Feeds:
Tulisan
Komentar

Masih Ingin Tinggal

Selama saya di rumah, ibu saya sempat masak mendoan, sayur leunca’, dan cah buncis daging. Ada schotel lapis keju juga.

 

foto-makanan-dari-berbagai-sumber

What those foods may look like (*)

 

Besok pagi saya harus pulang ke Bandung, tapi sekarang saya malas. Masih ingin makan roti keju dan dadar gulung, tapi sudah harus berkemas. Lalu saya harus bagaimana? :(

*sigh*

 

——

Kredit foto:

 
*) Sumber foto untuk montase dari sini, sini, sini, dan sini.

15 Books that Define Me

Sedang jalan-jalan di Facebook kemarin siang, saya menemukan sebuah page yang menarik. Isinya sendiri bisa dibilang jejaring sosial banget — tidak jauh beda dengan urusan tag-mengetag pada umumnya. :P

Take no more than 15 minutes, and make a list of the 15 books that stick with you, for whatever reason. Then spread the list:

– Post your list here
– Post it on your profile for your friends to see
– Become a fan of this page
– Include a link to http://www.facebook.com/15books in your profile post

Saya pikir, kalau ditulis sebagai notes, tidak semua orang bisa baca — harus daftar FB, add friend, dan seterusnya — sementara saya orangnya tidak mau approve sembarangan. Walhasil, saya pun memutuskan untuk menulisnya di blog saja. :mrgreen:

Seperti apa daftarnya, here goes

    (CATATAN: hampir semua dari buku di bawah ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, meskipun demikian saya merujuk pada versi dalam bahasa aslinya)

 

1. “Demon-Haunted World: Science as A Candle in The Dark”
– Carl Sagan (1995)

 

cover

 

Buku yang berisi kumpulan esai oleh almarhum Carl Sagan. Kalau boleh jujur, Pak Sagan adalah salah satu ilmuwan yang paling saya kagumi: berpengetahuan luas, punya kesadaran sosial, juga piawai mempopulerkan sains di masyarakat umum. Buku ini merangkum berbagai sudut pandang beliau semasa hidupnya (1932-1996).

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-full

 

2. “A History of God”
– Karen Armstrong (1993)

 

cover

 
Pertama kali baca buku ini waktu kelas 2 SMA. Pertama-tama kebingungan — meskipun begitu, setelah beberapa waktu, mulai bisa memahami alurnya. :P Berkisah tentang evolusi keyakinan manusia sejak zaman pagan hingga era modern. Ini buku yang memperkenalkan saya pada gagasan ber-Tuhan yang esoterik; juga membuka mata bahwa “iman” itu banyak ragamnya.

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-full

 

3. “Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World”
– Karen Armstrong (1988)

 

cover

 
Buku kedua dari Karen Armstrong di daftar ini, sekaligus juga yang terakhir. Dalam buku ini Bu Armstrong berkisah tentang kronologi Perang Salib dan dampaknya di era modern. Buku ini sempat membuat saya kecewa berat — bukan karena isinya jelek, melainkan karena sukses membuat depresi. Pengantar saya sebelum membaca literatur Perang Salib yang lebih serius (Runciman, Hillenbrand — tidak dibahas di daftar ini).

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-empty

 

4. “Manusia Multidimensional: Sebuah Renungan Filsafat”
— M. Sastrapratedja (ed.) (1982)

 

cover

 
Buku jadul lungsuran ibu saya, meskipun begitu sepertinya beliau tidak pernah baca. ^^;; Berbentuk kumpulan esai, buku ini mengantar saya pada ide-ide dasar filsafat barat. Pertama kali “mengenal” Nietzsche, Jaspers, dan Camus dari buku ini — walaupun begitu, pembahasannya tentang Popper paling mengena di hati saya. Dus, membuka jalan saya untuk belajar filsafat lebih jauh. I’m eternally grateful to the authors of this book.

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-full

 

5. “Crime and Punishment”
– Fyodor Dostoyevski (1866)

 

cover

 

Novel penulis Rusia pertama yang saya baca; waktu itu saya hampir lulus SMA. Banyak pesan moral yang saya dapat dari buku ini. Meskipun begitu ada satu poin yang paling berkesan: orang tidak bisa bahagia jika hanya bermodal rasionalitas (Raskolnikov) atau kehangatan hati semata (Sonia). Agar orang bisa bahagia, harus ada keseimbangan di antaranya, dan itu dicontohkan secara apik lewat “jalan” Razumihin dan Dounia.

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-full

 

6. “Madilog”
– Tan Malaka (1943)

 

cover

 
Saya pertama kali tahu Tan Malaka lewat autobiografi Dari Penjara ke Penjara, jilid II, sekitar tahun 2003-04. Oleh karena itu, saya tahu sedikit tentang Madilog — dan kemudian, ketika ada teman kos yang punya, saya pun meminjam dengan sukses. :mrgreen: Dengan materi ilmu alam, logika, dan filosofi yang dibawanya, buku ini turut membentuk pemikiran saya di awal kuliah. (walaupun efeknya tidak sedahsyat Demon-Haunted World)

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-empty

 

7. “Anak Semua Bangsa”
– Pramoedya Ananta Toer (1981)

 

cover

 
Bagian kedua dari Tetralogi Buru, sekaligus yang paling berkesan secara pribadi. Humanisme lintas batas yang dicerminkan para tokohnya benar-benar strike di hati saya. Mulai dari Jawa (Minke, Nyai), Tionghoa (Khouw Ah Soe), hingga Eropa (Jean Marais dan keluarga Delacroix), semua sepakat bahwa tidak ada manusia yang suka ditindas. Kisah perjuangan bangsa Filipina dan Cina oleh Khouw Ah Soe jadi pelengkap yang manis.

Novel karya mbah Pram ini sukses mengingatkan saya pada nilai yang berharga: Kemanusiaan itu universal, tidak terkotak-kotak oleh suku dan ras. Mengutip H.G. Wells, “Our true nationality is mankind.”

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-full

 

8. “Surely You’re Joking, Mr Feynman!”
– Ralph Leighton & Richard Feynman

 

cover

 

Setelah dari tadi membahas buku serius, maka sekarang waktunya buku yang lebih ceria. :D

Surely You’re Joking, Mr Feynman! adalah sebuah (semi-) autobiografi karya Nobelis fisika Richard Feynman. Meskipun begitu, alih-alih membahas rumus dan dunia fisika, buku ini memberi gambaran dari sisi lain: bagaimana keseharian Feynman, rasa penasarannya akan segala hal, dan hobinya mengisengi teman sejawat. Sifat Feynman yang cerdas-tapi-playful adalah sumber inspirasi saya. Malah dulu saya bercita-cita mengikuti jejak beliau jadi ilmuwan! :D

Menurut saya, buku ini seolah mencibir stereotip “orang jenius” yang berlaku di masyarakat dan menguburnya dalam-dalam. Listen now, kids: nobody likes a snobby genius! :mrgreen:

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-half

 

9. “Lets Learn Kanji: An Introduction to Radicals, Components and 250 Very Basic Kanji”
— Y.K. Mitamura et. al. (1997)

 

cover

 

Buku pengantar saya belajar Kanji. Kalau boleh jujur, saya sebenarnya tidak punya patokan khusus belajar Bahasa Jepang — ada banyak buku yang saya baca. Meskipun begitu yang satu ini benar-benar stand out sehingga layak disebut tersendiri. Dengan penjelasan, organisasi, dan trik memorization yang mantap, buku ini layak dimiliki oleh setiap peminat barang-barang Jepang.

