Feeds:
Tulisan
Komentar

Nostalgia Dose 2009.09.28

Wikipedia entries to read while you watch somebody finish stage 1 in Prehistorik 2

 

 

  • When Olympus did a miserable flying kick to Superstar Ho-Sung Pak, he flew out of ring instead [WMAC Masters]
  • Some people like to do tri- penta- umpteenathlon in front of camera [American Gladiators]
  • J.D. Roth defined ‘fun’ for a generation of schoolkids [Fun House]
  • Whatever will happen today, ask Gary Hobson [Early Edition]
  • A boy got shunted to a terrific parallel world [Spellbinder]
  • Kwai-Chang Caine’s legacy continues in NY [Kung Fu TLC]
  • Sam Beckett alters history… [Quantum Leap]
  • …while Phineas Bogg and Jeffrey follow suit [Voyagers!]
  • The most kickass use of (gothic) letter ‘L’ in TV history [Poltergeist: The Legacy]
  • And I thought college would be all fun [USA High]

 
And yet, there is also eastern hemisphere influence as well.
 

 

Now where have those innocent times gone again? :|

 

Note:

No, I don’t count too-famous ones like ‘vigilante black helicopter shooting missiles’ or ‘a blond man who can pwn you with everyday things’.

Kartu Lebaran 1430 H

Jadi, ceritanya, pagi nanti sudah Lebaran. Begitu keputusan sidang itsbat yang diprakarsai pemerintah kemarin sore. Maka, sebagaimana kebiasaan tiap tahun di blog ini, saya menyampaikan pada pembaca…

 

[kartu lebaran 1430 H]

 

Selamat Idul Fitri bagi yang merayakan. Mohon maaf atas segala tulisan, komentar, ataupun chat via Y!M — dari saya — yang kurang berkenan di hati Anda. Mudah-mudahan Lebaran kali ini bisa menjadi titik tolak perbaikan diri di masa depan. :)

Tentunya ini juga ditujukan pada semua yang sering saya sambangi kesehariannya di plurk. Kalau ada yang merasa saya terlalu brutal dalam mengkritik, pernah saya cela sebagai anak aneh ( :P ), atau sering saya kerjai sebagai adik ketemu gede, well, there you have it. :lol:

Mohon maaf juga pada para penyembah PBJG yang tidak setuju dengan penafsiran “liberal” saya…

 

banana-techno banana-techno banana-techno

banana dance dengan musik techno. ini penafsiran progresif!!

 

…terutama xaliber, celo, dan kgeddoe sebagai penggagasnya. :twisted: Juga pada semua rekan — baik di dunia nyata maupun maya — yang sering jadi sasaran sepet, teguran, dan cela, biarpun maksudnya cuma bercanda. Well, I know I can be brutally annoying from time to time, so there goes. :P

Mudah-mudahan kita semua bisa menjadi lebih bijak di masa depan. Amin.

***

Sekian post Idul Fitri kali ini. Terima kasih atas perhatiannya, dan sampai jumpa di tulisan berikutnya. ;)

 

—–

Kredit:

  • Karakter Suzaku Kururugi dari serial Code Geass
  • Image & Design (c) sora-kun, 2009

Konon, kebahagiaan itu letaknya di hati. Seseorang tidak mesti kaya dan berkelimpahan untuk bisa bahagia — asalkan bisa mencukupi kebutuhan dan bersyukur, maka itu saja sudah cukup. Yang penting adalah bagaimana memaknai apa yang kita punya sebaik mungkin.

Sebenarnya ini wisdom yang amat populer; beberapa orang mungkin bilang “basi”. Meskipun begitu, mau tidak mau, saya jadi ingat juga gara-gara adegan di bawah ini. :lol:

 

cat-and-shoe
 

“You can’t always get what you want, but if you try, sometimes you may just get what you need.”

~ Rolling Stones

Have a nice day, Neko-san. :)

 

 
——

Ps:

Belakangan ini saya jadi sering posting gambar/foto. Maunya sih menulis panjang-lebar, tapi apa daya… :o

(baca: mood belum balik sepenuhnya pasca hiatus)

Larutan Antiskeptik

larutan antiskeptik

 

—–

Ps:

Sekadar corat-coret gak jelas, ada ide melintas di tengah malam. Jangan terlalu dipikirkan. :mrgreen:

 
Rada terkait:

Hasil Corat-coret Minggu Ini

Saya tahu, EVA: Rebuild 2.0 belum lama keluar (dan saya juga belum nonton Rebuild 1.0). Tapi, entah kenapa, rasanya nggak tahan untuk nggak memparodikan ilustrasinya mbak Mari Makinami. So yeah:lol:

 

mari makinami arsenal parody

 
Mari Makinami in Arsenal kit. Mulai digambarnya Senin kemarin, dengan target selesai 2-3 hari — tapi ternyata molor juga. ^^;

 
[full size: 1200x1587]

[visit my gallery]

 
Untuk yang belum tahu, EVA: Rebuild adalah semacam remake dari anime Neon Genesis Evangelion. Meskipun begitu, terdapat beberapa perbedaan dalam penceritaannya — salah satunya adalah munculnya karakter Mari yang jadi model gambar di atas.

Saya sendiri tahu tentang Mari baru beberapa minggu lalu, ketika sedang jalan-jalan di internet dan menemukan ilustrasi yang satu ini. Hence the reference (and identical pose too). :P

Kenapa kemudian digambarnya dengan outfit Arsenal, saya rasa tak perlu dijelaskan lagi. Saya rasa para pembaca blog ini juga sudah tahu alasannya. =3=

*dilempar sandal karena gak jelas*

*bletaaakkk*

Anyway, that’s that. Silakan dikomentari kalau berkenan, atau visit my gallery.

 

——

Ps:

Gambar telah di-update berdasarkan masukan pembaca. :P

Cara Berpikir Fermi

Bapak Enrico Fermi (1901-1954) adalah ahli fisika yang turut berpartisipasi dalam proyek bom atom di Los Alamos, New Mexico, pada masa Perang Dunia II. Sebagai ilmuwan yang berkecimpung di bidang fisika atom, nama beliau diabadikan lewat nama partikel fermion dan statisik Fermi-Dirac.

 

Enrico Fermi

Enrico Fermi (1901-1954)

 

Biasanya, kalau mendengar istilah “fisika atom”, yang terbayang adalah perhitungan yang rumit, teliti, dan sangat eksak. Meskipun begitu, Fermi adalah sosok yang berbeda dengan bayangan di atas. Alih-alih menyatakan ilmu fisika sebagai hitung-hitungan akurat, Fermi memperkenalkan cara berpikir yang rada nyeleneh: bahwasanya, banyak perhitungan rumit dapat didekati secara kira-kira.

Tunggu sebentar. Kira-kira? Bukankah fisika itu ilmu pasti. Bagaimana mungkin dihitung secara kira-kira? :-?

Nah, penjelasan untuk ini akan segera kita lihat di bagian selanjutnya. Seperti apa sebenarnya cara berpikir “kira-kira” yang diajukan Fermi? Here goes…

 

Cara Berpikir Fermi:
Sebuah Ilustrasi

 

Untuk mengilustrasikan Cara Berpikir Fermi, paling baik jika dicontohkan lewat pertanyaan sbb.

