi.
Sekarang, saya punya contoh hadis yang populer; Anda mungkin sudah pernah mendengarnya.
Meskipun begitu, dalam Al-Qur’an dikisahkan tentang pemimpin wanita yang sangat sukses, yaitu Ratu Bilqis dari negeri Saba’. Beliau digambarkan memiliki negeri yang makmur dan sentosa; hanya saja negeri tersebut belum menganut tauhid. Pun demikian, Allah kemudian mengirimkan hidayah-Nya, hingga beliau akhirnya masuk Islam setelah mendapat dakwah dari Nabi Sulaiman AS.
Kedua berita tersebut harusnya sama-sama benar. Rasul tak mungkin berdusta; sedangkan Al-Qur’an tak mungkin salah. Tetapi, kenapa isinya saling berlawanan?
Allah swt. telah menyatakan bahwa Al-Quran itu terjamin kebenarannya. Maka, kita bisa mengasumsikan bahwa ada yang salah dngan periwayatan hadis tersebut. Entah sanadnya yang kurang baik, atau matannya yang telah bergeser. Wallahu a’lam.
Rasul memang suri tauladan kita sebagai muslim, tetapi kita juga harus hati-hati dalam menyaring hadis. Saya telah mencatat beberapa hadis kontroversial di bawah ini, apakah Anda percaya bahwa Rasulullah bersikap demikian adanya?
Apakah Rasul melakukan tindakan2 macam itu?
Entah kenapa, saya lebih percaya Rasul jauh lebih mulia dan welas asih daripada ilustrasi di atas.
Lalu, bagaimana kita berijtihad? Bagaimana kita bisa memutuskan halal atau haramnya internet (untuk menulis blog dan komentar ini) jika kita tidak menggunakan akal? Bagaimana kita bisa merumuskan sistem perbankan syariah jika kita tidak memanfaatkan akal?
Soal kentut dan berwudhu, itu karena Rasulullah memang mencontohkan demikian adanya. Soal ibadah adalah hal yang tak bisa ditawar-tawar lagi dari sunnah. Tetapi, untuk hal yang sifatnya sosial dan muamalah, bisakah kita hidup dengan menafikan akal?
Jika agama bukan akal, kenapa Allah menyuruh kita iqra, membaca, yang dengannya kita beroleh ilmu dan memanfaatkan akal?
Betul, memang kita harus mengikuti pemahaman yang diberikan Allah swt. melalui Rasul-Nya. Meskipun begitu, belum tentu semua informasi yang sampai kepada kita tentang Rasul adalah benar adanya; oleh karena itu kita harus melakukan tabayyun (klarifkasi). Apakah dengan percaya secara mutlak, berarti kita membiarkan gambaran mulia Rasul terkotori oleh tindakan2 yang telah saya tuliskan diatas?
Sejujurnya, saya tidak rela Rasul yang welas asih digambarkan menyiksa orang sampai mati dengan kejam — seperti di hadis kutipan Bukhari di atas.
Yoroshiku… demo, watashi wa mada sensei dewa nai yo.
(mohon diluruskan kalau salah tangkap ^^ )
…
…
Ps:
Kutipan hadis diambil dari sini
Aaa… Kupipes… Kupipes…
*dilempar planet*
@ Geddoe
Halah… tapi bagi terjemahannya yah…
Artikel ente kepanjangan dan terlalu luas sih, jadinya ngambil bagian hadisnya aja deh. Tadinya mau saya link, sayangnya penjelasan artikelnya terlalu melebar. Coba lebih spesifik…. (o_0)”\
Hohoho! Makanya, jangan menantang penguasa langit…
*sambil nambahin kredit*
*ngeloyor pergi sambil senyum-senyum*
[...] Busuk Dan Semua Pemimpin Agama Yang Tidak Toleran Dan [...]
Memori semester 2,,
Dimarahin sama kakak tingkat gara gara Ma ngucapin selamat natal dan pake celana ke kampus,,
waktu Ma bilang Rasul aja mau ngehargai orang yahudi yang selalu ngeludahin dia, dia bilang “ada batasan berbuat baik sama non-muslim, itu kan rasul, bukan kita,,”
Ma jadi bingung,, kalo berbuat baik dan ngehargai itu ga usah ditiru dari rasul, knapa gulung celana dan jenggot perlu ditiru ya,,??