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-full

 

10. “Concepts of Modern Physics”
– Arthur Beiser (1981)

 

cover

 

Pembaca serial mekanika kuantum di blog ini mungkin sudah tahu buku di atas. Buku ini sempat saya cantumkan sebagai salah satu referensi di sana. Ilustratif, mengedepankan konsep, dan (relatif) sedikit bermain rumus, buku ini merupakan pengantar yang bagus menuju dunia fisika modern — di antaranya teori relativitas, mekanika kuantum, dan fisika partikel. Satu-satunya buku kuliah yang suka saya baca jika sedang senggang. :P

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-full

 

11. “The Blind Watchmaker”
– Richard Dawkins (1986)

 

cover

 
Salah satu pengantar terbaik dalam memahami Teori Evolusi. Dalam buku ini, Dawkins menjelaskan bagaimana keragaman yang kompleks dapat dicapai lewat perubahan yang berkesinambungan (evolusi). Konsep-konsep rumit seperti DNA, mutasi, dan pewarisan dijelaskan lewat analogi yang mudah dicerna. Buku ini adalah salah satu awalan saya dalam mempelajari teori evolusi. (yang satu lagi buku S.J. Gould di nomor 12)

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-half

 

12. “Structure of Evolutionary Theory”
– Stephen Jay Gould (2002)

 

cover

 
Buku mammoth yang bisa dipakai membunuh cicak kalau dijatuhkan (seriously). Tebalnya 1343 halaman. Meskipun begitu, jika Anda benar-benar tertarik mendalami evolusi, maka buku ini adalah pilihan yang bagus. Sekitar separuhnya — 600-700 halaman — dialokasikan untuk membahas sejarah pemikiran, dan sisanya penjelasan teknis.

Dilengkapi gambar, foto, dan analogi oleh salah satu palaeontolog paling masyhur di dunia. Long story short, buku ini membuat Gould jadi “menara kembar” pemahaman evolusi saya — bersama dengan Richard Dawkins yang disebut sebelumnya. :P

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-empty

 

13. “Adventures in American Literature (Classic Edition)”
– James Early et. al. (ed), various American writers

 

cover

 

Buku ini merupakan kompilasi cerpen dan puisi karya penulis Amerika dari zaman ke zaman, mulai dari era Wild West hingga awal abad 20. Karya penyair legendaris seperti Edgar Allan Poe, Longfellow, dan Nathaniel Hawthorne bisa dibaca di sini. Terdapat juga sketsa biografis dan analisis komposisi berbagai karya tersebut; tambahan yang menarik untuk orang yang latar belakangnya non-sastra seperti saya.

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-half

 

14. “Fantasista”
– Michiteru Kusaba (1999-2006)

 

cover

 
Manga pertama di daftar 15 Books ini. Saya bisa dibilang bukan peminat manga hardcore — saya tidak langganan majalah sebangsa ShonenMagz, jarang download, juga jarang beli di kios. Meskipun begitu Fantasista adalah pengecualian. Ilustrasinya bagus, jalan ceritanya menarik, dan teknik bermain bola yang disajikan tergolong realistis. Tidak ada tendangan maut a la Shoot! atau Captain Tsubasa. Pokoknya, sepakbola as we know it! :mrgreen:

Sayangnya serial ini memiliki ending yang buruk. Kesannya kurang dipoles, begitu, sehingga saya tak bisa memberi nilai sempurna. Oh well.

Personal Rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-empty

 

15. Q.E.D ~証明終了~
– Motohiro Katou (1997–present)

 

cover

 

Yup, you read it right. Another manga in this list. Tak lain dan tak bukan, manga yang tokoh utamanya sosok jenius lulusan MIT. Siapa lagi kalau bukan So Toma? :mrgreen:

Bagi saya, Q.E.D. adalah salah satu komik favorit sepanjang masa. Komik ini berkisah tentang seorang jenius yang sulit dipahami oleh lingkungan sekitarnya, meskipun begitu, belakangan ia mulai bekerja sebagai detektif paruh waktu. Kasus yang ditangani Toma umumnya berhubungan dengan tema ilmiah seperti matematika, seni, dan sejarah — hal yang membuat komik ini jadi menarik. Malah saya tahu hal-hal obscure seperti Jembatan Konigsberg dan legenda Pygmalion dari komik ini! :D So that’s saying much. Manga ini masih berjalan sampai sekarang, dan di Indonesia diterbitkan oleh Elex Media Komputindo.

Personal rating:
st-fullst-fullst-fullst-fullst-half

***

Yah, kurang lebih seperti itu daftarnya. Tiga belas buku serius (baca: isinya sebagian besar tulisan) dan dua buah komik. Sebenarnya bukan tak mungkin ada yang terlewat, tapi, hei, yang disuruh kan cuma yang teringat saja. :lol:

BTW, saya tidak mengetag siapapun untuk mengerjakan tugas ini. Silakan kalau ada pembaca yang berminat melaksanakan — tergantung suasana hati sajalah. ;) Walaupun saya penasaran juga sih daftar bukunya lambrtz, geddoe, dan mas gentole seperti apa…

Catatan: Post-post lain tentang bahasa Jepang di blog ini bisa Anda temukan di halaman [direktori nihongo].

 

Selama tahun 2009 yang lalu, direktori nihongo di blog ini tidak sempat di-update (saya banyak urusan di dunia nyata, jadi jarang ngeblog ^^; ). Update terakhir adalah tentang huruf hiragana dan katakana — waktu itu sekitar bulan Desember 2008. Jadi sudah lebih dari setahun jaraknya.

Meskipun begitu, sebagaimana sudah dijelaskan di salah satu komentar, tahun ini update-nya akan dimulai lagi. So here goes… sorry for the wait. ;) Seperti biasa saya membuka diri pada koreksi dan masukan dari pembaca (kalau ada).

[Klik untuk melanjutkan...]

Bukumuka and Other Stories

Kalau boleh jujur, sebenarnya saya agak malas berurusan dengan jejaring sosial. Bukan apa-apa: menurut saya banyak penggunanya yang abai pada netiquette. :| Sejak Friendster punya cerita, sampai Facebook jadi berita, ini masalah yang membuat saya ogah-ogahan setiap kali ditodong teman untuk daftar.

Ada yang meng-add tanpa permisi, banyak yang mem-forward kabar burung tanpa dicek, dan seterusnya. Belum lagi kalau diskusi yang menyangkut tema-tema “panas” seperti politik dan SARA — as I see it, netiquette simply goes out of the window.

Dan saya belum menyebut sentimen anti-alay yang norak (tapi marak) itu. Bagaimanapun, itu takkan kita bahas di sini — saya pikir pembaca paham apa yang saya maksud.

But anyway.

Karena satu dan lain hal, akhirnya saya harus bikin juga. Apa alasannya, saya takkan cerita panjang-lebar di sini — tapi cukuplah saya bilang bahwa salah dua alasannya disumbang oleh diskusi di plurk mbak Grace sejak setahun lalu. (haha)

So… I can haz facebook? Yes we can™. :cool:

 

 

Jadi, untuk rekan-rekan blogosphere yang selama ini penasaran — there you have it. Silakan di-add kalau berkenan. ;)

 
Beberapa catatan:

 
1) Akun FB di atas akan cross-update secara otomatis dengan plurk saya.