“Berapakah panjang diameter bola bumi?”

Bola bumi begitu besar, adakah yang pernah mengukurnya? Barangkali hanya ahli geologi saja — itu pun dengan alat-alat canggih. Meskipun begitu, Fermi punya solusi cerdik untuk menjawabnya.

Pertama-tama, kita pikir dulu acuan yang familiar. Saya orang Amerika — kebetulan, saya tahu bahwa jarak antara New York dan Los Angeles sekitar 3000 mil.

New York dan Los Angeles terpisah sejauh tiga zona waktu. Jadi, satu zona waktu adalah sekitar 1000 mil.

Bumi selesai berotasi dalam 24 jam, berarti, terdapat sekitar 24 zona waktu di seluruh bumi.

Alhasil: keliling bola bumi = 24 * 1000 mil = 24000 mil

Sampai di sini, kita mendapatkan nilai “kira-kira” keliling bumi. Meskipun begitu, Fermi masih belum selesai.

Lewat matematika, kita tahu rumus keliling lingkaran:

    K = π * diameter

Berapa nilai π ? Saya tidak ingat, tapi anggaplah nilainya sekitar 3.

*) sebenarnya 3.141592, tapi ingat, kita sedang bermain “kira-kira” di sini

 
Masukkan nilai tersebut…

    24000 mil = 3 * diameter
    diameter = 8000 mil

Menurut Fermi, panjang diameter bumi adalah sekitar 8000 mil. Atau, dalam satuan kilometer: 12800 km.

Sebagaimana bisa dilihat, ini hasil kira-kira. Pertanyaannya, benarkah jawaban tersebut?

Anda mungkin tak menduga, tapi, ukuran diameter bumi yang sebenarnya adalah…

 

7926.28 mil

 

atau

 

12756 km

 

Bandingkan dengan hasil kira-kira yang dihitung sebelumnya. Margin kesalahan yang didapat sangat kecil… bahkan 1% pun tak sampai. :shock: Barangkali kalau ada perlombaan mengira-ngira, maka Fermilah jagonya!

BTW, jawaban di atas saya dapat dari tiga sumber terpercaya: Google, Wikipedia, dan Encarta Online. Silakan dicek sendiri kalau tidak percaya. :mrgreen:

 

Kok Bisa!?

 

Biasanya, kalau orang disuruh mengira-ngira, margin kesalahannya cukup besar. Kalau sopir truk ditanya jarak antara Jakarta-Surabaya, barangkali melesetnya sekitar 10-15 km. Sementara Fermi bisa menebak diameter bumi… dengan meleset 44 kilometer saja. Di sini ada perbedaan ketelitian yang besar.

Pastinya kemudian timbul pertanyaan. Apa sih rahasia di balik tebakan Fermi, sedemikian hingga bisa memperkirakan dengan tepat?

Jawabannya terbagi dalam tiga poin, yang akan segera saya jabarkan di bawah ini.

 
Pertama, dan paling utama, Fermi menggunakan pengandaian bertingkat. Dari hal-hal yang sederhana dan umum diketahui, ia membangun asumsi. Siapakah yang menyangka bahwa diameter bumi bisa dihitung bermodal jarak Los Angeles ke New York? Tidak banyak. Tapi, sebagaimana kita lihat bersama, kumpulan fakta sehari-hari saja sudah cukup untuk menjawab pertanyaan sulit.

Ini seperti kalau kita ditanya berapa banyak bola pingpong bisa masuk kardus. Jika kita tahu berapa *kira-kira* ukuran kardus, dan berapa *kira-kira* ukuran bola pingpong, maka selanjutnya jadi mudah. Tinggal mengembangkan saja dari asumsi tersebut.

 
Kedua, Fermi melakukan kira-kira dengan kisaran yang tepat. Betul, dia memperkirakan jarak antara New York ke Los Angeles sejauh 3000 mil — tapi dia tahu bahwa itu “kira-kira” yang bermutu. Dalam artian, tidak melebih-lebihkan ataupun mengurangkan.

Seandainya Fermi memilih angka “2000 mil”, maka perhitungannya akan meleset jauh. Demikian juga jika ia memilih angka “4000 mil”. Keberhasilan Fermi di sini disumbang oleh kemampuannya menentukan kisaran jarak yang tepat antara New York dan Los Angeles: dengan mengetahui kisaran yang tepat, maka perhitungan kira-kira dapat dilakukan.

 
Dan yang terakhir, ketiga: nilai “kira-kira” yang dipilih akan saling mengompensasikan dalam membentuk hasil akhir. Dalam melakukan pengira-ngiraan, pasti ada yang terlalu besar atau terlalu kecil. Secara kasar, kemungkinannya akan seimbang: 50% nilainya terlalu besar, atau 50% nilainya terlalu kecil.

Seiring dengan makin panjangnya train-of-thought, kecenderungan ini akan tampak secara statistik. Pilihan angka yang terlalu besar akan ditemani oleh pilihan angka yang terlalu kecil. Margin kesalahan akan saling berkompensasi — pada akhirnya, ini akan meminimalkan kesalahan hasil akhir. Demikian penjelasannya.

 

Not Your Average Guess

 

Sebagaimana bisa dilihat, cara berpikir yang dijelaskan di atas sangat runtut dan logis. Biarpun maksudnya memberi jawaban kira-kira, tetapi ia memiliki landasan yang kuat. Hasil yang didapat pun amat dekat dengan kenyataan.

Di sinilah bedanya antara sekadar “menebak” (guess) dan “menebak dengan cerdas” (smart-guess). Metode Fermi di atas termasuk dalam kategori smart-guess: dengan mengandalkan fakta umum sehari-hari, orang bisa menjawab pertanyaan yang (pada awalnya) terkesan sulit.

Yang harus diingat adalah bahwa cara berpikir ini tidak memberi jawaban sempurna, melainkan estimasi. Bagaimanapun pasti ada kurang dan lebihnya. Namanya juga ilmu kira-kira — what do you expect? :lol:

Meskipun demikian, untuk penggunaan sehari-hari, Cara Berpikir Fermi bisa dibilang sangat powerful. Katakanlah, misalnya saya ditanya seperti berikut.

Berapa kilometer jarak Jakarta-Bandung lewat Tol Cipularang?

Maka saya tinggal berpikir: waktu naik bis tempo hari, perjalanan sekitar 2 jam. Kecepatan rata-rata mobil di jalan tol sekitar 70 km/jam. Maka, jawabannya sekitar 140 km.

Sementara pada kenyataannya, panjang jalan tol tersebut adalah 141 km! :D

***

BTW, omong-omong tentang smart-guess, ada pengalaman menarik yang dialami dosen saya. Waktu itu beliau belum lama lulus, dan sedang bekerja di sebuah proyek konstruksi.

Suatu ketika, seorang supervisor datang dan bertanya. “Coba kamu lihat struktur ini. Menurut kamu, safety-nya bagaimana?”

Segera dosen saya mengeluarkan kalkulator dan berhitung. Setelah beberapa lama, beliau menjawab, “Berdasarkan perhitungan, harusnya struktur ini cukup aman.”

