Feeds:
Tulisan
Komentar

Dulu, waktu saya masih kecil, ayah saya pernah menyampaikan ucapan yang — kira-kira — intinya sebagai berikut.

“Setiap kali ini-itu, pasti menangis. Jangan jadikan tangisan sebagai senjata.”

Saya tak ingat waktu itu saya sedang apa, atau menangis karena apa. Meskipun begitu, ucapan tersebut sangat membekas di hati saya sampai sekarang. Merajuk itu tidak baik, begitu intinya. Kalau kamu minta pengertian dengan menangis, tapi tanpa alasan yang kuat, itu sama saja dengan manja.

Tentunya ini bukan berarti orang tak boleh menangis sama sekali. Yang tidak boleh adalah menangis untuk meraih simpati orang, lantas mengambil keuntungan darinya.

Saya tahu, kalimat di atas terkesan keras dan terkesan ‘tidak berhati’. Tapi saya juga tahu bahwa itu ada benarnya. Dunia kita adalah dunia yang keras: orang bisa memohon-mohon dengan air mata dan tampang memelas, sementara dalam hatinya mereka sedang mengatur perangkap. Orang-orang macam ini menyedihkan. Mengemis belas kasihan, mengharap dukungan moral ataupun material… tetapi, adakah mereka punya alasan untuk dikasihani?

Belum tentu.

Kalau Anda sering main ke Jakarta (atau kota-kota besar lainnya di Indonesia), Anda mungkin pernah bertemu orang-orang macam ini. Biasanya orang tersebut bilang, “Dik, tolong minta uang pulang kampung. Barusan saya dicopet…” Matanya berkaca-kaca tanda kesedihan. Anda pikir dia tulus? Ha! Main saja ke tempat yang sama esok hari, dan lihat apa dia masih ada di situ. Dicopet kok berulang-ulang. :mrgreen:

Saya beberapa kali mengalami yang seperti ini. Ada dua orang di Bandung yang saya sampai kenal dengan wajahnya. Yang satu berkata bahwa dia sedang menuju Kiara Condong, tapi nyasar di Dago, dan kehabisan uang; yang satu lagi berkata bahwa dia datang dari Garut dan kecopetan. Demi mendapat sesuap nasi™ pengisi malam, ia lalu menjadi tukang parkir ilegal di taman kota…

…menyedihkan? Enggak sama sekali. Lha wong saya ketemu mereka berulang-ulang kok. Yang pertama saya ketemu di Dago tiga kali (!), sementara yang kedua, dua kali di dalam kampus. :lol:

Hmmmmmmm.

***

Dari dulu, dan sampai sekarang, saya selalu jengkel pada orang yang jualan air mata. Atau, dalam pengertian yang lebih luas, jual kasihan. Mulai dari calon idola Indonesia yang nggak bisa nyanyi tapi bapaknya tukang becak, sampai tokoh cewek yang nangis-nangis di sinetron gara-gara ketahuan selingkuh. Pertanyaannya, buat apa? Mau dapat apa orang dengan air mata?

Ini sama saja dengan saya nangis-nangis di depan dosen, bercerita tentang semua kesulitan hidup, dengan harapan beliau jatuh simpati dan meluluskan saya dari kuliahnya. Enggak mutu. Limpahan SMS dari seluruh pemirsa Indonesian Idol sekalipun takkan mampu membuat saya lulus kuliah fisika kuantum, kalau saya memang layak dapat E. :|

Saya pikir ada yang salah dengan kultur “air mata dan belas kasihan” ini. Masalahnya, sebagian kita terlalu mudah jatuh simpati. Simpati itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh sekelompok orang tertentu. Mulai dari yang pura-pura kesasar, pura-pura kecopetan, hingga pura-pura bisa nyanyi dan ikut kontes idola. Untuk apa simpati itu dimanfaatkan, tujuannya tentu saja bervariasi.

Entah siapa yang salah. Apakah si pelaku yang sengaja mempromosikan kesialannya, atau masyarakat yang terlalu gampang kasihan? Sejujurnya, saya juga tidak tahu.

Meminjam lirik lagu Ebiet G. Ade,

Tinggal aku sendiri, terpaku menatap langit…

Barangkali di sana ada jawabnya…

Oh well. :lol:

Akhirnya balik juga dari hiatus. Yaay.