2) Nama yang dipakai di situ tidak sepenuhnya asli, tapi setidaknya mencerminkan. Jadi, mulai sekarang, silakan kalau mau memanggil saya “Shalah”, “Hakim”, atau plain old “Sora”. :P

(I’d prefer you use the last, though).

3) Kalau ada pembaca blog ini yang meng-add saya, harap mengirim message yang menjelaskan nama online/URL blog. Masalahnya, saya tidak tahu nama asli semua blogger (dan blogwalker) di seputar WP. ^^a

4) Pandangan saya tentang anonimitas bisa dibaca di [tulisan ini] dan masih berlaku. Just remember that I want you to understand my ideas, rather than focusing on who I am.

5) Terakhir: Saya tahu ada beberapa teman IRL dan anggota keluarga yang membaca blog ini. Sorry, but don’t bother adding me. Saya lebih suka memisahkan antara kehidupan nyata dan internet, soalnya. So there. :)
 

***

Yah, kurang lebih seperti itu. Terima kasih atas perhatiannya, dan sampai jumpa di tulisan selanjutnya. ;)

Kalau boleh jujur, saya bisa dibilang orang yang suka main game lawas. Mulai dari yang old skool punya sampai yang rada modern (baca: generasi 2000-an), asalkan gameplay-nya bagus, biasanya saya suka. :P

Nah, salah satu game yang sedang saya mainkan saat ini adalah Civilization III. Game buatan Infogrames ini pertama kali saya mainkan ketika masih SMA.

 

civ 3 - title screen

 

Judul: Sid Meier’s Civilization III
Genre: Turn-based strategy
Produksi: Infogrames Interactive
Tahun: 2001

 
Dalam game ini, kita diceritakan sebagai pendiri — sekaligus pemimpin — sebuah peradaban. Seluruh perdagangan, diplomasi, dan kemajuan negara menjadi tanggung jawab kita. Selama 5000 tahun kita harus berkompetisi dengan peradaban lain di muka bumi.

 

civ 3 - choose leader
 

Berbeda dengan game-game strategi sezamannya, Civilization III (selanjutnya disebut Civ 3) tidak memakai tampilan grafis 3D. Keseluruhan gameplay-nya berlangsung di atas map 2D isometrik, dengan sprite yang juga 2D.

 

civ 3 - map

 

Saya sendiri lebih suka pendekatan model ini daripada 3D di Civilization IV. Menurut saya penggunaan 3D di game strategi itu buang-buang resource saja — banyak hal yang lebih penting lah daripada visual. Memangnya kita Windows Vista? Tapi itu pendapat pribadi sih. :P

 
The Epic Journey

 
Kalau boleh jujur, aspek yang paling saya suka di Civ 3 adalah perhatiannya tentang what makes great civilizations. Mulai dari penguasaan teknologi, diplomasi, perdagangan, hingga perang dan overpopulation, semua menjadi bagian dari gameplay.

Lebih lagi bukan saja interaksi antarperadaban yang penting; manajemen negara juga berperan besar. Game ini — tanpa ampun — menambahkan konsep-konsep ruwet seperti korupsi, penduduk imigran, kota jajahan, dan citizen contentment. Apabila kita tidak mengatur negara dengan baik, maka masyarakat berpotensi melakukan riot. Atau, lebih buruk lagi, memilih bergabung ke negeri tetangga karena merasa tidak diurus.

Beuh… xP

 

civ 3 - city management
 

Setelah sukses mengatur negara, maka pemain harus berurusan dengan diplomasi. Termasuk di dalam menu diplomasi adalah perdagangan, perjanjian damai, dan — kalau sudah masuk era modern — embargo dan pakta militer.

 

civ 3 - diplo screen
 

Kadang-kadang tindakan kita dalam permainan bisa berujung pada turunnya reputasi di kancah diplomatik. Sebagai gambaran, apabila saya menggunakan bom atom sembarangan, maka pemimpin negara lain akan kecewa dan memandang rendah. Persetujuan pun jadi sulit dicapai. :-?

 
Technological Advancements and Beyond

 
Sisi lain yang ditawarkan Civ 3 adalah technology tree. Sebagaimana galibnya di dunia nyata, negara bisa berkembang jika penguasaan teknologinya mumpuni. Sebagai pemimpin negara kita menentukan ke arah mana riset berlangsung — apakah ke arah praktis, mercusuar, atau militer? Kebijaksanaan Anda menentukan nasib negara. :twisted:
 

civ 3 - tech tree

Tech-tree di Civ 3 (klik untuk ukuran besar @ CivFanatics.com)

 
Sebagai contoh, untuk membangun rumah sakit kita membutuhkan teknologi Sanitation. Untuk membangun pasukan kavaleri kita perlu teknologi Gunpowder dan Military Tradition. Adapun untuk memberdayakan ekonomi lewat pasar dan bank, kita harus mempelajari Economics dan Currency; dan lain sebagainya.

Teknologi yang tepat juga bisa membantu kita menemukan bentuk pemerintahan yang lebih efisien. Pertama kali main kita diberi bentuk pemerintahan Despotisme; pemerintahan yang buruk dan banyak korupsi. Meskipun begitu, semakin jauh bermain, kita akan mempelajari bentuk yang lebih sophisticated seperti Republik, Monarki, dan Demokrasi. :D

 
Victory Conditions
 

Sebuah game Civ 3 berakhir jika pemain — atau AI — memenuhi salah satu dari 6 (enam) syarat, yakni:

  1. Conquest — sebuah negara berhasil menaklukkan seluruh lawan secara militer
  2. Domination — sebuah negara menguasai 2/3 tanah di muka bumi
  3. Cultural — sebuah negara memiliki kebudayaan yang superior (ditentukan lewat culture point)
  4. Space Race — sebuah negara berhasil meluncurkan roket pertama ke luar angkasa
  5. Diplomatic Win — apabila kepala negara terpilih menjadi Sekretaris Jendral PBB
  6. Histograph — alias time-out pada tahun 2050, apabila belum ada pemenang

Dengan berbagai kondisi tersebut, game ini jadi bersifat amat terbuka. Negara yang kuat secara militer atau dagang belum tentu keluar sebagai pemenang. Bisa saja ada negara kecil tak berguna yang “menyalip” lewat jalur Space Race atau Diplomatic Win.

 
End Notes and Verdict

 
Game yang sangat kompleks, dengan bumbu politik di sana-sini. Apabila Anda suka berkhayal tentang perjalanan peradaban kuno, ada kemungkinan Anda akan tertarik. Saya tidak yakin apakah penggemar RTS akan suka, tapi setidaknya buat saya ini game yang bagus. ^^

To be noted, though: ini game yang luar biasa kompleks. Saya sendiri harus berulangkali main ke forum terkait untuk mempelajari tips-dan-triknya (ini game pertama yang membuat saya sampai segitunya). But, like people say… selalu ada saat pertama kali lah. ;)

  • Visual: 8/10
  • Music: 8/10
  • Gameplay: 10/10
  • Replayability: 10/10
  •  

  • Personal Rating: 9/10

 

 

——

Ps:

Ya, ya, saya akui bahwa tulisan saya tempo hari terinspirasi oleh game ini. :twisted:

Yang sedang terkapar:

Bang Robin, Mas Theo, Bendtner, Dik Wilshere, Pak Kapten, Mas Gibbs, Clichy, Djourou

 
Yang sering cedera:

Eduardo, Denilson, Diaby, Pak Rov Rosicky

 
Yang sedang tugas negara:

Alex Song dan Eboue

***

 

Jadi begini ceritanya…

Tim yang saya dukung di Liga Inggris, Tim Gudang Peluru asal London, sedang punya masalah. Entah apa penyebabnya saya tidak tahu — yang jelas banyak pemainnya bergelimpangan karena cedera. Sebagaimana bisa dilihat daftarnya di atas, jumlahnya lumayan banyak. :-?