Kemudian datang seorang insinyur senior. Sang supervisor lalu beralih pada insinyur tersebut.

“Pak, ini sudah hampir jadi. Bagaimana menurut Bapak, apakah sudah safe atau…?”

Si insinyur diam sebentar, mengamati bangunan yang dimaksud. Sejenak kemudian…

“Sepertinya sudah oke. Safe lah.”

Saya tidak tahu apakah si insinyur senior melakukan perhitungan rumit di luar kepala, atau dia sekadar bermain kira-kira seperti dicontohkan di atas. Barangkali dia memang jenius. Atau mungkin, perhitungan sebenarnya tidak serumit yang dikesankan dosen saya.

Meskipun begitu, entah kenapa, saya merasa bahwa jawabannya adalah yang kedua…

Pembaca reguler blog ini mungkin sudah tahu bahwa saya sangat suka main-main dengan nama dan etimologi (salah satu contohnya bisa dibaca di tulisan yang ini). Bagi saya, mengamati nama orang bisa dibilang sebagai hobi — setiap kali mendengar nama yang lumayan catchy, biasanya saya akan tergelitik dan mencari akar katanya. Malah, kalau perlu, pergi ke internet dan mencari asal-usul nama tersebut… tapi bukan itu yang hendak kita bahas kali ini.

Nah, salah satu yang sering saya perhatikan adalah nama anak perempuan Indonesia zaman sekarang (baca: kelahiran ‘90-an). Ternyata, banyak di antara mereka yang nama depannya berakhiran -ia! :o

Anda mungkin tak begitu yakin, tapi, kalau mau contoh, Anda bisa lihat judul tulisan di atas. Artemia, Alifia, Lavinia, Aurelia — nama-nama yang bisa Anda temukan kalau Anda main ke SD terdekat dan mengecek daftar absennya. Menurut saya ada semacam pola di sini.

Tentunya kecenderungan tersebut bukannya tanpa alasan. Kenapa bisa begitu, nah, ini ada ceritanya lagi.

 

 

Back to The Past:
Nama-nama Feminin dalam Mitologi Romawi-Yunani Kuno

 

Sahibul hikayat, masalah nama ini bermula ribuan tahun lalu, ketika orang-orang Yunani (dan Romawi) sibuk berkisah tentang para dewa. Bahasa Latin dan Yunani sama-sama diturunkan dari rumpun Bahasa Indo-Eropa — rumpun bahasa ini mempunyai kecenderungan menitipkan akhiran -a pada kata benda bersifat feminin.[1]

Bisa ditebak, kebiasaan tersebut kemudian terbawa dalam pemberian nama tokoh-tokoh dalam mitologi mereka. Sedemikian hingga muncullah nama-nama tokoh (wanita) sebagai berikut:


a) Mitologi Romawi

 

Aurora — dewi subuh
Fortuna — dewi keberuntungan
Minerva — dewi kebijaksanaan
Proserpina — penguasa akhirat; pendamping Pluto
Diana — dewi bulan dan perburuan

 

b) Mitologi Yunani*

 

Athena — dewi kebijaksanaan
Hestia — dewi rumah dan perapian
Rhea — ibu dari Zeus, penguasa Olympus
Europa — Putri Kerajaan Phoenicia, kekasih selingkuhan Zeus
Aegina — anak perempuan Asopus (dewa sungai)

 

*) Beberapa nama feminin dalam mitologi Yunani tidak melulu berakhiran dengan -a, semisal: Aphrodite, Selene, Demeter. Meskipun begitu, penyandang nama berakhiran -a hampir pasti perempuan — sangat jarang tokoh laki-laki memiliki nama berakhiran -a.

Dalam hal ini, Romawi lebih konsisten dengan penggunaan nama berakhiran -a untuk wanita. Kebiasaan ini kemudian diturunkan pada nama-nama Eropa modern. (misal: “Alexandra”, “Adriana”, “Francesca”)

Penggunaan nama-nama Latin dan Yunani kemudian menyebar seiring populernya mitologi mereka ke seluruh dunia. Di masa kini, tidak ada yang mengernyitkan dahi kalau mendengar orang Indonesia bernama “Diana”, “Aurora”, atau “Hestia”… atau orang Amerika bernama “Rhea”.

Seolah-olah, orang berlomba memberi nama anak perempuan berbau Eropa dan berakhiran -a! Kalaupun ada yang kurang terkenal, barangkali hanya “Medea” saja. :mrgreen:

*dilempar sandal sama mbak rise*

*bletaaakkk* xP

 

 

Akhiran -a: Bukan Hanya Milik Eropa

 

Sebagaimana sudah disebut di atas, nama yang memiliki akhiran -a umumnya akan terkesan feminin. Ini agak aneh; saya juga tidak tahu kenapa bisa begitu (barangkali ada penjelasan psikoakustik di baliknya). Satu hal yang jelas, lebih mudah menemukan nama anak perempuan — di berbagai belahan dunia — yang berakhiran -a daripada (misalnya) -o atau -i.[2]

Saya pernah iseng mengamati daftar nama peserta kuliah di kampus. Kelasnya cukup besar, sekitar 100-an orang, dan bersifat lintas angkatan. Apa yang didapat? Ternyata saya menemukan nama-nama seperti “Dita”, “Paramita”, dan “Annisa”. Nama-nama itu jelas bukan nama Yunani, apalagi Romawi — tapi ternyata tunduk juga pada akhiran -a. :-?

Yang paling sering jadi korban ‘trend’ ini adalah nama-nama berbau Arab (e.g. “Annisa”, “Rizka”, “Zulaikha”), disusul nama-nama berbau Eropa (“Diana”, “Selena”, dst). Adapun nama-nama lokal Indonesia umumnya lebih banyak melawan arus dengan berakhiran -i, semisal “Miranti”, “Sundari”, atau “Astri”.

Sepertinya ada sesuatu di balik nama berakhiran -a yang membuatnya terkesan feminin. Atau tidak. Tapi, mengingat saya sendiri punya kesukaan pada sebuah nama berakhiran -a (Elesia!) … bukan mustahil kecenderungan di atas memang ada sesuatunya. ^^;

 

 

Genderflip Technique:
[male name] + [-a] / [-ia] = [female name]

 

Hal menarik lain yang saya temukan, sehubungan dengan akhiran -a yang sudah dijelaskan di atas, adalah bahwa tidak sulit mengubah nama laki-laki menjadi nama perempuan. Cukup modifikasi akhiran nama tersebut menjadi -a atau -ia, dan voila — nama perempuan pun didapat.

Orang yang biasa memperhatikan nama Eropa, mungkin akan bilang bahwa saya sedang menyampaikan hal basi. Tapi, tidak — masalahnya bukan itu. Bahwasanya, teknik ini berlaku relatif universal! :D Bukan saja untuk nama berbau Eropa, melainkan juga nama Semitik (Timur Tengah) dan Slavik (Eropa Timur).