(Walah, jadi kemana mana,, maksudnya mo ngomongin tentang event itu aja sih,,)
Karena gulung celana dan jenggot lebih gampang…?
Ahem, itu masalah ‘jati diri’ dan ‘identitas’. Serius
Laqad kaanalakum fii Rasuulillaahi Uswatun hasanah
Lupakan dulu masalah halal-haram.
Yang jelas, Nabi tidak pernah mengucapkan selamat natal, valentine, ulang tahun, dll.
nah, kalo udah gini mau ikut Nabi atau ikut2an orang lain?
pisss all… maen2 ke web kita yak !
@maman_herry
nabi juga ga pernah blogging loh mas
@ maman_herry
Salam kenal,
Wah, susah kalau begitu… zaman nabi dulu juga nggak ada sistem bank syariah, kan?
Kalau berpatokan pada “nabi dulu begini, begitu”, itu memang aman. Tapi, kalau begitu terus, Islam akan cenderung seperti katak dalam tempurung lho. Salah-salah justru ijtihad kontemporer nggak dibutuhkan lagi.
:::::
@ Agiek
Iya, tuh. Nabi dulu juga nggak pakai uang kertas lho kalau berdagang.
hihihihi…
emangnya uang kertas, blogging, bank syari’ah atau playstation3 itu masalah ibadah/ritual?
ibadah dan muamalah beda tipis loh. awas terjerumus.
Nabi bersabda : “Famantasyabbahu bi qaumin fahuwa minhum” Ini jelas dalam konteks ibadah.
bandingin sama natal, valentine dan ulang tahun yang udah jadi ritual bahkan di-institusikan.
Kritis boleh. Tapi harus dilandasi ilmu.
Silakan kalo ada sanggahan lagi… kita diskusiin. Mungkin saya benar, tapi mungkin juga saya salah (walau dalam hati berdoa semoga saya yg benar
)
wAllahu a’lam bi shawwab
@maman_herry
kalo semua ritual jaman sekarang haram (baca:bid’ah) terus bagaimana dengan upacara bendera setiap senin, peringatan detik2 proklamasi. bukankah itu semua juga ritual yang sudah di institusikan?
bedakan dong mas ibadah yang sifatnya habluminallah dgn habluminanas.
btw:apakah mengucapkan selamat natal, selamat valentine, dan selamat ulang tahun menurut anda juga termasuk ritual?
@agiek
Yup. Upacara menghormati bendera dan peringatan detik2 proklamasi, menurut saya loh, well… bukan bid’ah sih, tapi agak2 ngga enak diliat aja. Mosok bendera dihormati ampe segitunya. Jadi ngebayangin abu jahal, atau abu lahab waktu nyembah taghut, latta dan uzza-nya mereka. (Sori ye buat yg hobi upacara)
wah… mana ada ibadah yang habluminannas. Kalo udah habluminannas itu namanya muamalah. Ibadah itu asal katanya “a’bada” yang artinya hamba/abdi. Jadi ibadah adalah cara-cara penghambaan diri kita terhadap sang Khaliq. Ngga mungkin la kita menghambakan diri kita ke manusia.
Nah, untuk masalah ibadah ini, Allah sudah melarang kita untuk menetapkan syari’at sendiri. Sila lihat Al-Hujuraat : 1.
Ok. Balik ke hablumminannaas. Kaidahnya adalah semua halal kecuali ada dalil yang melarangnya. Dengan sabda Nabi yang saya kutip diatas, kayaknya udah pas deh sebagai dasar bagi kita untuk ngga ngelakuin hal-hal yang dilakukan oleh ummat lain dalam ibadah mereka. Terlepas dari si valentin itu pendeta atau bukan, tetep hal itu dilakukan oleh ummat non-muslim sebagai ritual yang secara ngga langsung udah ter-institusi.
Demikian juga halnya dengan peringatan ulang tahun. Apa bedanya dengan umat yang merayakan hari kelahiran yesus?