Sebenarnya ini hal yang biasa. Lha wong tiap tahun Arsenal dilanda cedera, je. Meskipun begitu musim ini ada pengecualian: ada posisi yang tidak tergantikan ketika pemainnya cedera. That is, Bang RvP yang namanya disebut pertama di atas. >_<

 

Mengapa?

 
Karena Arsenal memakai pola 4-3-3 yang rada unik. Kalau boleh diuraikan, skemanya kira-kira seperti berikut:

 

4-3-3 pitch

 

Dalam pola 4-3-3 versi umum, posisi ujung tombak (RvP) biasa diberikan untuk finisher/goal getter murni seperti Samuel Eto’o atau Adebayor. Meskipun begitu, di Arsenal penerapannya rada berbeda: van Persie dimainkan sebagai hibrida antara CF dan SS.

Dengan kata lain: tugasnya adalah membuka ruang, menarik defender lawan, sekaligus (kalau bisa) mencetak gol. Ini tugas yang berat — cuma pemain yang berteknik tinggi, pekerja keras, dan “cerdas” yang bisa melakukannya.

Walhasil ketika beliau cedera, hampir tak ada yang bisa menggantikannya. XD Barangkali yang cocok cuma Arshavin. Itu pun, dia akhir-akhir ini bermain dalam kondisi cedera.

 
Jadi, berhubung sekarang ini sedang transfer window Januari, saya jadi kepikiran siapa yang kira-kira cocok untuk mengisi “lubang” tersebut. Toh Pak Bosnya sendiri sudah bilang hendak beli striker baru. :mrgreen: So here goes…

 

Kandidat IMarouane Chamakh (Bordeaux)

Pemain yang sudah dihubung-hubungkan sejak awal musim ke Emirates. Konon merupakan pilihan utama Pak Wenger sebagai pelapis Van Persie. Skill mencetak gol dan workrate mumpuni.

 
Kandidat IICarlton Cole (West Ham)

Nama yang mencuat setelah diusulkan oleh sebuah editorial di Goal.com. Punya insting mencetak gol dan melepas assist — tapi saya kok kurang yakin kelasnya setara RvP. :-/

 
Kandidat IIIEdin Dzeko (Wolfsburg)

Striker Wolfsburg yang sedang naik daun. Sepertinya tipe striker yang dibutuhkan Arsenal: 26 gol, 10 assist dalam 32 pertandingan. Kekurangan: harganya (mungkin) terlalu mahal untuk standar Pak Wenger.

 
Kandidat IVCraig Bellamy (Man. City)

Striker ManCit yang diisukan sedang kisruh dengan manajemen, selepas dipecatnya manajer Mark Hughes. Lebih ke arah powerful daripada teknisi. Rada way off IMHO.

 
Kandidat VLouis Saha (Everton)

…enggak lah. ^^;

 
Kandidat VIKlaas-Jan Huntelaar (AC Milan)

Striker Belanda yang sempat terbuang di Real Madrid, tapi kemudian menemukan bentuk permainan kembali di AC Milan. IMO lebih ke arah finisher daripada kombinasi CF-SS yang dibutuhkan Arsenal saat ini.

 
Lain-lain:

Stevan Jovetic, Alan Dzagoev. Tapi mereka ini statusnya pemain muda, sementara yang dibutuhkan saat ini striker yang sudah matang. Barangkali untuk investasi? We already have Bendtner and Vela, though.

***

 
*menyeruput kopi*

*merenung*

Ah, ya, ini cuma analisis iseng-iseng saja kok. Jangan terlalu diseriusi — toh saya juga bukan ahli bola. :lol: Walaupun saya senang juga kalau Januari ini ada instant hit. Barangkali seperti Arshavin tahun lalu, langsung mencetak empat gol di awal-awal…

*dilempar sandal karena berkhayal*

*bletaaakkk* x(

Dunia yang Makin Instan

Selama beberapa tahun terakhir, saya bisa dibilang menjalani hidup yang “tipikal anak kost”. Kamar saya luasnya beberapa meter persegi; di rak ada beberapa buah buku. Baju dan celana panjang menumpuk di salah satu sisi. Tidak ada yang benar-benar luar biasa — kalau ada di antara pembaca yang pernah main ke kamar kos mahasiswa, pasti bisa membayangkan bentuknya seperti apa. :mrgreen:

Nah, yang hendak diceritakan di sini terkait dengan gaya hidup “anak kos” yang disebut di atas.

 

[IMG: instant coffees]

atas: berbagai kotak minuman instan yang ada di kamar saya. dari kiri ke kanan: vanilla latte, kopi 3-in-1, dan sereal bubuk

Sebagai anak kos, saya bisa dibilang akrab dengan minuman sachet. Mulai dari kopi instan, sereal, hingga bandrek dan teh tarik, semuanya pernah jadi persediaan di kamar saya. Yang tidak instan barangkali cuma coklat bubuk — saya suka minum coklat panas — paling tidak, saya masih harus menambahkan gula sendiri. Tapi itu bukan itu yang hendak dibahas di sini. :P

Yang hendak saya bahas di sini adalah aspek sosial yang dicerminkan oleh kehadiran produk sachet tersebut. Seperti apa ceritanya, here goes.

 

Nilai Sebuah Kepraktisan

 

Salah satu aspek yang saya suka dari minuman sachet adalah kepraktisannya yang luar biasa. Mau “dipendam” di kamar, dibawa naik gunung, atau diringkas dalam tas untuk dibawa pergi, isinya relatif terjamin. Kasarnya, biar kena hujan dan badai sekalipun enggak bakal rusak. Adapun kalau hendak minum, tinggal tuang air panas—aduk sebentar—dan kemudian jadilah. Tidak ada lagi acara merebus daun teh selama setengah jam atau sebangsanya. Asalkan ada air panas dan pengaduk, maka semua beres.[1]

Di titik ini, minuman sachet memberikan kita kenyamanan yang belum pernah ada sebelumnya: memenuhi kebutuhan dalam waktu cepat. Ingin minum kopi, tinggal aduk. Ingin minum teh tarik, tinggal aduk. Malah yang seperti ini bukan cuma minuman. Kelaparan di tengah malam dan ingin makan mie? Tak usah repot, kan tinggal “hot water, please!”. :mrgreen:

Inilah yang disebut sosiolog George Ritzer sebagai salah satu ciri modernitas. Masyarakat yang modern, menurut Bapak Ritzer, adalah masyarakat yang mengutamakan efisiensi di segala hal. Mulai dari efisiensi waktu, efisiensi organisasi, hingga yang “kelas berat” seperti efisiensi pemerintahan. Dan perkara sepele seperti minum kopi tidak lepas dari pengaruhnya.

