Sebenernya aneh juga kalo dipikir-pikir, tapi manusia itu ternyata sering nunjukin gejala emosi yang nyaris identik — walaupun sebenernya yg dirasain dalam hati (waktu hal itu terjadi) justru berkebalikan sama sekali.
Misalnya, waktu orang ‘menangis bahagia’ sama ‘menangis sedih’. Kalo seseorang lagi ‘menangis sedih’, itu menunjukkan bahwa mereka lagi terpukul banget sama suatu hal — dan perasaan itu biasanya sangat kuat, sampai-sampai nggak perlu diucapkan dengan kata-kata. Kalo kita udah liat orang nangis, biasanya kita bakal langsung ngerasa “Oh, lagi sedih banget yah…” dan (in many cases) kita biasanya jadi empati sama mereka.
Ajaibnya, seseorang ternyata juga bisa ‘menangis bahagia’ (nah loh…). Kalo kita merasa saking senengnya (atau bangga, sampai2 jadi merasa terharu nggak tertahankan), maka kita hampir pasti bakal ‘menangis’ model kayak begini. Misalnya pada saat kita lulus kuliah dan diwisuda, beberapa dari orangtua kita menangis terharu (dan bahagia), karena ternyata putra/putri yg mereka besarkan berhasil tumbuh dewasa dengan baik. Hal yg sama juga bisa terjadi pada waktu kita ketemu lagi sama keluarga yg udah terpisah puluhan taun, misalnya. Hal-hal semacam ini biasanya bakal bikin orang lain yg ngeliat justru turut larut dlm kebahagiaan, dan bukannya ngerasa empati gara2 ngeliat kita ‘menangis’.
Nah, pada dasarnya kan kita sama-sama menangis. Meskipun begitu, ternyata antara kita merasa ’sedih banget’ dan ‘bahagia banget’ ternyata sama-sama dapat diekspresikan dengan ‘menangis’. Unik juga.
Tapi ini nggak cuma terbatas pada ‘menangis’ aja. Ternyata kita (manusia) juga sering menyatakan dua (atau malah tiga) perasaan yg berkebalikan dengan tertawa. Ambil contoh begini:
Pada waktu kita denger sesuatu yg konyol, kita ‘tertawa tulus’.
Pada waktu kita denger sesuatu yg ironis, kita ‘tertawa getir’.
Dan pada waktu kita denger sesuatu yang ‘garing’ alias humor yang nggak lucu sama sekali, maka kita (biasanya) bakal ‘ketawa seadanya’ sambil mikir “aduuh, tooo-loong…”
It’s strange, really. Kita bisa ketawa terbahak-bahak kalau nonton film lawak (atau anime konyol bangsa School Rumble atau Full Metal Panic: Fumoffu!), tapi juga ketawa getir ketika kita merasa terlalu pahit dengan hidup kita.
Mungkin memang sebenernya batas di antara ‘merasa senang’ dan ‘merasa sedih’ itu tipis banget, sampai2 kita bisa menyatakan bahwa baik “tertawa” maupun “menangis” bisa menyatakan kedua-duanya dengan baik, walaupun dengan caranya sendiri-sendiri. Dan biasanya sih (biasanya!) ‘ketawa getir’ dan ‘menangis bahagia’ efeknya bisa lebih kuat daripada ‘menangis sedih’ dan ‘ketawa tulus’.
Contohnya? Gampang. Coba, lebih kena mana (kalau nonton film), ngeliat karakter sedih yg ‘menangis’ atau karakter sedih yg ‘tertawa getir’?
Udah? Sekarang coba bandingin kalo karakter itu lagi seneng. Lebih ‘terasa’ mana, kalo dia itu ‘ketawa tulus’ atau ‘menangis bahagia’?
Ternyata hal-hal yang kontradiktif bisa terasa lebih ‘nampol’ daripada hal-hal yg emang selaras. Aneh juga.
~~~~~
Kodoku ni natta, demo waratteta,
soshite, kimi ni deaetta….
—-
It became lonely, but I laughed,
and then we met….
(from Canaria by Mikuni Shimokawa)
~~~~~
Ps:
OK deh, gw emang fans-nya Shimokawa, gw ngaku deh… since this has been the 3rd time I quote her song in this blog.
Hmm,, Hmm,,
*lagi kena virus ngoprek arsip blog orang*
anw Ma colong quote-terakhirnya ya,,
somehow kena virus ngoprek archive lama juga..
*bohong, niat awalnya ya nyari link donlot canaria*