Mengenai ucapan selamat?
Nah ini yg masih jadi polemik, karena sayapun masih belum punya pendirian. Boleh atau tidak mengucapkan selamat natal, valentine atau ulang tahun, karena ini masalah pemahaman dalil. Sementara ini saya masih hindari untuk melakukan yang seperti itu karena takut salah. na’udzubiLLah, kalo kita salah, ancemannya neraka !
Kira2 gitu deh… o iya, sebelumnya kita harus sepakat dulu nih. Dasar dalam beragama itu apa? Bagi saya : Quran – hadits shahih. Kalo beda pemahaman, ya silakan..
wAllahu a’lam bi shawwab..
@sora9n
Judul artikel ini sungguh menggelitik, seolah-olah anda tidak menunjukkan pembelaan anda terhadap Islam. Padahal – seperti yg anda tulis juga – Islam sangatlah toleran.
Toleran bukan berarti kita mengakui adanya tuhan-tuhan tandingan lain. Ini point-nya. Tidak ada toleransi dalam Islam dalam konteks pengakuan akan Allah yang Satu. Setiap penyembahan terhadap selainNya, maka itulah kesesatan yang nyata.
Apakah anda akan toleran terhadap kakak atau adik kandung anda jika mereka tidak mengakui orangua kandungnya – orang tua kandung anda-, dan lebih memilih orangtua lain yang lebih kaya atau lebih berkuasa, misalnya ? Apa yg akan anda lakukan jika mereka berbuat demikian?
Apakah jika orangtua yg mereka akui (karena lebih kaya) berulang tahun, maka anda akan memberikan ucapan selamat kepada mereka?
Semoga anda sudi mengubah judul ini, atau mungin tidak usah, jika anda sudah siap untuk mempertanggung-jawabkan judul serta isi artikel ini di Yaumil Akhir kelak.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita semua. Amiin.
wAllahul muwafiq..
@ maman_herry
Lha iya, saya juga tahu. Tapi kan mas ini tadinya cuma bilang “mau ikut nabi atau tidak?” Kan nggak dijelasin, apakah itu mencakup ibadah saja atau meliputi muamalah juga.
Sekarang buat masalah utamanya,
Euh, yang dibahas di sini kan yang terkait dengan memberikan ucapan selamat. Pertanyaannya, apakah ini melunturkan akidah atau tidak?
Kenyataannya, sejauh yang saya tahu, teologi Islam dan Kristen (pada umumnya) itu berbeda drastis. Saya sendiri sempat mempelajari teologi Kristen dan Yahudi secara mandiri — dan memang walaupun akarnya sama, ketiga gama ini punya konsep ketuhanan yang berbeda. Mungkin baiknya Anda baca referensi di internet soal ini, soalnya bakal panjang kalau harus dibahas satu per satu.
Nah, sekarang pertanyaannya: Apakah iman kita segitu mudahnya luntur, sehingga perbedaan konsep teologi pun hilang hanya karena ucapan “selamat merayakan” ?
Kalau iya, wah kasihan sekali iman kita kalau begitu.
(lebih lengkapnya bisa dibaca di komentar #21 untuk mas/mbak Yani)
Euh… padahal kan isinya post ini justru ngomongin hukumnya ucapan selamat itu… ^^;;
Yah, kalau memang begitu, baiknya kita rehat saja dulu. Soalnya isi post ini sendiri kebanyakan sifatnya opini pribadi saya; dan saya sendiri juga bisa dibilang miskin dalil. Lagipula post ini juga sifatnya sekadar mempertanyakan aja kok, bukannya menyatakan seperti apa baiknya.
Saya sih sepakat… cuma soal hadis, saya rasa kita harus lebih hati-hati memilahnya, walaupun shahih. Pendapat soal ini bisa dibaca di komentar saya yang di nomor #21 dan link-nya. Nyatanya ada beberapa hadis yang sanadnya dianggap baik, tapi matannya agak nyeleneh dan berlawanan — seperti yang soal pemimpin wanita itu.
Lain halnya dengan Al-Qur’an, yang isinya memang terjamin. Saya sih cenderung berhati-hati kalau sudah berurusan dengan hadis buat pengambilan dalil.