Ketika kita lapar, haus, atau sekadar ingin ngopi, maka itu bisa dilakukan dalam waktu cepat. Kita tidak lagi perlu keahlian meracik a la Mbok Jamu atau barista Starbucks. Cukup tuang, tambahkan air panas, dan aduk, maka jadilah. Malah saya ingat waktu jalan-jalan di Circle K tempo hari — di sana ada bubur ayam instan! :shock: Di sini kita lihat betapa dahsyatnya proses “instanisasi” itu berlangsung.

Singkat cerita, di dunia yang bergerak cepat, efisiensi menjadi hal penting. Demikian simpul Bapak Ritzer.

 

Instanisasi dan “McDonaldization”

 

Bicara zaman modern dan instanisasi, tentunya tak bisa tidak menyebut sebuah ikon terkenal. Apa lagi kalau bukan fast-food dan McDonalds? :mrgreen:

Bapak Ritzer, yang idenya saya pinjam untuk uraian di atas, punya pandangan menarik tentang restoran fast-food dan zaman modern. Menurut beliau waralaba tersebut mencerminkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat modern, yakni:

 
Efisiensi — makanan dihasilkan dan diantarkan secara cepat. Sejalan dengan keinginan kita untuk memenuhi kebutuhan secepatnya.

Prediktabilitas — kemungkinan munculnya yang tidak terduga, semisal makanan habis atau pegawai kosong, adalah minimal. Sejalan dengan keinginan kita hidup di dunia yang aman, terjamin, dan tidak neko-neko.

Kuantitas mengompensasi kualitas — tidak masalah apabila kualitas masakan sedikit rendah, yang penting produksi terjamin dan harga terjangkau. Sejalan dengan naluri kita memilih barang produksi massal, alih-alih limited edition yang (terlalu) mahal.

Teknologi menggantikan peran manusia — pekerjaan kasar diserahkan pada mesin/unit produksi (bukannya manusia). Sejalan dengan kehidupan modern di mana teknologi membuat hidup semakin nyaman.
 

Empat ciri modernitas ini kemudian disebut sebagai McDonaldization, mengambil nama perusahaan fast-food terbesar dan terkenal saat itu.[2] Menurut Pak Ritzer, McDonaldization adalah ciri khas kehidupan modern. Pengaruhnya amat luas — bukan saja di bidang makanan cepat saji, melainkan juga berbagai aspek lain dalam hidup kita.

 

The Other Side of McDonaldization

 

Di awal tadi, kita membahas tentang minuman sachet dan makanan instan. Pada dasarnya, kehadiran mereka tak lepas dari McDonaldization: produksi massal, modal teknologi, pasokan terjamin. Tambahkan konsep efisiensi yang juga sudah dibahas, maka lengkaplah empat “pilar” tersebut. Adapun ini baru salah satu contohnya — barangkali kalau kita bicara industri modern, hampir tidak ada yang tidak terembesi oleh spirit tersebut.

Kalau saya boleh menilai, jiwa zaman kita yang sekarang adalah jiwa modern ala fast-food. Kita selalu ingin mendapat barang yang cepat-saji, kuantitas berlimpah, dan seterusnya. Kita jadi tergantung pada teknologi. Kalau dilihat sekilas ini adalah hal yang bagus — tapi masalahnya bukan itu.

Masalahnya adalah ketika kita, tanpa sadar, menempatkan manusia sebagai obyek dari McDonaldisasi itu. Manusia ditempatkan dalam production line, “dicetak” sesuai kebutuhan dalam produksi massal. Pada akhirnya masyarakat sosial jadi persis seperti ayam goreng produksi McD: seragam, cepat saji, dan di mana-mana ada.

Anda yang pernah membaca keluhan saya tentang kampus di blog ini barangkali paham apa yang saya maksud. Sebagai orang yang dulunya menjalani kuliah sebagai calon insinyur, saya merasa bahwa kampus itu sekadar fast-track saja dalam menghasilkan lulusan. Sejak tingkat II teman-teman saya terbiasa berkata, “Kerja di Halliburton butuh IPK berapa ya?”, “Ingin ke Caltex,” dan seterusnya. Seolah-olah kampus itu seperti conveyor belt pabrik. Kita masukkan lulusan SMA, pergi ke ujung belt, dan di sana kita dapat insinyur. Tak jauh beda dengan kultur fast-food McD — ayam mentah, cemplung-cemplung, jadi.

Sedihnya, dunia ala fast-food itu tidak terbatas di pendidikan saja. Sekarang kita punya produksi massal idola cilik; kita punya produksi massal sinetron; kita punya produksi massal calon pemain bola di Inggris dan Spanyol sana. Masyarakat sekarang bukan saja sebagai penikmat hasil produksi — masyarakat sekarang adalah masyarakat yang turut menjadi bahan baku. Atau, meminjam ucapan Claudia Serena di komik Fantasista, “tak jauh beda dengan ternak.”

 

Deindividuasi – Hilangnya Sebuah Keunikan

 

Konon, kita hidup di zaman modern. Zaman yang identik dengan gerak cepat dan efisiensi. Perwujudannya diwakili oleh kultur fast-food dan minuman instan: kita ingin semuanya serba cepat. Pada akhirnya semangat ini merembes ke berbagai aspek sosial dalam hidup kita. Bukan saja kita ingin makan dan minum secara cepat, berbuat apapun kita ingin cepat. Lebih cepat, lebih baik.

Lantas, demi efisiensi, kita lari pada produksi massal. Mulai dari alat elektronik hingga botol kecap, semua ada industrinya. Bahkan sekarang kita punya “industri” insinyur, idola cilik, dan pemain bola! Saya pikir, dalam dua ratus tahun, Revolusi Industri telah drastis mengubah jalan hidup kita.

Tidak, saya tidak memasalahkan industri yang telah membuat kita maju sejauh ini. Saya tidak memasalahkan industri yang membuat saya bisa punya handphone, lampu neon, dan laptop. Yang saya masalahkan adalah semangat industri yang tidak bijak ketika bersangkutan dengan manusia. Tanpa sadar kita menerapkan McDonaldisasi di masyarakat — kita ingin menjadi efisien, tapi kita kehilangan jati diri.

Analoginya, kita tidak lagi peduli pada nilai keunikan seorang chef. Kita tidak perlu juru masak hebat di dapur McDonald’s. Resepnya sudah baku, bahan-bahannya sudah baku, kualitasnya juga terstandarisasi. Saya mungkin bisa masak Spaghetti Bolognaise kalau sedang di rumah, tetapi, di dapur McD, hal itu tidak berharga. Saya cuma harus masak makanan yang semua orang bisa: burger, ayam goreng, french friesyou name it.

Demi mengejar efisiensi, kita melebur dalam sistem dan melepas jati diri. Di sini produksi massal mengambil alih.

Semangat produksi massal inilah yang kemudian merasuk ke dalam berbagai aspek, terutama pendidikan. Alih-alih menyukai “manusia yang unik”, kita lebih suka mencemplungkan anak-anak ke dalam wahana produksi: produksi dokter, produksi insinyur, produksi idola cilik, dan lain sebagainya. Saya tidak bilang spesialisasi itu buruk — masalahnya, spesialisasi berlebihan membuat kita kehilangan ruang untuk jadi unik dan mengembangkan diri. Sebagaimana saya klaim di tulisan yang terdahulu,

[M]embuat kreativitas saya menumpul . . . Saya menghabiskan waktu sampai dini hari untuk mengerjakan laporan, tugas, dan sebangsanya yang terkait kuliah saya saja.