 

onion

 

Ya, saya tahu, saya melewatkan banyak kejadian penting selama dua bulan terakhir. Sebenarnya semua itu bisa jadi topik yang menarik untuk diblog. Tapi, apa daya — saya sedang tak hendak online (walaupun tanpa direncanakan sebelumnya). Jadi, karena dibuang sayang, biarlah saya rangkum semua itu dalam bentuk kalimat pendek saja.

Dan inilah topik-topik post yang — boleh jadi — akan mewarnai blog ini, seandainya saya tak hiatus…

 
Football
 

Josep Guardiola = Master of Pep Talk (no, really).

Champions League 2009 chant: “SORRY DORRY MAN UNITED. SORRY DORRY MAN UNITED…”

Brasil > Amerika > Italia > Mesir

Miracle on Grass. Do you believe in Miracle? YES!

Real Madrid buang-buang duit di tempat yang salah.

 
Asinine
 

Persyaratan jadi bintang sinetron: (1) berpenampilan menarik, (2) pernah disiksa suami. (I’m looking at you, Manohara)

Demi Garuda di dada, aku menolak stempel 100% Mesir asli!

“Situ pro-rakyat? Kalau iya, lanjutkan. Lebih cepat lebih baik.”

Dan semua orang mendadak bicara UU ITE… (methinks it was meme of yesteryear)

 
Politics and Whatnot
 

Good night, my sista. Marg Bar Dictator!

Fars Fark News > CNN

“Tapi itu tiang pancangnya dipasang di masa jabatan saya!” ~ kata Bu Mega tentang Jembatan Suramadu.

Media massa: Apa itu Neoliberal? Neoliberal adalah… *wharrrrgarbbll*

Nenek moyangku punya Ambalat / Gemar mengarung luas samudra / Menerjang ombak, tiada takut / Menantang badai, sudah biasa~

 
Somewhat Obvious
 

Banyak jendela yang terbuka sepanjang malam di gedung SMA 3 Bandung. (it is said that a ‘Noni Belande’ may appear behind one)

Jalan Ganesa sampai Taman Lalu Lintas (Bandung) bisa ditempuh dengan dua jam jalan kaki, bolak-balik.

Adik saya ternyata nggak ngefans sama CrisRon. (”Pake shortpants gitu? Ihh, enggak banget!”)

Cake Blueberries-nya Amanda Brownies itu enak.

Biasa: tante saya menginap dua minggu di Puncak. Aneh: terdengar suara kursi berderit-derit sepanjang malam. WTF: seorang temannya mendadak terkunci di WC kusam selama 30 menit; pintu terbuka setelah ia memanjatkan doa. [Scary]

 
Personal Interests, Technical Stuffs
 

Apa itu String Theory? String Theory adalah…

Being multirace is (was?) one delicate matter. (Kathleen Tamagawa, Sunny Yamagata)

Banyak orang salah paham tentang Nietzsche. (I’m looking at you, Nietzsche Wannabes and Straw Atheists)

Camus dan Sartre itu serupa tapi tak sama. Ibarat segitiga siku-siku dan samakaki. (*wharrrrgarbl* =_=! )

Hei, ternyata baca textbook psikologi itu asyik. =3

Laughing at Nothing: Humor as a Response to Nihilism, oleh John Marmysz. Buku bagus yang mengupas tentang nihilisme dan (sedikit) eksistensialisme. Rencananya mau saya review tempo hari, tapi, yah sudahlah. Mungkin lain waktu.

*baca ulang daftar*

*kecewa*

Sial, padahal banyak yang bisa jadi postingan bagus. Kelewat dua bulan aja, udah pada basi. (x_x)

*ngomel-ngomel gak jelas*

Tapi ada sisi baiknya. Setidaknya, niat saya untuk mengucapkan SORRY DORRY MAN UNITED di blog ini tercapai…

Ada sebuah scene dari buku pertama serial Harry Potter, yang sampai sekarang masih membekas di pikiran saya. Saat itu Harry baru saja berkenalan dengan Ron Weasley, dan sedang naik kereta dalam perjalanan menuju Hogwarts.

Ron had taken out a lumpy package and unwrapped it. There were four sandwiches inside. He pulled one of them apart and said, “She always forgets I don’t like corned beef.”

“Swap you for one of these,” said Harry, holding up a pasty. “Go on -”

“You don’t want this, it’s all dry,” said Ron. “She hasn’t got much time,” he added quickly, “you know, with five of us.”

“Go on, have a pasty,” said Harry, who had never had anything to share before or, indeed, anyone to share it with. It was a nice feeling, sitting there with Ron, eating their way through all Harry’s pasties, cakes, and candies (the sandwiches lay forgotten).