@ maman_herry
Euh, komentar satu lagi baru masuk, jadi saya jawab sekarang.
Lha, saya pun tak mengakui konsep ketuhanan agama lain kok. Silakan baca lagi penjelasan saya soal konsep teologi dan ucapan selamat itu.
Analoginya nggak cocok, Mas. Saya kan membicarakan konsep ucapan selamat dan perayaan, bukannya pengakuan pada Tuhan.
Kalau begitu, satu-satunya perubahan yang akan saya lakukan adalah menambah tanda tanya — hanya untuk menyatakan bahwa saya sedang bingung dan bertanya. Tidak lebih. Soalnya kenyataan umat yang ada sekarang seperti itu, sih.
Amin.
@sora9n
sori, saya ngga jago untuk urusan tampilan copy-an dibedain. Jadi langsung saya kutip aja ya :
sora9an said :
“Euh… padahal kan isinya post ini justru ngomongin hukumnya ucapan selamat itu…”
Betul. gara2 komentator laen (termasuk anda) banding-bandingin Nabi ngga ngucapin selamat natal dan merayakan valentine sama bank syari’ah, blog, uang kertas, dan PS3 (eh, kalo PS3 ngga ada ya?), saya jadi ikut2an nglantur. makanya jangan membuat analogi lain terkait institusi ritual agama lain dengan bank syari’ah, blog, uang kertas dan PS3 donk. Yah, begini ini jadinya,…rada2 ngawur.
sora9n said :
Nah, sekarang pertanyaannya: Apakah iman kita segitu mudahnya luntur, sehingga perbedaan konsep teologi pun hilang hanya karena ucapan “selamat merayakan” ?
Udah pernah nonton VCD ceramahnya Ustadzah Irene Handono belum? Beliau sendiri menyatakan bahwa mereka akan sangat senang bila kita mau mengucapkan “selamat” atas ibadah2 ritual mereka. Yang bilang itu : mantan biarawati senior loh !
Di Quran ada ayat yg bunyinya kira2 : “Yahudi dan Nashara tidak akan senang sampai kita mau mengikuti mereka”
Mengikuti disini bisa dalam bermacam-macam hal, salah satunya : memberikan ucapan selamat natal dan ikut2an merayakan hari valentine.
sora9n said :
“Analoginya nggak cocok, Mas. Saya kan membicarakan konsep ucapan selamat, bukannya pengakuan pada Tuhan”
saya rasa cocok deh. kalo anda ngucapin selamat ke kakak/adik anda itu atas ulang tahun orang yg mereka anggap sebagai oranguanya, bukankah berarti anda mengakui bahwa orangtua yang diaku oleh kakak/adik anda itu adalah orangtua kandung mereka? padahal bukan!
Ingat ! Nasrani TIDAK mengakui Tuhan kita sebagai tuhan mereka. mereka membuat tuhan tandingan yang mengangkat anak. Seperti kakak/adik anda yg membuat orangua tandingan. Bedanya dimana?
untuk komentar nomor 21, ada baiknya anda belajar lagi ilmu hadits (saya juga masi belajar niyy
). Untuk apa? SUpaya kita bisa mendudukkan matan-matan yang kelihatannya nyeleneh. Karena hadits2 itu kan ngga berdiri sendiri. Ada hadits2 lain yang sifatnya sebagai muttabi’ (pengikut) atau syahid (penguat). Hadits2 itu bisa memperjelas hadits yg terlihat nyeleneh. Kayak misalnya ayat Qur’an berikut :
“Fawailul li al mushalliin” (celakalah orang2 yg shalat)
Kalo kita cuma berpatokan pada ayat ini, maka sungguh aneh. Shalat koq celaka?
Kalo udah ngga bisa didudukkan lagi, baru deh, ngga terima hadits itu ngga pa-pa. Saya juga berprinsip seperti itu koq untuk hadits2 yg berlawanan dengan Quran. Tapi, apakah ilmu kita cukup untuk mengatakan sebuah hadits tertolak karena matannya nyeleneh? Sampai dimana kapasitas kita dalam membuat ijtihad itu?