Misalnya contoh-contoh di bawah ini.


a) Eropa Barat (Latin/Yunani)

 

Adrian + [-a] = Adriana
(asal bahasa: Latin. etimologi: Hadria, atau Laut Adriatik)

Aurelius + [-ia] = Aurelia
(asal bahasa: Latin. etimologi: aurum, “emas”)

Alexander + [-a] = Alexandra
(asal bahasa: Yunani. etimologi: alexo + andros, “penguasa”)

Theodoros + [-a] = Theodora
(asal bahasa: Yunani. etimologi: theos + doros, “pemberian Tuhan”)

 

b) Semit (Timur Tengah)

 

Daniel + [-a] = Daniela
(asal bahasa: Hebrew. etimologi: daniyyel, “God is my Judge”)

Darius + [-ia] = Daria
(asal bahasa: Farsi. etimologi: dârayavahush, “possessing goodness”)

Rizki + [-a] = Rizka
(asal bahasa: Arab. etimologi: rizq, “rezeki/berkah”)

Amal + [-ia] = Amalia
(asal bahasa: Arab. etimologi: amal, “tindakan/perbuatan positif”)

 

c) Slavik (Eropa Timur)

 

Yevgenii + [-a] = Yevgenia
(asal bahasa: Rusia. etimologi: Yunani eu + genes, “well-born”)

Radomir + [-a] = Radomira
(asal bahasa: Slav. etimologi: rad + mir, “kebahagiaan dan kedamaian”)

Stanislav + [-a] = Stanislava
(asal bahasa: Slav. etimologi: stan + islav, “stand with glory”)

Sebagaimana bisa dilihat, penambahan -a atau -ia pada nama pria, dalam banyak kasus, bisa menghasilkan nama feminin yang relatif catchy. Tak banyak yang tahu bahwa “Aurel” aslinya nama pria[3] — kan begitu? Tapi nyatanya sekarang banyak anak perempuan bernama “Aurelia”. Hanya dengan menambahkan akhiran -ia, nama yang ‘cantik’ pun terbentuk. :mrgreen:

Saya suka sekali main-main dengan penambahan -a dan -ia ini. Kalau misalnya ada pemain bola bernama Andrei Arshavin, maka saya tinggal menambahkan dua huruf ‘a’, dan jadilah…

Andrea Arshavina

Hey, that’s one pretty name. Saya rasa, kalau saya berkeliaran di Facebook pakai nama itu — sembari memasang foto gadis cantik di homepage — akan banyak orang terjebak meng-add saya. Tapi itu cerita lain lagi untuk saat ini. :)

 

 

Akhir Kata…

 

Jadi, kesimpulan yang saya dapat hasil bongkar-bongkar nama orang selama ini adalah: kalau orang ingin menciptakan nama wanita yang catchy — baik itu untuk nama anak, hewan peliharaan, ataupun tokoh cerita — maka yang harus dilakukan adalah bermain-main dengan huruf ‘a’. Entah dengan menambahkan akhiran -ia, atau malah cuma menempel buntut huruf -a saja.

Huruf ‘a’ itu sakti: manfaatkan dengan benar, dan Anda mendapatkan nama feminin yang berpotensi terdengar cantik. Pokoknya, semakin banyak main ‘a’ dan ‘ia’, makin bagus! :mrgreen: Buktinya sudah banyak di atas, dan bisa saya contohkan lagi berikut ini.

 
Kalau Anda lebih suka nama bergaya Barat, ada Aurora, Artemia, Lavinia, Laura, dan Olivia.

Kalau Anda lebih suka nama Arab, ada Aisha, Fadila, Fathia, Zahra, dan Nadia.

Atau, kalau Anda lebih suka nama Eropa Timur: Svetlana, Ludmilla, Lara, Yevgenia, Adriana.

Saya bertanya-tanya, apa mungkin ada “sihir” tertentu di balik bunyi vokal ‘a’ dan ‘ia’. Sepertinya tak ada nama perempuan yang jelek kalau bumbu tersebut dipakai dengan tepat. Bahkan nama yang tadinya sudah bagus seperti “Windri” pun, seolah jadi lebih eksotis kalau disebut “Windria”.

Boleh jadi ada sesuatu dalam psikologi manusia yang membuat nama-nama tersebut terkesan manis. Entah apa. Mungkin bisa jadi bahan yang penelitian yang bagus untuk para linguis dan psikolog. Siapa yang tahu? ;)

***

In all fairness, though, mari kita sama-sama berharap satu hal: agar nama-nama tersebut tidak ditemukan (dan dijadikan judul) oleh para pembuat sinetron Indonesia. Sejujurnya, saya sering miris dengan hal yang satu ini.

Sekarang ini amat jarang ada nama anak perempuan yang belum dijadikan judul sinetron. Mulai dari Fitri, Khanza, Melati untuk Marvel, Cahaya, Intan, Amanda… semua sudah dibuat. Berbagai sinetron tersebut dibuat secara kejar tayang. Dengan akting yang teramat biasa, juga dengan jalan cerita yang begitu saja. Saya tidak tahu bagaimana dengan Anda — tapi, yang jelas, saya akan kecewa sekali kalau nama seperti “Minerva” ternyata ujung-ujungnya jadi gadis menderita obyek siksaan tante galak.

Sebab, for God’s sake: Minerva itu Dewi Kebijaksanaan Romawi, tahu! Mana bisa yang seperti itu disuruh ngepel, dimarahi, dan dibuat menangis demi simpati pemirsa!! :evil: :twisted:

 

 

——

 
Catatan Kaki

 

[1] ^

Beberapa contohnya bisa dilihat di:
Grammatical gender @ Wikipedia Bahasa Inggris.

Adapun untuk penjelasan yang lebih formal dan bersifat textbook, bisa Anda baca di:
Indo-European Linguistics oleh John Clackson (2007), chapter 4.4., pp.104-111.

(*disclaimer: saya cuma baca e-book-nya, jadi tidak beli dari situs ybs. :P )

 
[2] ^

Pembahasan yang cukup menarik saya temukan di arsip milis LinguistList.org, bertanggal 18 Februari 2000. Salah satu kesimpulan akhirnya adalah, walaupun tidak ada aturan baku tentang akhiran -a pada nama feminin, kecenderungan tersebut memang ada dan valid secara statistik.

Paper terkait yang juga menarik, dirujuk oleh post milis tersebut:

Elizabeth and John: Sound patterns of men’s and women’s names
oleh E.A. Cutler, J.M. McQueen, dan K. Robinson. (1990)

 
[3] ^

Saya sering bingung setiap kali orang menyebut “Aurel” sebagai nama perempuan. Sejauh yang saya tahu, “Aurel” aslinya adalah nama laki-laki — yang mana nama ini disandang oleh beberapa figur sebagai berikut.

Granted, apabila ditambahi akhiran -ia, nama ini menjadi nama perempuan (“Aurelia”). Meskipun begitu, tanpa imbuhan tersebut, “Aurel” adalah nama laki-laki dan umum menjadi nama depan di wilayah Eropa Tengah (e.g. Rumania dan Hungaria).

Salah satu kegiatan yang saya lakukan selama hiatus tempo hari adalah jalan-jalan di kota Bandung. Bukan dengan naik mobil atau angkot, melainkan dengan berjalan kaki. Saya sendiri pada dasarnya memang suka jalan kaki ke mana-mana, terutama jika cuaca sedang cerah… dan kebetulan, cuaca waktu itu juga sedang cerah. Menurut saya ini tak boleh disia-siakan. Men sana in corpore sano! :cool: Alhasil, daripada bosan mendekam di kamar, saya pun memutuskan untuk pergi jalan-jalan saja.