Syahdan, Harry Potter tidak pernah punya teman selama sebelas tahun pertama hidupnya. Ia selalu dikerjai oleh Geng Dudley; paman dan bibinya bersikap acuh-tak-acuh; apparently the ingredients to create an emo boy. Orang bertanya-tanya kenapa dia tidak tumbuh jadi seorang misantropik. Saya sendiri merasa bahwa, jika saya yang menulis ceritanya, hampir pasti saya akan membuat Harry jadi karakter yang brooding dan membenci dunia… tapi itu cerita lain untuk saat ini.

Pertanyaannya adalah: motif apa yang membuat Harry membeli begitu banyak pastel dan permen di atas Hogwarts Express, lantas mengajaknya bertukar dengan sandwich Ron? Sebagai tanda persahabatan? Mungkin. Atau sekadar simpati setelah melihat rasa inferioritas Ron? Itu juga mungkin. Meskipun begitu, saya merasa bahwa ada suatu pendorong yang tak kalah pentingnya, yang membuat Harry berinsiatif berbagi pastel dengan Ron:

“Go on, have a pasty,” said Harry, who had never had anything to share before or, indeed, anyone to share it with.

Harry bukan saja tak punya sesuatu yang layak dibagi dalam sebelas tahun. Lebih jauh lagi, dia tak punya seorangpun untuk berbagi: materiil atau moral, Keluarga Dursley tak pernah memberinya kesempatan itu.

***

Ilustrasi suguhan J.K. Rowling di atas membuat saya berpikir, bahwasanya manusia mungkin kodratnya adalah ‘makhluk berbagi’. Bukan karena ingin merasa penting — melainkan karena berbagi itu melegakan. Entah itu kebahagiaan, kesedihan, atau sekadar cerita remeh-temeh, orang tak ingin mengalaminya sendiri.

Ketika Anda masih SD, Anda mungkin pernah mendapat nilai ulangan 100, lantas ingin cepat pulang dan menunjukkannya pada orangtua. Ketika Anda berulang tahun, Anda menyusun daftar teman yang ingin Anda ajak makan-makan; ketika Anda menikah, Anda mengundang famili dan relasi; dan lain sebagainya.

Selalu ada yang kita cari untuk menyampaikan isi hati. Orang yang bilang bahwa dia tak butuh berbagi adalah pembohong. Ketika dia bahagia, dia ingin bercerita; ketika dia sedih, maka dia ingin dimengerti. Orang yang tidak punya niat berbagi adalah orang yang kesepian.

 
Another Version of Hedgehog Dilemma
 

Tetapi, apakah saling berbagi itu jaminan kebahagiaan? Sedihnya, tidak selalu begitu.

Analogikan kasusnya seperti ini — saya modifikasi sedikit dari dilema landak-nya Schopenhauer.

Misalnya terdapat bayi landak yang baru lahir di musim dingin. Agar bayi landak tidak mati kedinginan, maka ibu landak harus tidur berdempetan dengannya, memberikan panas tubuh pada si bayi tersebut.

Tetapi landak adalah hewan berduri. Jika si ibu terlalu dekat dengan anaknya, maka sang anak akan menderita tertusuk duri. Sedangkan jika si ibu terlalu jauh, maka sang anak tidak mendapat kehangatan yang dibutuhkan.

Di sini si ibu landak harus berhati-hati. Niatnya berbagi kehangatan boleh jadi justru dipersepsi sebagai serangan/abuse oleh si anak.

Terkadang niat untuk berbagi saja tidak cukup. Ada faktor-faktor lain yang, jika tidak dipertimbangkan dengan baik, justru berpotensi membawa dampak negatif.

Bayangkan seandainya pastel Harry Potter dianggap sebagai penghinaan oleh Ron. Mungkin dia akan berkata, “Saya memang miskin, OK! Kamu tak perlu berbagi seperti itu!” Bayangkan seandainya, ketika Anda bercerita pada teman tentang nilai 100 di ulangan, teman Anda menanggapi, “Iya deh, kamu pintar. Puas?” Dan lain sebagainya.

Menurut saya ini hal yang ironis. Ketika orang hendak berbagi, atau sekadar bercerita tentang hidup, reaksi yang didapat bisa sangat negatif. Padahal niat aslinya mungkin tak seburuk yang disangka.

