Beberapa hari yang lalu, seorang rekan gw mengeluh tentang orang-orang yang sok-pamer. Gw sendiri nggak begitu paham masalahnya apa, mengingat dia juga nggak begitu detail mengungkapkan hal tersebut. Meskipun begitu, sejauh yang gw tangkap, dia merasa jengkel karena adanya orang-orang yang cenderung “sok-hebat” dan “pamer”, terutama di berbagai forum internet yang dia kunjungi.
Dia sendiri menyebut istilah “sok hebat” ini sebagai show-off (=’pamer’). Sok hebat tentang apa, gw nggak tau (dan gw memang nggak berharap untuk diberitahu juga sih
). Meskipun begitu, ada hal yang menarik perhatian gw.
Apa yang menyebabkan orang bersikap pamer?
Berdasarkan salah satu buku yang pernah gw baca[1], konon katanya manusia itu “punya kebutuhan untuk merasa penting”. Sekurangnya, demikianlah yang diungkap oleh si penulisnya.
Kebutuhan untuk merasa penting. Hmm. Menarik nih.
Manusia, siapapun orangnya, nggak ada yang merasa senang jika dianggap “tidak penting” oleh orang lain. Misalnya, siapa sih yang seneng kalau kehadirannya dianggap angin lalu? Gw yakin banget nggak ada. Oleh karena itu, orang kemudian berusaha mencari cara supaya bisa dianggap “lebih”. Kasarnya, bagaimana caranya supaya dia bisa jadi “lebih penting” daripada kebanyakan orang pada umumnya.
Nah, kebutuhan untuk jadi “lebih penting” ini kemudian diwujudkan dengan berbagai cara. Ada yang mengikuti trend supaya lebih dihargai oleh rekan-rekan di sekitarnya. Ada juga yang berusaha mengejar pangkat dan jabatan, supaya terlihat “wah” di mata orang lain. Ada pula yang bekerja keras demi meraih kekayaan, karena dikiranya kekayaan itu bisa membuatnya lebih dihargai oleh masyarakat. Inilah potret khas orang-orang yang haus kepercayaan diri dan kepercayaan orang lain: mereka berusaha keras untuk mendapatkan perasaan “saya ini berharga” dari lingkungan sekitarnya.
Meskipun begitu, ada cara lain yang juga efektif, demi usaha dianggap “penting” oleh orang lain: menonjolkan kelebihan diri sendiri. Entah itu di bidang ekonomi, akademik, jabatan, ataupun lain sebagainya. Misalnya, nilai UTS gw dapet 100; maka ini adalah kesempatan bagi gw untuk “pamer”. Ini lho, gw bisa dapet 100… dan dengan demikian, gw berharap bahwa orang-orang akan sedikit kagum pada apa yang gw capai. Otomatis, gw jadi berandai-andai bahwa orang lain akan menganggap gw “penting” karena dapet nilai UTS 100.
Tampaknya, itulah sebabnya orang-orang suka menunjukkan kelebihan mereka pada orang lain. Supaya mereka bisa dihargai oleh orang lain, maka mereka menunjukkan kelebihan diri sendiri — yaah, hitung-hitung dianggap sebagai media promosi diri lah
Siapa tahu ada yang senang dan tertarik.
Dan yaah… tampaknya memang kebutuhan untuk merasa penting inilah yang mendorong orang untuk menunjukkan kelebihan mereka di mata orang lain. Ooh, pasti senang ya dipuji “waah hebat..” atau “selamat yaa…”, padahal mungkin saja ada orang di sekitarnya yang gondok setengah mati, gara-gara dia show-off begitu rupa — padahal yang dia sombongin sendiri belum tentu hal yang hebat dan berkualitas. Entah itu sekadar pengetahuan nggak mutu tentang baca komik di laptop, atau hal-hal yang lebih berat (tapi sama nggak mutunya) seperti klaim bahwa “domain .id itu nggak terpengaruh oleh gempa Taiwan”.
Sebagai penutup, mungkin bisa gw tambahkan kesimpulan berikut ini. Terlalu banyak show-off itu berisiko: kalau yang diomongin itu betul dan berkualitas, orang yang di sekitarnya bisa jadi rendah diri (dan boleh jadi memicu rasa iri hati dan dengki dan kawan-kawannya). Sebaliknya, jika yang diomongin itu hal-hal yang “nggak mutu” dan “nggak penting”… sangat mungkin Anda sedang bikin orang lain jengkel.
Narsis dan katarsis itu nggak baik. Anda setuju?
.
Footnote:
[1] Carnegie, Dale. 1995. terj. “Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain”. Jakarta: Binarupa Aksara
Sora9n, apa aku penting bagimu? Hi Hi Hi….
Kalau penting, sejauhmana dalamnya? Kalau tidak, mengapa? Katakan dengan jujur, wahai sora9n….!!!