Kalau sebelumnya saya sudah berjalan hingga daerah Dago selatan, maka kali ini saya mencoba melanjutkan ke arah tersebut. Mulai dari Jalan Ganesa/RS Borromeus, mengikuti rute yang lalu, dan melanjutkan seterusnya dari situ. Seperti apa cerita perjalanannya, here goes…

***

Dalam perjalanan yang lalu, saya sudah mencapai daerah sekitar Plaza Dago.

 

Plaza Dago

 

Bagian selanjutnya adalah jalan lurus hingga menyeberang perempatan R.E. Martadinata dan Juanda. Jalan sedikit lagi dari situ, dan kita sampai di salah satu mal paling terkenal di kota Bandung…

 

BIP - samping

 

…yang, kalau Anda sering jalan-jalan di sekitar Dago, pastilah pernah mendengar namanya diteriakkan oleh para sopir angkot. “Be-I-Pe, Be-I-Pe…” Orang Bandung umum menyebut mal tersebut “BIP” — singkatan dari “Bandung Indah Plaza”.

 
Beberapa puluh meter ke depan, terdapat sebuah toko kue sus yang cukup terkenal, “Soes Merdeka”. Dinamai seperti itu karena letaknya di Jalan Merdeka. Konon toko ini sudah berdiri sejak tahun 1950-an.

 

Soes Merdeka

 

Sekilas tokonya terlihat nyempil dan sederhana. Mungkin rasanya aneh bahwa merek yang lumayan terkenal mempunyai gerai begitu saja. Meskipun begitu, beginilah kota Bandung — perajin kuliner terkenal biasanya memang tidak mencolok. :lol: (contoh lain di antaranya “Kopi Aroma” dan “Yoghurt Odise”)

 
Lepas dari Jalan Merdeka, saya kemudian memutuskan untuk mengikuti trayek angkot Kalapa-Dago, hingga akhirnya ‘terdampar’ di depan sebuah bangunan bergaya Belanda.

 

Kodam III Siliwangi

 

Gedung Markas Kodam III Siliwangi. Bangunan ini terletak di Jalan Aceh. Bangunan warisan kolonial ini terletak di daerah yang rimbun dan sangat hijau…

 

Boulevard - Jl. Aceh

 

…dan memiliki trotoar yang sangat terawat, biarpun lajurnya agak sempit. +1 untuk kemudahan yang diberikan pada pejalan kaki. Yay! (^_^)_v

 

trotoar

 

Meskipun begitu, tujuan akhir saya bukan di sini. Masih ada beberapa puluh meter lagi ke depan.

 
Dan inilah titik akhir yang saya tetapkan hari itu… tak lain dan tak bukan, gedung SMA Negeri 3 dan 5 Bandung. :D

 

SMA 3 Bandung - far

 

Tak beda dengan markas Kodam III Siliwangi, gedung sekolah ini memiliki arsitektur bergaya Belanda. Bangunan aslinya sangat luas dan memanjang — sedemikian hingga dapat menampung murid dan guru dari dua sekolah.

 

SMA 3 Bandung - side

 
Bangunan sekolah ini punya legenda tentang jendela yang terbuka sepanjang malam. Konon, pada malam-malam tertentu, seorang ‘Noni Belande’ akan menampakkan diri lewat salah satu jendela tersebut. Benar atau tidaknya, masih terbungkus oleh misteri…

Saya sendiri beberapa kali lewat daerah tersebut di malam hari. Bukan jalan kaki, tentu, melainkan dengan naik angkot. Dan memang ada jendela yang terbuka sampai jauh malam… tapi kita takkan bahas lebih lanjut soal itu di sini. ;)

***

Dan, dengan demikian, acara jalan-jalan saya hari itu pun berakhir. Total dua (atau tiga) jam jalan kaki, bolak-balik, dari Jalan Ganesa/RS Borromeus.

Bagusnya kamera HP saya mau diajak bekerjasama. Tangkapan yang kali ini jauh lebih baik daripada waktu jalan-jalan yang sebelumnya… mungkin karena cuacanya juga (kebetulan) sedang bagus. Tapi, yah sudahlah.

Sayang Bandung yang seperti ini cuma ada pagi-pagi atau di hari kerja. Kalau sudah siang di akhir pekan, pastilah jadi penuh dan macet oleh mobil berpelat B… (+_+)

“Kamu itu orang mana sih?”

“Indonesia.”

“Iya, tapi suku mana?”

 
Kalau boleh jujur, saya sering punya masalah dalam menjawab pertanyaan di atas. Ini bukan karena saya multiras atau sebangsanya — hampir semua orang di sekitar saya akan berkata bahwasanya saya ini “orang Jawa”. Kulit saya sawo matang; rambut saya hitam, dan mata saya juga hitam. Kalau ada penampilan khusus yang membedakan, barangkali hanyalah kacamata yang saya pakai saja. =3=

*ditimpuk*

Oke, yang terakhir itu cuma bercanda. Tapi intinya, Anda boleh tanya ke orang-orang di sekeliling saya. Hampir pasti mereka akan berkata bahwa saya ini keturunan Jawa asli. Temannya tante saya yang berasal dari seberang pulau berkata demikian; guru les Bahasa Inggris waktu SMP berkata demikian; dan tak kurang ayah dan ibu saya juga berkata begitu. Jadi, menurut konsensus, saya ini adalah “orang Jawa”.

Tapiii… ada sebuah tapi, saudara-saudara.

Tapi.

Tapi.

Bahwasanya, saya tak pernah merasa diri sebagai suku yang disebut! :o

Anda mungkin tak percaya, tapi begitulah adanya. Sebagai pemuda yang — katanya — Jawa, saya bisa dibilang sekadar “Jawa di luar saja”. Saya agak malu mengakui ini, tapi saya lebih piawai berbahasa Inggris daripada Jawa; lebih hapal Hiragana daripada Hanacaraka; juga pernah bertanya-tanya kenapa Gatotkaca tidak ikut membantu Sri Rama menolong Shinta. (*pembaca yang ngerti Mahabharata, silakan ngakak*) Kalau Raden Mas Minke merasa jadi anak mursal karena terpengaruh Eropa dan hilang kejawaannya, barangkali saya lebih parah. Barangkali saya bisa diibaratkan orang yang numpang lahir pada pasangan berdarah Jawa saja. ^^;

Tentunya semua itu ada penyebabnya. Kenapa bisa begitu, nah, ini ada ceritanya lagi.

 

When It Started

 

Sahibul hikayat, saya dilahirkan dalam keluarga “penjelajah” Pulau Jawa. Bukan “penjelajah” dalam artian Dora The Explorer, tentu. Yang saya maksud adalah, orang-orang dalam keluarga saya dilahirkan di tempat-tempat yang berbeda di pulau tersebut.