 
Case for Avoidance
 

Salah satu hal yang disorot oleh analogi landak — baik versi aslinya ataupun modifikasi yang saya paparkan di atas — adalah bahwa bersikap menghindar (avoidant) bisa jadi jalan keluar. Daripada menyakiti atau disakiti, lebih baik untuk bersikap diam dan menghindar.

Schopenhauer mengibaratkan landak sebagai manusia. Setiap kali manusia berinteraksi dengan yang lain, maka mereka berpotensi saling menyakiti. Baik lewat kata-kata maupun perbuatan. Disadari atau tidak disadari. Disengaja atau tak disengaja. Pada akhirnya manusia jadi seperti landak yang dikisahkan: mereka ingin berdekatan, tetapi ketika berdekatan, mereka justru saling tertusuk. Oleh karena itu, daripada saling menusuk, lebih baik jika mereka berjauhan saja.

Tapi apakah ini jalan keluar yang baik?

Saya merasa bahwa masalah sebenarnya lebih mendasar daripada itu. Bersikap avoidant tidak menyelesaikan masalah. Dia sekadar menghindarkan kita dari rasa sakit, tetapi sumber rasa sakit itu masih tetap ada. Selama landak masih punya duri, maka begitulah adanya. Dan selama manusia kesulitan memahami yang lain, maka kemungkinan mereka menyakiti yang lain akan tetap terbuka.

***

Ada kalanya dalam hidup, saya ingin berbagi sesuatu hal pada orang lain. Tetapi saya tidak punya orang yang siap menerimanya.

Ada kalanya dalam hidup, saya mempunyai orang yang siap mendengarkan dan menerima — tetapi saya tidak ingin berbagi dengannya.

Dan ada kalanya dalam hidup, saya berbagi sesuatu hal pada orang yang (saya kira) siap menerimanya — tapi ternyata saya salah. Terkadang rasanya menyakitkan. But then that’s what life is all about.

 
But still, I do harbor this one feeling. To have someone to whom you can confide, and whom you can share many things with, is luxury. Sebagaimana sudah saya tulis sebelumnya, orang yang mengatakan bahwa dia tak hendak berbagi adalah orang yang kesepian. Di saat bahagia kita ingin bercerita; di kala sedih kita ingin dimengerti. Orang-orang yang (sok) emo mungkin bangga dengan kesendiriannya — tetapi saya bertanya, seberapa seringnya mereka merenungi hal itu.

Mungkin Schopenhauer benar. Manusia sebenarnya seperti landak: ingin saling berinteraksi, tapi tanpa sengaja justru saling menyakiti. Bersikap hati-hati mungkin merupakan pilihan terbaik.

Satu hal yang menguntungkan jika Anda punya adik perempuan — atau merugikan, tergantung sudut pandang Anda — adalah bahwa Anda tak perlu khawatir tentang niat baiknya memikirkan gebetan sang kakak. Kemungkinan besar, Anda justru mendapat masukan berarti dari sudut pandang sang adik ybs.

Sayangnya, terkadang niat baik tersebut datang tanpa diundang. Lebih sering daripada tidak, hal ini menyebalkan membuat sang kakak jadi sport jantung atau — kalau sedang makan atau minum — mendadak tersedak sambil tergagap, “APAPAPAPA!?!??!”

Ya, kalau adik Anda punya bakat detektif yang aneh hingga nyaris mengerikan, Anda paham maksud saya. Saya sendiri tak pernah bilang siapa persisnya orang yang saya perhatikan, tapi entah bagaimana dia selalu tahu…

*it’s a mystery*

Contoh dialognya kira-kira sebagai berikut. (kejadiannya waktu saya masih SMA)

Dia: Ah, gw tau. Tipe-tipe lo kayaknya anak ekskul X.

Saya: Hmmm… :roll:

Dia: Kayaknya pake jilbab. Enggak pecicilan juga pastinya. :D

Saya: Enggak tau yaaa… :lol:

Saya pikir saya cukup aman sejauh itu. Meskipun begitu, beberapa minggu kemudian…

Dia: Gw TAU siapa yang lo taksir! KETUA EKSKUL X KAN? Ngaku!! :twisted:

Saya: *kaget*

Saya: Heh, nebak sembarangan. Emang atas dasar apa lo mikir gitu? :cool:

Dia: Aheuheuheu… bener kaaaan? yahoo-giggle

Saya: Tanpa bukti, semua itu palsu!! yahoo-silent

Dia: Heuheuheuheuheu… yahoo-giggle yahoo-giggle

Saya: ……

Saya: *menyerah* x(

Jangan tanya saya darimana dia tahu. It’s a mystery. Jeleknya satu sekolah sama saudara sendiri, ya, ini.