Sementara, di luar kelas, saya bisa belajar banyak tentang bahasa Jepang, sastra klasik, teori evolusi, filsafat etika, teknik photoshop, kritik sosial, dan lain sebagainya. Di samping juga menggambar dan bikin komik jika sedang ingin.

Ada banyak waktu dan energi yang harusnya bisa dipakai untuk hal-hal lain — tetapi, di sini, saya seolah harus fokus pada target akademik saja.

 

Epilog: Secangkir Kopi di Pagi Hari

 

Pagi ini, seperti biasa, saya minum kopi instan persediaan di kamar saya. Rasanya lumayan enak, tapi generik. Kalau tidak ada bungkusnya barangkali saya tak bisa membedakan: apakah itu Indocafe atau Nescafe 3-in-1? Lha wong dua-duanya sama-sama campuran kopi, gula dan krimer. :lol:

Lalu saya pikir, barangkali itu juga yang sedang terjadi di tengah-tengah kita. Toh kalau berkunjung ke dokter saya juga tidak tahu dokternya lulusan mana. Boleh jadi lulusan UI, UGM, atau malah swasta seperti Trisakti dan UKI. Yang membedakan barangkali cuma kepribadian dan sejarah hidupnya saja[3]. Mungkin begitu juga dengan para insinyur, ilmuwan, dan tokoh-tokoh profesional lainnya di sekitar kita…

To their credit, though, mereka punya kualitas yang bisa diandalkan. Barangkali seperti ayam goreng McD — tidak unik, di mana-mana ada, tapi selalu bisa bikin kenyang. Paling tidak mereka berkontribusi positif di masyarakat. Paling tidak, mereka membantu memenuhi kebutuhan masyarakat…

Sama halnya dengan ketika saya harus begadang dan membeli kopi instan di warung. Sisi positif dari industrialisasi. Setidaknya, sesuatu tidak sia-sia. ;)

 

 

——

 
Catatan:

 
[1] ^ Gara-gara ini, saya sempat pangling waktu pulang liburan dan mendapati ibu saya merebus daun teh. Saking terbiasanya dengan instan, saya jadi lupa pada cara masak yang tradisional. :lol:

 
[2] ^ Sebenarnya ini penamaan yang kontroversial, mengingat penyebutan nama “McDonald’s” berkonotasi pada zaman modern yang ruthless dan kapitalistik. Meskipun begitu harus dicatat bahwa Ritzer memakai istilah ini secara ilustratif — bukan hanya melingkupi McDonald’s tapi juga fast-food chain pada umumnya.

 
[3] ^ Terkait dengan ini, seorang dokter kenalan saya pernah bilang: “Dokter di mana-mana itu sama, sama-sama harus menyelamatkan orang. Nggak ada pasien yang pilih-pilih dokter lulusan UI, UNAIR atau UGM.” :lol:

Telah Jauh Melangkah

Sekali waktu ketika masih sekolah, seorang teman saya ditanya oleh Bapak Guru dari suku mana dia berasal. Saya sendiri waktu itu sedang rada melamun — waktu itu pelajaran sejarah, yang kebetulan saya kurang tertarik. Meskipun begitu saya ingat dia menjawab, “Padang”.

Technically, harusnya dia menjawab “Minang” — tapi itu bisa kita kesampingkan untuk saat ini.

Saya pikir ada yang aneh dengan klaimnya waktu itu. Sejak pertama kali mengenal dia, belasan tahun lalu, saya langsung ngeh bahwa matanya berwarna coklat. Hidungnya rada mancung, dan kulitnya relatif pucat untuk ukuran Asia. Kalaupun ada yang mencerminkan bahwa dia “orang Padang”, maka itu adalah jilbab yang dia pakai sejak SD dan kefasihannya baca Qur’an. Paling tidak itu sejalan dengan semboyan orang Padang yang saya tahu: “Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah”.

Belakangan saya paham bahwa dia berdarah Indo. Barangkali dia dapat warisan itu sejak zaman penjajahan, makanya dia bisa dengan yakin berkata “Padang” ketika ditanya. Meskipun begitu — at risk of repeating myself — bukan itu yang hendak dibahas di sini.

***

Ada pertanyaan yang mengusik saya tiap kali menatap matanya yang coklat itu. Sebenarnya nenek moyangmu orang mana? Dari negeri yang jauh sampai kemudian tiba di SumBar, dan sekarang kamu di tanah Jawa? Portugis? Belanda? Atau barangkali dia bukan penjajah. Barangkali sekadar petualang Eropa serabutan macam Jean Marais

Bagi saya, dia adalah sosok yang menarik. Bukan karena dia cantik, melainkan karena dia membawa rasa penasaran saya ke tempat yang jauh: kapal-kapal pedagang, penjelajah, berlayar atas perintah bangsawan Eropa. Perjalanan sekian tahun menuju Malaka. Perjalanan membawa genetik Eropa dari tanah asalnya menuju kepulauan di Khatulistiwa…

Selalu ada yang unik setiap kali saya menatap matanya yang coklat itu. Dan setiap kali pula, saya selalu terkagum: betapa jauhnya manusia bisa berjalan, betapa kerasnya manusia bisa berupaya. Dari kincir-kincir angin di Belanda sampai lembah dan ngarai di Sumatra Barat, hingga akhirnya berhenti dan menetap di Pulau Jawa. Selalu ada yang spesial setiap kali saya memikirkannya.

Bayangkan, saya berkata ke diri sendiri. Bayangkan jauhnya.

Saya tahu, kehadiran bangsa Eropa mencapai Nusantara bukannya manis semata. Sebagaimana pelajaran PSPB memberi tahu saya di masa SD: banyak riwayat kelam yang menyertainya. Kolonialisme tidak indah. Meskipun begitu, sebagaimana saya tulis di atas, selalu ada yang spesial setiap kali saya memperhatikan teman yang disebut sebelumnya.

Bahwa di dekat saya ada seorang gadis, beragama Islam, berjilbab, dan relatif fasih membaca Qur’an, sementara nenek moyangnya mungkin petugas Zending missie beragama Protestan — dan bahwa dia lebih merasa sebagai “orang Padang”, alih-alih Belanda atau Portugis — membuat saya tertarik untuk merenung dan menuangkannya di sini dalam bentuk tulisan.

Bayangkan, saya berpikir. Bayangkan jauhnya.

Seandainya zaman penjelajahan tak pernah dimulai, maka dia takkan pernah lahir. Seandainya seorang pangeran Portugis tidak pernah memulai tradisi kelautan Eropa, kapal-kapal dagang VOC mungkin takkan singgah di Nusantara. Seandainya tidak ada kompas… seandainya tidak ada semboyan Gold, Gospel, Glory…

Hari ini, ketika saya sedang mengetikkan tulisan ini, saya kembali teringat padanya. Saya teringat pada matanya yang coklat, kulitnya yang pucat — kerudung yang dipakainya anatopis dengan raut wajahnya yang (sedikit) Eropa. Saya sudah lama tidak bertemu dengannya. Meskipun begitu, setelah melalui refleksi di atas, saya jadi sadar akan satu hal: She was indeed special.