Ayah saya berasal dari Boyolali, sebuah kabupaten di Propinsi Jawa Tengah. Sementara, ibu saya tumbuh dan besar di pinggiran kota Surabaya. Mungkin ada di antara pembaca yang menyadari bahwa kultur Jawa Tengah dan Timur, walaupun mirip, sebenarnya memiliki sisi-sisi perbedaan: wayang vs. Srimulat, inggih-inggih vs. sindiran frontal; gaya abdi dalem dilawan humor “orang Madura”. Jadi bisa Anda bayangkan cultural mix-and-match yang terjadi di sini.

Sementara itu, saya lahir di… Jawa Barat. Bagian lain Jawa yang terkenal dengan lalap sambel, iklim dingin, dan penduduk yang (konon katanya) penyabar-kalem dan tak gampang marah.

Tiga tahun kemudian, adik perempuan saya lahir di… DKI Jakarta. Bagian lain Jawa yang akrab dengan kultur Betawi yang blak-blakan, santai, dan “gimana nanti aja”.

Alhasil, jadilah keluarga saya sebagai tempat bertemunya macam-macam budaya. Keluarga ayah saya njawa banget; keluarga ibu saya dengan Jawa Timurannya yang witty; saya melongok keluar melihat kota Jakarta, dan adik saya terpengaruh gaya Betawi yang santai hasil didikan lingkungan (dan Si Doel). Tambah ramai kalau Pakde saya datang dari Klaten, dan tante saya (dari pihak ibu) hadir. Yang satu akan bercerita tentang Pandawa Lima, sementara yang lain tertawa-tawa nonton Srimulat…

you have the idea. Kalau ini disebut sebagai budaya Jawa, saya tak setuju. Rasanya lebih tepat kalau disebut sebagai “budaya campuraduk PULAU Jawa”. Yang kurang barangkali hanya Sunda, sebab keluarga saya cuma berdiam sekitar dua tahun di sana — yakni sekitar waktu saya lahir.

Dan belasan tahun kemudian, ternyata saya kuliah di Bandung. Maka lengkaplah…

 

Tapi Saya Bukan Orang Jawa!

 

Sebagaimana sudah dijelaskan, saya tumbuh dan besar di lingkungan budaya heterogen. Ada budaya Jawa Timuran; ada Jawa Tengah; ada Betawi hasil pengaruh lingkungan. Tambahkan fakta bahwa pembantu rumah tangga saya selama belasan tahun berasal dari keluarga Betawi, dan bahwa Si Doel (waktu itu) sedang jaya-jayanya — saya dan adik saya pun dengan sukses belajar ngobrol gaya Betawi.

Saya tahu, pada dasarnya, saya dan adik saya berdarah Jawa. Tapi apa mau dikata — kalau masing-masing ternyata lebih pandai berkata “Gue kate juga ape…” daripada inggih atau mboten ?

Yang berbau Jawa dari saya barangkali hanya nama saja (adik saya tertolong karena namanya berbau Arab). Dan juga tampang. Tapi, di luar itu, zero.

Mau ajak saya ngobrol tentang wayang? Beuh, nama Pandawa Lima saja saya tak hapal. Mau ngomong Jawa? Saya enggak ngerti. Hal-hal mistik seperti lelaku, weton, dan keris? NO WAY! Sumpah mati tidak melebih-lebihkan, sodara-sodara. Sebagaimana telah diutarakan di atas tadi, saya ini sekadar Jawa karena disangka orang. Padahal kenyataan sebenarnya tidaklah seindah itu. :cry:

*halah*

 

Jakarta dan Pandangan yang Berbeda

 

Meskipun begitu, belakangan ini saya berpikir: jangan-jangan, kecenderungan saya untuk tidak mengelompokkan diri dalam suku tertentu aslinya disumbang oleh lingkungan tempat saya tumbuh. Jangan-jangan sebenarnya ada faktor pendorong juga dari luar, di samping “gado-gado budaya” yang disebut sebelumnya.

Kalau Anda pernah tinggal di Jakarta, atau pinggiran Jakarta, pasti tahu bahwa banyak di antara tetangga Anda adalah pendatang. Tetangga depan rumah saya dulu — yang kemudian jadi teman baik untuk waktu yang lama — adalah keturunan Bugis. Tetangga sebelah kiri dan kanan berasal dari Jawa. Agak jauh ke samping ada bapak-ibu asal Manado. Ada juga keluarga dari Padang, dan putri mereka jadi teman sekelas saya di SMP. Keragaman ini baru saya sadari belakangan ketika sudah ABG.

Rasa-rasanya, keragaman ini jualah yang mendorong saya berpikir sebagai berikut.

“Hei, peduli amat kalau saya bukan orang Jawa. Memangnya kesukuan itu penting, yah?” :lol:

Kalau saya tak paham serat Arjuna Wiwaha, memangnya teman saya yang orang Bugis bisa? Kalau saya tak mengerti bahasa Jawa, memangnya kenapa. Teman-teman dan guru saya berasal dari berbagai Propinsi. Haruskah saya bicara Kromo Inggil dengan Bapak Siahaan dan Uni Hanifa? Menurut saya, tidak!

Alhasil, sejak itu saya jadi mengabaikan konstruksi sosial bernama “suku budaya”. Menurut saya itu hal yang kurang signifikan. Kita hidup di zaman di mana orang dari mancadaerah berkumpul, bukan lagi dalam kelompok-suku yang homogen. Kalau orang Dayak punya Mandau, orang Jawa punya keris — tapi, saya tak perlu bahasa Jawa untuk ngobrolin senjata daerah. Kan begitu?

Tentu, adakalanya saya ditanya tentang budaya Jawa oleh orang suku lain. Mungkin tentang wayang dan sebagainya. Untuk itu biasanya saya bilang, “Wah, mohon maaf, saya juga kurang tahu. Saya besar di Jakarta soalnya.” Habis perkara. Mungkin saya akan dibilang payah karena pengetahuan “kejawaan” saya kurang. Tapi, hei, saya kan selalu bisa belajar. :D

 

Pemerhati Segala Bangsa

 

Efek lain yang saya dapat, gara-gara malas mengatributkan diri dengan kesukuan, adalah bahwa saya jadi terfokus pada betapa luasnya kemanusiaan itu. Sejak kecil saya belajar untuk melihat perbedaan; saya tumbuh dan besar di lingkungan yang heterogen. Guru-guru PPKn, biarpun digerutui para murid, selalu dengan rajin menekankan: “Jangan mengungkit SARA. Jangan membedakan teman. Jangan bersikap kedaerahan…” dan seterusnya.

Kalau boleh jujur, saya berhutang besar pada para guru tersebut. Merekalah yang — secara tidak langsung — membentuk saya agar memandang orang tanpa embel-embel stereotip. Saya tak percaya bahwa semua keturunan Tionghoa itu pelit dan culas (the fact that I favor oriental-looking girls does help). Saya tak percaya bahwa orang Jawa adalah yang paling sopan dan unggah-ungguh di Indonesia (saya pernah ketemu orang Jawa brengsek yang berprofesi sebagai penipu). Saya tak percaya orang Batak umumnya galak dan bicara keras (teman baik tante saya amat ramah dan ‘hobi’ mentraktir)… dan lain sebagainya. Di sisi lain saya percaya bahwa cewek Padang itu umumnya cakep-cakep. Agak generalisasi sih, but what can I do?