Meskipun begitu, ternyata dia cukup baik untuk menyampaikan opininya sebagai berikut.

Dia: Ya, lucu sih. Imut. Anaknya baik, enggak aneh-aneh…

Saya: Ha. Terus?

Dia: Ya gitu dee~ Serius lo mau ama dia?

Saya: Tauk. Belom juga ngapa-ngapain? yahoo-eyebrow

Dia: Ya udah… gw doain. Semoga sukses ya. ^^_cU

Well, OK. Not bad. Setidaknya sudah dapat approval dari dia…

Sayangnya kisah ini belum selesai.

Satu-dua minggu kemudian, dia datang lagi ke saya, dan menyampaikan komplain sebagai berikut.

Dia: Eh, itu si Y kok sekarang jutek sih? Tiap kali gw papasan, bawaannya kusut melulu. :-/

Saya: Mana gw tau. Ada urusan apa, kali…

Dia: Ya, dia kan gebetan lo? Perhatian dong? :cool:

Saya: LO KIRA DIA PACAR GW!? :twisted:

Dia: Kalo sikapnya gitu, gw jadi nggak terima nih. Gimana-gimana, gw sebagai calon ipar… yahoo-silent

Saya: …… *speechless*

BTW, itu bukan cuma satu kali terjadi. Ada juga kasus(-kasus) lain di mana dia menyampaikan saran tanpa diundang. Konsekuensi logis sebenarnya. Tapi ya, itu.

Dan suatu waktu, ketika satu keluarga sedang naik mobil…

Tante: So, dulu kan ada yang bilang “I miss you” sama kamu? Kuliah di mana sekarang? :)

(*ini orang yang lain dengan yang ditebak adik saya di atas*)

Saya: *mencoba mengingat-ingat* Di Bandung juga kayaknya. Rasanya di kampus Z…

Tante: Loh? Satu kampus sama adikmu, dong? :-?

*siiiiiiiiiing*

Adik saya: OOOOOH, kakak yang itu… Si N, bukan? :D Iya tuh tante, dia orangnya rada…

Mengenai bagaimana berisiknya isi mobil sesudah itu, tak hendak saya jelaskan di sini. Biarlah saya serahkan pada imajinasi pembaca saja. >__>

 

 

——

Catatan:

Semua dialog di atas adalah kisah nyata dan benar-benar terjadi. Jujur. (=_=)_v

Scaling Dago area by foot isn’t something I usually fancy, if only out of boredom. When the sky is clear, however, doing so would seem as one viable option.

 
01-sky
 

While one doesn’t fancy Bandung to be superior to Indonesian capital Jakarta, it has something not to be shy of – in form of rather spacious trottoir,

 
02-trotoar-ed
 

that, as any JaBoDeTaBek citizen would fairly attest, is much of rarity in that other town.

Following the road may well lead to some means of recreation Bandung can offer. From the outlet of nationally well-known pastry-selling franchise,

 
03-kartika sari-ed
 

to the more traditional, albeit curious, guerilla-like selling method championed by another brand in the same field of business.

 
04-amanda-gerobak
 

Pulling a few hundred yards to the south, one may eventually find facade of Padjajaran University’s secondary campus – of which to notice the plaque among greeneries itself requires effort.

 
05-unpad-du
 

While not far from there, one particular place to hang out is readily available.

 
06-plaza dago
 

Residence complex are, at best, reminiscent of South Jakarta suburban areas,

 
07-residence
 

up until one takes notice on somewhat unique, gothic-distro seems-to-be along the way:

 
08-godinc
 

Or something like that.

 

 

——

Ps:

Post format inspired by Tokyo Times. ;)

A God among Men

liverpool-4-arshavin-4

 

yahoo-worshipyahoo-worshipyahoo-worshipyahoo-worship

 
—–

(photograph courtesy of Arsenal.com)

 

Orang Filsafat itu…

Suatu ketika, Bapak Richard Feynman, seorang fisikawan peraih Nobel, diundang hadir dalam konferensi interdisiplin. Layaknya konferensi interdisiplin, yang hadir di sana adalah para tokoh dari berbagai bidang — di antaranya teologi, filsafat, etika, dan sosiologi.

Nah, beliau diundang sebagai wakil kalangan ilmuwan.