Setiap kali saya menatapnya, saya membayangkan perjalanan yang ditempuh leluhurnya. Ribuan kilometer lewat laut, menantang badai. Mungkin juga sempat berperang/berselisih dengan penduduk lokal. Perjalanan panjang dan jauh. Dan saya bertanya, siapa yang memberinya bentuk mata dan warna kulit seperti itu.

Adakah leluhurnya dulu kelasi di kapal VOC? Atau barangkali bukan VOC. Barangkali dia naik kapal Portugis yang lebih dulu datang? Pertanyaan-pertanyaan macam ini terus berseliweran. Meskipun begitu saya pikir saya takkan pernah tahu.

Saya rasa, dia sendiri juga tidak tahu.

Kalaupun ada yang saya tahu, itu adalah bahwa leluhurnya telah jauh melangkah. Dari tanah yang asing di Eropa sana, terus mengarungi samudra, hingga akhirnya tiba di Sumatra Barat. Barangkali saya harus berterima kasih pada Pangeran Henry dari Portugal — sebab gara-gara dia abad penjelajahan Eropa dimulai, dan saya bisa merenungi perjalanan epic tersebut lewat kehadiran teman saya.

Walaupun, kalau boleh jujur, sebenarnya ada hal lain yang membuat saya berhutang budi pada pangeran tersebut. Tapi itu cerita lain untuk saat ini…

Mengapa Takut Gelap?

Dulu, waktu masih SMP, saya lumayan suka nonton serial TV berbau paranormal. Genrenya macam-macam: mulai dari yang fiksi (The X-Files, Poltergeist); dokumenter (Sightings); hingga yang ’sekadar terinspirasi’ seperti Psi Factor-nya Dan Aykroyd. Saya sendiri kurang paham kenapa saya suka. Mungkin karena temanya bermain-main dengan misteri, makanya jadi menarik… tapi bukan itu yang hendak saya bahas kali ini.

Waktu itu sekitar tahun 1998, dan saya belum lama masuk SMP. Pembaca yang nonton X-Files zaman segitu pasti tahu bahwa acara tersebut mulai pukul 21:30. Kadang-kadang tertunda oleh Liputan Khusus TVRI — kalau itu terjadi, selesainya bisa molor sampai pukul sebelas malam. Jelas bukan jam tidur yang sehat untuk anak semuda itu. Walhasil saya harus bernegosiasi dengan ibu supaya boleh nonton.

Ibu saya, liberal as she ever was, memberi izin: cuma satu kali seminggu[1]. Lampu harus mati, dan tidak boleh berisik. Maka jadilah saya nonton berbagai serial tersebut dalam gelap…

 

Masalahnya…

 
…TV ada di ruang tamu, sementara kamar tidur saya letaknya di lantai dua. Saya baru lulus SD — tapi nekat nonton berbagai acara tersebut sampai jauh malam. Dan kalau boleh jujur… ya, saya takut. :|

Anda mungkin tak menyangka kalau pernah baca tulisan saya yang ini, tapi begitulah adanya. Waktu SD dulu saya penakut (walaupun setelah masuk SMP jadi agak berani). Bayangkan diri Anda sebagai anak 12 tahun, habis nonton Poltergeist di malam Jumat, dan naik tangga gelap-gelapan ke kamar tidur. Persis itulah pengalaman saya. (=3=)

Adapun rumah saya letaknya dekat kuburan, dan ada pohon besar di dekat situ[2]. Maka lengkaplah…

 

The Other Kind of Darkness

 
Seperti yang sudah saya tulis di atas, dulunya saya ini penakut. Setiap kali membahas paranormal, saya gentar; setiap kali nonton film seram tengah malam, saya terbayang. Meskipun begitu, setelah beberapa lama dan kilas balik, saya akhirnya sadar akan satu hal.

Bukan hantu, penculikan oleh alien, atau lain sebagainya yang saya takuti. Yang membuat saya gentar selama itu cuma satu:

 

GELAP

 

Bukan “gelap” dalam artian lampu mati atau tidak ada cahaya, melainkan “gelap” dalam arti yang lain. Saya gentar karena saya tidak paham apa sesungguhnya yang saya bayangkan.

Ketakutan saya pada alien, UFO, dan hantu bukan karena mereka seram dari sananya — melainkan karena saya tidak paham. Mereka itu apa? Seandainya saya ketemu mereka, apa yang akan terjadi? Apakah mereka jahat atau baik? Saya tidak tahu. Dan oleh karena itu, saya jadi takut.

Sadarkah Anda, kalau orang melihat penampakan hantu, biasanya reaksi mereka adalah:


“Hiiii… apa ituuu….???

Perhatikan pertanyaannya. Perhatikan kengeriannya.

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa kita — manusia pada umumnya — bukannya takut pada yang gaib. Kita bukannya takut pada hantu, alien, jin genderuwo, dan kawan-kawannya. Kita sekadar takut karena tidak mengerti. Dan karena tidak mengerti, kita cenderung berpikiran yang seram-seram saja.

Seandainya kelak hantu bisa dijelaskan dengan ilmu fisika, masihkah kita akan takut? Saya rasa, tidak! :)

 

[komik penguin]

 

Dulu waktu saya SMA, saya sering pulang larut malam lewat gang sepi (ada kegiatan ekstrakurikuler, rumah saya jauh). Kemudian rasa takut menyergap: bagaimana kalau ada perampok? Bagaimana kalau ada tukang palak? Atau — yang rada aneh — bagaimana kalau ada penampakan hantu?

Kalau dipikir sekarang rasanya lucu, tapi sebenarnya, saya bukannya takut pada perampok betulan, tukang palak betulan, atau hantu betulan. Yang saya takuti adalah imajinasi saja. Dan imajinasi itu — yang seram-seram itu — timbul karena saya tidak tahu apa yang menunggu saya di kegelapan gang. ;)

 

Mengapa Kita Takut Gelap?

 
Di sisi lain, ternyata istilah “gelap” dalam makna konotasi berhubungan dengan “gelap” dalam makna denotasi. Bahwasanya dua-duanya sama-sama membuat kita gentar pada ketidakpastian. :-?

Kita sering bertanya, kenapa banyak orang takut gelap? Menurut para ilmuwan hal itu bermula sejak zaman manusia purba dulu[3]. Atau, kalau boleh dibilang, merupakan animal instinct dalam diri kita.

Sewaktu manusia masih hidup berburu, mereka harus keluar-masuk hutan, berhadapan dengan aneka ragam predator. Di sini kemampuan melihat dan mengenali medan menjadi amat penting. Apabila terdapat pemangsa, maka lebih baik menghindar.

Adapun di malam hari penglihatan manusia menjadi lemah, sebab memang matanya tidak didesain untuk itu. Sedangkan banyak hewan buas bersifat nokturnal, semisal harimau, serigala, dan macan tutul.

Walhasil, manusia purba mengembangkan insting untuk bermain aman: “Daripada bahaya, lebih baik kita menghindari tempat gelap. Mana tahu kalau ada harimau atau beruang di situ.”

Insting itulah yang kemudian diturunkan pada kita. Masalahnya ada di kalimat terakhir: Mana tahu kalau ada harimau atau beruang.”