*baru baca email*
(-_-)
(-_0)
(0_0)
\(~o~)/
….soundFX: “wuaks gedubrakss!!”
Ya ampun, kirain komentar buat isinya, tahunya….
Ya semua orang itu penting tho, Mas Tajib… cuma aja banyak yang merasa dirinya “nggak penting” di mata orang lain. Jadi deh berusaha “menaikkan harga diri” seperti yang disebut di atas.
Umm, yah… saya kira sih semua orang itu “penting” dan harus dihargai — terutama Om Matt (yg bikin wordpress), Om Linus Torvalds, Om Bill Gates… dan lain2 lagi yang nggak bisa saya tulis di sini saking panjangnya.
~jadi Mas Tajib juga “orang penting” kok, tenang aja…
ada buku juga yang bilang pentingnya untuk menjadi berbeda dari pada kebanyakan orang laen. Alasannya bisa dibaca di buku tersebut.
Buku yang aku maksud adalah bukunya John C. Maxwell yang berjudul Thinking for a change, versi Indonesianya berjudul “Berbeda dari yang biasanya”.
Minta dianggap lebih penting, jelas konotasinya negatif,Kadang yang seperti ini tidak lepas dari pandangan negatif kita terhadap orang lain. Dengan kemakluman, memandang sisi positif untuk menarik manfaat dari keadaan orang lain seperti itu kita bisa saja mendapat energi ekstra dibanding jika kita menilai seseorang itu “minta dianggap penting”. Bukan begitu?
kan memang ada tingkat kebutuhan…
kalo masih berurusan dengan perut sih jarang mikirin ‘pengen dianggap’. yg penting kenyang…
@ kenzt
Bukunya J.C. Maxwell? Hmm, sering lihat beberapa karyanya sih (tapi belum pernah baca). Nanti cari ah kalau ada yang punya…
(lagi sibuk nabung soalnya
)
:::
@ helgeduelbek
Memang betul; tetapi terkadang ada orang yang “meninggikan diri” untuk hal-hal yang, kalau dipikir-pikir, nggak begitu hebatnya. Misalnya menyombongkan handphone baru (padahal dibelikan orangtua
), atau sombong untuk pengetahuan ‘nggak mutu’. Buat yang semacam ini ya, susah juga kalau mau dianggap “tidak pamer”…
Iya, memang betul. “Minta dianggap penting” itu kan kalau orangnya pamer. Kalau nggak pamer ya, seperti kata Pak Guru…. Bisa dimanfaatkan kelebihannya buat manfaat yang positif.
(Contohnya, cari teman yang “tajir benwit” supaya bisa numpang ngeblog.
) Bukan begitu?
:::
@ passya
Benar juga sih. Tapi kalau begitu orangnya jadi antisosial banget dong? (e.g. dikucilkan orang sekampung nggak masalah, asal bisa makan cukup)
Mungkin kembali ke cara berpikir juga sih. (~_@)
saya ini tampan, lho…
ada yang gondok dengan kata2 saya?
*komen seriusnya nanti aja*
@ joesatch
Ckckckckckck…..
Nggak ilang-ilang narsisnya nih orang…
Btw, avatarnya joe cantik kok… siapa yang bilang ganteng?
Kebutuhan untuk dianggap penting… Hmm menarik.
Disamakan dengan yang haus eksistensi juga ya? kayanya ada tingkatannya juga dan kriterianya juga kan ya?
Maksudnya, enggak semua bisa disamaratakan bahwa misalnya sesuatu itu langsung masuk kelompok haus eksistensi atau kelompok lainnya, misalnya.
Dan kayanya cara kita menilainya juga harus hati-hati kali ya agar tidak terkesan asal nge-judge atau gimana…
btw, saya jadi nyatat beberapa kata-kata `penting` diantaranya `nggak mutu`, `nggak penting` (kadang sering dipakai, duh), dan… `narsis dan katarsis itu tidak baik`, whohoho.. jadi ingat sesuatu nih Sora
Whew, posting antik yang bagus
@ jejakpena
Sebetulnya sih inti dari post ini adalah bahwa “semua orang punya kebutuhan untuk merasa penting”. Beberapa menunjukkan kelebihannya dengan eksplisit karena haus eksistensi; beberapa menunjukkan dengan biasa-biasa saja; atau beberapa malah menyembunyikannya karena tak ingin dianggap sombong.
Tetapi, tujuan dari ketiga perbuatan di atas kan sama saja, yaitu agar bisa dihargai oleh lingkungan sekitarnya…
saya narsis tapi saya tidak berasa penting. kalau itu gimana??
@ cK
Berarti, lo orang aneh…
*kabur sambil ngakak*
[...] berpikir, bahwasanya manusia mungkin kodratnya adalah ‘makhluk berbagi’. Bukan karena ingin merasa penting, melainkan karena berbagi itu melegakan. Entah itu kebahagiaan, kesedihan, atau sekadar cerita [...]