Meskipun begitu, tak berapa lama, Pak Feynman menemukan suatu masalah. Dia tidak mengerti pembicaraan orang-orang di konferensi tersebut! :o

Tentunya ini aneh. Apa mungkin beliau, yang dosen fisika sekaligus ilmuwan terkenal, tidak paham topik konferensi interdisiplin? “Pasti ada yang salah dengan pendekatan saya,” demikian pikir beliau.

Menyadari hal ini, beliau pun berintrospeksi. Sebagaimana diceritakan dalam autobiografinya,[1]

Aku mulai membaca makalah sial itu, dan mataku hampir copot; aku tidak paham sedikit pun! Kupikir itu karena aku belum membaca buku-buku dalam daftar. Aku punya perasaan tak nyaman bahwa aku “tak mampu”. Akhirnya, aku bilang pada diriku sendiri, “Coba aku berhenti di satu bagian, dan kubaca satu kalimat lambat-lambat, supaya aku bisa menggali apa sih artinya.”

Jadi, aku berhenti secara acak—dan membaca kalimat berikutnya dengan hati-hati. Aku tak tahu persisnya tentang apa, tapi kalimat itu kira-kira begini: “Seorang individu dalam suatu komunitas sering menerima informasinya melalui saluran simbolik-visual.”

Aku bolak-balik memikirkannya, dan menerjemahkannya. Tahu apa maksudnya?

“Orang membaca”.

***

Kalau boleh jujur, saya sering bingung tiap kali membaca tulisan — atau ngobrol dengan — orang-orang yang berlatar belakang filsafat. Masalah utamanya satu: mereka cenderung terpaku pada gaya bahasa teknis dan khas-filsafat. Mbulet. Atau, dengan kata lain, begitu rumitnya hingga sulit dimengerti oleh pembaca/pendengar pada umumnya.

Ya, tidak semuanya sih. Setidaknya saya rada nyambung dengan tulisan-tulisan bertema filsafat di blognya mas Fertob dan mas gentole. Mungkin kembali pada bagaimana si penulis bisa menjelaskan idenya. Meskipun begitu, tetap saja yang satu ini sering terjadi: orang berbicara filsafat, saya mendengarkan, dan wuss… mendadak semua jadi kabur.

Saya pernah membaca kumpulan esai Goenawan Mohamad, dan saya jadi bertanya-tanya: apa artinya “poststrukturalisme Adorno” dan “feminisme Kristeva”. Saya tak tahu siapa itu Bertold Brecht, tapi tetap saja beliau menulis panjang-lebar tentangnya. Saya pernah nyasar ke forum internet tentang filsafat — ada bahasan tentang “dekonstruksi Derrida” dan sebagainya — tapi, apa itu “dekonstruksi Derrida”, tidak ada yang menjelaskan. No, nein, nai!

Jalan keluarnya? Sudah tentu bertanya ke wikipedia atau mbah gugel. Mau bagaimana lagi? (-_-)

***

Jadi, sejak itu, saya belajar satu hal. Orang-orang filsafat itu suka sekali memakai istilah teknis dan aneh, yang belum tentu audiensnya paham. Seperti halnya contoh brilian yang disampaikan Pak Feynman di atas: ide sederhana seperti “orang membaca” pun bisa ditulis muter-muter hingga terdengar ajaib!

 

Kultur dan Penerimaan
 

Kemudian saya berpikir, mungkin kultur kita juga turut menyuburkan kebiasaan buruk ini. Orang-orang filsafat itu mungkin terlalu mendapat sanjungan yang berlebihan.

Kalau orang filsafat menyitir Derrida, Heidegger, dan Wittgenstein, orang yang tidak paham memandangnya: “Wah, hebat. Dia paham filsafat. Orang pintar, ini!”

Sementara, kalau orang fisika menyebut “radiasi Hawking” atau “Anomali Efek Zeeman”, orang yang tidak paham memandangnya: “Dia pintar sih, tapi nerd banget. Omongannya fisika tinggi terus.”

Bisa Anda lihat bedanya. Kalau bisa ngomong “Dekonstruksi Derrida”, keren; kalau mengerti “Anomali Efek Zeeman”, nerd. Padahal keduanya sama-sama topik yang obscure dan advanced. Kenapa pula ditanggapi secara berbeda?

 
Speaking of which, ini mengingatkan saya pada sepak-terjang para ilmuwan dalam beberapa dekade terakhir. Menyadari bahwa masyarakat kesulitan mencerna penelitian mutakhir, mereka pun aktif memperkenalkan diri lewat sains populer. Mulai dari Stephen Hawking, Carl Sagan, hingga Richard Dawkins. Mereka ingin pekerjaan mereka bisa dimengerti dan dinikmati orang banyak. So there goes.