Alhasil bin walhasil, saya jadi terbiasa memandang orang di atas atribut kesukuan dan ras. Yang mana pada akhirnya…

…membuat saya jadi tidak peduli asal budaya sesuatu hal. Kalau ada sesuatu hal yang catchy, unik, menarik, atau paling tidak memorable, maka saya akan menyukainya. Biarpun asalnya dari seberang pulau atau samudra.

Saya suka masakan Padang, tapi juga suka lalap sambel-daun kemangi khas Sunda. Saya suka sayur asem, tapi benci setengah mati pada sayur lodeh. Saya belajar bahasa Jepang, sambil tertarik pada nama-nama Rusia dan Irlandia. Saya sama kagumnya pada Angkor Wat seperti saya kagum pada Borobudur. Gatotkaca tak jauh beda daripada Hercules dan Achilles; atau Ksatria Siegfried kalau Anda mau contoh dari Jerman.

Saya suka nonton dorama dan anime, dengar musik klasik, pasang lagu Bon Jovi dan Aerosmith — pokoknya, asalkan cocok, anything goes! :cool:

 
Dan dengan demikian, saya pun mencoba untuk jadi anak semua bangsa. Saya bukan orang Jawa, bukan pula suku bangsa manapun di muka bumi. Meskipun begitu, saya tertarik mempelajari apa yang saya rasa menarik… sebagaimana sekantong keripik sanjay khas Padang atau teh wasgitel khas Jawa Tengah membuat saya tergiur. ;)

***

Dipikir-pikir, mungkin itu juga sebabnya tidak punya preference “cewek cantik itu seperti apa”. Cinta pertama saya orang Minang; tapi saya juga pernah naksir keturunan Sunda-Jawa dan Palembang. Saya suka tampang setengah-oriental seperti Susan Bachtiar (waktu beliau host Galileo!) — tapi juga tidak merasa tipe Kaukasus seperti Emma Watson itu jelek. Yang saya agak bingung barangkali kenapa banyak orang tergila-gila pada Maria Sharapova. Menurut saya banyak atlet putri lain yang lebih cantik daripada dia. :-?

*dilempar sandal*

*bletaaakkk*

Ahem.

Jadi, saya pikir, pada akhirnya saya tak usah peduli saja pada masalah “saya ini orang mana”. Sebab yang terpenting adalah menjalani hidup, menikmati keragaman budaya mancanegeri (dan daerah) — sambil sebisa mungkin jadi diri sendiri saja. Saya adalah anak semua bangsa yang belajar dari apa yang ada, apa yang bisa diresapi dan dinikmati. End of story.

Paling tidak, saya bisa baca Nibelungenlied sambil minum teh tarik dan makan emping…

Syahdan, sebelum benua Australia ditemukan, orang Eropa punya pendapat seperti berikut.

Setiap kali saya melihat angsa, selalu berwarna putih.
Angsa di danau berwarna putih,
Angsa di peternakan berwarna putih.

Oleh karena itu, pastilah semua angsa di dunia berwarna putih.

Selama bertahun-tahun mereka terbiasa dengan “doktrin” ini, sebab memang tak ada angsa berwarna lain yang hidup di Eropa. Mulai dari Inggris, Wales, hingga Belanda dan Hungaria, semua angsa yang terlihat selalu berwarna putih. “Rasanya mustahil ada angsa berwarna hitam atau abu-abu,” demikian pikir penduduk Eropa.

Tapi, benarkah begitu?

Menjelang akhir abad ke-18, pendapat “angsa putih” di atas hancur berkeping-keping. Bahwasanya, para ilmuwan menemukan spesies ANGSA BERWARNA HITAM… di benua Australia!!! :shock:

 

Cygnus atratus

 
Angsa hitam (latin: Cygnus atratus). Konon, kehadirannya tersembunyi sampai tahun 1780 – yakni ketika ahli biologi Inggris menginjakkan kaki di Australia.

 
[photo (c) Mindaugas Urbonas, via Wikimedia Commons]

 
Kontan, peristiwa ini menampar kesadaran berfilsafat orang-orang Eropa. Bagaimana bisa orang begitu yakin bahwa semua angsa berwarna putih, sementara nyatanya ada angsa berwarna hitam? Pastilah ada yang salah dengan cara berpikir mereka. Tapi apakah yang salah itu?

 

Sekilas Problem Hume
(dan Cara Berpikir Induktif)

 

Bapak David Hume, filsuf Inggris yang meninggal pada tahun 1776, adalah orang pertama yang mengangkat topik ini. Di sela-sela kesibukannya sebagai penulis buku sejarah, ia mengetengahkan sebuah pertanyaan logika yang disebut Problem Hume.

Problem Hume aslinya memiliki deskripsi agak teknis. Meskipun begitu, untuk memudahkan pembahasan, saya akan coba menampilkannya di sini dalam bentuk ilustrasi.

Dua hari lalu, matahari terbit di ufuk timur.
Kemarin, matahari terbit di ufuk timur.
Pagi ini pun, matahari juga terbit di ufuk timur.

Tetapi, apakah matahari pasti terbit di timur juga esok hari?

Hume memiliki keberatan dengan cara berpikir induktif, yakni sebagaimana dijelaskan dalam tiga baris pertama bait di atas. Apabila suatu hal terjadi secara beruntun dan teratur di masa lalu, maka hal tersebut diprakirakan terjadi pula di masa depan. Pertanyaannya: benarkah demikian?

Menurut Hume, belum tentu. Bahwasanya amatan kita hari ini belum tentu mencerminkan kejadian esok hari. Dalam kasus matahari di atas, misalnya, tidak ada kepastian bahwa matahari akan terbit. Orang cuma bisa memprediksi saja lewat pengalaman.

Siapakah yang menjamin bahwa kiamat bukan esok hari? Bagaimana jika rotasi bumi mendadak berhenti, atau jika matahari mendadak hancur berkeping- keping. Menurut Hume, sangat gegabah jika kita meyakini masa depan takkan jauh beda dibandingkan kemarin-kemarin. Yang bisa kita yakini tentang masa depan — berdasarkan pengalaman — hanyalah probabilitasnya saja.

Kalau selama ribuan tahun matahari terus terbit di ufuk timur, sepertinya ia akan terbit di timur juga esok hari. Kalau selama ribuan tahun kita hanya melihat angsa putih saja, sepertinya mustahil ada angsa berwarna hitam. Tetapi bukan tak mungkin suatu hari, di satu hari yang mengejutkan… kita melihat parade angsa hitam atau matahari yang terbit di utara. Pada dasarnya, kita tak pernah tahu. Inilah intisari dari Problem Hume.

***

Kalau Anda suka nonton bola, pasti tahu kejadian baru-baru ini. Timnas Spanyol — yang tidak pernah kalah dalam 35 pertandingan terakhir — ternyata tumbang di kaki ‘anak bawang’ Amerika Serikat. Di sini Problem Hume menunjukkan dirinya. Betapapun dahsyatnya rekor Spanyol dalam 35 pertandingan, itu tidak menjamin mereka takkan kalah di pertandingan ke-36. :)

 

Hubungannya dengan Kebenaran

 

Salah satu implikasi yang dihadirkan Problem Hume terkait dengan persepsi kita tentang kebenaran. Hume mengindikasikan bahwa apa yang hari ini kita yakini sebagai “kebenaran” belum tentu berlaku di masa depan.