Sudah berapa ayat dan hadits yg kita pernah baca hingga berani2nya kita mengatakan sebuah hadits nyeleneh..
Jadi inget ceramahnya Irene handono:
Irene handono (IH): “Ada yg inget hari natal?
Ibu2 pengajian (IP): “25 decemberrr”
IH : ada yg inget hari valentine?
IP : 14 Februaryyyyyy
IH : siapa yg apal nama2 bulan january-december?
IP : jan,feb,mar,apr,dst…
IH : ada yg inget 1 muharram kmarin tanggal berapa?
IP : tuing-tuing..
IH : ada yg apal nama2 bulan dalam kalender Islam?
IP : Tuing-tuing..
IH : Ada yg kenal Maria mercedes, casandra, beti lafea dll?
IP : kenal donk, sampe sarapan pagi dan daleman yg mereka pakai kita semua tau..
IH : ada yg tau siapa Fathimah az-Zahra?
IP : putri Rasul (titik!).
Ngapain kita bela2in budaya dan ritual orang lain, padahal kita belum nguasai agama dan ritual kita sendiri…
oh duniaaaaa…..
maap kalo kepanjangan.
@ maman_herry
Lha, iya. Saya juga seneng kok kalau dikasih ucapan selamat Lebaran. Bahkan saya rasa kyai senior pun bakal seneng kalo disampein ucapan “selamat lebaran”. Apalagi kalo dari non-muslim.
Itu tandanya agama kita mendapat penghargaan. Dan saya pribadi percaya bahwa “respect grows out of will to respect others”. Kalau kita cuma mau menerima respek dari orang lain, tapi nggak mau bersikap baik. Mau dibawa ke mana umat Islam?
Saya rasa orang-orang muslim pun tak akan senang sampai Yahudi dan Nashoro mengikuti mereka. Lalu apa bedanya kalau begitu? Semuanya merasa ajarannya yang paling benar, lho.
Begini, bukan berarti saya menganggap ajaran mereka benar. Saya selalu percaya bahwa akidah Islam lah yang lurus (karena itu agama saya). Daripada kita saling meninggi-ninggikan agama sendiri dan agama lain, apa susahnya sih menanamkan sikap saling menghargai?
BTW, tanggapan Anda nggak menjawab pertanyaan saya yang soal teologi. Kalau saya nggak percaya Trinitas (dan saya punya banyak alasan untuk itu), dan terus akidah saya jadi luntur hanya karena mengungkapkan “selamat merayakan Natal”, itu artinya saya orang bodoh. Kenapa? Karena semua pelajaran saya, dari berbagai buku dan sumber, langsung tumpas hanya gara-gara sepotong kalimat.
Ibaratnya pendeta Kristen mempelajari Alkitab dan Taurat, lantas ilmu mereka langsung hilang hanya gara-gara mengucapkan “selamat Idul Fitri” pada kaum muslim. Itu nggak realistis.
Oh, begitu maksudnya… (maaf, baru nyambung sekarang)
Lha, nggak juga dong. Kalau adik saya sudah dewasa, dan mengambil keputusannya sendiri, maka saya harus menerimanya. Pengambilan keputusan itu kan tanggung jawab orang yang harus dihargai. Apa saya harus memaksakan kehendak pada orang yang bisa berpikir dan mengambil keputusannya sendiri?
Kalau sudah begitu, saya memang tak mengakui si orangtua baru tersebut. Tapi saya harus menghargai jalan yang diambil oleh adik saya. Mungkin saya akan mengucapkan “selamat atas ulangtahunnya” — tapi, dalam hati saya, saya tak akan pernah mengakui bahwa si ‘orang tua baru’ itu adalah orangtua kandung saya.
Ada perbedaan besar antara “menghargai pilihan” dan “mengakui pilihan”. Dan saya, pada dasarnya, berusaha untuk menghargai pilihan orang lain di sekitar saya — bukannya mengakuinya.
Sejujurnya sih, saya memang tak punya ilmu hadits yang mendalam. Toh saya cuma mengandalkan hati nurani. Meskipun begitu, saya tidak lantas menganggap hadits itu lemah/tak layak diikuti. Saya hanya akan menempatkannya di prioritas yang lebih bawah untuk dipercaya.