Di sisi lain, kalangan filsafat terkesan cuek pada fenomena ini. Alih-alih mencoba memperkenalkan filsafat dengan cara yang lebih akrab, mereka lebih sering menjelaskan begini-dan-begitu versi mereka. Atau mungkin merasa kurang perlu mempopulerkan gagasan mereka. Or something like that.

Singkatnya, ada yang kurang cocok di sini. Filsafat kini terkesan lebih menara gading dibandingkan sains — dalam artian lebih bisa dipandang tinggi, dan dihargai, tanpa harus dimengerti. Lebih mudah mensituasikan pakar MIPA sebagai nerd dibandingkan pakar filsafat sebagai nerd.

Padahal, kalau saya boleh menganalogikan,

Orang yang menjelaskan eksistensialisme — pada orang awam — sambil sedikit-sedikit menyitir Nietzsche, Camus, dan Sartre,

KURANG LEBIH SAMA DENGAN

Orang yang menjelaskan Mekanika Kuantum — pada orang awam — sambil sedikit-sedikit menyebut Efek Casimir dan Percobaan Ashfar.

Mereka sama-sama menjelaskan suatu gagasan, tapi tidak melakukannya dengan baik. Enggak bakal nyambung.

 

Jadi?
 

Ada sebuah kutipan bijak dari dosen saya, yang disampaikan waktu saya masih duduk di tingkat dua. Bunyinya kira-kira sebagai berikut:

Ada dua cara membuat orang kagum pada Anda.

Pertama: jelaskan suatu topik sampai dia mengerti,

Kedua: jelaskan suatu topik sampai dia tidak mengerti.

Mengenai maknanya… hmm, saya rasa tak perlu dijelaskan lagi. Silakan dihayati sedalam-dalamnya. :mrgreen: *halah*

 

Sebuah Catatan Akhir!
 

Di awal tadi, saya bercerita tentang pengalaman Pak Richard Feynman. Kisah itu belum selesai — masih ada lanjutannya berikut ini.[2]

Pada hari kedua, ahli steno itu mendatangiku dan bilang, “Apa pekerjaan Bapak? Pasti bukan dosen.”

“Lho, saya dosen.”

“Dosen apa?”

“Fisika-IPA.”

“Oh! Pasti itu sebabnya,” katanya.

“Sebab apa?”

Dia bilang, “Begini, saya kan tukang steno, dan saya mengetik semua yang dikatakan di sini. Nah, kalau orang lain yang bicara, aku ketik apa yang mereka katakan, tapi aku tidak mengerti apa yang mereka bilang. Tapi, kalau Bapak yang berdiri dan bertanya, atau mengatakan sesuatu, saya mengerti apa maksud Bapak—apa yang ditanyakan, dan apa yang dikatakan—jadi, saya pikir, Bapak tidak mungkin dosen!”

Well, there you have it. So… meh. :lol:

 

——

Referensi:

 
[1] Feynman, R.P. 2003. terj. Cerdas Jenaka Cara Nobelis Fisika. Bandung: Penerbit Mizan, hlm 313 (dengan perubahan seperlunya)

[2] ibid.

Resident Evil: Degeneration

Jadi, ceritanya saya baru saja nonton sebuah film (full-CG) keluaran CAPCOM. Judulnya seperti yang bisa Anda baca di atas. [IMDb here]

Personal Rating – 6/10

5/10-nya disumbang oleh kehadiran mbak Claire Redfield di layar kaca.

 

Claire Redfield - RE: Degeneration

 

No, you don’t need any decent storyline at all. Just… Claire.

Saya [telah] mencoba layanan microblogging plurk. Sejauh yang saya dengar, plurk merupakan layanan microblogging yang sedang naik daun di seputar blogosp

Saya [rasa] layanan ini cukup menarik, walaupun kenyataannya dia tidak unik. Sejujurnya, saya berpendapat bahwa layanan plurk tak beda jauh dengan twitt

Saya [berkata] sayangnya terdapat satu kelemahan besar dari layanan ini. Pembaca yang sering mengunjungi blog ini harusnya menyadari bahwa tulisan saya um

Saya [berkata]:|

Saya [pikir] ini menyebalkan. Lihat, tidak satupun paragraf di atas tertulis sampai selesai. Bahkan setengah kalimat pun terpotong. (nottalking)

Saya [benci] sekali keadaan seperti ini. Saya ini mau menjelaskan keadaan sedetail mungkin! Masa belum selesai ngomong sudah dipotong!? (angry)

Saya [berkata] coba pikir, bagaimana jadinya kalau saya mau liveplurking pertandingan bola.