Contoh yang bagus tentang ini adalah Hukum Newton. Selama dua abad, orang menganggap Hukum Newton sebagai tiang pancang dunia fisika. Ribuan percobaan yang dilakukan sejalan dengan ketentuan dan prediksinya. Para fisikawan waktu itu percaya, rahasia besar fisika telah terungkap — tinggal detail kecil-kecil saja yang tersisa.

Tak kurang dari fisikawan A. A. Michelson berkata,

“Tugas fisika sekarang sekadar menghitung angka desimal keenam saja (dalam perhitungan).”

Masalahnya, semua bisa dijelaskan dengan Newton. Tinggal memasukkan angka-angka yang cocok ke dalam rumus, maka jadilah. Ini pendapat yang dianut hampir semua fisikawan klasik.

Meskipun begitu, di awal abad ke-20, Albert Einstein muncul dengan dua buah karya terkenal. Pertama, Teori Relativitas Khusus di tahun 1905 menumbangkan Hukum Gerak Newton. Kedua, Teori Relativitas Umum di tahun 1919 menumbangkan Hukum Gravitasi Newton. Hanya dalam tempo dua dekade, “kebenaran” yang dianut fisikawan klasik runtuh.

Hukum Newton, yang tadinya diyakini sebagai “kebenaran” dunia fisika, ternyata tidak sempurna. Sebagaimana halnya angsa hitam, teori Einstein sukses menjungkirkan anggapan yang telah mapan.

***

Di sinilah kita belajar bahwa “kebenaran” (dalam tanda kutip) itu bukan Kebenaran hakiki. “Kebenaran” itu hanya asumsi kita belaka. Asumsi-asumsi dibangun dari masa lalu, dipakai untuk memprediksi masa depan. Tetapi sebagaimana dikatakan oleh Problem Hume: no, you can’t. Tidak pernah ada jaminan bahwa hari esok akan sama dengan hari ini, atau bahwa “kebenaran” hari ini akan diterima di masa depan.

Ratusan tahun orang Eropa percaya bahwa semua angsa berwarna putih. Tetapi, cuma dibutuhkan beberapa tahun menapaki Benua Australia untuk menyangkalnya.

Ribuan eksperimen mendukung “kebenaran” Hukum Newton. Keberhasilannya dua abad. Tetapi, cuma dibutuhkan dua buah paper di awal abad 20 untuk meruntuhkannya.

Dan siapakah kita, yang berhak mengklaim bahwa matahari pasti terbit di timur esok hari? Tidak ada. Kita cuma bisa memprediksi berdasarkan dengan pengalaman. Tetapi, benar atau tidaknya, kita takkan tahu sampai esok tiba. ;)

 

Memaknai Kerancuan: Solusi Karl Popper

 

Sampai di sini, mungkin ada di antara pembaca yang hendak mengangkat tangan dan bertanya.

“Bagaimana bisa kita hidup dengan tenang? Dunia ini begitu rancu, tidak ada yang pasti. Bahkan kebenaran yang kita percaya juga tidak pasti!”

Memang ada benarnya. Problem Hume membuat kita harus siap-siap kehilangan pegangan: tidak ada yang tidak mungkin terjadi di dunia ini. Masa depan kita tak pernah pasti. Yang bisa kita hitung barangkali hanya probabilitas (kebolehjadian)-nya saja.

Tetapi, bagaimana supaya kita tak terjebak mengamini “kebenaran” yang salah? Bagaimana supaya kita tak canggung menghadapi dunia yang tak terduga?

Jawaban untuk ini ditemukan oleh filsuf Austria, Karl Popper. Menurut Popper,

Pendapat kita tentang sesuatu hal tak boleh statis, melainkan harus selalu dicocokkan dengan bukti. Apabila pendapat tidak cocok dengan bukti, maka pendapat tersebut harus diperbaiki.

asas falsifikasi

Dunia memang tak terduga, Popper mengakui. Satu-satunya cara untuk menghadapi Problem Hume adalah dengan menerima bahwa prasangka kita bisa salah. Meskipun begitu, kita selalu bisa belajar dari kesalahan. Dengan mempelajari kesalahan, pemahaman kita jadi lebih baik.

Kalau tadinya kita percaya bahwa semua angsa berwarna putih, dan ternyata kita menemukan angsa hitam, maka keyakinan kita harus direvisi. Kalau tadinya kita percaya Hukum Newton sebagai kebenaran, maka, setelah melihat teori Einstein menumbangkan Newton, keyakinan itu juga harus direvisi. Di sini bukti berbicara. Apabila kita memilih keukeuh pada argumen dan menolak bukti, maka kita tak bisa maju.

Singkat kata, Popper menekankan: agar terhindar dari kekeliruan, orang harus membuka diri pada kemungkinan dan belajar dari kesalahan. Orang yang dogmatik, yang tertutup dan menolak bukti, hanya akan jadi tertawaan. Hanya orang yang berpikiran terbuka dan mau belajarlah yang bisa maju.

Demi menghadapi ketidakpastian, kita harus mengakui yang tak terduga. Dan kemudian, belajar dari yang tak terduga itu setiap kali ia menyerang. Demikian pendapat Popper.

 

Epilog: Dunia yang Tak Pasti

 

“Life is like a box of chocolates — you never know what you’re gonna get.”

~ Forrest Gump

 
Kita hidup di dunia yang tak pasti, demikian kata orang. Masalahnya kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Kadang hidup berjalan sesuai perkiraan; lain waktu, kita mendapat kejutan. Hal-hal semacam ini membuat hidup kita jadi berwarna, dan pada dasarnya layak disyukuri. Sebab, siapa pula yang mau menjalani hidup yang sama setiap hari? :D

Terkadang musibah terjadi, dan kita menangis. Terkadang kita mendapat kejutan manis, dan kita tersenyum. Satu hal yang harus selalu diingat adalah bahwa anything may not last forever. Tidak pernah ada jaminan bahwa hari esok akan sama dengan hari ini. Yang susah adalah kalau kita berasumsi bahwa hari esok akan begini atau begitu, tapi ternyata berbeda. Kita jadi tidak siap.

Quid vesper ferat, incertum est, begitu kata pepatah latin. Apa yang terjadi nanti sore tidak pasti. Oleh karena itu, salah besar jika orang berasumsi terlalu pasti tentang masa depan. Kita harus ingat bahwa selalu ada ruang untuk ketidakpastian — betapapun kecilnya.

Maka benarlah ujaran Karl Popper di atas. Orang tidak selayaknya berasumsi dengan pikiran tertutup, melainkan harus membuka diri pada kemungkinan. Hanya dengan membuka diri pada kemungkinan, kita siap menghadapi dunia; belajar dari kesalahan kita, dan menjadi lebih baik karenanya.

Anda setuju? ;)

 

 

——

Ps:

Michael Owen gabung ke Man-U! Ada yang menduga? plurk_woot

Tulisan Sebelumnya »