Jika manusia purba khawatir ada pemangsa di hutan yang gelap, maka kita, manusia modern, punya ketakutan yang mirip. Barangkali ada perampok bersembunyi di gang sepi. Barangkali ada pocong hendak menampakkan diri. Atau, kalau meminjam pengalaman Fox Mulder di X-Files: barangkali ada alien yang siap menculik adik saya di malam hari…

 

Science As A Candle In The Dark
 

Lalu, bagaimana caranya supaya kita menangkal rasa takut itu? Jawabannya ternyata sederhana. Karena kita takut pada yang tak pasti, kenapa tidak dipastikan saja biar jelas!? :mrgreen:

Pembaca reguler blog ini mungkin sudah pernah membaca pengalaman ibu saya di post yang dulu. Meskipun begitu, ada baiknya jika saya tampilkan lagi di sini.

Sekitar duapuluh tahun lalu, ibu saya bertugas di sebuah desa terpencil di pulau Jawa. Saat itu belum ada penerangan listrik di sana, dan beliau tinggal sendirian di sebuah rumah bilik.

Suatu malam sehabis hujan, terdengar bunyi “dukk-dukk-dukk” pada pintu.

Karena penasaran, ibu saya pergi ke depan dan membuka pintu. Tidak ada orang sama sekali.

Tentunya beliau kebingungan. Tetapi, ketika melihat ke bawah…

…tampak seekor katak sedang meloncat hendak masuk ke dalam rumah. Beliau pun segera mengusir katak tersebut.

Jika kita berhadapan dengan yang tak pasti, maka itulah saatnya untuk menyelidiki. Kita menerangi kegelapan bukan dengan menghindar, melainkan dengan cahaya. :)

Inilah yang disebut oleh Bapak Carl Sagan sebagai “Science as A Candle In The Dark”. Dengan pengetahuan, kita membuka tabir, menyingkirkan hantu-dan-bayangan yang menakuti kita. Yang penting di sini adalah jiwa ilmiah: kalau ada yang aneh, kita selidiki dengan rasa ingin tahu. Bukannya malah diam dan mlungker ketakutan.

Fear doesn’t bring us anywhere, but curiosity does. Jadi, sejauh tidak berbahaya, kenapa mesti takut? :D

Terkait soal ini, ibu saya selalu bilang tentang pengalaman beliau di atas:

“Kalau nggak dicek, aku ketakutan sepanjang malam. Kalau aku cek, biarpun hantu betulan, takutnya berhenti di situ. Jadi mendingan aku periksa.”

***

Saya pikir sudah saatnya kita mengubah cara pandang bahwa yang kita anggap supranatural, hantu, dan klenik itu menyeramkan. Alih-alih menghindarinya dengan gentar, kita harus memandangnya sebagai hal yang membuat penasaran. Perkara apakah mereka hantu sungguhan atau bukan, itu urusan lain.

Secara bahasa kita sering mempertukarkan antara “gelap” dan “misteri”. Dan memang, keduanya sering membuat ngeri dan takut. Tapi bukan berarti tak bisa diterangi.

Seandainya gang yang gelap diterangi oleh lampu, masihkah kita akan takut? Seandainya — kelak — supranatural dan klenik bisa dijelaskan lewat sains, masihkah kita akan takut? Saya pikir ini kembali pada masing-masing, tapi, kalau kita tidak coba menyalakan lampu, maka kita akan terus ketakutan dalam gelap.

Mengutip kalimat dedikasi Pak Sagan di salah satu bukunya, The Demon-Haunted World:

“I wish you a world: free of demons, and full of light.”

 

 
——

 
Catatan:

 
[1] ^ Belakangan jadi dua, sejak saya nonton Poltergeist. Kalau besoknya libur beliau tidak masalah — saya selalu boleh nonton bola di akhir pekan.

 
[2] ^ Serius tidak melebih-lebihkan. Boleh dikonfirmasi ke rifu atau yud1 kalau tidak percaya.

 
[3] ^ Beberapa referensi:

Sebuah Post Awal Tahun, 2010

Kalau boleh jujur, saya sering bingung sendiri dengan jalannya waktu dua tahun terakhir. Rasanya kok cepat sekali — hampir-hampir tidak terasa! Saya tahu ini berlebihan, tapi rasanya belum lama sejak kartu tahun baru yang lalu, Arshavin bikin empat gol ke gawang Liverpool dan saya menjalani hiatus panjang di blog ini.

Barangkali karena tidak ada event heboh di blogosphere tahun 2009, makanya jadi terasa cepat. Dibandingkan tahun 2007 (yang banyak perang) dan 2008 (yang diwarnai Euro 2008 dan kontroversi UU ITE), tahun 2009 bisa dibilang kering saja. Memang sih, ada kasus Bu Prita dan Mbak Luna yang tersandung internet — tapi kita semua sudah menduga lah soal itu. So there.

 
Bagaimanapun, tahun 2009 sudah hampir habis. Saatnya menatap ke depan dan meninggalkan yang sudah lewat. Jadi, pada kesempatan kali ini, saya menyampaikan pada pembaca…

 

Kartu Tahun Baru 2010

 

Syaoran, Sakura, dan Mokona dari Tsubasa RC dalam suasana Hatsumode. Selamat Tahun Baru untuk Anda semua. ;)

 
Tentunya, bicara tahun baru, tak bisa lepas dari perkara resolusi dan rencana ke depan. Walaupun saya sendiri selalu bingung dengan makna kata “resolusi”. Saya pikir itu hubungannya ke foto dan ketelitian alat sensor? :-?

*ditimpuk*

 
Jadi, ada rencana apa untuk tahun depan?

Sebagai blogger, tentunya lebih rajin ngeblog dibandingkan tahun kemarin. Kalau dijumlah-jumlah tahun lalu saya hiatus sampai sekitar 6 bulan. Banyak tulisan di blog ini yang terbengkalai — seri nihongo terhenti begitu saja sejak Desember 2008. Tulisan tentang mekanika kuantum juga terhenti di tengah-tengah. Jadi intinya back to writing habit lah.

Kalau rencana dunia nyata, saya rasa tak perlu diceritakan di sini. :mrgreen:

 
Bagaimana dengan resolusi tahun lalu? Apakah semuanya tercapai?

Tidak. Banyak yang gagal, IRL maupun internet. To be fair, though, ada satu yang lumayan tercapai — saya jadi lebih rajin menggambar dibandingkan tahun 2008. Tapi ya itu sifatnya rekreasi. Beda dengan kalau saya menulis opini atau bahasan serius. ^^;

 
Ada rencana terkait artworking?

Entah ya. Mungkin mulai isi akun deviantArt? Sudah dua tahun cuma kapling URL, soalnya. :lol:

Sebenarnya saya sempat berencana menghidupkan kembali PenguinStrip di tahun 2009, tapi akhirnya gagal total. That, or another new strip. Sedapatnya di tahun 2010 saja IMHO.

 
Ada pesan untuk para pembaca blog ini?

Terima kasih sudah membaca dan menemani saya di sini selama tiga tahun terakhir. No, really. Walaupun update saya tersendat-sendat tahun kemarin, tapi masih banyak yang berkunjung dan menulis komentar tiap kali saya update. So… yeah. :lol:

Dan seperti yang sudah disampaikan di atas: Selamat Tahun Baru 2010, semoga sukses menyertai Anda. Cheers. ;)

 

 

—–

Kredit:

Tulisan Sebelumnya »