Beda kalau Anda lebih suka percaya langsung — bahwa Rasulullah menyiksa orang sampai mati dengan cara sekejam yang digambarkan itu — daripada menimbang bahwa hadis ini mungkin kurang baik keterpercayaannya. Kalau saya sih lebih memilih menunda kepercayaan saya dulu pada hadits macam itu.
Saya nggak pernah membela budaya dan ritual agama lain, kok. Saya kan cuma berusaha menghargai mereka dan kepercayaan mereka.
Seperti yang saya tulis sebelumnya, ada perbedaan antara “menghargai” dan “mengakui”, apalagi sampai “membela”. Yang penting saat ini adalah bagaimana agar kita bisa hidup berdampingan dan saling menghargai — bukannya adu membenarkan agama sendiri dan malah menjatuhkan yang lain.
Mudah-mudahan jelas yah.
Nggak papa, komentar saya juga panjang-panjang kok.
Omaigat, ini quote menohok banget nih.
@ged
ged.. sepertinya ada domba tersesat baru tuh..
mohon ditunjukkan jalan yang lurus™
@sora
nice argumen bro. MANTAFF!!
sora9n said :
“tapi, dalam hati saya, saya tak akan pernah mengakui bahwa si ‘orang tua baru’ itu adalah orangtua kandung saya.”
Rupanya blom nyambung juga nih ceritanya. Duh, cape degh.. dia itu emang bukan orangtua kandung anda… ngga nyangka jagoan BLOG ternyata rada2 telat, eh, maaf…, wekekek… intinya adik anda itu menyakiti hati kedua orangua anda, gitu. Kalo ngga ngarti juga, ngga usah dijawab juga ngga papa koq..
sora9n said :
“Sejujurnya sih, saya memang tak punya ilmu hadits yang mendalam. Toh saya cuma mengandalkan hati nurani”
Manusia berakhlak adalah manusia yang menjadikan Qur’an dan Sunnah shahih sebagai pedoman hidupnya, bukan hati nurani. Akhlaq dari kata Khaliq.
Sora9n said:
“Yang penting saat ini adalah bagaimana agar kita bisa hidup berdampingan dan saling menghargai — bukannya adu membenarkan agama sendiri dan malah menjatuhkan yang lain”.
Masa cuman gara2 ngga mau ngucapin “selamat ini” atau “itu” bisa menjatuhkan agama lain? Hidup berdampingan dan saling menghargai dalam keseharian. Saling tolong menolong bila salah satu mendapat kesusahan. Memang itulah yang seharusnya terjadi. Tapi dalam hal-hal yang menyangkut ibadah, cukuplah masing-masing berjalan menurut apa yang diyakininya.
sora9n said :
“Mudah-mudahan jelas yah”
setidaknya kita sepakat untuk tidak sepakat.
@ maman_herry
Lah, kok gak nyambung?
Kan ceritanya:
Adik saya memilih orangtua lain, meninggalkan orangtua asli (which is, orangtua kandung saya). Dia sudah memutuskan demikian. Tentunya orangtua saya sakit hati, kan.
Tapi kalau keputusannya itu sudah bulat, biarpun udah saya marah2in dan saya jelasin panjang lebar, saya bisa bilang apa? Apa harus saya paksa sampai berantem segala macem?
Berarti adik saya punya orangtua baru. Meninggalkan orangtua kandung saya. Clear. Saya harus menghargai pilihanya. Orangtua saya sedih karenanya, dan saya berkeras nggak mengakui orangtua baru pilihan adik saya itu.
Lalu, pertanyaannya, apakah jika saya bilang “selamat ya, orangtuamu ultah” itu, otomatis saya menganggap orangtua pilihan adik itu orangtua kandung saya?
Ya enggak dong ah… masalahnya kan beda. Masa gitu aja nggak ngerti, sih.
Wah, main ad hominem nih ceritanya? Nggak usah menjelekkan orangnya Mas, kita kan mendiskusikan argumennya. Kalo gak ngerti ya dijelasin pelan-pelan toh ke sayanya.