Saya [berkata] seperti ini: “GOL BRILIAN OLEH ANDREI ARSHAVIN!! Dia melewati dua orang pemain Blackburn Rovers! Tembakan melambung dari sudut sempit yang t

Saya [pikir] Anda bisa bayangkan. Masa ide dan kosakata yang mengalir dihambat begitu rupa? (nottalking)

Saya [berkata] ya, walaupun plurk bukan tak ada kelebihannya juga sih. (thinking)

Saya [berkata] setidaknya saya suka kumpulan emoticonnya. Emoticonnya bagus-bagus! (dance) (dance)

Saya [pikir] pada akhirnya ini layanan yang cukup menarik. Hanya saja ada syaratnya: Anda harus bisa merumuskan gagasan Anda dalam bentuk seringkas mung

Saya [berkata] …… (angry)

Saya [berkata] (idiot) (idiot) (angry) (angry)

Saya [telah] memutuskan bahwasanya layanan plurk tidak cocok untuk saya. (u_u)

Saya [merasa] bahwa saya sangat terganggu dengan ketidakmampuan plurk memberikan ruang untuk penjelasan tambahan ini-dan-itu

Saya [berkata] misalnya begini.

Saya [bertanya-tanya] apa jadinya kalau saya menulis: “para fisikawan di LHC telah menemukan jejak partikel boson Higgs!”

Saya [berkata] pembaca pasti bingung. “Boson Higgs itu apa?”

Saya [berkata] tentunya mudah kalau saya menulis di blog, tinggal tambahkan uraian + catatan kaki. Tapi ini kan plurk. (annoyed)

Saya [pikir] ini tantangan besar bagi para pelajar/dosen fisika modern. “Jelaskan apa itu boson Higgs dalam 140 karakter.” (thinking)

Saya [berkata] entah kenapa rasanya seperti pekerjaan dewa. (LOL)

Saya [pikir] oh, sial. Sebenarnya solusinya gampang. (annoyed)

Saya [berkata] http://en.wikipedia.org/wiki/Higgs_boson (idiot) (idiot)

Ah…

Rasanya sekarang saya bisa membayangkan, bagaimana perasaan tiga orang manajer tim Liga Utama Inggris di setiap akhir musim.

Tetapi, lebih dari itu: yang satu ini benar-benar tragis. Saya tahu ini biasa, tapi tetap saja… =_=!

 

fm-2007

 

SIALAAAAAAAANN…!!!!

 

onion

 
Perjuangan hingga detik terakhir. Derby dan Southend sebenarnya tumbang di tangan Liverpool dan Chelsea di pekan 38… tapi ternyata tim saya justru terbantai 1-5 oleh Manchester City. Apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Dua musim di EPL pun berakhir dengan penurunan paksa™.

AAAAARRRRRGGGGHHHH!!!!!! plurk-angry

***

 
Tentu, seperti biasa, selalu ada kebijaksanaan yang bisa diambil dari dunia FM. Dan kebijaksanaan kali ini adalah…

Jangan bekerja dengan para pemain yang nervous wreck menjelang pertandingan penting. Terutama yang bernama Jason Koumas, Nathan Ellington, dan Luke Steele.

SELALU UTAMAKAN orang-orang yang berhati teguh untuk tugas besar…

…dan langsung tendang kiper cadangan bodoh yang bikin perpecahan di minggu ke-37, ketika seluruh tim harusnya berkonsentrasi ke pertandingan. Fuck it.

***

On a side note, setidaknya saya punya penghiburan. Ternyata skill manajemen saya dihargai cukup tinggi di dunia FM. Nggak tahu seberapa akuratnya, tapi sempat bikin GR juga sih. ^^;

stats

GK Coaching - 14
Attacking - 17
Defending - 15
Fitness - 15
Mental - 20
Technical - 19
Tactical - 20
Man Management - 17

Working With Youngster - 10

Which makes me wonder. Kalau memang stats saya sebagus itu, kok ya tim saya terdegradasi… :-?

Jadi penasaran. Kira-kira, apa jadinya kalau saya melatih Inter, ya? :twisted:

Tulisan Sebelumnya »