Menjelek-jelekkan lawan bicara cuma menunjukkan kelemahan diri Anda lho.
Maaf, tulisan saya agak rancu. Yang saya maksud, saya menggunakan hati nurani sebagai alat bantu dalam memahami hadits. Kalau saya mendengar hadits yang agak2 mencurigakan dan ‘kejam’ seperti yang disebut, tentunya wajar kalau saya sedikit ‘mengerem’ diri dari mempercayainya mentah-mentah.
Kalo begitu, saya tanya: masa gara-gara ngucapin “selamat ini” atau “itu” bisa menjatuhkan agama kita?
Mas belum menjawab soal teologi itu lho. Masa sih bilang “selamat natal” aja bisa bikin saya mendadak percaya sama Trinitas?
BTW, saling tolong menolong kalau kesusahan; memang bagus kalau bisa. Tapi, saya mau tanya lagi. Berapa banyak sih aktivis dakwah yang ‘hobi’ menuding “awas, itu Kristenisasi!” ketika orang Kristen melakukan bakti sosial di daerah bencana?
Hayoo, hayoo….
Yah, setidaknya kita masih bisa sepakat untuk yang satu itu.
[...] Sebetulnya saya sudah capek membahas masalah yang satu ini, yang juga pernah saya bahas di prekuelnya post yang sedang Anda baca ini. Tapi, baiklah. For the sake of few things, saya akan menyempatkan diri [...]
sora9n said :
“Lalu, pertanyaannya, apakah jika saya bilang “selamat ya, orangtuamu ultah” itu, otomatis saya menganggap orangtua pilihan adik itu orangtua kandung saya?”
maman said :
tuh kan masih salah… harusnya statement-nya seperti ini :
“Lalu, pertanyaannya, apakah jika saya bilang “selamat ya, orangtuamu ultah” itu, otomatis saya menganggap orangtua pilihan adik itu orangtua kandung mereka?”
and the answer is : definately yes ! suka atau tidak, langsung atau tidak, anda telah mengakui klaim adik anda tentang orangtua kandung mereka.
sora9n said :
“Ya enggak dong ah… masalahnya kan beda. Masa gitu aja nggak ngerti, sih”.
maman said :
likewise my brother…likewise…
sora9n said :
“Wah, main ad hominem nih ceritanya? Nggak usah menjelekkan orangnya Mas, kita kan mendiskusikan argumennya. Kalo gak ngerti ya dijelasin pelan-pelan toh ke sayanya”
maman said :
baru denger istilah ad_hominem. lumayan juga buat perbendaharaan. Yah… saya memang khilaf dan saya minta maaf. Mudah2an anda sudi menerima permohonan maaf saya. Saya juga malu mbacanya, koq bisa2nya saya nulis kayak gitu ya…
sora9n said :
“Menjelek-jelekkan lawan bicara cuma menunjukkan kelemahan diri Anda lho.”
maman said :
setujuhhhhhh !!!
sora9n said :
“Kalo begitu, saya tanya: masa gara-gara ngucapin “selamat ini” atau “itu” bisa menjatuhkan agama kita?”
maman said :
Bisa. Perlu alasannya?
sora9n said :
Mas belum menjawab soal teologi itu lho. Masa sih bilang “selamat natal” aja bisa bikin saya mendadak percaya sama Trinitas?”
maman said :
sila pelajari lagi analogi anda-adik-ortu diatas..
di artikel anda yg ke-2, anda mengatakan patah arang dengan umat ini…
jangan dong. Kita jangan berputus asa dari apa yang kita yakini. Mudah2an saya juga jangan sampe putus asa untuk mengingatkan anda, demikian juga sebaliknya.
wokeh beybeh?
maaf, mau sharing ilmu sedikit nih.. baru baca. (Minta maaf mulu,
)
sora9n said :
Mungkin Anda sudah tahu, bahwa pengumpulan hadis dimulai pada abad ke-2 atau 3 H, suatu masa yang cukup jauh dari kehidupan Rasul. Ini berarti, sekurangnya ada satu perawi di sanad hadis tsb. yang sudah meninggal — kecuali kalau mereka semua hidup hingga berumur 200 tahun lebih.
maman said :
Imam Malik rahimahullah lahir di Madinah tahun 95H, Didalam kitabnya yg terkenal Al-Muwatha’ banyak hadits yang diriwayatkan langsung oleh Nafi’, budak dari Ibn Umar (Abdullah bin Umar bin Khaththab) tanpa sanad. wAllahu a’lam..
Hari gini masih mempermasalahkan Ucapan Natal… MUI tidak melaranga bro
SELAMAT NATAL DAN TAHUN BARU.. bagi umat Kristiani
Mengucapkan natal kepada saudara yang berbeda agama tidak apa-apa kok. semua sudah tahu, MUI juga
tidak mengharamkan.
Yang mengharamkan itu ulama Mesir seperti di situs2 manhaj-manhaj tapi mengkalim pendapat ulam muslim sedunia… padahal namanya ulama itu beda2 penafsiran.. sialah ulama mana yang mau diikuti.. di Mesir apa di Indonesia.. hayo..
kalau saya sih KTPnya di sini..pikiran dan pekerjaan di sini.. ada sih yang KTPnya di Indonesia tapi isi kepalanya di negara Arab…
Kalau Allah dan RasulNya sudah berkata tidak untuk sesuatu, maka haram bagi kita untuk mengikuti sesuatu itu. Jangankan mengikuti, mendekatinya pun tidak boleh. Kalau memberi ucapan selamat? Itu sama aja tidak boleh. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Karena berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh.”
sebetulnya masalah ngasih “selamat” itu emang masalah penting. dulu saya juga sempet berfikir “kenapa sih ga boleh ngasih selamat ke orang2 nasrani?”. padahal teman saya banyak juga orang nasrani.
tapi ternyata, memang benar artikel yang saya kutip diatas. pada intinya, kalo kita ngasih ucapan selamat kepada mereka.. berarti mengakui adanya hari raya tersebut. misalnya ngasih selamat natal, brarti kita mengakui adanya hari natal yang udah jelas GA ADA!!!
ini sih sebenarnya udah ga bisa dibantah loh..
Wah, seru juga nih ya debatnya…
Hmm…. kalo saya sih jelas ga ngasih ucapan selamat sama sekali, dan ga pernah.
Oke lah kalo sora9n tetap meyakini bahwa mengucapkan selamat ini-itu ga haram, yang pasti udah ada banyak bacaan, referensi, bahkan ceramah2 di masjid pas jumatan dan TV yang melarangnya, seperti yang dibilang oleh i’m muslim #47. Saya aja di Bandung udah sering denger ceramah macam ini pas shalat Jumat. Masa’ sora9n belom pernah sama sekali mendengarnya?
Apa mungkin sudah pernah tapi tetap tidak bisa menerima?
asopusitemus:::
masalahnya, dalil yang membolehkan juga banyak, mas
@ komentar #47, #48, #49
Mohon maaf, saya nggak tertarik menanggapi. Seperti yang sudah saya tulis di bagian akhir post terbaru saya, saya nggak akan me-reply satupun komentar yang masuk semasa rehat saya kemarin.
Sekian, terima kasih.
menyedihkan yaa kalau melihat pernyataan yang seperti itu, seperti mengharam-kan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu/pantas diharamkan dan terkadang dengan suka atau tidak suka, langsung atau tidak langsung memakainya untuk mengharam-kan hal yang menurut pendahulu adalah sebuah hal yang haram.
jikalau kita selalu berpandangan seperti itu, maka kita hidup didunia hanya sebatas melakukan hal yang sudah dilakukan oleh para pendahulu kita yang mungkin saja adalah sesuatu yang salah.
apakah saudara² yang meng-claim ‘haram’ tersebut sepenuhnya tidak pernah melakukan ke’haram’an tersebut, suka tidak suka, langsung tidak langsung??
janganlah menjadi manusia munafik hanya dengan melampirkan konteks yang telah terjadi sebagai sejarah, namun kita sendiri terkadang luput akan hal itu.
ulasan yg rinci ya, tp ini sbatas pendapat kan ? he3x